Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Diskusi di luar kantor
Fajar menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja, lalu menyimpulkan senyum tipis. Lembar formulir laporan terakhir baru saja ia selesaikan, tepat saat jarum jam dinding menunjukkan angka lima sore. Jam kerja resmi PT Arunika Jaya hari ini resmi berakhir.
Namun, pikiran Fajar tidak benar-benar beristirahat. Ia melirik tumpukan berkas di mejanya, memikirkan data rahasia proyek "Chip" yang baru saja ia bongkar. Membahas materi sepenting dan seberbahaya ini di dalam gedung kantor yang dipenuhi mata-mata Pak Ardi jelas merupakan tindakan ceroboh.
"Hmm... enaknya ngapain ya sekarang?" gumam Fajar pelan pada diri sendiri. Ia mengetukkan jemarinya ke meja, lalu matanya berbinar. "Hmm... oh iya, gue temuin Kirana aja."
Fajar bangkit dari kursinya, meraih jas yang tersampir di sandaran, lalu melangkah keluar. Ia memutar gagang pintu ruang kerjanya, menutupnya hingga terdengar bunyi klik kunci, lalu berjalan mantap menuju area lift.
Begitu pintu lift berdenting di lantai tujuan, Fajar melangkah keluar. Di ujung koridor yang tenang, pintu kayu jati berukir milik ruangan Direktur Marketing sudah terlihat. Fajar mendorong pintunya tanpa ragu, melangkah masuk melintasi karpet tebal, dan menghampiri Kirana yang masih sibuk membolak-balik berkas di meja megahnya.
Fajar berdiri tepat di depan meja kerja gadis itu. "Kirana."
Kirana mendongak, merapikan sedikit helai rambut di dekat telinganya. "Ya?"
"Ayo kita keluar. Kita bahas soal pekerjaan di luar," ajak Fajar santai.
Kening Kirana berkerut heran. "Hah? Kenapa nggak di sini aja? Ruangan ini kan aman."
"Ayolah... mau nggak?" pancing Fajar dengan senyum tipisnya.
Kirana menatap Fajar sejenak, mencoba membaca raut wajah pemuda itu, sebelum akhirnya menghela napas pasrah. "Uhmm... oke deh kalau kamu memaksa."
Setelah disetujui, mereka berdua turun bersama meninggalkan gedung pencakar langit PT Arunika Jaya. Mereka menuju area parkir khusus, menghampiri sepeda motor yang sengaja disewa Fajar demi fleksibilitas bergerak tanpa menarik perhatian.
Begitu mesin motor menyala, Fajar menyerahkan helm ke Kirana, lalu menggegas si kuda besi itu keluar menyusuri jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan pulang kerja.
Di perjalanan, Kirana melingkarkan tangannya canggung di pinggang Fajar. Matanya memperhatikan deretan bangunan di tepi jalan yang terasa sangat familiar.
"Hmm... kayak kenal deh sama jalan ini," gumam Kirana agak keras agar suaranya menembus deru angin.
"Ada apa, Kirana?" tanya Fajar sedikit menoleh.
"Hmm... aku ngerasa kita mau ke café ya?"
"Ya kan emang," jawab Fajar santai dari balik helmnya.
Mata Kirana membulat kaget di balik helmnya. Pipinya mendadak terasa hangat. "Ehh... kenapa kamu nggak bilang dari tadi?! Ini kan sama aja kayak... ken-can..."
"Hahaha! Biar lucu aja," gelak Fajar puas berhasil mengerjai sang Direktur Marketing.
Tak lama kemudian, motor Fajar berhenti di halaman sebuah café bernuansa cozy yang posisinya tersembunyi jauh dari pusat perkantoran. Usai memarkirkan motor dan melepaskan helm, mereka berdua segera melangkah masuk ke dalam ruangan ber-AC yang beraroma kopi segar tersebut.
Fajar memilih tempat paling aman di sudut ruangan, di dekat meja dan kursi kayu persis di samping jendela kaca. Begitu duduk, ia merenggangkan badannya dan menyandarkan tubuhnya santai di kursi.
Fajar melambaikan tangannya memanggil staf tempat itu. "Permisi, Pelayan!"
Seorang pelayan berpakaian rapi dengan apron cokelat segera menghampiri meja mereka sambil membawa buku menu. "Ahh iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau pesan kopi cappuccino ya, satu," ucap Fajar ramah.
"Oke, baik. Kalau Mbaknya mau pesan apa?" tanya pelayan ber-apron cokelat itu beralih menatap Kirana.
Kirana meneliti lembar menu sejenak, lalu mengetukkan jarinya di atas salah satu gambar minuman dingin. "Uhhm... saya... ini saja."
"Baik, mohon ditunggu sebentar ya, Mas, Mbak," senyum pelayan itu ramah sebelum berbalik meninggalkan meja mereka untuk mempersiapkan pesanan.
Sepeninggal si pelayan, Fajar merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan laptop miliknya. Ia membukanya, lalu menekan tombol daya. Begitu layar memancarkan cahaya terang di atas meja yang agak temaram, Fajar memutar sedikit posisi laptopnya ke arah Kirana.
"Lihat ini, Kirana," tunjuk Fajar serius pada lembar bagi-alokasi dana yang sudah ia rapikan.
Kirana mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyapu grafik dan barisan angka di layar. "Ada apa?"
"Lihat... dananya sebagian besar ada yang hilang secara tidak wajar," terang Fajar dengan nada rendah, memastikan suaranya tidak memantul ke meja sebelah.
Mata Kirana membulat sempurna. "Hah?! Hilang?! Kenapa bisa hilang segini banyaknya?!"
Fajar menatap langsung ke dalam manik mata Kirana. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya, namun ia harus tetap tenang demi melindungi kedamaian pikiran gadis di depannya ini.
"Nggak tahu... aku juga masih terus cari tahu siapa pelakunya," dusta Fajar halus, sengaja menyembunyikan nama "Aditya" dan sosok Pak Ardi agar Kirana tidak shock berat atau hancur mentalnya malam ini.
Kirana menghela napas panjang, mengusap pelipisnya yang mulai terasa pusing. "Baiklah kalau begitu..." Gadis itu mendongak, tatapannya penuh rasa cemas. "Terus gimana solusinya? Kalau Proyek Chip ini meledak karena masalah anggaran, posisi kita berdua di perusahaan bakal hancur."
Fajar tersenyum tipis, tangannya terulur di atas meja untuk mengelus punggung tangan Kirana yang dingin karena cemas.
"Tenang saja, nggak perlu takut," ucap Fajar mantap, mengalirkan rasa hangat dan aman ke jemari sang Direktur Marketing.
Kirana tertegun menatap tangan mereka yang bertaut, lalu kembali menatap Fajar. "Emangnya kamu... udah punya solusi buat mengatasi masalah seberbahaya ini?"
"Sudah," jawab Fajar penuh percaya diri. "Strateginya sudah aku susun rapi di kepala."
Fajar sengaja memiringkan kepalanya sedikit, melepas senyum jahil khasnya untuk mencairkan suasana kaku yang menyelimuti mereka. "Jadi... Kirana, kamu percaya kan sama kerja kerasku selama ini?"
"Iya, aku percaya..." gumam Kirana pelan, merona.
"Kalau gitu... kamu mau beri aku hadiah nggak sebagai imbalannya?" pancing Fajar dengan nada menggoda.
Pipi Kirana seketika berubah merah padam seperti buah tomat matang. Ia cepat-cepat menarik tangannya, meski matanya tak bisa menyembunyikan rasa salah tingkah. "Ihh... hadiah apaan?! Jangan goda-goda gitu, ah! Kita kan lagi bahas pekerjaan!"
"Ahaha!" tawa Fajar pecah secara halus, menikmati kepolosan dan reaksi manja dari Direktur Marketing yang biasanya dingin kaku bak patung es itu.
Di balik tawanya, Fajar menatap Kirana dengan tekad yang semakin tebal. Biarlah badai konspirasi dan kebusukan Pak Ardi menjadi urusannya di balik layar. Selama ia bisa melihat senyum dan wajah memerah Kirana seperti ini, Fajar tahu seluruh risikonya sangat layak untuk diperjuangkan.
[Bersambung]