NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Keheningan tebal menyelimuti ruang kerja Jenderal Bagus Santoso.

​Di salah satu sudut ruangan yang didominasi furnitur kayu jati itu, AKP Dimas Prasetyo duduk tegap di atas sofa kulit hitam. Secangkir kopi yang disuguhkan ajudan beberapa menit lalu masih mengepulkan uap tipis, tetapi tak tersentuh sama sekali. Kedua tangannya bertaut erat di atas lutut, sementara sorot matanya menyiratkan kegelisahan yang gagal ia sembunyikan.

​Tak jauh di hadapannya, Jenderal Bagus duduk tenang di kursi tunggal. Tatapannya tajam mengamati sang adik, pria yang hari ini datang bukan sekadar sebagai perwira polisi, melainkan seorang penyidik yang telah kehabisan jalan.

​"Apa yang sebenarnya terjadi, Dim?" tanya Bagus akhirnya, memecah keheningan.

​Dimas mengembuskan napas berat sebelum menyandarkan punggungnya. "Aku sudah kehabisan cara, Mas."

​Kerutan tipis terbentuk di dahi Bagus. "Maksudmu?"

​"Kasus keluarga Mahesa." ​Hanya tiga kata, namun cukup untuk membuat raut wajah sang jenderal mengeras seketika.

​"Aku menduga kuat mereka terlibat dalam berbagai tindak kejahatan," lanjut Dimas. "Mulai dari pencucian uang, penyelundupan, hingga indikasi kerja sama dengan pihak asing."

​Bagus tak menyela, membiarkan adiknya menyelesaikan penjelasan. ​"Masalahnya..." suara Dimas merendah, "...setiap kali penyidikan mulai mengarah kepada mereka, selalu ada tangan besi yang memerintahkan untuk berhenti."

​"Atasanmu?"

​Dimas mengangguk pelan. "Aku memang belum punya bukti fisik bahwa Beliau berpihak pada Mahesa. Namun, setiap berkas yang saya ajukan selalu berhenti di meja yang sama. Berkas lenyap, saksi mendadak mengubah keterangan, bahkan beberapa anggota tim penyidik saya dipindahkan tanpa alasan yang jelas."

​Ruangan itu kembali diliputi kesunyian yang menekan. Bagus menyandarkan tubuhnya perlahan, merajut jemarinya di atas pangkuan.

​"Lalu, untuk apa kau datang kemari?" tanya Bagus seraya melirik adiknya.

​Tanpa bersuara, Dimas membuka map cokelat tebal yang sejak tadi dibawanya. Satu per satu dokumen, foto, hingga salinan transaksi ia beberkan di atas meja kaca yang memisahkan mereka.​"Selama enam bulan terakhir, aku mengumpulkan semua ini secara bergerilya."

​Bagus meraih tumpukan berkas itu. Matanya menyapu setiap lembar bukti dengan saksama, foto pertemuan rahasia di remang malam, dokumen transaksi bernilai miliaran rupiah, data perusahaan cangkang, hingga potret peti kemas yang diduga berisi pengiriman senjata ilegal. Semakin jauh ia membaca, semakin dalam kerut di dahinya.

​"Buktinya cukup untuk membuka penyelidikan berskala besar," gumam Bagus.

​"Tapi belum cukup untuk meruntuhkan mereka," potong Dimas cepat.

​Bagus menutup map itu dengan ketukan pelan. "Jadi, bantuan apa yang kau harapkan dariku?"

​"Aku tidak meminta TNI turun tangan menangkap mereka."

​"Lalu?"

​"Aku hanya ingin ada pihak yang bisa aku percaya untuk mengamankan bukti-bukti ini. Kalau semuanya tetap berada di markas kepolisian, cepat atau lambat akan lenyap."

​Bagus terdiam. Pandangannya mengarah ke jendela besar di belakang meja kerjanya, menimbang tiap konsekuensi berbahaya yang bisa pecah kapan saja.

​"Kau sadar, Dim... begitu aku ikut melangkah, persoalan ini akan berkembang jauh lebih besar?"

​"Aku sadar mas."

​"Dan jika dugaanmu benar, kita sedang berhadapan dengan orang-orang yang memegang uang, kekuasaan, sekaligus perlindungan politik."

​Dimas mengangguk tanpa keraguan. "Itulah sebabnya aku datang padamu, Mas. Karena... aku sudah tidak tahu lagi harus percaya pada siapa."

​Kalimat itu menggantung berat di udara. Jenderal Bagus akhirnya menghela napas panjang sebelum menepuk pelan map berisi bukti tersebut.

​"Aku tidak akan mencampuri urusan internal penyidikan kepolisian," tegasnya.

​Raut wajah Dimas seketika meredup kecewa.

​"Tetapi..." lanjut Bagus dengan penekanan dingin, "...jika penyelidikan ini benar-benar mengarah pada penyelundupan senjata, keterlibatan pihak asing, atau ancaman terhadap pertahanan negara, maka itu sudah menjadi kewenangan kami."

​Binar harapan mendadak muncul kembali di mata Dimas. Tanpa membuang waktu, Bagus menjangkau gagang interkom di meja kerjanya.

​"Panggil Mayor Ardi dan Kapten Rexsaka ke ruangan saya. Sekarang," titah sang jenderal tegas kepada stafnya di luar.

​Kau beruntung, Andy... batin Jenderal Bagus, teringat permohonan sahabatnya kemarin yang meminta perlindungan untuk sang putri.

​Benang merah itu kini teranyam makin jelas. Bahaya yang tengah mengintai putri sahabatnya ternyata berakar dari gurita bisnis haram keluarga Mahesa, kasus kelam yang sebentar lagi akan membongkar kembali luka lama... luka yang tiga tahun lalu nyaris menumbangkan karier anak didik kebanggaannya.

***

Mayor Ardi melangkah masuk ke ruang kerja Jenderal Bagus, mengekor di belakangnya Kapten Rexsaka. Ruangan luas itu kini telah sepi, tersisa sang jenderal seorang diri setelah kepulangan Dimas beberapa saat lalu.

​"Kalian tahu mengapa saya memanggil kalian berdua ke sini?" tanya Jenderal Bagus tanpa basa-basi.

​Mayor Ardi sempat melirik Rexsaka secara sekilas. Pria bernetra gelap di sampingnya itu membalas dengan raut wajah sama seriusnya.

​"Siap, tidak tahu, Komandan!" jawab Mayor Ardi tegas.

​Jenderal Bagus menggeser map cokelat peninggalan Dimas ke hadapan mereka. Tanpa mengulur waktu, Mayor Ardi segera meraih dan membukanya.

​"Selidiki Budi Mahesa. Kumpulkan semua bukti kejahatan kelompok mereka, terutama keterlibatannya dengan Kombes Hendra Wiratama," titah Jenderal Bagus dingin, menyebutkan nama atasan adiknya di kepolisian.

​Jenderal Bagus beralih menatap tajam Kapten di samping Ardi. "Dan untukmu, Rexsaka... kamu memegang tugas khusus. Mulai hari ini, kamu bertugas sebagai pengawal pribadi putri dari keluarga Sismoko. Itu hanya kedok. Tugas utamamu tetap mengumpulkan informasi mengenai pergerakan Arnold Mahesa. Langkah ini akan memuluskan penyidikanmu terhadap putra Budi Mahesa itu, yang disinyalir kuat merupakan salah satu dalang jaringan narkoba."

​Rexsaka sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka suara. "Tapi Komandan... saya sudah mengajukan cuti, dan saat ini tinggal menunggu proses administrasi dari pihak pers."

​Jenderal Bagus mengangguk pelan, seolah sudah memperkirakan keberatan tersebut. "Saya sudah membaca laporanmu."

​Rexsaka tetap berdiri tegap, menanti kelanjutan arahan atasaannya.

​"Permohonan cutimu akan tetap diproses," lanjut Jenderal Bagus, membuat Rexsaka sedikit mengernyit. "Namun, status cuti itu justru menjadi bagian dari skenario penyamaranmu."

​Mayor Ardi ikut menoleh, menyimak strategi sang atasan.

​"Di atas kertas, kamu sedang menjalani cuti. Dengan begitu, tidak ada yang akan curiga jika kamu menghabiskan waktu berada di sisi putri Sismoko itu, " tegas Jenderal Bagus.

"Namun secara De Facto, kamu tetap menjalankan operasi ini di bawah komando langsung dari saya . Seluruh laporan disampaikan secara tertutup kepada Mayor Ardi, tanpa melalui jalur administrasi biasa."

​Jenderal Bagus mengunci tatapan matanya pada Rexsaka. "Anggap ini black operation. Semakin sedikit orang yang tahu status aslimu, semakin besar peluang kita untuk meruntuhkan dinasti Mahesa."

​Menyadari keengganan yang tersirat dari raut anak didik kebanggaannya itu, nada bicara sang jenderal mendadak melunak.

​"Hanya kamu yang cocok menerima tugas ini, Saka. Tidak ada yang lain," tutur Jenderal Bagus pelan. Nada bicaranya mendadak melunak, melanggalkan formalitas seorang komandan dan menggantinya dengan kehangatan seorang paman. Tatapannya seolah menyenggol kembali memori pahit tentang tragedi tiga tahun silam.

​"Hanya kamu yang paham betul bagaimana pola permainan putra Mahesa itu. Jadi... Paman sangat berharap kamu mau menerima misi ini."

Rexsaka terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras, seolah masih menimbang beban yang kembali diletakkan di pundaknya. Namun pada akhirnya, ia mengangkat dagu dan memberi hormat sempurna.

"Siap, Komandan. Saya laksanakan."

Tatapan Jenderal Bagus berubah teduh. Ia tahu, sejak kalimat itu terucap, bukan hanya operasi yang dimulai. Masa lalu Rexsaka dan keluarga Mahesa pun akan kembali bertabrakan.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!