Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Luka Lama Terbuka
"Keluar," suara Kemala bergetar.
Bergetar bukan karena takut. Melainkan karena terlalu marah.
"Keluar dari sini sekarang juga, Reza!"
Pria itu justru bersandar santai pada pilar batu dekat gerbang utama Kediaman Rothmere. Seolah pria itu memang pantas berada di sana. Seolah tak pernah terjadi apa pun di antara mereka.
"Kamu kasar sekali." Reza menggeleng pelan. "Padahal aku jauh-jauh datang ke Jakarta."
Kemala langsung menarik lengan pria itu. "Pergi!"
Namun Reza menahan langkahnya. Tubuh pria itu tetap berdiri tegak. "Aku akan pergi kalau urusanku selesai."
"Kita tidak punya urusan lagi!"
"Oh, punya." Reza tersenyum tipis. "Lima puluh juta."
Kemala sampai tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Lima puluh juta?"
"Iya."
"Kamu gila?"
Reza malah tertawa. Tawa yang dulu pernah terdengar menyenangkan di telinga Kemala. Kini hanya terdengar menjijikkan.
"Aku cuma pinjam."
"Kamu bahkan belum pernah mengembalikan apa pun yang pernah kamu ambil dariku."
Senyuman Reza sedikit memudar. Namun hanya sesaat.
"Kamu sekarang tinggal di rumah sebesar ini," ujar pria itu sambil menunjuk bangunan megah Rothmere. "Lima puluh juta bukan uang besar buat kamu."
"Aku gak punya uang sebanyak itu."
"Bohong!"
"Aku bilang aku gak punya!"
Reza mengangkat kedua bahunya. "Kalau begitu minta saja."
"Minta?"
"Iya. Minta sama bos konglomeratmu. Goda dia, dengan begitu kamu akan punya uang 50 juta."
Kemala mengepalkan tangan. Darah wanita desa itu terasa mendidih.
"Aku bekerja di sini, Za. Jangan bicara seolah aku wanita murahan."
Reza terkekeh. "Kalau bukan karena dekat dengan orang kaya, mana mungkin wanita desa seperti kamu bisa tinggal di tempat seperti ini?"
Kalimat itu terasa seperti tamparan. Kemala langsung melangkah maju.
"Sejak kapan kamu berhak menghakimiku?"
"Sejak kamu berubah."
"Aku berubah?" Kemala tertawa pahit. "Yang meninggalkan siapa? Yang kabur siapa? Yang membiarkan aku menghadapi semuanya sendiri siapa?"
Reza memalingkan wajah. Jelas terlihat sangat tak nyaman. Namun tetap tak tergambar sedikitpun air wajah yang merasa bersalah.
"Kamu selalu berlebihan."
"Berlebihan?" suara Kemala meninggi.
"Kamu bahkan gak pernah mencari anakmu!"
Mata Reza langsung menyipit. "Anak siapa?"
"Arkana." Kemala menggertakkan gigi. "Meski kamu menolaknya. Meski kamu lari. Dia tetap darah dagingmu!"
Jelas begitu terasa kemarahan yang mendalam dari Kemala. Namun ledakan itu hanya diikuti oleh keheningan.
Tiba-tiba saja Reza tertawa. Suara tawa yang menggelegar begitu keras sampai membuat Kemala semakin muak.
"Arkana? Aku gak punya urusan dengan anak itu."
Kemala membeku karena dadanya terasa sesak. "Apa?"
"Aku bilang aku gak punya urusan dengan Arkana." Reza melangkah mendekat. Tatapan pria itu meremehkan. "Justru kehilangan anak itu menguntungkanmu."
Kemala menatap pria itu tak percaya. "Maksudmu apa?"
"Kamu bebas."
"Bebas?"
"Iya." Reza menyeringai. "Bisa fokus menggoda konglomerat tanpa harus repot mengurus bayi."
Kalimat yang keluar dari Reza begitu serampangan. Kemala sangat tak mempercayai kalimat seperti itu bisa keluar dari seorang yang terpandang di desanya. Terlihat jelas air wajah ayu itu mendidih. Telapak tangan Kemala melayang nyaris mendarat di wajah pria itu. Namun tangan Kemala langsung terhenti. Karena suara lain lebih dulu terdengar.
"Ternyata benar."
Kemala membeku. Tubuh wanita dengan gaun sederhana itu perlahan berbalik. Raline berdiri beberapa langkah di belakang. Mira berada di samping wanita bergaun mewah itu. Kemala sama sekali tak menyadari kedatangan mereka berdua. Jantung Kemala langsung jatuh.
"Ibu Raline ...."
Belum sempat menjelaskan, Raline sudah mendekat. Tatapan wanita itu penuh kemenangan.
"Jadi kamu memang membawa pria asing ke kediaman Rothmere."
"Bukan begitu!"
"Kemudian apa?" Raline memotong. "Kamu tahu aturan rumah ini."
"Dia datang sendiri. Saya tidak mengundangnya, dan saya sedang mengusirnya."
Namun Raline sama sekali tak terlihat ingin mendengar. "Aku bisa mengatakan kepada Madam bahwa kamu mencoba melakukan sesuatu yang tidak pantas di area kediaman."
Wajah Kemala memucat. "Bu, jangan ...."
"Jangan apa?" Raline menyilangkan tangan. "Jangan tak tahu diri hanya karena selama ini kamu selalu dibela!"
Setiap kata terasa seperti pisau. Kemala hanya bisa menunduk. Wanita desa itu tahu. Apa pun yang dikatakan Kemala sekarang tak akan mengubah apa pun. Di belakang Raline, Mira memperhatikan dengan tenang.
Raline melempar senyum tipis ke arah Reza tanpa Kemala sadari. Senyum yang segera dibalas pria itu. Sama liciknya dan penuh perhitungan. Reza melangkah maju. Wajah pria itu berubah menjadi penuh penyesalan. Akting yang menjijikkan.
"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud mengganggu."
Raline menoleh. Reza langsung menunduk hormat.
"Kemala adalah mantan kekasih saya."
Kemala langsung menatap pria itu sangat tajam. Namun Raline justru tersenyum. Bukan kepada Kemala. Melainkan kepada informasi itu.
"Oh. Hanya mantan kekasih?"
Reza mengangguk. "Saya hanya ingin berbicara sebentar."
Raline kembali menatap Kemala. Dan kali ini senyum wanita dengan sepatu hak tinggi itu jauh lebih tajam.
"Hebat sekali! Nathan belum lama sehat, sekarang kamu mulai memasukkan mantan kekasihmu ke sini!”
"Bu, saya tidak pernah–"
"Cukup!”
Kemala menutup mulutnya. Percuma, apa pun yang wanita desa itu katakan tak akan dipercaya. Raline sudah memiliki kesimpulannya sendiri. Dan tampak wanita bergaun mewah itu sangat menikmati situasi ini.
Kemala menarik napas panjang. Lalu berbalik ke arah Reza.
"Pergi."
Reza tak bergerak.
"Pergi sekarang."
"Aku cuma mau uangku."
"Itu bukan uangmu."
"Lima puluh juta."
"Pergi!" suara Kemala benar-benar pecah.
Reza terdiam sesaat. Mata pria itu sempat melirik Raline. Wanita itu memberi anggukan tipis. Namun anggukan yang sangat tipis itu cukup untuk dimengerti Reza. Reza akhirnya mundur beberapa langkah.
Senyumnya kembali muncul. "Baiklah. Kali ini aku pergi."
Tatapannya menancap ke wajah Kemala.
"Lihat saja nanti, aku akan kembali untuk mengambil uang 50 jutaku!”
Kemala merasa mual. Benar-benar mual. Pria itu akhirnya berjalan keluar gerbang, meninggalkan suasana yang jauh lebih buruk daripada sebelumnya.
Raline tertawa kecil. "Ternyata Rothmere memasukkan pelacur ke dalam rumah."
"Bu?" Kemala mengangkat kepala.
Mata Kemala begitu memerah. Namun Raline hanya mendengus lalu berbalik masuk. Mira mengikuti di belakang wanita dengan gaun mewah itu.
Tak lama kemudian. Kemala tinggal sendirian di depan gerbang. Angin sore berembus pelan. Namun sama sekali tak mampu meredakan sesak di dada wanita ayu itu. Kemala berdiri sangat lama, memandangi jalan kosong tempat Reza tadi pergi. Satu bencana belum selesai, bencana lain sudah datang. Dan Kemala bahkan tak tahu siapa yang bisa dipercayainya.
Getaran ponsel membuat Kemala tersentak. Wanita itu melihat layar. Pengingat jadwal menyusui Nathan. Waktu sudah berlalu cukup lama. Nathan pasti segera bangun. Kemala mengusap cepat air matanya. Lalu melangkah kembali ke dalam.
Kediaman Rothmere sudah jauh lebih tenang begitu langit gelap. Nathan tertidur setelah menyusu. Lampu kamar Kemala hanya menyisakan cahaya redup. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di tengah keheningan malam. Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil memegang foto USG yang sudah mulai kusam. Satu-satunya benda yang selalu berhasil membuatnya bertahan. Jari-jari Kemala mengusap permukaan foto perlahan.
"Nak ..." suara Kemala hampir tak terdengar. "Ibu masih mencari kamu."
Air mata kembali menggenang. Namun kali ini tak jatuh. Kemala menatap foto itu sangat lama. Sampai perlahan keberanian yang sempat hilang mulai kembali. Kemala sangat tahu, Reza tak akan berhenti jika dia terus menghindar. Pria itu justru akan semakin berani. Kemala menarik napas panjang lalu meraih ponselnya. Membuka daftar nomor yang diblokir.
[Reza Adiprana]
Tangannya sempat gemetar. Namun akhirnya tetap menekan tombol buka blokir. Beberapa detik kemudian. Wanita desa itu mengetik pesan. Setiap huruf terasa sangat berat.
[Jangan seenaknya sendiri, Za! Aku gak punya uang segitu. Sekali lagi kamu datang kayak tadi, aku bakal lapor polisi]
Jempol Kemala menggantung beberapa detik di atas layar. Kemala lalu mengirim pesan tersebut dan memastikan telah telah terkirim. Tanpa memberi kesempatan Reza membalas, Kemala langsung memblokir nomor itu kembali.
Namun bukannya lega. Dada Kemala justru terasa semakin sesak. Ponsel itu terlepas dari tangan lentik itu dan jatuh ke atas kasur. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya runtuh.
"Kenapa ..." bisik wanita itu parau. "Kamu kenapa masih ganggu aku..."
Kemala menutup wajah ayunya dengan kedua tangan. Bahu wanita itu bergetar hebat. Lalu perlahan amarah yang selama ini terkubur mulai muncul. Amarah yang sangat lama dipendam. Amarah yang tak pernah benar-benar sempat Kemala keluarkan. Tangan kurus itu mengepal. Kemudian memukul dadanya sendiri. Berkali-kali.
Seolah Reza sedang berdiri tepat di depannya.
"Kenapa kamu gak pernah berhenti..." isak wanita yang meringkuk itu pecah.
Puk!
"Kenapa?"
Puk!
"Kamu udah paksa aku melakukan itu sampai aku hamil anak kamu!"
Air mata mengalir semakin deras.
"Semua orang nyalahin aku!"
Puk!
"Ayah sama ibu malu karena aku!"
Puk!
"Aku harus melahirkan seorang bayi sendirian tanpa suami!"
Suara Kemala mulai pecah oleh tangis. Tangan kurusnya terus memukul dadanya sendiri. Bukan karena sakit tetapi karena terlalu banyak rasa sesak yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana.
"Sekarang bayi itu hilang ..." Kemala menunduk. Tangan wanita itu mencengkeram foto USG Arkana hingga kusut.
"Bayi itu hilang ..." suara Kemala berubah menjadi bisikan putus asa.
"Hidupku jadi begini ..." tangis wanita itu semakin keras. "Dan kamu masih gak kapok ganggu aku ...."
Tubuh Kemala gemetar sangat hebat. Untuk beberapa saat hanya suara isak tangis yang memenuhi kamar.
Tiba-tiba.
Sebuah suara terdengar dari belakangnya. Tenang dan pelan. Namun cukup membuat seluruh tubuh Kemala membeku.
"Siapa yang kamu maksud, Kemala?"
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉