"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak yang Berbeda
Pagi itu, suasana di kediaman utama keluarga Nandotomo terasa jauh lebih ringan dan damai. Kepergian Bu Kumala dan Grayson ke pedalaman Kalimantan seolah mengangkat awan mendung yang selama enam bulan ini menggelayuti rumah megah tersebut. Tidak ada lagi bisik-bisik penuh kebencian di koridor, tidak ada lagi tatapan meremehkan di meja makan. Yang tersisa hanyalah rutinitas baru yang pelan-pelan mulai terasa normal bagi Senjani.
Pukul sembilan pagi tepat saat Senjani sudah bersiap di dalam ruang terapi. Dia mengenakan pakaian olahraga yang kasual, kaos katun longgar dan celana training hitam yang memudahkannya untuk bergerak bebas. Rambut panjangnya diikat kuda dengan rapi, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya yang tampak segar tanpa riasan tebal.
Pintu ruangan terbuka otomatis. Jiro masuk dengan kursi roda elektriknya. Pria itu juga sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaus polo kasual berwarna abu-abu yang memperlihatkan lekuk dada dan lengan kokohnya. Namun, ada satu hal yang membuat Senjani menyembunyikan senyumnya, Jiro tidak lagi menatapnya dengan pandangan mengusir seperti hari-hari sebelumnya.
"Kamu udah siap?" tanya Jiro datar, mencoba mempertahankan wibawa dinginnya yang mulai terkikis.
"Aku selalu siap, Mas Jiro," jawab Senjani sengaja menekankan panggilan baru mereka yang sepakati semalam.
Jiro berdeham pelan, memalingkan mukanya sekilas ke arah cermin besar di dinding untuk menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di telinganya. "Ehem. Baguslah. Ingat, sisa waktu tantanganmu tinggal tiga minggu lagi. Jangan mengira karena aku sudah membuang Grayson, aku akan melupakan perjanjian kita."
"Tentu saja tidak. Seorang terapis profesional tidak pernah ingkar janji," balas Senjani dengan riang. Dia mendekati kursi roda milik Jiro, lalu mengunci rem rodanya dengan cekatan. "Hari ini kita tidak akan langsung melakukan gerakan ekstrem seperti kemarin. Kita fokus pada stimulasi taktil dan latihan beban ringan untuk membangun kembali massa otot pahamu yang mulai menyusut."
Proses perpindahan tubuh Jiro dari kursi roda ke atas matras lantai kali ini berjalan jauh lebih lancar. Jiro tidak lagi mengamuk atau memaki saat tubuh bagian bawahnya terasa berat. Pria itu mulai belajar memercayakan tumpuan berat badannya pada pundak Senjani.
Saat tubuh mereka berdekatan, Senjani bisa merasakan kehangatan tubuh Jiro dan aroma parfum maskulin yang kini tidak lagi bercampur bau obat kimia berbahaya. Jantung Senjani mendadak berdesir aneh, membuat gerakannya sempat canggung selama beberapa detik.
"Kenapa diam? Kamu lelah?" tanya Jiro yang menyadari jeda gerakan istrinya. Wajah mereka saat ini hanya berjarak belasan sentimeter karena Senjani sedang memosisikan kepala Jiro di atas bantal matras.
A-ah, nggak kok. Saya cuma memastikan posisi leher Kamu nyaman," bohong Senjani buru-buru memundurkan tubuhnya dan berlutut di ujung kaki Jiro.
Senjani menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran dadanya sendiri, lalu mulai bekerja. Dia mengambil sebotol minyak aromaterapi hangat, menuangkannya ke telapak tangan, lalu menggosok kedua tangannya hingga terasa panas sebelum menempelkannya ke telapak kaki Jiro.
"Bagaimana, Mas? Apa ada terasa hangat?" tanya Senjani sambil memberikan pijatan sirkuler pada titik saraf di bawah jempol kaki Jiro.
Jiro terdiam sejenak. Dia memejamkan matanya, memfokuskan seluruh indranya pada bagian bawah tubuhnya yang selama setengah tahun ini terasa mati dan hampa. "Sedikit, seperti ada sensasi kesemutan yang sangat tipis merayap naik ke pergelangan kaki."
Mata Senjani seketika berbinar cerah. "Beneran? Itu kemajuan yang luar biasa, Mas! Respons saraf aferen Kamu mulai aktif kembali!" kegembiraan yang tulus terpancar dari wajah cantik Senjani, membuat Jiro yang melihatnya terpaku.
Pria itu menatap bagaimana Senjani dengan begitu telaten, tanpa rasa risih sedikit pun, memijat dan menggerakkan kaki matinya. Sentuhan tangan Senjani terasa sangat berbeda di kulitnya, tidak seperti sentuhan dingin para perawat rumah sakit yang bekerja hanya demi gaji. Sentuhan Senjani terasa hangat, penuh kehati-hatian, dan seolah menyalurkan seluruh energi kehidupan ke dalam tubuhnya yang lumpuh.
"Sekarang, kita coba latihan Active-Assisted ROM," ucap Senjani memutus keheningan. Dia memposisikan dirinya duduk di samping pinggul Jiro. "Saya akan membantu mengangkat kaki kiri Kamu, dan saya ingin Kamu mencoba menggunakan pikiranmu sendiri untuk mempertahankan posisi kaki ini di udara selama tiga detik. Mengerti?"
Senjani perlahan mengangkat kaki kiri Jiro hingga membentuk sudut empat puluh lima derajat dari matras. "Sekarang, fokuskan pikiran Anda pada otot paha depan. Tahan, Mas..."
Senjani melepaskan cengkeraman tangannya secara perlahan. Detik itu juga, kaki Jiro langsung jatuh terkulai kembali ke atas matras dengan suara debukan pelan.
Jiro mengembuskan napas frustrasi. Jidatnya berkerut dalam. "Sial. Ototku sama sekali tidak mau mengunci."
"Tidak apa-apa, ini baru percobaan pertama kok. Otakmu perlu memetakan ulang jalur sinyal saraf ke otot yang sudah lama tertidur. Mari kita coba lagi. Fokus, Mas. Bayangkan kalau Kamu sedang bersiap untuk menendang bola," semangat Senjani sabar, kembali mengangkat kaki suaminya.
Jiro memejamkan matanya erat-erat. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya karena konsentrasi yang luar biasa tinggi. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya batinnya, memerintahkan kakinya untuk bertahan.
Senjani melepaskan tangannya lagi. Satu detik... dua detik... Kaki milik Jiro tampak bergetar hebat di udara, menolak untuk jatuh. Meskipun pada detik ketiga kaki itu kembali lemas dan jatuh, Senjani langsung memekik kesenangan.
"Kamu berhasil menahannya selama dua detik! Itu hebat sekali, Mas!" Tanpa sadar karena terlalu bersemangat, Senjani langsung menghambur maju dan memeluk leher Jiro yang masih berbaring di atas matras.
Deg!
Tubuh Jiro membeku seketika. Dekapan hangat Senjani yang tiba-tiba membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Dia bisa merasakan kelembutan tubuh istrinya yang menempel erat pada dadanya, serta aroma harum sampo lavender dari rambut Senjani yang mengusap hidungnya. Wangi yang sangat menenangkan.
Senjani yang baru menyadari ketelanjuran tindakannya yang tidak profesional segera melepaskan pelukannya dengan wajah yang sudah merah padam seperti kepiting rebus. Dia mundur beberapa langkah sambil menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"M-Maaf! Maafkan saya, Mas Jiro! Saya benar-benar tidak sengaja... saya hanya terlalu senang melihat kemajuan saraf Anda," ucap Senjani terbata-bata, merutuki kebodohannya di dalam hati.
Jiro tidak menjawab. Pria itu perlahan bangun dari posisi berbaringnya, duduk bersandar dengan bantuan kedua lengannya. Dia menatap Senjani yang sedang salah tingkah dengan tatapan mata yang tidak lagi sedingin es. Ada sebuah riak gelombang emosi baru yang hangat, lembut, dan asing yang kini mulai memenuhi seluruh rongga dadanya.
Jiro mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram pergelangan tangan Senjani dengan lembut, menarik wanita itu perlahan agar kembali mendekat ke arahnya.
"Kenapa harus minta maaf?" tanya Jiro, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam, bergetar oleh detak jantungnya sendiri yang kian menggila. Pria itu mendongak, mengunci pandangan mata Senjani. "Bukankah seorang istri berhak memeluk suaminya sendiri saat merayakan keberhasilan?"
Senjani terpaku, matanya membelalak tidak percaya mendengar kalimat itu keluar dari bibir milik Jiro yang biasanya penuh racun. Di bawah keheningan ruang terapi yang hangat, dua pasang netra itu saling mengunci, menyadari bahwa mulai detik ini... detak jantung di antara mereka telah berubah menjadi sebuah simfoni yang sama.