"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Sore hari di Paris menjelma menjadi lukisan alam yang teramat magis. Langit di atas Sungai Seine perlahan berubah warna, memadukan semburat jingga, merah muda, dan keunguan yang memantul sempurna di atas permukaan air yang tenang. Angin musim gugur berembus sedikit lebih kencang, menerbangkan beberapa helai daun kering di sepanjang trotoar berbatu yang berjejer rapi di tepian sungai.
Setelah puas menghabiskan waktu di kawasan Avenue Montaigne, Edgar mengajak Gaby untuk menikmati sisi lain dari Paris yang lebih tenang. Pria matang itu sengaja meminta sopir pribadi mereka untuk menurunkan mereka agak jauh dari dermaga, membiarkan mereka berjalan kaki beriringan menikmati suasana sore yang syahdu.
Edgar berjalan dengan langkah tegap, satu tangannya dimasukkan ke dalam saku jubah panjangnya, sementara tangan yang lain menggenggam erat jemari mungil Gaby yang terbungkus sarung tangan kulit premium. Gaby berjalan di sampingnya dengan senyuman yang tidak pernah luntur, sesekali merapatkan mantel kasmir marunnya yang hangat untuk menghalau dingin.
"Mas... terima kasih untuk hari ini," bisik Gaby tiba-tiba, mendongak menatap profil samping wajah tegas suaminya yang terpapar cahaya senja.
Edgar menghentikan langkahnya tepat di atas jembatan Pont des Arts yang legendaris. Ia berputar menghadap Gaby, menatap istrinya dengan sepasang mata elang yang seketika melunak hangat. "Kenapa kau selalu mengucapkan terima kasih untuk hal-hal yang sudah seharusnya kau dapatkan, hm?"
"Karena semua ini terlalu indah, Mas. Kadang aku merasa takut jika ini semua hanya mimpi," jujur Gaby, menyuarakan isi hatinya yang paling dalam. Trauma masa lalu bersama Gavin yang selalu mengabaikan dan meremehkan usahanya selama lima tahun terkadang masih menyisakan sedikit rasa tidak percaya bahwa kini ia dicintai begitu hebat.
Edgar tidak langsung menjawab. Ia menarik tangan Gaby, membawa jemari istrinya itu tepat ke atas dada bidangnya, membiarkan Gaby merasakan detak jantungnya yang beritme kuat dan konstan.
"Kamu bisa merasakan ini, Gaby? Ini nyata," ucap Edgar, suaranya yang berat dan bariton mengalun begitu dalam, bergetar penuh penekanan yang menenangkan. "Setiap embusan napasmu, setiap kerlap-kerlip lampu Paris yang kau lihat, dan pria yang berdiri di depanmu saat ini... semuanya adalah kenyataan hidupmu yang baru. Aku bukan bagian dari mimpimu, Gaby. Aku adalah suamimu yang sah, pemilik masalalumu yang sudah selesai, dan pemegang masa depanmu."
Gaby terpaku, matanya mendadak berkaca-kaca bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang luar biasa besar membuncah di dadanya.
Di momen itulah, di tengah embusan angin jembatan Pont des Arts dan latar belakang riak air Sungai Seine, Gaby baru benar-benar menyadari satu hal yang selama ini luput dari penilaian awalnya tentang Edgar Emiliano Addison.
Dulu, saat pertama kali setuju untuk menikah, Gaby mengira Edgar adalah sosok pria mahal yang dingin, kaku, dan hanya bergerak atas dasar logika bisnis serta balas dendam mutlak terhadap musuh-musuhnya. Namun ternyata, ia salah besar. Di balik topeng keangkuhan dan otoritas besarnya sebagai penguasa dinasti bisnis, Edgar adalah laki-laki yang luar biasa romantis.
Keromantisan Edgar tidak murahan seperti puisi-puisi palsu yang sering diucapkan Gavin dulu. Keromantisan Edgar adalah tindakan nyata cara pria itu mengingat detail kecil tentang apa yang ia butuhkan, cara Edgar menyewa seluruh butik privat agar ia nyaman, cara tangan besar itu selalu merapikan anak rambutnya, dan bagaimana kalimat-kalimat magis yang keluar dari bibir pria matang itu selalu berhasil membuatnya merasa ditinggikan.
"Mas Edgar... ternyata kamu bisa sebucin ini," batin Gaby dengan senyuman tipis yang merekah di bibirnya. Dan melihat bagaimana kilat mata elang Edgar yang selalu menggelap penuh kabut posesif setiap kali menatapnya, Gaby bisa memastikan satu hal: di masa depan nanti, tingkat kebucinan suaminya ini pasti akan jauh lebih gila dan tak terbendung lagi. Pria matang jika sudah jatuh cinta dan mengunci satu wanita di hatinya, maka dunianya akan berputar hanya untuk wanita itu saja.
Edgar yang melihat istrinya melamun sambil menatapnya dengan pandangan penuh binar cinta, langsung menyunggingkan seringai tampannya. Ia memajukan tubuhnya, mempersempit jarak di antara mereka hingga Gaby bisa mencium aroma kayu cendana yang maskulin dari tubuh suaminya.
"Kenapa menatapku seperti itu, Sayang? Kau sedang mengagumi ketampanan suamimu?" goda Edgar, suaranya berubah menjadi lebih rendah dan serak, penuh dengan karisma yang mematikan.
"Iya," jawab Gaby dengan berani, tidak lagi menyembunyikan perasaannya. Ia berjinjit kecil, mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh Edgar. "Aku baru sadar kalau suamiku ini turns out adalah laki-laki yang sangat romantis. Sangat manis, sampai-sampai aku bisa terkena diabetes kalau setiap hari dimanja seperti ini."
Edgar terkekeh rendah, sebuah tawa kepuasan maskulin yang bergetar di dada bidangnya. Ia merangkul pinggang ramping Gaby, menarik tubuh mungil istrinya hingga menempel sempurna tanpa jarak pada tubuh tegapnya.
"Aku hanya romantis pada satu wanita di dunia ini, Gaby. Dan wanita itu adalah kau," bisik Edgar tepat di depan bibir Gaby. "Jika menurutmu ini sudah terlalu manis... maka bersiaplah, karena aku tidak punya rencana untuk berhenti memanjakanmu sampai sisa hidup kita berakhir."
Tanpa menunggu balasan lagi, Edgar memiringkan kepalanya dan meraup bibir manis Gaby dalam sebuah ciuman yang dalam di bawah langit senja Paris.
Ciuman hangat yang menyalurkan seluruh rasa kepemilikan, komitmen mutlak, dan rasa cinta yang teramat pekat dari sang pria mahal untuk ratu sejatinya. Di atas jembatan bersejarah itu, di tengah kota mode dunia, Gaby menyerahkan seluruh hatinya tanpa sisa, tahu bahwa di dalam pelukan Edgar, ia akan selamanya menjadi wanita yang paling dicintai di dunia.