Sebuah kecelakaan yang terjadi enam bulan lalu membuat Baby Corn harus kehilangan sebelah kakinya. Ia juga sempat mengalami koma selama tiga bulan. Sementara kekasihnya Lucky meregang nyawa di lokasi kecelakaan.
Seorang dokter bernama Maxime, memantau perkembangan kesehatan Baby dari mulai terapi sampai ia dinyatakan sembuh. Perlahan timbul rasa suka pada Baby. Karena berstatus duda, ia tak pernah mengakui jika dirinya jatuh cinta pada Baby.
Setelah siuman, Baby tinggal di Paris, Perancis, sebuah kota yang penuh keromantisan. Ia berharap bisa melupakan kenangan pahit setelah kehilangan sebelah kaki dan juga kekasihnya.
Cita-citanya terhenti karena fisik yang cacat, membuat Baby harus membuat kaki palsu. Di saat yang sama, perjuangan cinta dokter Maxime diuji ketika Baby memutuskan untuk masuk dunia modeling.
Bagaimana perjuangan dokter Maxime dalam meraih cintanya, apa Baby bisa menjadi supermodel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. DUPLIKAT LUCKY
Sesuai ucapan dr. Haris, dua hari kemudian Baby kembali datang ke Rumah Sakit. Michael terpaksa menunda kepulangannya ke Indonesia demi menemani Baby chek up. Sementara itu Jas Jus masih berada di apartemen Maxime.
"Uncle, hari ini aku akan ke agency tempat Baby bernaung, benar nih, nggak mau nganterin aku?" tanya Jas Jus memastikan hal tersebut.
Maxime tampak membuang muka. Ucapan dari keponakannya itu bahkan tak ia pedulikan sama sekali. Pikiran Maxime sedang terfokus pada kesembuhan Baby. Ia masih sibuk mencari dan membaca semua hal yang berkaitan dengan kaki palsu.
Fokus Maxime hanya satu, mencari kesembuhan untuk Baby serta memantaskan dirinya. Urusan Cherry bahkan ia abaikan begitu saja.
"Ish, ngomong sama Uncle kayak ngomong sama udara. Sama sekali nggak diperhatikan."
Jas Jus mulai jengah dengan keheningan yang terjadi beberapa hari ini. Sejak terakhir kali, Maxime meninggalkannya di tempat Gym. Sejak itu pula Maxime mendiamkan dirinya.
"Sepertinya sangat susah berbicara dengan orang tua," ucapnya dengan sebal.
Jas Jus berdiri dari tempat duduknya dan melenggang pergi meninggalkan Maxime yang membisu. Tidak lupa Jas Jus membanting pintu kamarnya sebagai tanda protesnya.
"Astaga, Jas Jus!" teriak Maxime.
Di dalam kamarnya, Jas Jus kembali mengomel. Ia mengamati ponselnya dengan seksama. Dilihatnya akun Baby di sosial media, tetapi nihil. Baby sama sekali tak terlihat beraktifitas di sana.
"Nyebelin, Baby juga nggak ada kabar dua hari ini. Ish, kalian tuh ya, beneran nyebelin. Mending gue balik ke Indo kalau begini."
Jas Jus bersiap-siap untuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Pandangan matanya beralih ke atas nakas. Iam elihat laptop miliknya berada di sana dan ia baru teringat akan sesuatu hal.
"Astaga, gue lupa kalau masih ada urusan sama mak lampir itu."
Jas Jus tersenyum sambil menyeringai, "Nggak sabar buat lihat ekspresi kamu."
Setelah meraih sleeping bag miliknya Baby keluar dari kamar lalu pergi menuju agency model tempat Baby dan Cherry. Kali ini ia memilih naik angkutan online daripada harus berdebat dengan Maxime.
Melihat Jas Jus pergi, Maxime mengemasi peralatan kerjanya lalu berangkat ke Rumah Sakit Ia sudah tidak sabar mengikuti perkembangan kesehatan Baby di sana.
🍂Agency Model
Karena hari ini ada seorang model laki-laki yang diundang khusus oleh Mariska, tampak sekali para model heboh. Secara di agency mereka semuanya pure wanita, tidak ada laki-laki.
Jas Jus yang baru datang sedikit heran karena tidak ada latihan saat ini. Kebanyakan diantara mereka ada yang di make up, ada pula yang sedang berganti baju. Karena penasaran, Jas Jus mendatangi Mariska, salah satu mentor dari para model di agency tersebut.
"Selamat siang, Kak Mariska," sapa Jas Jus ramah.
"Siang juga, Jessi."
"Loh, kok sendirian, yang lainnya kemana?" tanya Kak Mariska.
"Lah, Baby enggak datang, 'kah?"
"Baby kembali ambil cuti karena kakinya kembali sakit."
"Gue kok nggak tau, sahabat macam apa aku ini?" batin Jas Jus.
"Trus gimana dengan karir Baby, Kakak nggak bermaksud buat pecat dia, 'kan?"
"Tenang aja, dia calon superstar. Nggak mungkin aku pecat dia."
"Akh, makasih Kakak, kamu baik banget deh."
"Aku heran kenapa kamu nggak mencoba untuk masuk dunia model, Jes."
"Hm, aku nggak bisa, lagi pula hobby aku cuma shopping dan makan. Kalau di suruh diet hanya untuk cantik, oh, aku tidak sanggup."
"Wkwkwk, kamu tuh, ya."
Belum sempat Mariska melanjutkan bicaranya, tiba-tiba pintunya di ketuk.
"Nona Mariska, tamu yang Anda tunggu sudah datang."
"Persilakan dia masuk."
"Siap, Nona."
Tidak butuh waktu lama, asistennya membawa seorang model laki-laki. Dengan gaya rambut faux hawk, tetapi bukan hal itu yang membuat Jas Jus terpukau. Melainkan wajahnya yang sangat mirip dengan Keandra Lucky, pacar Baby yang sudah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.
"Bienvenue monsieur le Tango."
(selamat datang tuan Tango)
"Merci pour l'accueil mademoiselle Mariska."
(Terima kasih untuk sambutannya nona Mariska)
Melihat Jas Jus yang menganga membuat Mariska malu dan menegurnya.
"Jas Jus, jaga pandangan matamu, nggak sopan tau!"
"Eh, maaf Kak."
"Kenapa dia mirip sekali sama Lucky, bedanya ia mahir banget bahasa Perancis, sedangkan dia .... "
.
.
Hm, ada duplikat Lucky loh datang, hayo pada mihak siapa nih setelah ini, mau Baby sama dokter atau pindah haluan ke duplikat mantan pacarnya, eh .... Komen yuk.