Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Protokol Lazarus
Helikopter itu membelah awan di atas perairan internasional, jauh meninggalkan lampu-lampu Jakarta yang mulai terlihat seperti sirkuit komputer yang terbakar.
Di dalam kabin yang bising, Elena menyandarkan kepalanya pada dinding besi yang dingin.
Sarah, ibunya, sudah tertidur pulas berkat obat penenang ringan dari Dante.
Reza sedang memeriksa layar tabletnya, wajahnya yang penuh goresan luka tampak makin keras di bawah lampu merah kabin.
"Kita nggak ke negara tanpa ekstradisi, Rez," Elena tiba-tiba bersuara, memecah kesunyian.
Reza mendongak, keningnya berkerut.
"Maksudmu? Dante udah nyiapin tempat di Amerika Selatan, El. Aman, terpencil, dan mereka nggak akan bisa lacak kita."
Elena menggeleng pelan. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jaket taktisnya—sebuah flash drive berwarna hitam pekat dengan logo yang belum pernah dilihat Reza sebelumnya: sebuah kunci yang dililit oleh ular kobra.
"Waktu aku berantem sama The Eraser di lorong tadi, aku sempat ngerogoh saku jaketnya. Dia nggak cuma dikirim buat bunuh kita. Dia bawa perintah tertulis untuk mengaktifkan Protokol Lazarus."
Reza terdiam. Nama itu terdengar sangat religius, tapi di telinga seorang tentara bayaran, itu terdengar seperti lonceng kematian.
"Lazarus? Orang yang bangkit dari kematian?"
"Bukan cuma orang, Rez. Organisasi," Elena menatap keluar jendela, ke arah kegelapan samudra.
"The Origin hanyalah anak perusahaan. Lazarus adalah entitas yang punya saham di hampir setiap bank sentral di dunia. Dan mereka baru saja memutuskan kalau 'eksperimen' di Jakarta sudah gagal total. Mereka mau menghapus seluruh jejak... termasuk kita, dan semua orang yang pernah bersentuhan dengan teknologi itu."
Pendaratan di Tengah Badai
Alih-alih menuju Amerika Selatan, Elena memerintahkan helikopter untuk berbelok menuju sebuah anjungan minyak lepas pantai yang tampak terbengkalai di Laut Natuna Utara.
Tempat itu terlihat mengerikan—besi-besi berkarat yang dihantam ombak besar, namun Paman Han tahu rahasia di baliknya.
"Ini adalah Black-Site milik kakekmu, Nona," Paman Han menjelaskan saat mereka mendarat di dek yang licin.
"Tempat ini nggak ada di peta mana pun. Bahkan satelit Lazarus butuh waktu dua jam untuk melakukan sinkronisasi ulang kalau kita masuk ke bawah."
Mereka turun melalui lift industri yang berderit.
Di bawah permukaan laut, anjungan itu berubah menjadi fasilitas penelitian bawah air yang luar biasa canggih.
Oksigen terasa segar, dan lampu-lampu LED biru menerangi koridor yang sunyi.
"Dante, aku butuh kau masuk ke jaringan pusat mereka sekarang," perintah Elena. "Gunakan kunci di flash drive ini."
Dante duduk di depan meja konsol raksasa, jari-jarinya menari di atas keyboard.
"El... ini gila. Ini bukan sekadar data perbankan. Ini adalah database genetik global. Mereka punya sampel DNA dari hampir setengah populasi dunia lewat program-program vaksinasi dan bantuan kesehatan palsu selama tiga puluh tahun terakhir."
Elena merasakan bulu kuduknya berdiri. "Untuk apa?"
"Seleksi alam yang dipaksakan," sahut sebuah suara dari kegelapan koridor.
Seorang pria tua dengan kursi roda otomatis muncul.
Ia mengenakan piyama sutra, namun matanya yang tajam menunjukkan kecerdasan yang mematikan.
"Kakek?" Elena terkesiap.
Pria itu adalah Adiwangsa, ayah dari Sarah, yang selama ini dikabarkan sudah mati dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu.
Darah yang Mengkhianati
"Maafkan Kakek, Elena," Adiwangsa tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Aku harus berpura-pura mati agar bisa membangun benteng ini. Lazarus bukan musuhmu, Elena. Lazarus adalah warisanmu."
Sarah, yang baru saja terbangun, berjalan tertatih ke arah ayahnya.
"Ayah... jadi semua ini... pelarianku selama ini..."
"Hanya bagian dari tes, Sarah," potong Adiwangsa.
"Kami butuh melihat seberapa kuat subjek yang paling sempurna—Elena—bertahan hidup di dunia nyata tanpa perlindungan. Dan kau, Elena, kau melampaui semua ekspektasi kami. Kau menghancurkan The Origin seolah-olah mereka adalah mainan plastik."
Elena melangkah maju, pistolnya masih tersarung di pinggang, tapi tangannya sudah siap menarik pelatuk.
"Jadi, penyerangan di bukit tadi... The Eraser... itu semua perbuatan Kakek?"
"Sebuah ujian akhir, Sayang," Adiwangsa menyesap tehnya dengan tenang.
"Sekarang, Lazarus siap untuk diaktifkan secara global. Dengan DNA-mu sebagai master-key, kita bisa membasmi penyakit, memperpanjang usia manusia... atau menghapus mereka yang dianggap 'cacat' secara genetik dari populasi. Kau adalah Sang Ratu yang kami tunggu."
Reza mendekati Elena, tangannya menggenggam gagang senjatanya.
"El, bilang kalau kakekmu ini cuma bercanda."
Pilihan Sang Ratu
Ruangan itu mendadak sangat sunyi.
Di layar raksasa di belakang Adiwangsa, jutaan data manusia mulai berkedip merah. Proses seleksi global sudah dimulai.
Hanya tinggal satu konfirmasi biometrik dari Elena—pemilik DNA murni pertama—dan dunia akan berubah selamanya.
"Kalau aku nolak?" tanya Elena dingin.
Adiwangsa menghela napas, seolah kecewa pada cucunya yang tidak mengerti seni kekuasaan.
"Maka Lazarus akan melakukan 'pembersihan otomatis'. Fasilitas ini akan meledak, dan virus penghapus genetik akan dilepaskan ke udara. Jutaan orang akan mati dalam waktu dua puluh empat jam.Pilihanmu adalah: Jadi dewa dan pimpin dunia baru, atau jadi malaikat maut dan hancurkan semuanya."
Elena menatap Reza. Ia melihat cinta, ketakutan, dan kepercayaan di mata pria itu.
Ia menatap ibunya yang menangis di pelukan Paman Han.
Lalu, ia menatap dirinya sendiri di pantulan layar monitor.
Ia melihat Subjek 01. Ia melihat Sang Nyonya yang Terbuang.
Dan ia melihat seorang Elena yang hanya ingin makan bubur ayam di pinggir jalan.
"Dante," bisik Elena.
"Kau bisa masukkan virus yang aku dapet dari Singapura ke sistem ini?"
"Bisa, El. Tapi itu bakal bikin seluruh database ini meledak secara digital... dan mungkin secara fisik juga," jawab Dante, keringat dingin bercucuran.
"Lakukan," perintah Elena.
"APA?!" Adiwangsa berteriak, mencoba menggerakkan kursi rodanya menuju konsol.
"Kau akan menghancurkan masa depan manusia, Elena!"
"Bukan masa depan manusia, Kek," Elena menarik pistolnya dan menembakkannya tepat ke arah layar monitor utama. PRANG! "Cuma masa depanmu yang gila."
Pertempuran di Bawah Laut
Fasilitas itu seketika berubah menjadi neraka.
Alarm meraung-raung dengan suara yang menyakitkan telinga.
Pasukan penjaga robotik Lazarus keluar dari dinding, menyerang siapa saja yang bergerak.
"KE LIFT! SEKARANG!" teriak Reza sambil melepaskan berondongan peluru untuk melindungi Elena dan Sarah.
Mereka berlari melintasi koridor yang mulai berguncang hebat karena ledakan internal dari server.
Elena harus berhadapan dengan pengawal pribadi Adiwangsa—pria-pria yang secara genetik sudah dimodifikasi agar tidak mengenal rasa sakit.
Elena bertarung seperti singa betina yang terpojok.
Ia tidak lagi memikirkan teknik; ia menggunakan insting purba.
Ia menghantamkan kepala penjaga ke dinding baja, menendang lutut mereka hingga hancur, dan terus berlari.
Saat mereka mencapai lift, Adiwangsa sudah berada di sana, menatap mereka dengan penuh kebencian.
"Kau tidak akan pernah bisa lari dari darahmu, Elena!"
Elena menekan tombol lift, namun sebelum pintu tertutup, ia menatap kakeknya untuk terakhir kalinya.
"Darahku mungkin milikmu, Kek. Tapi hidupku... hidupku milikku sendiri."
BOOM!
Ledakan besar menghancurkan dasar anjungan saat lift meluncur naik dengan kecepatan penuh.
Fajar Kebebasan yang Sesungguhnya
Mereka berhasil keluar ke permukaan tepat saat seluruh anjungan minyak itu tenggelam ke dasar laut, menciptakan pusaran air raksasa yang menelan semua rahasia Lazarus dan kegilaan Adiwangsa.
Helikopter mereka sudah menunggu di udara, dipiloti oleh Paman Han yang berhasil kabur lebih dulu.
Elena jatuh terduduk di dek helikopter yang mulai menjauh.
Ia menatap tangannya yang gemetar.
Tidak ada lagi tato, tidak ada lagi kode. Hanya ada luka dan debu.
"Udah berakhir?" tanya Reza sambil duduk di sampingnya, memeluk bahunya yang lelah.
"Kali ini... kayaknya beneran, Rez," bisik Elena.
"Dante sudah menghapus semua database genetik Lazarus dari cloud. Nggak ada lagi 'master-key'. Nggak ada lagi seleksi alam."
Sarah mendekati putrinya, membelai wajah Elena dengan penuh kasih.
"Kau sudah menyelamatkan mereka, Elena. Kau sudah membiarkan manusia tetap menjadi manusia, dengan segala cacat dan kekurangannya."
Elena tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Reza.
Ia melihat matahari terbit di cakrawala Laut Natuna.
Warna emasnya terasa begitu murni, begitu nyata.
"Rez," panggil Elena.
"Ya, Bos?"
"Janji satu hal sama aku."
"Apa pun."
"Jangan pernah kasih aku minum teh melati lagi kalau kita sudah sampai di daratan. Aku mau kopi pahit yang paling murah saja."
Reza tertawa lepas, sebuah tawa yang membawa kelegaan luar biasa.
Helikopter itu terbang menuju garis cakrawala, membawa sekelompok penyintas yang kini benar-benar tidak punya apa-apa lagi—kecuali kebebasan untuk memulai segalanya dari awal.
Dunia mungkin tidak akan pernah tahu siapa Elena Adiguna, atau bagaimana ia baru saja menyelamatkan miliaran nyawa dari pembersihan genetik.
Tapi bagi Elena, itu tidak penting. Ia bukan lagi Sang Ratu, bukan lagi Subjek 01.
Ia adalah seorang wanita yang akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak lagi punya musuh untuk dilawan.
Kecuali mungkin... urusan menanam lili yang sempat tertunda.
Bersambung...
Ayo buruan baca...