Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sepucuk surat di terima Ratri siang ini.
Entah apa maksud Faisal kali ini. Tidak biasanya Faisal bersikap seperti ini.
Sedari kemarin, perasaan Ratri di dera rasa tak nyaman.
Di bawanya surat dari Faisal. Sejenak, aroma kertasnya demikian harum dengan amplop yang begitu bagus.
Hati Ratri seolah merasakan bahwa surat ini bukanlah pertanda baik.
Setibanya di kamar, di bukanya perlahan surat itu. Mbok Ijah yang menyerahkan surat hanya mampu menunduk dan mengikuti langkah Ratri sesuai permintaan Ratri sendiri.
Setibanya di kamar, Ratri membawa mbok Ijah duduk di sofa minimalis di sudut ruangan dekat jendela.
Pram tengah menghadiri acara khitanan salah satu kerabat. Jadi hari ini, Ratri sedikit bebas berbincang apapun dengan mbok Ijah.
"Apa kata Faisal, mbok? Apa yang dia ucapkan saat terakhir kali mbok Ijah ketemu sama anak itu?".
Tanya Ratri cemas. Tangannya masih memegang surat dari Faisal dan tak segera membukanya.
"Ndoro Faisal hanya pamit pergi, ndoro. Beliau tidak mengatakan akan pergi kemana.
Tapi.... non Putri dan non Risti di bawa juga.
Katanya, beliau...... merasa tidak di terima di keluarganya karna...... kebodohannya.
Saya hanya.... menyampaikan maaf beribu maaf pada ndoro sepuh dan ndoro putri,atas perintah ndoro Faisal. Juga..... kepada ndoro Fian dan.... ndoro Melati.
Kalimat terakhir yang harus saya sampaikan adalah.....
Permintaan maaf ndoro Faisal pada ndoro Gibran.
Menyampaikan bahwa.... ndoro Faisal sangat menyayanginya sepanjang hidup ndoro Faisal".
Jantung Ratri menghentak semakin keras. Desiran darahnya mengalir deras menuju titik simpul hati.
Tubuh Ratri juga melemas seiring dengan kalimat demi kalimat yang mbok Ijah sampaikan.
Bak raga yang tercabut ruh nya, Ratri merosot dan menangis tanpa suara. Hatinya seolah di hantam Godam dengan beban ribuan ton.
Faisal......
Adalah satu-satunya anaknya. Satu-satunya sandaran dan tempat Ratri berkeluh kesah selama ini.
Kepergian Faisal, tentu menjadi pukulan tersendiri bagi Ratri. Sebagai ibu, tentu Ratri tak pernah bisa membayangkan hidup tanpa Faisal.
Seburuk-buruknya Faisal, Ratri tetaplah seorang ibu yang tak akan mungkin membenci darah dagingnya sendiri. Terlebih Faisal adalah satu-satunya anak yang keluar dari rahimnya.
Hancur? Sudah pasti.
Ratri sungguh merasakan kehancuran seorang ibu. Kehancuran yang sesungguhnya.
"Kemana ya, mbok anak itu pergi? Apa ya Ndak mikir kalau saya.... Ndak bisa........"
Ratri sudah tak bisa menahan tangisnya dan melanjutkan kalimatnya.
"Sa.... saya Ndak tau, ndoro.".
"Begini saja, mbok. Temani saya menemui Fian dan Melati. Nanti pak Ngatmo saja yang antar.
Saya harus bicara dengan Fian. Untuk menunggu kang mas Pram, saya Ndak bisa lebih lama lagi".
Pinta Ratri dengan suara sengau.
"Injeh, ndoro".
~~
~~
Melati dan Gibran tengah melihat-lihat bagian hunian yang hendak di beli Fian, suami Melati. Begitu juga dengan Fian yang menyerahkan keputusan sepenuhnya pada melati.
Tidak sebesar rumah yang dulu Melati tempati ketika ia masih menjadi istri Faisal, Namun hunian ini cukup asri dengan beberapa jenis tumbuhan bunga dan beberapa macam sayur di halaman belakang.
Cukup menjanjikan kenyamanan dan kedamaian andai Melati menempati rumah ini.
"Iban, iban suka tidak dengan rumahnya?"
Tanya Fian pelan.
"Suka, pa. Mama juga pasti suka. Iya, kan ma?".
Melati mengangguk dan tersenyum. Bagi Melati, rumah ini lebih dari cukup untuk tempat tinggal mereka.
"Mel..... kamu beneran suka? Mumpung ini belum saya nego harganya".
"Iya, mas. Di sini cukup nyaman, juga suasana nya cukup asri".
"Apa nggak keberatan? Karna.... rumah ini tak sebesar rumah mas Faisal dulu saat kamu jadi istrinya".
Langkah Melati tiba-tiba terhenti. Ia membeku ketika nama Faisal di sebut.
Fian sengaja memancing Melati dengan mengangkat topik ini. Bukan sengaja menyakiti, melainkan mengamati reaksi alami yang keluar dari diri istrinya itu.
"Besar tidak nya rumah, asal menjanjikan keharmonisan dan kebahagiaan, bagi saya sudah lebih dari cukup, mas".
Senyum tipis di bibir Fian, serta sorak girang dari dalam hatinya yang terdalam, seolah menjadi pertanda kebahagiaan tersendiri bagi Fian.
Di tempat inilah.... ia akan memulai perjalanannya bersama wanita yang Fian cintai.
Sumpah dan janji, Fian lantunkan dalam hati, bahwa ia akan berjuang untuk membahagiakan istrinya.
Dan semakin lama, semenjak Fian menyebutkan nama Faisal di hadapannya, Melati semakin di rundung rasa tak nyaman yang entah karena apa.
Perasaannya mendadak tak nyaman. Firasatnya seperti mengatakan ada hal buruk yang sedang terjadi.
"Kamu kenapa? Saya perhatikan, kamu seperti tengah gelisah? Apa ada masalah?".
Tanya Fian ketika mereka telah berada di dalam mobil.
Gibran juga seperti tak nyaman saat ini. Hal itu tentu tak luput dari perhatian Fian.
"Kamu kenapa, nak? Apa Iban lapar?"
"Nggak tau, yah. Perasaan Iban Ndak enak. Kok tiba-tiba Iban kangen sama ayah, ya."
Degg
Jantung melati seperti terhenyak seketika. Apa yang ia rasakan nyatanya putranya juga merasakan.
Ada apa dengan Faisal kali ini?
"Iban pengen ketemu ayah? Kalau iya, nanti sore sepulang ayah dari kantor, kita akan temui ayah".
Tukas Fian kemudian. Matanya lantas melirik sekilas istrinya.
"Apa kamu juga ingin ketemu mas Faisal?".
Melati menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Endak, mas. Saya ingin langsung pulang saja".
"Gimana kalau sekarang, pa? Iban pengen ketemu ayah sekarang".
Perasaan Gibran semakin tak nyaman. Entah mengapa, bayangan Faisal memanggil-manggil dirinya, terbayang dalam otak anak dari Faisal itu.
"Tapi nak.... ayah masih kerja. Kalau kita kesana sekarang, akan ganggu ayah pastinya."
Lantas Fian melirik jam di pergelangan tangannya.
"Lagipula sebentar lagi papa akan ke rumah sakit untuk mengurus beberapa hal.
Gimana? Nggak apa-apa, kan?".
"Iya, deh. Tapi janji ya pa? Nanti antar Iban ketemu ayah?".
"Janji".
Sahut Fian. Namun tak lantas hal itu mampu membuat Gibran merasa lega. Hati Gibran merasa resah luar biasa kali ini.
Tak lama, dering ponsel Fian berbunyi. Dengan gerakan hati-hati, Fian mengangkat panggilan yang rupanya itu dark Ratri.
Suara Ratri terdengar serak kali ini. Terdengar seperti habis menangis.
"Hallo, iya Bu ada apa?".
"Fian. Kamu di mana, le?"
"Di jalan Bu. Ini mau pulang".
"Kang mas mu.....".
"Ada apa dengan mas Faisal, Bu?".
Baik Gibran maupun Melati menahan nafas Demi mendengar kabar tentang Faisal.
"Kang mas mu pergi entah kemana. Dia menghilang dengan membawa putri dan Risti.
Mbok Ijah bilang.... mas mu pergi jauh karena.... ia tak di terima di keluarga ini lagi.".
....
....
....
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩