Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Perundingan
Keesokan harinya,
Pukul 16.00 WIB
BMW iX milik Rangga berhenti di depan pagar besi bercat hitam. Rumah Arumi dan anak-anak. Rangga menatap rumah itu dari area depan. Bangunan 1,5 lantai yang asri, ukurannya hanya 100m2. Cat rumah dominasi putih dan coklat, banyak tanaman di halaman depannya yang seuprit. Rangga menatap sekelilingnya, komplek perumahan yang rapi dan tertata. Dengan tetangga yang saling kenal satu sama lain.
Rumah ini memiliki garasi, punya peralatan cuci dan tudung mobil, tapi tak ada mobilnya.
Arumi menyambutnya di teras, wajahnya tetap datar khas seorang manajer yang sedang bersiap menghadapi rekan bisnis. Di belakangnya, Rian (17) dan Aryo (15) berdiri bersedekap, memasang tameng pertahanan terbaik mereka.
"Masuk, Rangga," ujar Arumi formal.
Rangga mengangguk, melangkah melewati pintu utama. Matanya langsung menyapu dinding ruang tamu yang dicat putih bersih, nampak kontras dengan beberapa furnitur kayu jati yang terlihat berumur.
"Rumahnya rapi banget, Mbak," gumam Rangga tulus.
Arumi tersenyum tipis, senyum penuh nostalgia yang membuat dadanya sedikit sesak. "Tadinya cat rumah ini warna salem. Jadul banget menurut saya. Jadi Mas Ary bersedia mengubah seluruh warnanya jadi karena saya bilang rumah akan terasa lebih luas kalau catnya terang. Dia mengecatnya sendiri selama seminggu penuh sampai pinggangnya encok."
Rian dan Aryo yang mendengar itu hanya diam, namun sorot mata mereka melembut mengingat memori sang ayah.
“Memang sempit, tapi kenangan di dalamnya ‘luas’. Makanya, saya tidak ingin tinggal dimana pun setelah... kita menikah. Walau pun saya yakin rumah kamu sebesar stadion bola.” Kata Arumi.
Rangga melirik Rian dan Aryo yang langsung buang muka malas-malasan.
“Saya ikut saja, Mbak. Rumah saya memang besar, tapi di dalamnya tak ada yang benar-benar saya kenal. Hanya ART dan pengurus rumah. Boleh dibilang, tak ada kenangan berarti.”
“Rumah masa kecil kamu?”
“Dijual setelah Ibu kabur sama laki-laki lain.”
Hening sesaat.
Hanya ada tarikan nafas.
“Seusia Aryo, saya sudah melihat langsung ibu saya bercinta dengan beberapa pria berbeda, dan adegan kekerasan yang dilakukan ayah saya ke ibu saya. Juga berbagai problem pisah harta, penculikan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Pemain ‘dramanya’ adalah ayah dan ibu saya. Sementara ibu tiri saya, Bu Shinta, hanya menonton semua dengan tawa sinisnya. Mungkin dalam hatinya langsung bilang ‘syukurlah aku diselamatkan dari drama picisan ini’.” Tapi Rangga bercerita dengan mimik santai bahkan tersenyum, seakan semua itu kisah orang lain.
Rian dan Aryo hanya bisa melotot sambil menatap Rangga dengan takjub. Kenyataan kalau Rangga masih baik-baik saja dan tidak bunuh diri membuat mereka berdua salut.
“Kini, setiap wanita yang ada di depan saya, terlihat seperti ikan lele dikasih lipstik.”
“Buh!!” Rian dan Aryo tak tahan untuk tidak ngakak. “Wahahahaha!! Ikan Lele?!”
“Yang penampilannya wajar hanya mamah kalian.” Tambah Rangga. “Saat saya tahu kalau sekretaris saya tingkahnya seperti ibu saya semua, akhirnya saya mengubah kebijakan kantor. Kalau mulai sekarang yang mengurusi segala keperluan saya adalah Asisten. Dan semuanya laki-laki. Termasuk Tony.”
Arumi mengangguk mengerti. Namun ia tidak mengurangi sikap dinginnya. Ia hanya ingin tahu seperti apa hidup Rangga untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Mereka akan hidup berdua.
Setelah anak-anak mengizinkan.
“Kamu...” Arumi menoleh ke belakang sekilas, melihat BMW iX Rangga di depan pagar. “Bagaimana bisa mendapatkan ‘itu’?” Arumi tahu kalau itu mobil nahas yang digunakan Rangga saat menabrak motor Ary. “Bukankah mobil itu seharusnya masih jadi barang bukti?”
“Statusnya ‘Pinjam Pakai’.”
Mereka berdua terdiam.
“Saya belum melakukan Pencabutan Laporan.” Nada Arumi dingin.
“Silakan dicabut kalau begitu.” Rangga masih santai menanggapi Arumi
“Setelah Transfer Pertama.” Tantang Arumi.
“Sudah berapa Jam Mbak Arumi tidak melihat bukti transaksi?”
Mereka terdiam lagi.
Aryo langsung mengulurkan tangan untuk menyerahkan ponsel mamahnya, dan mata Arumi langsung melotot melihat nominal di rekeningnya.
“Kami baru mendapatkan rekening Mbak Arumi kemarin, saat kita bertemu di restoran. Sebenarnya sudah terkirim tepat dua detik setelah Mbak Arumi memberi izin transfer sih.” Kata Rangga sambil tersenyum. “Itu hanya gaji sebulan Mbak Arumi sebagai istri saya. Belum biaya rumah, pendidikan, dan jajan Rian dan Aryo. Urusan pernikahan jadi tugas Tony dan timnya.”
“Kita dapet juga brooo?!” bisik Aryo ke Rian dengan girang.
“Gajinya mamah seratus juta sebulan?! Buset...” gumam Rian sambil geleng-geleng kepala.
“Sekali lagi, Mbak Arumi, saya tegaskan di sini.” Rangga berjalan mendekati Arumi. Perbedaan tinggi mereka yang kontras membuat wanita itu mendongakkan kepalanya ke atas. “Saya tidak membeli nyawa Mas Ary. Karena hal itu sudah dikembalikan ke Maha Pencipta. Tugas saya di sini adalah mengambil alih tanggung jawab Mas Ary atas diri Mbak Arumi dan anak-anak. Sesuai amanat beliau.”
Arumi, Rian dan Aryo menatap Rangga dengan tegang. Mereka tidak tahu harus berpikir apa dan bagaimana, yang jelas Rangga mulai menunjukkan siapa sebenarnya dirinya.
Seorang pemimpin.
“Mbak Arumi, Rian dan Aryo bebas mengajukan pilihan, bebas mengajukan syarat. Saya pun begitu. Saya juga memiliki ketentuan yang melindungi prinsip saya. Tetapi, setelah kesepakatan terjadi, saya harap tidak akan ada lagi kata-kata ‘beli nyawa’. Saya bukan sekte pemuja Iblis. Dan Kecelakaan itu bukan mau saya. ”
Arumi menarik nafas panjang dan akhirnya dia bilang, “Itu yang ingin saya diskusikan, Rangga. Duduklah. Biarkan anak-anak juga mendengar. Mereka sudah cukup dewasa untuk mengetahui kenyataannya.”
Rian menyuguhkan empat cangkir teh dan beberapa kukis. “Ini tebus murah dari minimarket tempatku kerja. Aku beli pakai gajiku.” Lalu Rian terdiam. Dalam batinnya dia malah bertanya, kenapa pula aku ngomong begitu? Seakan dia ingin membanggakan kalau dia sudah bisa menafkahi ibu dan adiknya menggantikan ayahnya. Entahlah, terceplos begitu saja padahal tadinya dia berniat bersikap dingin, sedingin salju di Alaska.
Senyum Rangga yang hangat mencairkan hati siapa pun yang bicara dengannya.
“Owh, bagus. Kamu mulai kerja dari bawah. Pelan-pelan saja untuk ke atas. Saya tidak akan bantu kamu, karena yang kamu butuhkan adalah pengalaman. Saya yakin Mas Ary juga akan bilang begini. Pengalaman adalah guru terbaik dari Tuhan. Pengalaman adalah modal dasar seorang Boss bisa jadi pemimpin sejati.”
“Situ bilang gitu gampang, pas lahir udah jadi Boss...” gerutu Rian.
“Saya dari lahir sudah bekerja.” Sahut Rangga sambil menyeringai. “Dari kecil saya dicekoki kasus bisnis, dari jaman ke jaman dan apa kesalahan yang mungkin saja terjadi, bagaimana faktor resikonya bekerja. Umur 5 tahun, saya pertama kali main lego, saya masuk rumah sakit karena pingsan dicambuk ayah.”
“Di... dicambuk?!”
“Ya, karena saya pewaris satu-satunya dan mereka tidak mengizinkan saya bermain. Makanya saya suka bersekolah. Di sekolah saya bisa berteman, ada jam istirahat, ada jam berolahraga. Saya benar-benar berterima kasih pada Pemerintah yang mewajibkan anak-anak sekolah. Karena saya bisa curi-curi waktu untuk menikmati dunia. Bukan hanya mempelajari bisnis seharian.”
“Ish...” Rian mencebik ngeri.
“Baru pas SMA, saya berani memberontak. Karena cambukan ayah sudah tidak terasa sakit lagi. Mau diancam, sudah tidak mempan. Banyak proyek yang sudah saya tangani di balik layar dan nyatanya berhasil mendapatkan profit. Saya mulai berani ngeband, mulai berani mabar, mulai berani... tawuran.”
“Om ini dulunya pasti salah satu anak yang belum disuruh jongkok di halaman Kodim udah dijemput pengacara. Dibebasin.” Ejek Rian.
“Yah, jangan khawatirkan saya. Karma saat ini datangnya cepat. Ibu saya diceraikan, ayah saya meninggal. Dan ternyata ayah saya pun punya banyak gundik. Khehehehe. Bayangkan mirisnya. Saya Cuma bisa tertawa.”
Dengan tegang, Arumi dan anak-anak menyeruput tehnya.
“Jadi... Rangga, terima kasih karena kamu sudah jujur dengan latar belakang kamu. Orang sesempurna kamu bisa menabrak suami saya , hal itu memang jadi bahan pertanyaan. Terus terang saja, kamu selalu dikelilingi banyak orang. Kenapa saat itu kamu menyetir sendirian? Tidak didampingi Tony atau Denny?”
Rangga akhirnya menceritakan kejadian saat ia pingsan tak sadarkan diri. Juga rekaman CCTV yang dihapus secara illegal. Rangga menceritakannya selama setengah jam lamanya. Dengan berapi-api karena ia benci dikerjai orang.
“Tidak terhitung banyaknya saya diracun perempuan yang ingin ‘memperkosa’ saya. Waktu kecil, kalau saya nggak berhasil kabur , saya pasti sudah jadi korban teman-temannya ibu saya. Saya nekat lari ke kantor ayah masih pakai bathrope! Cuma mau lapor kalau saya digerayangi teman-teman ibu saya, sementara ibu saya sedang bercinta dengan pacarnya di kamar sebelah. Pas Ayah memukuli ibu, saya biarkan saja! Dia memang keterlaluan.”
“Rangga, jadi tersangkanya adalah sekretaris di tempat kamu bekerja, dan bukan hanya satu orang?” tanya Arumi dengan nada terkejut. Ia tidak menyangka dunia bisnis yang sedang dijalani Rangga begitu berbahaya.
“Kami duga begitu, berdasarkan bukti.”
“Karena itu kamu melarang saya bekerja di kantor kamu?”
Rangga pun mengangguk, “Seperti yang saya bilang, saya tidak tega kamu terjun ke kandang macan. Yang harus membereskan mereka... ya Naga.” Rangga menunjuk dirinya sendiri.
Rian dan Aryo langsung memeluk lengan mama mereka. “Kita setuju. Jangan ya Mah. Biar om Rangga aja. Dia sudah terbiasa.”
“Okey...” Arumi mengangkat tangannya tanda menyerah.
“Tapi, Mbak. Dengan jadi istri saya, kamu nanti akan kenal dengan banyak istri-istri pejabat lain. Pelan-pelan kamu akan terlatih untuk memilih mana yang baik untuk keluarga kita, dan mana yang harus kamu hindari. Seandainya...” Rangga tampak berat mengatakan hal ini, “Seandainya pernikahan kita tidak berhasil, kamu sudah punya cukup modal untuk berdikari dengan silaturahmi yang kamu jalani.”
“Kata lain yang lebih awam?” tanya Arumi.
“Jaringan kamu sudah mantap. Buka saja salon, nanti banyak sosialita nangkring.” Desis Rangga sambil menyeruput tehnya. “Saya makan biskuit tebus murahnya ya Rian.”
“Eeeh, iya Om.” Rian tampak salting.
Mereka akhirnya menghabiskan beberapa saat untuk menikmati sore itu dalam keheningan. Rangga semakin merasa nyaman di rumah ini. Hawanya beda. Tidak kaku, sejuk, aliran udara lancar, wangi yang campur aduk, dan penghuni yang ramai. Bunyi kendaraan lalu lalang di luar rumah semakin membuat suasana jadi lebih hidup.
"Mbak Arumi," sapa Rangga sambil meletakkan cangkir tehnya. "Saya lihat garasi Mbak kosong. Mobil milik almarhum Mas Ary di mana?"
Arumi menghela napas pendek, menatap lantai garasi yang bersih. "Mobil Mas Ary sudah saya over kredit ke orang lain bulan lalu, Rangga. Tabungan saya menipis, dan saya tidak sanggup membayar cicilan bulanannya lagi."
Rangga terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya untuk menatap Arumi. “Maaf bukan bermaksud untuk menyinggung. Seandainya kita bersepakat lebih cepat...”
“Yah.” Arumi memotong ucapan Rangga. “Yang seperti ini tidak bisa saya putuskan dengan cepat. Rasa berduka kami tidak bisa selesai dalam sekejab mata.”
Rangga mengangguk, “Justru kalau Mbak Arumi langsung memutuskan malah saya jadi berpikir yang tidak-tidak. Seperti ada motif tersembunyi.”
“Seperti kata kamu kemarin, rejeki kami tidak akan tertukar. Mobil itu bukan rejekinya, tapi rumah ini masih rejeki kami.”
“Karena rumah inikah Mbak Arumi akhirnya menghubungi saya?” tanya Rangga.
Arumi mengangguk, “Kenangan di sini terlalu mahal. Saya tidak sanggup melepasnya. Berapa banyak harga belinya, saya lebih baik membuang harga diri saya.”
Mereka terdiam lagi.
Senja mulai menyingsing. Serabut mentari sore mulai berubah warna.
“Rangga, bagaimana dengan motor yang dipakai Mas Ary saat kejadian itu?" suara Arumi mendadak bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Apapun yang terjadi, dalam keadaan sehancur apa pun benda itu sekarang... saya minta motor Mas Ary harus dikembalikan ke rumah ini. Saya tidak mau motor itu membusuk di gudang sitaan polisi."
Rangga menatap mata Arumi yang penuh luka, lalu mengangguk tanpa ragu sedikit pun. Pria mengangguk, lalu tersenyum tipis. Ia mencoba menjelaskan langkah selanjutnya dengan bahasa yang sangat sederhana, seperti menjelaskan tugas sekolah pada anak kecil.
"Prosesnya tidak bisa langsung hilang begitu saja lewat omongan, Mbak," ujar Rangga dengan nada suara yang lembut. "Ibaratnya begini, Mbak Arumi kan kemarin sudah membuat laporan tertulis di buku catatan polisi. Nah, besok pagi, Mbak Arumi harus ikut Tony datang langsung ke kantor polisi untuk tanda tangan di buku itu lagi, isinya bilang kalau Mbak Arumi sudah memaafkan saya secara resmi."
Rangga menjeda kalimatnya sejenak. "Setelah Mbak tanda tangan, nanti polisi akan mengadakan rapat kecil di dalam kantor mereka. Mereka akan memeriksa apakah semua surat perdamaian kita sudah lengkap atau belum. Kalau pak polisi sudah setuju semuanya aman, mereka akan mengeluarkan satu surat keputusan penting yang namanya SP3. Anggap saja surat itu seperti penghapus karet; begitu surat itu keluar, nama saya di buku laporan polisi akan dihapus bersih, dan kasus kita resmi ditutup. Nanti Denny yang akan mendampingi dan membereskan semua kertas-kertas ribet itu di Polres."
“Dan motor itu bisa kembali ke sini?”
“Ya. Polisi akan menyerahkan motor tersebut kembali kepada Mbak Arumi selaku ahli waris sah. Karena statusnya sudah bebas murni, Mbak Arumi memiliki hak penuh apakah motor ringsek itu mau disimpan sebagai kenangan, diperbaiki total atau langsung dijual kiloan ke tukang rongsok. Saran saya sih, diperbaiki saja. Onderdil yang hancur diganti. Lumayan bisa buat kita pakai untuk ke minimarket. Kan jadi terkesan Mas Ary yang anterin.” Kata Rangga.
Rian langsung mengangguk sambil tersenyum lembut.
Ia ingat saat-saat masih belajar motor, Ayahnya mengajarkannya menggunakan motor itu. Sampai Rian lancar baru dibelikan motor sendiri. Ary juga sering mengantarkan Arumi ke pasar pakai motor itu.
“Oke, Rangga... kami sudah sedikit kenal kamu. Kamu juga sedikit banyak mengerti kondisi kami.”
“Aku yakin Om Rangga banyak tahu ya, kan mata-matanya dimana-mana.” Desis Aryo sambil mencibir. “Yang ngontrak di depan rumah kita, itu kan antek Om kan? Satpam baru juga tuh. Terus yang bapak-bapak suka nongkrong di kelurahan juga orangnya Om Rangga kan?”
Semua menatap Rangga sinis.
“Yaaah, saya harus memastikan hidup kalian nyaman tanpa diganggu oleh... apa ya namanya? Paparazzi?”
“Ck... risih banget.” Gerutu Aryo. Disertai anggukan yang lain.
“Jadi... Mbak Arumi, kalau anak-anak mengizinkan, pernikahan ini akan dilaksanakan sekitar tiga bulan lagi. Besok Tony datang, Mbak Arumi bisa serahkan dokumen data diri padanya. Juga, saya butuh satu kamar untuk barang-barang saya. Karena saya yakin Mbak Arumi tidak akan mau sekamar dengan saya.” Kata Rangga.
Arumi, Rian dan Aryo tersenyum licik.
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖