Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Perjodohan
Pengadilan tampak sibuk seperti biasa. Di salah satu sisi koridor, Xena Alatas berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi. Di sampingnya sang pengacara andalan sedang merapikan berkas-berkas gugatan cerai.
Hari ini adalah sidang perdana. Xena dengan segala kalkulasi taktisnya, sama sekali tidak berniat membiarkan Reyhan menapakkan kaki di ruang sidang ini. Pertemuan tatap muka hanya akan membuka celah bagi kelicikan Reyhan, entah itu drama air mata, manipulasi emosional, atau upaya penundaan berkedok medias. Xena terlalu bersih untuk dikotori oleh drama murah semacam itu.
"Semua aman, Nona Xena. Tim kita di lapangan memastikan umpan itu dimakan bulat-bulat."
Xena tersenyum tipis. Strateginya sederhana namun mematikan. Dua jam sebelum sidang dimulai, Reyhan dipastikan tertidur pulas karena kelelahan dan juga obat tidur hingga tak bisa menghadiri persidangan. Teleponnya sengaja disabotase dengan panggilan bertubi-tubi dari nomor tak dikenal hingga baterainya habis.
Saat nama Reyhan dipanggil oleh panitera sidang untuk ketiga kalinya, kursi tergugat tetap kosong melompong.
"Karena pihak tergugat tidak hadir tanpa alasan yang sah meskipun telah dipanggil secara patut, kita bisa langsung memohon putusan verstek, Nona," ujar Januar setelah mereka keluar dari ruang sidang dengan kemenangan mutlak di tangan.
"Bagus. Percepat semuanya, Januar. Aku ingin statusku bersih secepatnya." Di dalam hatinya, Xena bersorak. Reyhan baru saja kehilangan hak jawabnya, dan itu adalah awal dari kejatuhan pria itu.
...***...
Di rumah Reyhan.
Reyhan pulang dengan wajah sekuyu mayat. Rahangnya mengeras, napasnya memburu memendam amarah yang luar biasa. Bisa-bisanya ia tertidur di saat krusial, dan teebangun ketika sidang cerainya sudah selesai.
"Mas Reyhan baru pulang? Bagaimana sidangnya?" Nadine menyongsong dari arah dapur. Sebenarnya ia hanya penasaran apakah status Reyhan sudah resmi menduda, yang berarti posisinya sebagai istri satu-satunya akan segera diakui dunia.
Reyhan tidak menjawab. Ia melewati Nadine begitu saja, melempar tas kerja dan jasnya ke sembarang tempat di atas sofa, lalu menghempaskan tubuhnya kasar.
"Mas, diminum dulu airnya. Kamu kelihatan stres banget."
Reyhan menepis tangan Nadine dengan gerakan kasar, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia benar-benar mendiamkan Nadine, menganggap wanita itu seolah-olah tidak ada di sana.
Nadine menggigit bibir bawahnya menahan rasa dongkol. "Mas, jangan gini dong. Ngomong sesuatu, Mas. Aku ini istri kamu, aku mau denger cerita kamu." Tetap saja, hanya keheningan dan detak jam dinding yang menyahut.
Malam semakin larut. Ini adalah malam ketiga sejak Reyhan selalu menghindar tidur sekamar. Biasanya pria itu akan sengaja pulang larut malam ketika Nadine sudah terlelap, lalu tidur di kamar tamu yang kecil. Namun malam ini, karena Reyhan pulang lebih cepat dan hanya berdiam diri di kamar utama, Nadine melihat sebuah kesempatan emas.
Nadine masuk ke dalam kamar mengenakan pakaian tidur terbaiknya. Ia melangkah mendekati tempat tidur tempat Reyhan sedang berbaring telentang menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Begitu Nadine hendak merebahkan tubuh di sampingnya, Reyhan tiba-tiba bangkit dan duduk menjauh.
"Jangan dekat-dekat," seru Reyhan.
Nadine tersentak. "Mas, ada apa sih? Kita ini suami istri! Kenapa aku nggak boleh tidur di samping suamiku sendiri?"
"Dari perdebatan dan pertengkaran kita kemarin-kemarin... aku tak yakin kita masih suami istri," ketus Reyhan tanpa memandang Nadine.
"Aku takut ada kata-kata dari mulutku yang sudah menjatuhkan talak secara tidak sadar. Kita kan hanya menikah siri, Ndin. Hukumnya sensitif."
"Kalau begitu, kita nikah lagi, Mas. Kali ini kita daftarkan ke KUA resmi, biar sah secara agama maupun negara. Jadi kamu nggak usah banyak alasan lagi."
Reyhan mendengus. Wajahnya menunjukkan keengganan yang sangat kentara. Ia membuang muka, enggan menanggapi kegilaan Nadine.
Melihat respons dingin tersebut, seringai licik muncul di wajah Nadine. "Oh, jadi kamu nggak mau? Bagus. Kamu lupa ya, Mas? Aku memegang semua bukti kelakuanmu padaku. Aku pastikan kamu membusuk di penjara."
Ancaman itu seketika membuat Reyhan menoleh tajam. Napasnya memburu, matanya memancarkan kilatan amarah sekaligus ketakutan yang amat sangat.
Di luar pintu kamar yang sedikit renggang, sepasang mata melebar sempurna. Bu Mirna yang berniat ke dapur untuk mengambil air minum, membeku di tempatnya. Tangannya membekap mulutnya sendiri agar jeritannya tidak lolos.
Lho, lho... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa si Nadine mau menjebloskan Reyhan ke jeruji besi? Apa salah anakku? batin Bu Mirna berkecamuk.
Di dalam kamar, Reyhan akhirnya mengalah demi keselamatannya sendiri. "Oke! Kita urus nanti. Sekarang diamlah," desis Reyhan.
Nadine tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa telah memegang kendali penuh atas hidup Reyhan. Mengalihkan pembicaraan agar suasana sedikit mencair, Nadine bertanya, "Oh ya, Mas. Waktu aku bersih-bersih laci meja riasmu, aku nemu bungkusan kain hitam berisi pil gelap yang baunya aneh. Itu pil apa sih, Mas?"
"Pil racun," jawabnya sekenanya, asal bunyi agar Nadine berhenti menginterogasinya.
Nadine terkekeh sumbang, mengira itu hanya candaan. "Ih, Mas bisa aja. Oh ya, mending sekarang kita kongko di luar yuk, atau minimal tengok Aksara. Kamu sudah beberapa hari ini nggak nyapa atau gendong Aksara."
Reyhan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah pintu, lalu dengan gerakan cepat mendorong tubuh Nadine keluar dari kamar.
BRAK!
Pintu kamar ditutup rapat dan dikunci dari dalam tepat di depan wajah Nadine. Nadine tersentak mundur beberapa langkah, menatap pintu itu dengan napas tersengal karena terkejut dan kesal setengah mati.
...***...
Suasana yang kontras 180 derajat terjadi di sebuah restoran privat bintang lima. Kehangatan dan kemewahan membalut ruangan yang telah dipesan khusus untuk sebuah pertemuan keluarga inti.
Xena melangkah masuk ke dalam ruangan privat tersebut. Ia melirik jam tangan, dan ia terlambat tepat lima menit karena kemacetan tak terduga di lampu merah. Sebagai wanita yang menjunjung tinggi kedisiplinan, Xena merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
Namun begitu ia melangkah melewati pintu geser, ia menyadari sesuatu. Di dalam ruangan baru ada Papi dan Maminya, serta seorang pria paruh baya berwajah berwibawa yang ia tebak merupakan sahabat karib Papinya.
"Maaf, Papi, Mami, Om... Xena agak terlambat karena jalanan macet."
"Ah, tidak apa-apa, Xena. Kamu bahkan datang lebih cepat dari anak nakal itu," sahut Om Jaya dengan tawa renyah, merujuk pada putranya yang belum juga menampakkan batang hidungnya.
Xena bernapas lega dalam hati, ia pikir dialah yang paling tidak disiplin malam ini, ternyata sang calon suami justru jauh lebih telat.
Mereka pun mulai berbincang hangat, mengobrol ngalor-ngidul tentang bisnis, masa lalu, hingga kenangan almarhumah istri Om Jaya. Xena mendengarkan dengan senyum anggun, sesekali menanggapi dengan cerdas.
Tiba-tiba, pintu ruangan privat itu bergeser terbuka.
Sebelum sosoknya terlihat, aroma parfum yang sangat khas menyeruak masuk terlebih dahulu. Detik itu juga tubuh Xena menegang kaku. Ia seperti mengenali bau parfum ini. Tapi dimana ya?
Pria itu melangkah masuk, membungkuk meminta maaf kepada orang tua mereka dengan suara bariton yang berat dan sangat tenang. Kemudian, ia berjalan menuju kursi kosong yang tepat berada di hadapan Xena, lalu mendudukkan dirinya dengan santai namun penuh wibawa.
Xena menahan napasnya dalam-dalam. Ia segera memalingkan wajahnya ke samping selama beberapa detik karena keterkejutan luar biasa yang menghantam kesadarannya hingga membuat badannya terasa panas dingin seketika.
Saat ia memberanikan diri untuk kembali menatap lurus ke depan, sepasang mata di balik rahang tegas milik pria itu sedang menatapnya.
Serius aku dijodohkan sama dia?! gumam Xena berteriak histeris di dalam hatinya.
Bersambung.