NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan yang Janggal

Mentari pagi mulai menghangatkan sudut-sudut komplek saat Sephia keluar dari rumah sambil mengunci pagar.

Tas ransel sudah bertengger di bahunya, sementara sepotong roti masih ia pegang di tangan.

Belum sempat melangkah jauh, suara dari seberang jalan memanggilnya.

"Pia."

Sephia menoleh.

Sagara baru saja keluar dari rumah nomor sebelas. Setelah mengunci pagar, ia menyeberang menghampiri Sephia.

"Pagi, Kak."

"Pagi."

Tatapan Sagara langsung jatuh ke wajah Sephia.

"Gimana? Masih pusing atau sesek atau lemes?"

Sephia menggeleng sambil menggigit roti yang dipegangnya.

"Engga, kok."

"Yakin?"

"Iya. Kalau masih pusing, Mama juga nggak bakal ngebolehin gue berangkat."

Sagara mengangguk pelan.

"Bagus deh kalo gitu."

Mereka pun mulai berjalan menyusuri jalanan komplek.

Suasana pagi masih terasa tenang. Beberapa warga terlihat menyapu halaman rumah, sementara anak-anak kecil mulai berangkat ke sekolah dasar dengan diantar orang tua mereka.

Baru beberapa rumah mereka lewati...

Pagar rumah nomor empat terbuka.

Alan keluar sambil membenarkan posisi tas di bahunya.

Begitu melihat Sephia dan Sagara, ia mengangguk kecil.

"Pagi."

"Pagi," balas Sephia.

Sagara ikut mengangguk singkat.

Tanpa banyak bicara, Alan mengunci pagar rumahnya, lalu mempercepat langkah hingga berjalan sejajar dengan mereka.

Ia melirik Sephia sekilas.

"Udah enakan badannya?"

"Udah."

"Semalam juga udah nggak pusing lagi."

Alan mengangguk pelan.

"Syukurlah."

Sephia mendengus pelan.

"Kenapa sih, dari tadi yang ditanyain itu mulu?"

Sagara terkekeh.

"Ya wajar."

"Lo kemarin bikin panik."

Alan menambahkan dengan nada datar.

"UKS rame gara-gara lo."

"Heh..."

Sephia langsung memanyunkan bibir.

"Gue juga nggak mau kali."

Alan terkekeh pelan.

"Nah, berarti jangan ngulang."

Sephia memutar bola matanya.

"Iya, Pak."

Ketiganya tertawa kecil.

Percakapan mereka kemudian mengalir ke hal-hal ringan.

Mulai dari tugas sejarah yang tertunda, guru yang terkenal galak kalau memberi PR, sampai Hana yang hampir pasti bakal mengomel lagi karena semalam berkali-kali mengirim pesan menanyakan kondisi Sephia.

Tak terasa, gerbang sekolah sudah terlihat di depan.

Namun saat mereka hendak masuk ke halaman sekolah, perhatian Alan tertuju pada sosok Pak Damar yang sedang berbicara serius dengan seorang satpam di depan gedung administrasi.

Ekspresi guru sejarah itu tampak jauh lebih serius dibanding biasanya.

Alan mengikuti arah langkah Pak Damar dengan pandangan.

"Hm..."

Sagara yang menyadarinya ikut menoleh.

"Kenapa?"

Alan menggeleng pelan.

"Nggak tahu..."

"Tapi kayaknya..."

"...masalah kemarin belum selesai."

Ucapan itu membuat Sephia dan Sagara ikut memperhatikan Pak Damar yang berjalan tergesa memasuki gedung administrasi.

Bel masuk berbunyi nyaring.

Siswa yang masih berada di koridor bergegas masuk ke kelas masing-masing.

Di kelas XI , Bu Lilis belum juga datang.

Suasana kelas pun masih dipenuhi obrolan.

Hana memutar kursinya menghadap Sephia.

"Gimana? Semalam tidur nyenyak?"

Sephia mengangguk.

"Untungnya iya."

"Soalnya gue kepikiran terus."

"Takut lo malah mimpi buruk."

Sephia terkekeh pelan.

"Enggak sampai segitunya."

Di bangku belakang, Alan sedang membuka buku ketika pintu kelas diketuk pelan.

Seorang staf tata usaha berdiri di depan kelas.

"Permisi."

"Pak Damar minta Alan ke ruang BK sekarang."

Seluruh kelas langsung menoleh ke arah Alan.

Alan sendiri tampak sedikit heran.

"Sekarang, Pak?"

"Iya."

"Baik."

Alan berdiri, meraih ponselnya, lalu keluar kelas.

Tatapan beberapa teman langsung mengikuti langkahnya.

"Kira-kira ada apa, ya?"

"Nggak tahu."

"Jangan-jangan masih soal kemarin."

Bisik-bisik mulai terdengar.

Hana menoleh ke arah Sephia.

"Pasti soal perpustakaan."

Sephia hanya mengangguk pelan.

Perasaannya kembali tidak tenang.

Sementara itu...

Di ruang BK.

Pak Damar sudah berdiri bersama Wakil Kepala Sekolah, Pak Arif selaku satpam sekolah, dan seorang guru BK.

Tak lama kemudian, Alan mengetuk pintu.

"Permisi, Pak."

"Masuk, Alan."

Alan melangkah masuk.

Begitu melihat suasana ruangan yang cukup serius, ia langsung berdiri tegak.

"Bapak manggil saya?"

Pak Damar mengangguk.

"Iya."

"Duduk dulu."

Alan menurut tanpa banyak bertanya.

Beberapa detik kemudian, Pak Arif meletakkan sebuah laptop di atas meja.

"Rekaman CCTV lorong perpustakaan sudah berhasil kami ambil."

Alan tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke layar laptop.

Pak Damar menatapnya sejenak.

"Kamu salah satu saksi yang pertama kali menemukan Sephia."

"Karena itu, kami ingin kamu ikut melihat rekaman ini."

Alan mengangguk pelan.

"Baik, Pak."

Pak Arif mulai memutar video.

Rekaman memperlihatkan lorong belakang perpustakaan.

Suasananya tampak sepi.

Beberapa siswa sesekali melintas.

Tak lama...

Sephia terlihat berjalan menuju ruang arsip.

Tak berselang lama, lampu lorong padam.

Ruangan mendadak hening.

Alan memperhatikan layar tanpa berkedip.

Beberapa detik kemudian...

Seorang siswa berjalan cepat menuju pintu ruang arsip.

Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Lalu...

Tangannya meraih gagang pintu.

Klik.

Pintu ruang arsip dikunci dari luar.

Alan tanpa sadar mengepalkan tangannya di bawah meja.

Tatapannya tetap terpaku pada layar.

Sementara Pak Damar menarik napas panjang.

"Jeda di situ, Pak Arif."

Video berhenti tepat saat wajah siswa itu mulai terlihat jelas.

Pak Damar menatap layar beberapa saat.

Raut wajahnya berubah.

Ia jelas mengenali siswa tersebut.

Namun...

Alan belum.

Karena posisi duduknya tidak memungkinkan melihat layar secara utuh.

Pak Damar menoleh kepada guru BK.

"Tolong panggil siswa ini ke sini."

Guru BK mengangguk singkat sebelum keluar dari ruangan.

Alan masih menyimpan banyak pertanyaan.

Tak sampai lima menit kemudian...

Pintu ruang BK kembali terbuka.

Seorang siswa laki-laki berseragam putih abu-abu masuk dengan langkah pelan.

Wajahnya tampak tegang.

"Permisi, Pak..."

"Masuk."

Pak Damar menunjuk kursi di depan meja.

"Duduk."

Siswa itu menurut.

Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.

Pak Damar memutar laptop hingga menghadap ke arahnya.

"Kenal dengan orang yang ada di rekaman ini?"

Video kembali diputar.

Terlihat sosok siswa itu berjalan menuju lorong belakang perpustakaan.

Beberapa detik kemudian...

Tangannya mengunci pintu ruang arsip.

Video dihentikan.

Ruangan hening.

Pak Damar menatap siswa itu lekat-lekat.

"Itu kamu, kan?"

Siswa itu menunduk.

Beberapa saat ia tidak menjawab.

Sampai akhirnya terdengar suara lirih.

"...Iya, Pak."

Alan yang duduk di samping hanya diam.

Tatapannya tak lepas dari wajah siswa itu.

"Kenapa kamu mengunci pintu ruang arsip?"

Siswa itu menggigit bibirnya.

"Saya..."

"Saya cuma iseng, Pak."

Ruangan seketika sunyi.

Pak Damar mengernyit.

"Iseng?"

"Iya, Pak."

"Saya pikir... paling nanti temannya langsung buka."

"Saya nggak nyangka bakal sampai kayak gitu."

Pak Damar menghela napas panjang.

"Kamu sadar akibat perbuatanmu?"

Siswa itu langsung mengangguk berkali-kali.

"Saya nyesel, Pak."

"Maaf..."

Pak Damar tidak langsung menjawab.

Beliau menatap siswa itu cukup lama.

"Lampu lorong mati."

"Lalu beberapa detik setelah Sephia masuk, kamu mengunci pintunya."

"Itu semua cuma kebetulan?"

Siswa itu kembali terdiam.

"I... iya, Pak."

"Saya benar-benar nggak tahu lampunya bakal mati."

Jawaban itu terdengar ragu.

Alan memperhatikan setiap perubahan ekspresi siswa tersebut.

Tangannya terus mengepal sejak tadi.

Entah kenapa...

Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan.

Tak lama kemudian...

Wakil Kepala Sekolah masuk ke ruang BK.

Pak Damar berdiri menghampiri beliau.

Keduanya berbicara dengan suara pelan selama beberapa menit.

Alan tidak bisa mendengar isi pembicaraan mereka.

Namun dari raut wajah keduanya...

Masalah itu tampaknya tidak akan selesai begitu saja.

Beberapa saat kemudian, Wakil Kepala Sekolah menoleh ke arah siswa itu.

"Mulai hari ini, kamu dikenai skorsing selama tiga hari."

"Selain itu, orang tua kamu akan kami panggil ke sekolah."

Siswa itu menundukkan kepala semakin dalam.

"Baik, Pak..."

Pak Damar lalu mengalihkan pandangan ke Alan.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu."

"Kamu boleh kembali ke kelas."

Alan berdiri.

"Iya, Pak."

Sebelum keluar, ia sempat melirik sekali lagi ke arah siswa yang masih tertunduk itu.

Aneh.

Sangat aneh.

Kalau benar hanya iseng...

Kenapa wajah anak itu justru terlihat seperti sedang memikul beban yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa bersalah?

Alan tidak menemukan jawabannya.

Namun firasatnya mengatakan...

Pengakuan itu belum tentu merupakan seluruh kebenaran.

Begitu keluar dari ruang BK, embusan angin pagi langsung menyambutnya.

Koridor masih relatif sepi karena seluruh siswa sedang mengikuti pelajaran.

Baru beberapa langkah berjalan, Alan melihat seseorang berdiri di dekat jendela ujung koridor.

Sagara.

Kakak kelas itu tampaknya sengaja menunggu.

"Gimana?" tanyanya begitu Alan mendekat.

Alan berhenti di sampingnya.

"Dia ngaku."

Sagara mengernyit.

"Alasannya?"

"Katanya iseng."

Sagara mengembuskan napas pelan sambil menggeleng.

"hah? Iseng? Lo percaya?"

Alan menatap halaman sekolah beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.

"Nggak."

"Kenapa?"

"Karena semuanya terlalu pas."

Alan menoleh ke arah Sagara.

"Sephia baru masuk."

"Lampu langsung mati."

"Beberapa detik kemudian pintunya dikunci."

"Itu bukan sesuatu yang terjadi begitu aja."

Sagara terdiam.

Ia sebenarnya memiliki pemikiran yang sama.

"Kalau emang ada orang lain..."

"...berarti dia licik"

Alan mengangguk pelan.

"Dan hati-hati."

"Dia nggak ninggalin jejak apa pun dan gak mau ngotorin tangannya, tapi... Apa alasannya?."

Keheningan kembali menyelimuti keduanya.

Tak lama kemudian...

Teng... Teng... Teng...

Bel pergantian jam pelajaran berbunyi.

Beberapa guru mulai keluar dari kelas untuk berganti mengajar.

Koridor yang semula sepi perlahan kembali dipenuhi langkah kaki.

Sagara melirik jam tangannya.

"Jam kedua."

"Gue balik ke kelas dulu."

Alan mengangguk.

"Iya."

Sagara sempat melangkah beberapa meter sebelum kembali berhenti.

"Lan."

Alan menoleh.

"Kalau nanti ada apa-apa lagi soal Sephia..."

"...kasih tahu gue."

Alan tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan.

"Oke."

Sagara membalas anggukan itu sebelum berjalan menuju gedung kelas XII.

Alan pun berbalik menuju kelasnya sendiri.

Meski pihak sekolah telah mengambil keputusan...

Entah mengapa...

Ia merasa kejadian di ruang arsip kemarin belum benar-benar berakhir.

Dan firasat itu...

Jarang sekali meleset.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!