Dilarang Plagiat Karya Saya ‼️
Hidup sendirian berada di suatu pulau terpencil, kawasan tersebut sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh manusia. Letaknya sangat jauh dan tidak diketahui, namun pada suatu hari seorang wanita cantik tersesat ketika dirinya healing sendirian.
"Merman? Bukannya merman itu hanya dalam mitos belaka? Hahaha, itu bukan merman!"
"Merman tidak mungkin ada dan mustahil jika muncul di dunia nyata! Mitos tetaplah mitos, dan tidak akan pernah menjadi nyata!"
"Hufh... aku salah melihat pasti!" Namun dugaannya salah, makhluk yang ia anggap mitos ternyata memang nyata.
"Ace..." Merman itu bergumam pelan.
"Hah? Kau mengatakan apa?" Dahi wanita itu mengernyit kebingungan.
"Ace... mm ngan igi!"
"....." Mengerjapkan mata dan terdiam membisu.
"Maksudnya?" Pikirnya wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak Pemintaannya Berakhir Sakit
Pada pukul 00.00 tengah malam, Thienvra terbangun karena ingin ke kamar mandi.
"Sttt...kebelet!" Bergegas ia lari.
"Hah..lega, deh." Lirih wanita itu setelah membuang air kecil.
Mencuci wajah dengan sabun khusus, lalu membasuhnya.
Syur
Syur
Syur
"Meras...argh!" Ucapannya terhenti karena ketika ia membalikkan badan sudah ada orang lain selain dirinya, sontak terkejut kemudian menampar pipinya.
Plak
"Pstt...Mate..sakit pipiku." Dia adalah Chio, pria merman itu memegang pipinya yang memerah bekas tamparan matenya.
"Yak! Lagian kamu sih! Ngapain ada disini, hah? Ngagetin aku tahu! Refleks aku tampar kamu jadinya!" Thienvra membela dirinya sendiri.
"Hiks..ta..tapi kan tidak perlu tampar hiks pipi aku segala.." Chio terisak menangis.
"Cup..cup..maafkan aku, Sayang.." Dipeluknya Chio sambil dielus punggungnya.
"Tiba-tiba kamu ke kamar mandi? Kenapa, hm?" Air mata ia usap dengan lembut.
"Pengen kayak Mate juga." Jawabannya terdengar ambigu.
"Hah? Maksud kamu buang air kecil?" Diangguki oleh pria merman itu.
"Oh, yaudah, sana gih, aku tungguin disini." Dan setelah Chio buang air kecil, keduanya keluar dari kamar mandi.
"Sini tidur." Pria merman itu memeluk matenya, selimut tebal menutupi tubuh mereka berdua.
Namun saat mau memejamkan mata, suara Chio membuatnya terdiam seribu bahasa.
"Mate, aku ingin berenang." Pintanya Chio.
"Apa katamu? Berenang?" Kata Thienvra.
"Iya." Sambil mengangguk.
"Astaga, naga! Ini tengah malam, Chio! Yang normal saja dong! Fiks, pasti kamu salah makan deh! Jadinya rada gimana begitu!" Wanita itu menggerutu kesal.
Lalu wanita itu tidur dengan membelakanginya, tanpa menghiraukan Chio yang sedang menangis.
"Pagi berenangnya! Jangan sekarang!" Thienvra berkata tanpa menatapnya.
"Tapi peluk aku, Mate." Pinta Chio.
"Tidak! Tidak ada peluk! Tidur cepat!" Thienvra menolak permintaan pria merman itu.
Matanya berkaca-kaca, pandangannya melihat sendu punggung matenya itu.
"....." Tidak mengatakan hal lain, Chio pun terbaring, dan tidur.
"Ck, ada-ada saja! Mana ada orang normal berenang di tengah malam!" Batinnya Thienvra.
Mendengar isi batin matenya, Chio terdiam membisu.
***
Keesokkan pagi harinya, suara orang yang tengah bercakap terdengar jelas.
"Kak Mue, mau aku antar pulang ke apartement?" Thienvra menawarkan diri.
"Tidak perlu, terima kasih ya Dik, atas sarapan paginya dan izin tuk menginap." Ujar Simueltha sambil mengusap pucuk kepalanya.
"Sama-sama, Kak Mue, hati-hati, Kak." Thienvra melambaikan tangan.
"SIAP! DAH, ADIK!" Teriak Simueltha setelah menaiki mobilnya.
"DAH, KAK MUE!" Balas wanita itu dengan berteriak juga.
Mobil Simueltha meninggalkan pekarangan, lantas dirinya masuk ke dalam rumah.
"Aduh, aku lupa membangunkan si Chio." Gumamnya Thienvra, bergegas ia ke kamar.
Ceklek
"Chio?" Panggilnya Thienvra.
"....." Tapi tak ada jawaban.
"Chio?" Sembari menggoyangkan tubuh Chio yang tertutupi oleh selimut.
Tapi ketika selimut terhempas, terlihat Chio terbaring tapi anehnya mengapa wajahnya pucat pasi sekali.
"Hei! Chio! Bangun, Sayangku." Thienvra berusaha membangunkannya.
Telapak tangannya menempel ke keningnya pria merman itu, Thienvra terkejut.
"Ya Tuhan! Suhu tubuhnya mendadak dingin!?" Lalu dirinya terpaku pada sekumpulan mutiara putih yang terletak di dekat Chio.
"Mutiara? Tu...tunggu." Thienvra berpikir.
Kalau misalnya seorang mermaid menangis akan mengeluarkan mutiara, jadi artinya Chio semalaman menangis karena permintaan ingin berenang tidak ia izinkan.
"Hiks..hiks..Chi..sungguh aku minta maaf.." Wanita itu menangis, dan menyesalinya.
"Andaikan saja saat tadi malam aku perbolehkan kamu untuk berenang." Lirihnya wanita itu.
"Lalu apa yang harus aku hiks...lakukan?" Thienvra bingung sendiri.
"Aku bawa ke rumah sakit? Jangan itu akan membahayakan nyawanya Chio!" Batin Thienvra sambil menggeleng kepala.
Perlahan membuka matanya, Chio kini berbicara.
"Mate." Thienvra senang bukan main.
"Chi...Chio? Kamu sudah sadar, Sayang?" Thienvra memangku kepalanya Chio ke pangkuannya.
"Mate." Panggil Chio padanya.
"Ya? Aku disini." Kata Thienvra, tangannya mengelus lembut rambut indahnya Chio.
"Peluk aku, Mate." Tanpa pikir panjang, wanita itu segera memeluknya.
Grep
"Mate, kamu tidak salah. Justru aku yang salah, aku meminta permintaan aneh pengen berenang." Ungkapnya pria merman itu.
"Tidak, Sayang. Permintaan kamu tidak aneh! Sttt..." Menepuk-nepuk punggungnya Chio.
Keduanya menangis dalam diam, lalu Chio mengatakan sesuatu.
"Mate, dingin." Kata Chio.
Deg
"Dingin? Aku lupa memakaikan pakaian terhadap Chio! Lantas baju yang mana, ya? Yang cocok buat pria merman ini?" Pikir wanita itu.
Chio dibaringkan dahulu di kasur, dia sendiri berjalan ke arah lemari. Dengan asal langsung mengambilnya.
"Sini aku bantu pakaikan." Membantu Chio tuk berpakaian.
"Mate, jangan pergi." Lengannya dicekal kala ia beranjak dari sana.
"Sttt..iya, Sayang." Thienvra peluk Chio dengan eratnya.
Pria merman itu memejamkan mata, tidak tidur.
Thienvra saat ini sedang berperang dengan batinnya.
"Seumur hidupku belum pernah bertemu merman, sekalinya tahu merman itu sakit karena dingin, obatnya tak tahu apa. Dan apakah Chio sudah tidak kedinginan lagi?" Melirik pria merman itu yang saat ini menatapnya lekat.
"Kukira dia tidur, ternyata tidak, ya?" Pikir wanita itu, dahinya mengernyit.
"Mate." Kali ini apa yang akan dikatakan Chio.
"Ya?" Ucap Thienvra.
"Mana tangan, Mate?" Chio bertanya demikian.
"Hah?" Tapi Thienvra mengulurkan tangannya.
"Nih." Mulai digenggam tangan matenya.
"Hangat tangan, Mate." Kata pria merman itu.
"Hangat? Perasaan tak hangat." Pikir Thienvra.
Tangannya tidak digenggam lagi, melainkan Chio memeluk tubuhnya Thienvra.
"Lepasin dulu ya, pelukannya?" Thienvra berucap.
"Tak mau!" Sialnya pelukan itu semakin bertambah erat saja, sehingga Thienvra membulatkan mata.
"Dari cara pelukannya kayak tidak rela buat dilepasin? Seolah takut jika aku kabur darinya." Batinnya wanita itu.
"Benar, apa katamu, Mate." Balas Chio berkata dalam batinnya sendiri.
"Mau sampai kapan ini pelukannya?" Batin Thienvra.
"Entahlah, Mate." Batin Chio.
"Pelukan ini adalah satu-satunya cara agar rasa dingin di tubuhku cepat hilang." Jelasnya Chio kepada matenya, suaranya serak.
"O...oh, baiklah, kalau begitu jangan dilepas." Balas wanita itu.
Thienvra tersenyum tipis dalam pelukan Chio, merasakan tenang, dan nyaman, sehingga ia tertidur pulas.
Pria merman itu membenarkan posisi keduanya yang tadinya terduduk, kini berubah menjadi terbaring di tempat tidur dan masih memeluk matenya.
"Kamu takdirku, Mate, dan aku takdirmu." Lirihnya pria merman itu sambil tatapannya fokus pada wajah damai matenya yang tengah tidur dipelukannya.
Cup
Cup
Cup
Cup
Cup
Cup
Diciumnya kedua pipi, dagu, kening, hidung mancung matenya, dan terakhir mencium bibirnya. Setelah itu, tampak Thienvra tersenyum seakan menikmati ciuman yang dirinya berikan. Chio ikut senyum, ibu jarinya membelai lembut bibir matenya.
"Kenyal seperti ikan bulat." Maksud dari perkataan Chio adalah kekenyalan bibir matenya mirip ibaratnya ikan buntal yang telah berubah karena terkejut.