Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Dukun sakti
🍃🍃Keesokan paginya.🍃🍃
“Vivana! Vivana.” Sayup-sayup aku mendengar suara Fanny, dan Baskara memanggil namaku, kedua pipi di pukul pelan agar menyadarkan aku.
Aku membuka kedua mataku, melihat ke kanan/kiri. “Dimana aku?” Tanyaku bingung. Aku merasa bingung kenapa aku berada di ranjang empuk, padahal aku baru saja ingin berbincang kepada Fanny, menyuruhnya pulang agar kedua orang tuanya tidak cemas. Dan aku juga ingat saat aku hendak mendekati Fanny dan Baskara, berhembus angin ke wajahku, membuat aku tertidur dan tak sadarkan diri.
Fanny langsung memeluk tubuhku, Fanny tak biasanya menangis, kini menangis di pundakku. “Vivana. Aku sangat takut jika kamu tidak kembali ke wujud asli kamu. Tadi malam kamu sangat menyeramkan, aku takut melihat tatapan dan kedua bola mata putih kamu. Tapi aku sadar jika itu bukan kamu, jadi aku harus tetap dampingi kamu. Vivana, kamu jangan kesurupan lagi, ya?”
“Kesurupan! Emangnya aku kesurupan?”
Fanny melepas pelukannya, mengilap ingus di selimutku. Kepala mengangguk. “Iya. Iman kamu lemah jadi kamu bisa kesurupan. Apa sih, yang kamu pikirkan sehingga kamu bisa dirasukin setan ja..lang itu?”
“Husst! Setan tidak ada yang ja..lang, Fanny.” Sahut Baskara memegang bahu kanan Fanny.
Fanny melepaskan tangan kanan Baskara yang memegang bahunya. “Adalah. Hanya ja..lang yang bisa merasuki seseorang, dan mempengaruhi pikiran, tubuh serta seluruh syaraf kita.”
Aku mengulas senyum tipis, kepala menggeleng. “Fanny-Fanny.”
“Ini Mbah! Putri ku yang katanya kesurupan tadi malam.”
Ayah muncul dari depan pintu kamar, membawa seorang pria paruh baya, wajah di penuhi bopeng, baju serba hitam, rambut kriting, serta kumis tebal menambah kesan seram setiap orang menatap wajahnya.
“Vivana, kenapa Ayah kamu memanggil dukun?” Tanya Fanny berbisik pelan.
Aku menggeleng, kedua mata menatap lurus ke Ayah dan pria paruh baya yang di sebut dukun. “Gak tahu Fan.”
Ayah, pria paruh baya di sebut dukun berdiri di sisi kiri ranjangku.
Pria paruh baya yang di sebut dukun berdiri mendekati ranjang ku lebih dekat. Tangan kanan mengelus pelan dagu kasarnya, kepala mengangguk, alis kanan menaik, kedua mata menatapku tajam.
“Ini hantu wanita. Kalian harus menyiapkan kemenyan, bunga mawar merah dan putih, sama bunga melati.”
“Sudah saya siapkan semua Mbah.” Sahut Ayah dengan cepat.
“Ayah, buat apa memanggil dukun. Bukannya lebih bagus kita memanggil Pak Ustad, dari pada kita menyekutukan Allah.” Ucapku. Meski aku tidak paham betul tentang Agama, tapi sedikit banyaknya aku mulai belajar mana yang baik dan mana yang buruk selama mengikuti pengajian malam.
‘Yes. Kamu benar sekali Vivana, kamu tidak boleh menyekutukan Allah karena semua amal ibadah kamu akan sia-sia. Bagus kamu langsung membantah Ayah kamu seperti itu, dan yang kamu bilang tidak salah.’ Batin Baskara, kepala mengangguk, bibir mengulas senyum tipis.
“Silahkan panggil Pak Ustad. Aku mau lihat, hebatan aku atau Pak Ustad untuk mengusir setan yang selalu teror kamu.” Sahut dukun meninggi. Tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan menepuk dada yang di busungkan. “Aku dukun paling hebat, kuat dan sakti yang ada di Bandung. Jauh-jauh aku di panggil di sini hanya untuk di bandingkan dengan Ustad kampung.” Tangan kanan mengarah ke pintu yang di buka lebar. “Silahkan panggil pria yang kamu sebut Pak Ustad. Aku mau lihat kehebatannya.” Ucap dukun dengan sombong.
Fanny mendekatkan bibirnya di daun telinga ku. “Sombong sekali dukun ini Vivana. Padahal kalau sakit di rawat di rumah sakit, kalau kulitnya terluka, berdarah juganya.” Bisik Fanny, kedua mata menatap dukun.
“Tidak ada yang bisa melukaiku, aku ini kebal dengan senjata apa pun.” Sambung dukun tersebut seperti mendengar percakapan Fanny dan aku, tangan kanan menepuk bidang dada yang dibusungkan.
“Eh!” Fanny bangkit dari ranjang, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke dukun yang sudah sedikit menjauh dari ranjangku. “Wis! So….”
Aku segera menarik tangan Fanny, membungkam bibir Fanny yang hendak menghujat dukun tersebut. Aku paham betul jika Fanny tidak suka melihat sikap sombong dukun tersebut, tapi aku tak mau Ayah berpikir buruk tentang sahabatku, dan aku juga tak ingin di jauhkan dari Fanny dan Baskara. Aku segera mengangguk, bibir tersenyum manis. “Maaf. Teman saya tidak bermaksud jahat kepada Bapak.”
"Mari kita keluar sebentar Dan."
Baskara segera mendekati Fanny, menarik tangan Fanny dan membawa Fanny keluar dari kamarku.
“Dasar anak kurang di didik.” Tandas Ayah, kedua mata menatap kepergian Baskara dan Fanny.
“Jadi bagaiman ini! aku juga masih banyak janji, dan aku juga masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Hanya masalah sepele seperti ini sebaiknya kalian panggil saja Ustad. Seperti anak ini katakan.” Ucap dukun terdengar emosi.
Ayah memegang kedua tangan dukun tersebut bibir tersenyum kaku. “Mbah. Saya hanya yakin sama Mbah. Jadi mari kita mulai saja.”
“Kalau begitu, ambil semua bahan yang aku minta tadi.” Tegas dukun tersebut.
Ayah segera memanggil bibi untuk membawakan semua bahan yang sudah di sediakan Ayah sejak tadi malam.
Kemenyan sudah dinyalakan di dalam gerabah, tangan kanan dukun tersebut memegang gerabah yang isi dalam gerabah terdapat kemenyan sudah menyala. Wangi kemenyan menebar memenuhi seisi kamar, dukun tersebut mengelilingi kamarku, tangan kiri menabur bunga mawar putih dan merah, bibir komat-kamit membaca mantra.
“Keluarlah kamu setan Alas, baik yang tersembunyi di dalam tanah atau di dalam kegelepan cahaya. Aku ini adalah penguasa bumi dan langit beserta isinya, keluar kamu atau aku akan memusnahkan kamu tanpa menyentuh. Keluar kamu setan Lak…nat.”
Wussshhh!!
Jderr!!
Jdeerr!!
Klatang!!
Kain gorden menjuntai di daun jendela dalam kamar terbang seketika, daun pintu jendela kamar tertutup/terbuka, gelas minum terletak di meja lampu sisi kepala kananku ranjangku seketika jatuh pecah ke lantai.
“Keluar kamu!” Teriak dukun tersebut, kedua mata menatap sekeliling kamarku.
Ayah yang berdiri di samping ranjang langsung duduk ke tepian ranjang, meraih tubuhku, memelukku cukup erat.
“Tenang Vivana. Kamu akan segera terbebas dari setan itu.”
“Tapi cara ini salah Ayah.”
“Diam. Aku lebih tahu mana yang salah dan mana yang benar buat kamu. Turuti semua perintah ku atau kamu akan menjadi anak durhaka dan mati sia-sia dengan setan itu.”
“Baik, Ayah.”
Aku pikir Ayah memelukku untuk menenangkan aku atau kuatir kepadaku, ternyata Ayah memelukku hanya untuk mengancam diriku. Aku tidak bisa berkata apa pun lagi meski aku tahu perbuatan ini salah. Kini aku sudah menjadi manusia syirik karena sudah menduakan Allah.
“HAHAHA….HAHAHA…. SIAPA LAGI YANG MENGUSIK KETENANGANKU SEPAGI INI.”
Terdengar suara hantu wanita tertawa dan marah menggema kuat di dalam kamarku.
Aku menatap wajah Ayah yang terlihat panik. “Ayah. Tidak begini cara mengusirnya.” Ucapku pelan.
“Diam. Aku lebih tahu dari kamu.”
“Tapi Ayah.”
Braakk!!!
Kltang!
Tubuh dukun tersebut terbang menghempas dinding kamar, gerabah berisi kemenyan dan bunga mawar merah dan putih pecah, berserakan di atas lantai.
“Dasar setan lak…nat.” Teriak dukun tersebut menatap sekeliling kamar, tubuh menyandar di dinding kamar, darah menyembur dari bibirnya, tangan kanan memegang dada. Jari telunjuk tangan kiri mengarah ke sekeliling langit-langit kamarku. “Keluar kau SETAN, beraninya bersembunyi.” Tangan kiri memukul dadanya. “Aku, dukun sakti, aku tidak takut dengan kamu.”
“HAHAHA…..HAHAHA.” Terdengar kembali tertawa cukup nyaring, tapi tak berwujud. “JANGAN SOMBONG KAMU WAHAI UMAT MANUSIA YANG LEMAH.”
Jleb!!!!
Pecahan gelas kaca yang berserakan di atas lantai melayang, menusuk bagian tenggorokan dukun tersebut. Darah mengalir dari tenggorokan membasahi baju kaos dukun tersebut, kedua mata mendelik ke langit-langit kamar.
“Ayah.” Teriakku histeris, aku segera menutup mata dan bersembunyi di balik bidang dada Ayah.
“Ck. Gak guna. Besar cakap.” Keluh Ayah melihat dukun yang sudah tak bernyawa mati dengan mudahnya di tangan setan wanita.
...Bersambung.......
makanya datang terus meneror
sereeeemmm