Menjadi artis terkenal tidak selalu membuat bahagia, Ivy Brown harus menyaksikan adiknya diperkosa dan dibunuh, dia melarikan diri dan mengalami kecelakaan hebat. Mobilnya hancur sedangkan kondisinya mengenaskan, ia tidak sadarkan diri dan mengalami koma.
Saat dia tersadar, Ivy tidak mengenali dirinya sendiri dan yang lebih membuatnya kaget,seorang pria tampan berada disisinya dan mengaku sebagai suaminya. Ivy mencoba bertahan di samping pria itu dan pada saat ingatannya kembali, sebuah konspirasi yang dia dapat.
Pengkhianatan, cinta, persahatan dan dendam menjadi satu saat dia tahu siapa dalang atas kematian dan orang yang memperkosa adiknya.
Akankah dia mampu bertahan dengan pria yang mengaku sebagai suaminya? Sedangkan sebuah bukti dikirimkan untuknya yang membuktikan jika pria itu ikut terlibat atas pemerkosaan dan pembunuhan adiknya.
Bisakah dia membalas dendam? Sedangkan cinta mulai tumbuh di hatinya untuk pria yang telah terlibat menghabisi keluarganya.
Antara cinta dan dendam, yang mana harus dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26. MFH: Janji Ivy
Ketika hari sudah pagi, Ivy terbangun dari tidurnya dan mendapati hanya dia sendiri saja berada diatas ranjang.
Ivy mengucek matanya dan melihat sekelilingnya, kemana Henry?
Dia berusaha untuk bangun dari tidurnya dan duduk diatas ranjang, dengan susah payah Ivy menggeser tubuhnya agar dapat bersandar diujung ranjang.
Setelah mendapat posisi yang nyaman, Ivy memegangi kedua kakinya dan memijitnya. Walau begitu, dia tidak bisa merasakan sentuhan tangannya dikedua kakinya.
Dia bahkan mencubit kedua kakinya dengan sekuat tenaga karena dia ingin tahu, apakah dia dapat merasakan sakitnya? Tapi sia-sia, dia tidak bisa merasakan apapun.
Ivy menghembuskan nafasnya dengan berat dan wajahnya tampak murung. Pada saat itu, Henry keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk melilit dipinggangnya sedangkan air masih menetes dari rambutnya.
Henry memperhatikan Ivy yang sedang menunduk sedangkan tangannya mencoba mencubit-cubit kedua kakinya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Henry mendekati Ivy dan menangkap kedua tangannya.
"Aku, aku hanya ingin tahu, apakah hari ini kakiku bisa merasakan sakit atau tidak?" jawabnya sambil menunduk.
"Tapi ini tidak efektif Ivy, kulitmu akan membiru jika kau terus mencubitnya seperti ini."
"Aku tahu." jawab Ivy.
"Sudahlah, jangan seperti ini! Nanti akan ada dua perawat yang datang dan seorang dokter untuk memeriksa keadaanmu."
"Hum." Ivy mengangkat kepalanya tapi pada saat itu, wajahnya langsung memerah karena melihat tubuh Henry yang setengah telanjang.
Karena malu, Ivy mengambil sebuah bantal dan menutupi wajahnya yang memerah, hal itu membuat Henry heran, ada apa dengan wajah Ivy?
"Ivy, ada apa dengan wajahmu?"
"Ti..tidak ada apa-apa." jawab Ivy gugup.
"Lalu kenapa kau menutup wajahmu?" Henry berusaha menyingkirkan bantal yang sedang menutupi wajah Ivy.
"Jangan Henry!" Ivy berusaha agar bantal yang menutupi wajahnya tidak diambil oleh Henry.
"Hei aku serius, ada apa dengan wajahmu?" Henry menarik bantal yang menutupi wajah Ivy dengan kasar dan pada saat melihat wajah Ivy yang merona, Henry hanya terkekeh.
"Jangan malu Ivy, kau boleh melihatnya dan menyentuhnya karena aku milikmu."
Henry memegangi tangan Ivy dan meletakkan tangan Ivy didadanya, hal itu semakin membuat wajah Ivy merona.
"Hen..Henry." Ivy semakin gugup sedangkan jantungnya mulai berdebar.
Henry menyunggingkan bibirnya dan menarik tangan Ivy hingga tubuh Ivy terhuyung kedepan dan masuk kedalam pelukannya.
"Kenapa kau gugup? Kau boleh menyentuh tubuhku sesuka hatimu." godanya.
"Ta..tapi?" Jantung Ivy semakin berdegup dengan cepat saat Henry menurunkan tangan Ivy yang berada didadanya untuk menyelusuri otot perutnya.
Dengan susah payah, Ivy menelan Salivanya dengan kasar sedangkan bibir Henry sudah menyelusuri wajahnya.
"Ivy." Henry berbisik ditelinganya dan menggigit daun telinganya dengan lembut.
"Ngh!" Ivy memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir Henry.
Bibir Henry menyelusuri wajahnya dan lehernya dan hal itu semakin membuat jantung Ivy berdetak dengan cepat sampai dia sendiri dapat mendengar detakannya.
Dia jadi ingin tahu, apa mereka selalu seperti ini? Saat Henry menggodanya apa yang dia lakukan?
"Henry." Ivy mulai mendorong tubuh Henry.
"Hm?" Henry tidak menyudahi aksinya dan terus mencium wajah Ivy.
"Apa kita sering bermesraan?" tanyanya.
Henry menghentikan aksinya dan memandangi wajah Ivy yang merona dengan senyum diwajahnya.
"Menurutmu?"
"Hm, jadi kita?" Ivy memalingkan wajahnya.
Henry mendekatkan wajahnya kembali ketelinga ivy dan berbisik, "Kau milikku Ivy dan aku juga milikmu! Kita akan selalu melakukannya jadi jangan malu dan kau bisa melakukan apapun yang kau mau pada tubuhku."
Ivy hanya mengangguk, mereka sudah menjadi suami istri dan dia rasa ini bukan pertama kalinya Henry melakukan hal ini dengannya.
"Baiklah, aku sudah tahu jawabannya."
"Itu bagus." Henry mencium pipinya kembali.
"Pergilah pakai bajumu dan setelah itu tolong panggilkan seorang pelayan untuk membantuku mandi." ucap Ivy.
"Kau ingin mandi?" Henry memandangi Ivy sedangkan Ivy mengangguk.
"Baiklah tunggu sebentar." Henry bangkit berdiri dan berjalan kearah lemari pakaian, dia mengambil pakaianya dari dalam sana dan memakainya dengan cepat dan setelah itu, Henry berjalan masuk kedalam kamar mandi sedangkan Ivy melihatnya dengan ekspresi kebingungan.
Tidak lama kemudian, Henry keluar dari kamar mandi dan menghampiri Ivy.
"Ayo, aku akan membantumu mandi."
"Hah?" Ivy sangat kaget mendengarnya.
"Jangan, panggilkan pelayan saja!" pinta Ivy.
"Tidak perlu, aku yang akan membantumu mandi."
"Tapi Henry?"
"Ivy, aku hanya melakukan hal ini untukmu jadi biarkan aku melakukannya!"
Henry sudah menggendong tubuh Ivy dan membawanya menuju kamar mandi, walaupun Ivy merasa sangat malu tapi Henry benar-benar terlihat tulus.
Didalam kamar mandi, Henry menurunkan tubuh Ivy dan mendudukkannya disisi bathup.
Dia mulai membuka baju yang dikenakan oleh Ivy sedangkan Ivy membiarkan Henry melakukannya dengan wajah memerah.
Ivy bahkan diam saja saat Henry menurutkan celana yang dipakainya
sedangkan Henry berusaha menahan dirinya.
Saat melihat dua bukit kembar Ivy yang menantang, Henry menelan salivanya dengan kasar. Walaupun dia sudah sering melihatnya tapi dia belum pernah menyentuhnya dan sungguh, dia sangat ingin menyentuhnya apalagi saat ini, Ivy sudah tanpa sehelai benangpun.
Lekukan tubuh Ivy yang indah terlihat begitu sempurna dan jujur saja rasanya dia ingin menerkam Ivy saat itu juga tapi dia harus menahan diri sampai tiba waktunya nanti tapi ini akan menjadi siksaan yang luar biasa untuknya.
Dia tahu Ivy masih suci dan jangan sampai dia membuat kesalahan sebelum ingatan Ivy kembali karena jika sampai dia melakukan hal itu sebelum Ivy mengingat semuanya, Ivy pasti akan membencinya.
"Henry?" Ivy jadi heran karena Henry diam saja.
"Oh, hm!"
"Kenapa? Apa kau sakit?" Ivy menyentuh dahi Henry dan tampak khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Henry bangkit berdiri dan mematikan keran yang dia nyalakan tadi karena air bathup sudah penuh.
Dengan pelan, Henry mengangkat kedua kaki Ivy sedangkan Ivy memutar tubuhnya dan memeluk leher Henry dengan erat. Dengan perlahan pula, Henry membatu Ivy untuk masuk kedalam bathup.
Dia bahkan membantu Ivy mencuci rambutnya dan menggosok punggungnya, Ivy tidak membantah sama sekali karena dia pikir, mereka pasti sudah sering melakukan hal seperti itu bahkan mungkin lebih.
"Henry." Ivy mengangkat wajahnya dan menatap Henry dengan lekat.
"Ya?"
"Terima kasih." ucapnya.
Henry hanya tersenyum dan mencium bibirnya dengan mesra, andai mereka selalu seperti itu?
"Kau milikku Ivy." bisiknya.
Ivy tersenyum dan mencium wajah Henry, "Aku memang milikmu sampai kapanpun juga." bisiknya.
Dia segera memutar tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya keleher Henry.
"Henry, saat ingatanku sudah pulih, kau tidak akan meninggalkan aku bukan?" tanyanya.
"Bodoh! Seharusnya itu adalah pertanyaan dariku!"
"Kenapa?" Ivy menatap mata Henry dalam-dalam.
"Ivy, saat ingatmu sudah pulih, apakah kau akan meninggalkan aku?" Henry mengusap wajah Ivy dengan lembut.
"Tidak akan Henry, aku akan selalu berada disampingmu." jawab Ivy tanpa ragu.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?"
"Tentu saja! Kau begitu mencintai aku dan aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku berjanji padamu."
Henry tersenyum dan mengusap wajah Ivy, dia harap Ivy ingat dengan janjinya saat ingatannya telah kembali.
"Ivy, sekalipun kau mau pergi dariku, aku tidak akan melepaskanmu karena kau adalah milikku untuk selamanya."
"Aku berjanji padamu Henry, aku tidak akan pergi darimu."
"Itu bagus!" Henry mencium bibir Ivy dan Ivy membalas ciumannya. Dia benar-benar bahagia dan dia tidak akan meninggalkan Henry saat ingatannya telah pulih. Lagi pula mereka suami istri bukan? Tapi dia tidak tahu kebenarannya.
Kl Bella cuma bilang dikenalkan dgn semua..... blm titik, Bella usah seneng duluan😄