Persahabatan yang sudah terjalin selama 20 tahun antara Moetia dan Manda diambang kehancuran karena kehadiran seorang pria bernama Bagas.
Manda yang sudah mencintai Bagas sejak kuliah tidak mengetahui jika Bagas adalah atasan Moetia di kantor nya.
Dan saat Moetia mulai jatuh hati pada Bagas, dia baru tahu bahwa sahabatnya juga mencintainya
Lalu siapakah yang dicintai Bagas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Merelakannya
Moetia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, Gio menghela nafas nya panjang.
Gio meraih tangan Moetia dan menggenggam nya.
" Apa kamu sudah makan malam? " tanya Gio
" Sudah, bagaimana dengan kamu? " tanya Moetia
Gio menggeleng
" Belum, ada kafetaria dibawah! kamu mau menemaniku makan malam? " tanya Gio
Moetia mengangguk perlahan
" Aku akan ke tempat suster jaga dulu untuk mengatakan bahwa aku di cafetaria " jelas Moetia
Moetia dan Gio pergi ke meja jaga para perawat dan memberikan nomer ponsel Moetia pada seorang suster.
Setelah itu Moetia dan Gio pergi ke kafetaria rumah sakit.
Gio memesan makanan dan minuman lalu duduk bersama Moetia.
" Kamu terlihat cemas Moetia? " tanya Gio sambil mengunyah makanannya
" Makanlah dulu Gio, oh ya apa kak Diana tidak marah kamu kemari? " tanya Moetia
Gio mengangguk
" Dia mengomel sepanjang jalan ke Bandara, dia bilang lusa aku harus sudah sampai di cafe, terkadang aku merasa dia bukan seperti manager ku, lebih seperti ibu tiri " canda Gio
Moetia tersenyum tipis
" Jangan bilang begitu, bagaimana pun juga dia yang telah menolong mu dan membuatmu terkenal juga di kejar-kejar banyak gadis, iya kan? " ejek Moetia
Gio sampai tersedak
" Uhuk uhuk, Moetia kamu benar tapi kalimat terakhir mu salah, aku tidak di kejar-kejar tapi sudah seperti di buru, kemana-mana tidak bebas tanpa masker dan kaca mata, menyebalkan " keluh Gio
" Lalu kenapa tidak menyewa bodyguard saja? jika kamu merasa terganggu? " tanya Moetia
" belum separah itu ! " sahut Gio yang sudah menghabiskan makanan nya
Moetia terkejut, Gio menghabiskan semangkuk pasta hanya dalam waktu kurang dari dua menit.
" Makan mu cepat sekali, tidak baik buat pencernaan mu " nasehat Moetia
" Aku melakukan nya karena ada seorang wanita yang belum mau menceritakan masalah nya jika makananku belum habis, lalu aku harus bagaimana? " kekeh Gio
Moetia menepuk lengan Gio
" Menyebalkan " seru Moetia
Gio malah tertawa
" Ayo ceritakan, ada apa sebenarnya? " tanya Gio memasang wajah serius
Moetia masih ragu untuk mengatakannya, tapi dia merasa hanya pada Gio dia bisa mencurahkan isi hatinya.
Karena sahabatnya yang satu ini sangat baik dan bisa menjaga rahasianya, Gio bahkan tidak pernah menghakimi Moetia ketika dia menceritakan kesalahan yang dilakukan Moetia.
Moetia memandang Gio dengan seksama
" Apa kamu masih ingat aku pernah bercerita padamu bahwa Manda menyukai seseorang sejak dia masuk kuliah tujuh tahun yang lalu? " tanya Moetia
Gio mengangguk dengan cepat
" Iya, namanya Prince kan " sahut Gio
" Iya, tapi itu bukan nama aslinya. Nama asli pria itu adalah Bagas Chairul Wiguna " ucap Moetia lalu menunduk sedih
Gio masih belum paham
" Lalu? " tanya Gio
Moetia menghela nafas nya panjang
" Apa kamu ingat lelaki yang kukenal kan padamu di sebuah mini market? " lanjut Moetia
Gio lagi-lagi mengangguk dengan cepat
" Calon suami mu " ucap nya tidak suka
" Dia lah Bagas, Prince yang dicintai oleh Manda " jelas Moetia yang mulai kembali berkaca-kaca
Gio mendadak terdiam, dia tahu Moetia sedang dalam keadaan tidak baik.
Gio mengelus punggung tangan Moetia yang berada diatas meja di hadapannya.
" Kapan kamu tahu hal ini? " tanya Gio
" Tadi siang, ibunya Manda yang mengatakan nya, apa yang harus aku lakukan Gio? " tangis Moetia pun pecah
Gio berpindah duduk di sebelah Moetia dan merangkul nya
" Tenang Moetia, tenang dulu. Apa Bagas juga sebelumnya tidak tahu kamu sahabatnya Manda? " tanya Gio
Moetia menggeleng
" Tidak, bahkan dia juga belum bertemu dengan papa dan mama ku, hubungan kami belum ada satu minggu " terang Moetia
" Ya Tuhan, Moetia " seru Gio
Gio masih berusaha menghibur dan menenangkan Moetia, Gio menarik Moetia sedikit menjauh dari dirinya agar bisa menatap nya.
" Kamu mencintai Bagas? " tanya Gio
Moetia menganggukkan kepalanya perlahan
" Mau dengar saran ku? " tanya Gio
Moetia mengangguk lagi sambil menghapus air matanya.
Gio menggenggam tangan Moetia.
" Sekarang semua ada di tangan mu, saat Manda sadar nanti bicarakan ini dengannya. Kamu mengatakan dia menyayangi mu sama seperti kamu menyayangi nya kan? kalau begitu semua akan lebih mudah. Tunggu dia sadar dan katakan kamu dan Bagas saling mencintai, jika Manda memang menyayangi mu pasti dia akan merelakan Bagas " terang Gio
Moetia mengangguk paham
" Lalu apa yang harus kulakukan jika bertemu Bagas? " tanya Moetia
Gio tertawa getir
" Wanita bodoh, memangnya apa lagi yang harus kamu lakukan jika bertemu dengan kekasihmu? jangan tanya aku! aku kan jomblo " canda Gio padahal hatinya sangat sakit saat mengatakan hal itu pada Moetia
Saat mereka sedang berbincang, ponsel Moetia berdering.
Telpon dari suster yang mengatakan bahwa Manda sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Moetia mengajak Gio untuk secepatnya ke ruangan observasi.
Sampai disana, Moetia melihat Manda kejang-kejang, Moetia tak bisa menahan sedih dan air matanya mengalir begitu saja.
Moetia mendekati seorang suster dan bertanya
" Apa yang terjadi sus? " tanya Moetia cemas
Suster itu pun menoleh dan menjawab
" Pasien sedang dalam kondisi tidak normal, tubuhnya seperti menolak semua obat yang diberikan, mungkin dia menolak untuk sembuh! " terang suster itu
Tubuh Moetia terhuyung ke belakang dan menabrak Gio.
" Moetia " lirih Gio
Moetia berbalik dan memeluk Gio lagi
" Manda menolak obatnya, yang dia inginkan hanya Bagas Gio! hanya Bagas " seru Moetia tersedu-sedu
Seorang dokter menghampiri Moetia
" Permisi, pasien seperti nya memaksakan tubuhnya untuk menolak obat-obatan ini, kondisi psikis nya harus di tenangkan dulu. Anda keluarga nya kan? " tanya dokter Lukman
Moetia mengangguk dengan cepat
" Silahkan bicara padanya, tenangkan lah dulu kondisi mentalnya. Baru pengobatan bisa efektif bagi pasien " terang dokter Lukman
Semua perawat memberi ruang pada Moetia yang berjalan mendekati Manda dengan terus menggenggam erat tangan Gio.
Gio pun mengikutinya, karena dia tahu kondisi Moetia benar-benar sedang takut dan sedih bersamaan.
Moetia menyentuh tangan Manda
" Manda, ini aku Moetia. Aku tahu kamu bisa mendengarkan aku, tolong jangan keras kepala dan berusahalah untuk segera sadar " lirih Moetia
Moetia lalu menoleh ke arah Gio
" Lihatlah aku sudah membawa calon suami ku, jika kamu tidak cepat sadar, aku akan menikah lebih dulu daripada kamu" ucap Moetia
Gio sempat terkejut tapi dia tidak bereaksi karena dia sadar Moetia hanya mengatakan hal itu untuk menghibur Manda.
" Dan jika kamu menginginkan Bagas, aku berjanji padamu dia akan segera datang padamu, Manda kamu tahu kan! aku selalu menepati janjiku, berusahalah Manda aku akan bawa Bagas mu kemari, aku janji " seru Moetia masih menyentuh lengan Manda
Moetia merasa tangan Manda bergerak, lalu berteriak
" Dokter, tangannya bergerak " seru Moetia
Dengan cepat para dokter dan suster di ruangan itu mendekat dan melakukan tugasnya masing-masing.
Moetia dan Gio sedikit menjauh.
Beberapa menit kemudian dokter Lukman kembali menghampiri Moetia
" Pasien merespon dengan baik, terimakasih atas bantuannya " seru dokter Lukman lalu meninggalkan Moetia dan Gio
Moetia dan Gio keluar dari ruangan Manda. Gio melihat tangan Moetia bergetar, dengan cepat Gio menggenggam nya
" Aku harus melepaskan nya Gio, aku harus merelakan Bagas " seru Moetia lalu memeluk Gio dan kembali menangis
Smga jg bagus sprti ke 3 novel yg sdh ak baca 😊
♥️
⭐⭐⭐⭐⭐