Ivy Zhang, seorang pengacara cerdas, akhirnya ingin mengakhiri pernikahannya dengan Leo Fung setelah kehilangan bayi mereka.
Namun Leo, suami yang masih mencintainya, menolak melepaskan Ivy.
Di saat yang sama, Calvin Duan, pria berkuasa sekaligus rival Leo, tiba-tiba menjadikan Ivy sebagai pengacara pribadinya. Dengan tujuan yang sulit ditebak, Calvin menyeret Ivy ke dalam perseteruan dengan suaminya sendiri.
Di antara suami yang berkuasa dan klien yang tak kalah berkuasa, siapa yang harus dibela Ivy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ferry memandang ke arah mobil mewah milik Calvin yang baru saja menabrak mobil para preman.
"Ini adalah mobil luar negeri yang nilainya sangat fantastis. Dia malah menggunakannya untuk menabrak mobil orang," gumam Ferry dengan tatapan tak percaya.
Pria yang sebelumnya menahan Ivy menatap tajam ke arah Calvin. Ia tampak marah karena mobil mereka dihantam begitu saja.
"Kau siapa?" bentaknya.
Calvin tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekat dengan tatapan dingin.
Dalam sekejap, Calvin melayangkan tendangan tepat ke perut pria tersebut.
"Ugh!"
Pria itu terhuyung mundur. Sebelum sempat melawan, Calvin mengeluarkan sebuah jarum dan menusukkannya ke bagian leher pria itu.
"Aahh!"
Pria tersebut menjerit kesakitan. Kakinya seketika menjadi lemas dan tubuhnya jatuh berlutut.
Pada saat yang sama, beberapa mobil lainnya mulai berdatangan dan berhenti di sekitar lokasi.
Tristan turun dari salah satu mobil bersama anak buahnya yang mengenakan pakaian serba hitam.
"Tahan mereka!" perintah Tristan tegas.
"Baik, Tuan!"
Anak buah Tristan segera bergerak menghampiri para preman. Mereka menangkap dan menahan beberapa pria tersebut dengan kasar sebelum mereka sempat melarikan diri.
Ivy yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana masih terlihat terkejut. Ia kemudian berjalan mendekati Calvin.
"Tuan Duan, bagaimana Anda bisa muncul di sini?" tanya Ivy.
Calvin tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada tangan Ivy yang memerah akibat cengkeraman pria tadi.
"Apakah sakit?" tanya Calvin sambil meraih tangan Ivy dengan hati-hati.
"Tidak sakit!" jawab Ivy.
Calvin mengangkat tangannya sedikit dan memperhatikan bekas merah di kulitnya.
"Tanganmu sudah memar, masih bilang tidak sakit."
Ivy hanya terdiam.
Ferry yang berdiri tidak jauh dari mereka kemudian menatap Calvin dengan rasa penasaran.
"Ivy, apakah ini Tuan Duan?" tanyanya.
"Iya. Perkenalkan, Tuan Duan, Direktur Duan Group International," kata Ivy.
Kemudian Ivy menunjuk ke arah Ferry.
"Dan ini adalah kakak seniorku, Pengacara Ferry."
Ferry segera mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Tuan, senang bertemu dengan Anda."
"Sama," balas Calvin singkat sambil menjabat tangan Ferry.
Setelah itu, tatapan Calvin kembali tertuju pada Ivy. Ia masih memperhatikan bekas merah di tangannya dengan ekspresi dingin.
"Tuan, mereka semua telah ditahan," lapor Tristan setelah memastikan seluruh preman sudah diamankan.
"Serahkan kepada polisi," perintah Calvin dengan tenang.
"Baik, Tuan."
Tristan kemudian menoleh kepada anak buahnya.
"Cepat bawa mereka pergi ke kantor polisi!"
"Baik!"
Beberapa anak buah Tristan segera membawa para preman tersebut masuk ke dalam mobil.
Tristan kemudian kembali menghampiri Calvin. Tatapannya beralih pada mobil mewah milik Calvin yang bagian depannya mengalami sedikit kerusakan akibat benturan tadi.
"Tuan, mobil Anda sudah rusak," lapor Tristan.
"Kirim ke rongsokan!" jawab Calvin santai.
Mendengar perkataan itu, Ivy dan Ferry langsung terdiam dan saling menatap.
Ferry bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Mobil semahal itu langsung dibuang hanya karena bagian depannya rusak?" gumamnya dalam hati.
Calvin kemudian menatap Ivy.
"Mobilku sudah rusak. Kau antar aku pulang. Sekalian ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu mengenai kasus tender."
"Baiklah. Mobilku ada di sana," jawab Ivy sambil menunjuk ke arah area parkiran.
"Serahkan kuncinya," pinta Calvin.
Ivy segera menyerahkan kunci mobilnya kepada Calvin.
"Kakak, aku pergi dulu," pamit Ivy kepada Ferry.
"Baiklah. Sampai jumpa besok," jawab Ferry.
Ivy kemudian mengikuti Calvin menuju mobilnya.
Ferry masih berdiri di tempat sambil memandangi mobil Calvin yang rusak ringan.
"Padahal kalau ingin membahas soal kasus tender bisa di perusahaan. Kenapa harus di rumahnya? Kenapa aku malah merasa aneh?"
Ia menggelengkan kepalanya.
"Orang kaya memang berbeda."
Tristan yang sebelumnya telah menghubungi pihak penerima mobil rongsokan kemudian dihampiri Ferry.
"Tuan, bukankah mobil ini masih bisa diservis? Kenapa harus dikirim ke rongsokan?" tanya Ferry sambil menunjuk mobil Calvin yang bagian depannya rusak.
Tristan tersenyum tipis.
"Tuan tidak suka menggunakan mobil yang sudah mengalami kerusakan parah. Daripada membuang waktu dan uang untuk memperbaikinya, lebih baik menggantinya dengan mobil baru."
Ferry terdiam sejenak.
"Ternyata begitu. Tapi ini mobil luar negeri."
"Mobil dari luar negeri milik Tuan ada beberapa. Mobil ini hanya salah satunya," jawab Tristan santai.
Ferry langsung membulatkan matanya.
"Hanya salah satunya?"
Tristan mengangguk seolah hal itu bukan sesuatu yang istimewa.
"Tuan memiliki hobi mengoleksi mobil. Jadi, setiap kali beliau tertarik pada sebuah mobil, beliau tidak akan ragu untuk membelinya," kata Tristan.
"Memang pengusaha yang luar biasa," ucap Ferry. "Kalau begitu, apakah Tuan Duan juga memiliki seorang istri atau pacar?"
"Kalau itu, sama sekali tidak ada. Tuan tidak dekat dengan wanita mana pun. Beliau hanya menyukai mobil dan lukisan. Semua barang yang bernilai fantastis dan memiliki kelas tinggi sangat disukainya, sama seperti dirinya yang sangat berkelas," jelas Tristan.
Ferry kembali menatap mobil mewah tersebut dengan wajah tidak percaya.
***
Tidak lama kemudian, Calvin dan Ivy tiba di kediaman Calvin.
Mobil Ivy memasuki gerbang besar yang dijaga ketat. Setelah melewati halaman luas dengan taman yang tertata rapi, Calvin mengarahkan mobil menuju garasi pribadi di samping rumah utama.
Begitu pintu garasi terbuka, Ivy langsung terdiam.
Garasi tersebut sangat luas dan tampak seperti showroom pribadi. Di dalamnya berjajar enam mobil mewah dari berbagai negara.
Di sisi pertama terdapat Bugatti Chiron Super Sport asal Prancis dengan desain yang sangat elegan.
Di sebelahnya terparkir Rolls-Royce Phantom asal Inggris yang terlihat begitu mewah.
Tidak jauh dari sana terdapat Ferrari SF90 Stradale asal Italia dengan tampilan sporty dan elegan.
Kemudian ada Mercedes-Maybach S 680 asal Jerman yang tampak berkelas.
Di bagian lain terdapat Ford Mustang Shelby GT500 asal Amerika Serikat dengan desain yang lebih agresif.
Sementara di ujung garasi terparkir Bentley Continental GT asal Inggris dengan warna elegan dan bodi yang mengilap.
Ivy menatap keenam mobil tersebut dengan kagum.
"Semua mobil ini milikmu?" tanyanya.
"Ya," jawab Calvin singkat sambil mematikan mesin.
Ivy kembali melihat sekeliling garasi.
"Kalau begitu, mobil yang tadi juga hanya salah satu koleksimu?"
"Benar."
Ivy terdiam. Sekarang dia mengerti mengapa Calvin begitu santai ketika memerintahkan Tristan mengirim mobil yang rusak ke tempat rongsokan.
Bagi orang biasa, kehilangan sebuah mobil mewah tentu menjadi kerugian besar. Namun bagi Calvin, mobil yang rusak hanya perlu diganti dengan yang baru.
Calvin membuka pintu mobil dan turun.
Ivy segera turun dan mengikuti Calvin dari belakang.
Calvin menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ivy.
"Pilih saja yang mana yang kamu suka," kata Calvin.
"Apa?" Ivy hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Aku akan menghadiahkanmu sebuah mobil. Jadi, kau bisa memilih mana yang kau suka," jawab Calvin dengan tenang.
"Tuan, jangan bercanda. Aku hanya seorang pengacara. Aku tidak mampu membawa mobil semahal ini," jawab Ivy.
Calvin menatapnya.
"Tapi kau bukan pengacara biasa. Kau sudah menjadi bagian dari Duan Group. Jadi, sebagai orangku, kau harus memiliki mobil yang mewah dan elegan. Lagi pula, mobil-mobil itu sangat cocok untukmu."
Ivy menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan mampu membayar biaya servisnya kalau sampai rusak."
"Kalau rusak, ganti saja dengan yang lain. Tidak perlu dijadikan beban pikiran. Itu hanya mobil. Bagiku bukan masalah besar," jawab Calvin santai.
Ivy terdiam mendengar jawaban tersebut. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan cara Calvin memandang harga sebuah mobil.
"Tuan, bagaimana kalau kita membahas kasus yang harus kutangani terlebih dahulu?" ucap Ivy, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Calvin tidak menjawab. Ia justru memperhatikan tangan Ivy yang masih memiliki bekas merah.
"Obati lukamu dulu. Ikut aku."
Calvin kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Ivy segera mengikutinya.
Begitu memasuki rumah, Ivy kembali dibuat terdiam. Interior kediaman Calvin terlihat sangat megah, luas, dan elegan, dengan arsitektur bergaya Eropa yang membuat rumah tersebut lebih menyerupai sebuah istana daripada kediaman pribadi.
"Rumah ini benar-benar seperti istana..." gumam Ivy dalam hati.
sebagai penyemangat untuk memulai harimu😍😍😍😍😍
tambah lagi dooooong. supaya kita gak nunggu lanjutannya dengan penasaran.🙏🙏🙏🙏🙏