Sarah adalah gadis desa yang cantik dan polos, dia tertipu dengan cinta palsu Frans.
Frans seorang pria muda, tampan, dan kaya raya yang menikahi Sarah karena taruhan yang dia buat dengan temannya.
Tidak lama setelah menikah Sarah hamil, tapi Frans tidak mau bertanggung jawab pada anak yang dikandungnya.
Frans meninggalkan Sarah yang tengah mengandung anaknya, dan kembali ke Jakarta.
Penderitaan Sarah tidak cukup sampai disitu, Sarah divonis dokter menderita kanker otak. Dokter menyarankan dia untuk menggugurkan kandungan demi kebaikannya. Tuhan tidak pernah membiarkan ketidak-adilan pada hambanya.
Suatu hari Frans mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia tidak bisa punya anak seumur hidupnya. Karena hal itu Frans harus membawa Sarah ke Jakarta, karena anak yang dikandungnya itu satu-satunya yang akan menjadi penerusnya.
Bagaimanakah nasib Sarah selanjutnya? Akankah dia memilih keselamatannya atau bayi yang dikandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cussie°®, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Frans menghentikan langkahnya karena mendengar perkataan Rani. Dia menutup kembali pintu itu, dan segera berbalik badan menghampiri Rani.
"Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Frans dingin.
"Aku tahu kau sangat mencintai Stevi, dan sekarang dia sudah kembali. Lalu bagaimana dengan Sarah? Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Rani.
"Tentu saja aku akan menceraikan dia setelah melahirkan anakku," jawab Frans tanpa merasa bersalah.
"Maksudmu, kau hanya ingin memanfaatkannya saja untuk melahirkan anakmu, setelah itu kau akan menyingkirkan dia?" tanya Rani dengan wajah kesal.
"Iya."
"Bagaimana bisa kau setega itu, apa kau tidak pernah mencintainya sedikitpun?"
"Tidak pernah."
"Mungkin sekarang kau tidak menyadari betapa berartinya Sarah dalam hidupmu. Aku harap kau tidak akan pernah menyesalinya nanti," kata Rani seraya menatap Frans dengan kesal. Dia bicara dalam hati, Karena saat itu terjadi kau sudah terlambat Frans, sangat terlambat....
Setelah mengatakan itu, Rani segera pergi meninggalkan Frans yang bingung dengan maksud perkataannya. Kemudian Frans masuk ke ruangan kamar Sarah.
Di sana dia menatap Sarah cukup lama karena teringat perkataan Rani tadi, "Apa yang akan aku sesali, aku tidak pernah mencintainya sedikitpun, aku hanya menyukai tubuhnya saja."
Lalu Frans duduk di sofa tepat di samping ranjang Sarah.
Di tengah malam Sarah membuka matanya, dia melihat Frans yang tertidur di sofa dengan kepala yang menyandar di ranjangnya. Cukup lama Sarah menatap lekat wajah Frans dengan tatapan sedih, dia bicara dalam hatinya,
"Ya Tuhan... berikanlah aku waktu lebih lama, agar aku bisa bersamanya, aku sangat mencintainya, hanya dengan melihatnya begini saja, sudah cukup untukku."
Sarah menggerakkan tangan kanannya ingin menyentuh wajah Frans, namun dia mengurungkan niatnya karena teringat perkataaan Frans tadi siang padanya. Hatinya masih terluka hingga membuatnya menangis pilu, dia menangis seraya menutup mulut dengan kedua tangannya supaya tidak membangunkan Frans yang tidur di sampingnya, dia menangis semalaman tanpa bersuara.
Pagi harinya, Frans yang baru saja bangun tidur mulai membuka matanya dan mengerjapkan matanya, betapa terkejutnya dia melihat ranjang di depannya sudah kosong, Sarah sudah tidak ada di ranjangnya.
Frans dengan panik berlari keluar ruangan untuk mencari Sarah, matanya dengan teliti mencari di setiap sudut rumah sakit, sampai akhirnya dia menemukan Sarah yang sedang duduk di bangku taman rumah sakit.
Sarah menatap ke arah seorang ibu yang duduk di bangku seberang, ibu tersebut sedang menimang anaknya. Sarah teringat kenyataan dirinya jika dia tidak akan pernah bisa menimang anaknya sendiri, dia menitihkan air matanya tidak sanggup melihat pemandangan di depannya itu.
Sarah beranjak dari kursi untuk segera pergi dari sana, namun saat Sarah berbalik badan Frans sudah berdiri di depannya. Sarah yang terkejut melihat kehadiran Frans, dia segera menghapus air matanya, dan ingin segera pergi dari sana untuk menghindari Frans, tapi Frans menahan tangannya.
"Ada apa Sarah? Kenapa kau menangis?" tanya Frans khawatir.
Sarah melepaskan tangan Frans yang memegangi lengan kanannya, dia tidak menjawab pertanyaan Frans dan langsung pergi meninggalkannya. Frans bingung melihat sikap Sarah yang dingin kepadanya, dia tidak bicara sedikitpun, dan wajahnya terlihat sedih.
Di dalam ruangan kamarnya, Sarah sedang berganti baju bersiap untuk keluar dari rumah sakit, Frans menunggunya di luar ruangan.
up
up