NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafioso

Tawanan Hasrat Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Petualangan / Mafia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Carolini Rodrigues

Pada malam badai, hidup Beatrice runtuh dalam satu ketukan pintu.

Ayahnya, sang penjudi, terjerat utang enam juta euro kepada Matteo Vitale, mafioso paling ditakuti di Sisilia. Pria dingin yang matanya sebiru langit sebelum badai itu tak menginginkan uang. Ia menginginkan Beatrice.

Untuk menyelamatkan nyawa keluarganya, Beatrice menyerahkan dirinya sebagai "pelayan" di rumah besar Matteo, sebuah benteng penuh pengawal bersenjata. Hari-harinya diatur oleh perintah, tatapan yang menelanjangi, dan kemarahan yang bisa meledak kapan saja. Namun semakin ia melawan, semakin Matteo kehilangan kendali. Dan semakin Matteo mendekat, semakin Beatrice takut pada hal yang paling tidak ia duga: dirinya sendiri.

Di balik pintu-pintu terkunci, ada rahasia yang jika terbongkar bisa menghancurkan segalanya. Di luar tembok, musuh-musuh Matteo sudah mengincar kepala siapa pun yang ia cintai.

Seberapa jauh seorang pria sanggup memiliki? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan sebelum ia berhenti ingin pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolini Rodrigues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

POV Matteo

Aku bangun pukul 05.30 dan tak bisa tidur lagi, jadi aku memandanginya. Perempuan ini cantik. Kubelai wajahnya, dan ia bergerak. Aku menjauh dan bangun pelan-pelan menuju kamar mandi. Kulepas pakaianku dan langsung masuk ke bawah shower...

POV Beatrice

Aku bangun dengan sakit kepala hebat. Aku duduk di tempat tidur dan menggosok mata, masih mengantuk. Kupakai sandalku dan berjalan ke kamar mandi. Aku masuk, menyalakan keran, membasuh wajah, dan menggeleng dengan mata terpejam. Tapi begitu mendengar suara itu, suara yang kuat sekaligus serak, seluruh tubuhku kaku. Saat itulah aku ingat semua yang terjadi kemarin.

"Butuh bantuan?" kata Matteo.

Beatrice berbalik menghadapnya, tetapi begitu melihatnya telanjang, ia langsung berbalik membelakangi dan menutup matanya.

"Tidak!"

Ia keluar dari kamar mandi menuju pintu keluar, yang untungnya, atau tidak, terkunci.

"Sialan! Kenapa kau suka sekali mengunci pintu?"

Matteo keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang. Tubuhnya masih berembun, rambutnya acak-acakan, dan senyum bodoh menghiasi bibirnya. Ia nyaris tampak seperti pria biasa!

"Aku tidak melihat ada yang lucu di sini. Kenapa kau tertawa?"

"Kau selalu semarah ini di pagi hari?"

"Tidak. Tapi sejak aku di sini, ya!"

"Kau selalu punya jawaban untuk semuanya, ya?"

"Matteo, buka pintunya supaya aku bisa mandi. Rasanya aku kotor hanya karena melihat apa yang kulihat kemarin."

"Sejak kapan kita seakrab itu sampai kau memanggil namaku? Dan soal yang kaulihat kemarin, kau seharusnya tidak keluar dari kamarmu."

"Kau benar, kita tidak akrab. Dan soal kemarin, apa yang dilakukan orang itu? Dia... dia..."

Matteo mendekatinya.

"Hei, hei, tarik napas."

"Kenapa mereka melukainya separah itu? Apa yang dia lakukan?"

Mata mereka bertemu.

"Dia mengkhianati kami."

"Kau membunuh..."

"Aku tidak membunuhnya. Kau muncul, ingat?"

Ia menyingkirkan sehelai rambut dari wajahnya.

"Kakakku yang kebagian semua kesenangannya."

"Jangan bicara lagi, biarkan saja aku keluar."

"Kenapa kau begini? Kenapa kau harus mempersulit semuanya?"

"Aku tidak mengerti maksudmu!"

Ia menempelkan dahinya ke dahi Beatrice dan menarik napas dalam.

"Aku sangat menginginkanmu!"

Suaranya serak.

"Kau apa?"

"Aku menginginkanmu! Semakin kau mempersulit, semakin aku menginginkanmu. Aku..."

Ia menciumnya cepat, dan sekali lagi Beatrice tak melawan. Tangannya menjelajah tubuh Beatrice, menariknya lebih dekat, menggerayangi setiap sudutnya. Kejantanannya mengeras. Meski sangat menginginkannya saat itu, ia menarik diri, mengusap rambutnya dengan kedua tangan. Napasnya berat saat ia mondar-mandir di kamar!

"Pergi."

Ia melempar kunci ke dekat kaki Beatrice.

"Kau baik-baik saja?"

Beatrice masih berusaha mengatur napas.

Matteo tersenyum miring. Ia masih mondar-mandir.

"Keluar."

"Aku melakukan kesalahan?"

"Tidak. Tapi aku ingin melakukan kesalahan!"

"Aku tidak mengerti."

"Pergi saja."

"Baik, Tuan."

* * *

Ia terus mondar-mandir bahkan setelah Beatrice keluar.

Apa-apaan ini, apa yang terjadi padaku? Aku selalu mengambil apa yang kuinginkan. Aku harus bernapas dan menenangkan diri. Tak ada perempuan yang boleh merenggut ketenanganku.

Di kamar sebelah, Beatrice melepas pakaiannya dan masuk ke bawah shower. Kenapa tadi aku bertanya apakah aku melakukan kesalahan? Jelas aku tidak salah apa-apa, dia yang salah karena menciumku. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi lagi, tidak boleh! Laki-laki itu menghancurkan hidupku.

Aku baru keluar dari kamar mandi ketika seseorang mengetuk pintuku. Ah, jangan, jangan dia!

"Nona," kata Antonio.

Fiuh, pikirku.

"Ya?"

"Bersiaplah. Ayah Anda sedang dalam perjalanan ke sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!