Bagaimana bila ibumu tidak pernah mau menceritakan apapun tentang ayahmu yang tidak pernah kau temui?
Bagaimana bila sejak kecil kamu selalu diikuti sosok berdarah yang selalu berubah wujud mengerikan; kamu tidak tahu siapa sosok itu atau kenapa dia mengikutimu?
Bagaiman bila sampai ibumu meninggal dia tidak pernah membuka rahasia tentang ayahmu yang sangat ingin kamu ketahui?
Aku baru saja menguburkan ibuku dengan perasaan sedih dan menyesal yang begitu dalam. Rahasia besar tentang identitas ayahku di bawa almarhuma ibu sampai ke liang lahat.
Namun layar takdir akhirnya terkuak juga ketika aku menemukan buku harian ibu yang lama tersembunyi. Di buku harian itulah aku akhirnya menemukan jawaban tentang ayah dan kebenaran tentang sosok berdarah yang selalu mengikutiku.
Follow Akun IG @penelopemagdalene24
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penelope Magdalene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25
"Hai! Nining! Mbak Rani!" terdengar suara Adit dan Rosa yang baru saja pulang.
Satu per satu lampu di dalam rumah dinyalakan oleh Adit dan Rosa. Terangnya cahaya lampu membuatku tenang, suara Rosa dan Adit membuatku senang karena aku tidak sendiri lagi.
"Kok lampunya gak dinyalain, mbak?" tanya Rosa sambil mendekat untuk mengambil Nining dari pelukanku.
"Ada apa, mbak?" tanyanya lagi mungkin merasa heran melihatku kebingungan seperti orang linglung.
"Ah, gak apa-apa. Mbak baru selesai mandiin Nining. Kami berenang tadi sampai sore," jelasku sambil lalu. "Mbak mau nyiapin makan malam dulu," kataku pada Rosa sebelum turun ke kamarku dan bersiap untuk makan malam.
Selama makan malam, aku tidak fokus; tubuhku berada di depan meja makan tapi pikiranku mumet dan melayang-layang pada Yohanes dan kejadian aneh yang tadi terjadi. Aku tidak sabar untuk kami menyelesaikan makan malam dan aku bisa beristirahat di kamarku. Mungkin tidak untuk beristirahat tapi, untuk berpikir.
Setelah selesai membersihkan piring kotor, aku langsung masuk ke dalam kamarku. Adit dan Rosa mengajakku untuk bersantai di ruang keluarga sambil mendengarkan lagu-lagu hits di radio tapi, aku menolak dan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar.
Benar juga, ketika kepalaku menyentuh bantal, tidak disangka aku langsung tertidur.
Entah berapa lama aku tertidur ketika kesadaranku kembali, meski aku tidak mau membuka mataku. Aku mengintip disekeliling kamarku, dan nyaliku ciut ketika aku menyadari kamarku gelap gulita padahal tadi aku yakin lampunya belum sempat ku matikan. Listrik pasti mati lagi!
Aku berusaha untuk tidak takut dan mencoba untuk kembali tidur ketika sayup-sayup terdengar dari luar suara tangisan wanita. Awalnya aku mengacuhkan suara itu, berdoa dalam hatiku agar aku bisa cepat tertidur. Lama kelamaan suara tangisan itu bukan lagi sayup-sayup tapi begitu nyata dan seakan dekat denganku.
Dalam hati ini merasa bahwa tangisan itu berasal dari makhluk menakutkan yang tinggal di sini! Bukankah mereka seharusnya sudah diusir oleh pak Pendeta Roki? Pikirku yang kemudian mulai yakin bahwa itu adalah suara tangisan Rosa dan aku harus pergi mengeceknya.
Aku tidak tahu apa yang menggerakanku untuk turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Kebodohan pastinya! Hatiku seakan berteriak untuk memperingatkanku agar tidak keluar tapi, pikiranku meyakinkanku kalau yang kudengar itu adalah suara Rosa dan dia butuh bantuanku. Tanpa sadar aku sudah membuka gagang pintu dan berjalan mengikuti suara tersebut.
Kakiku tercekat ketika aku melihat seorang wanita berambut panjang sedang duduk di bangku yang berada di lorong menuju ke ruang depan. Dia membelakangiku, meski begitu, terlihat jelas dia bukanlah Rosa! Tubuhku gemetar hebat; aku berusaha untuk tidak bernafas dan perlahan-lahan mundur untuk kembali ke kamarku. Tiba-tiba tubuh wanita itu jatuh ke lantai, bunyi dentuman terdengar menggema di sekelilingku.
Perlahan-lahan wanita itu merangkak kearahku. Tidak, bukan merangkak, lebih terlihat melata seperti ular. Ah, gerakannya sangat susah untuk digambarkan - yang jelas itu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah kulihat!
Aku mundur seraya sosok itu maju, mendekatiku. Nafasku memburu, ketakutan merasukiku - udara di sekeliling kami berbau busuk seperti kematian dan penderitaan yang menambah rasa tertekan yang kurasakan. Aku ingin berteriak tapi mulut ini keluh, yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan tersedu. Kamarku terasa berkilo-kilo meter jauhnya!
"Kapule e kau, inang...," sosok itu berkata pelan.
Kepalanya yang sedari tadi tertunduk perlahan diangkatnya, dia semakin mendekat padaku ketika kulihat wajah busuknya! Darah bercucuran dari pelipisnya, cairan hitam menetes dari mulutnya, matanya hanyalah 2 buah lubang hitam yang mengeluarkan air mata darah.
"Kapule e kau, inang!" teriakannya melengking, memekakan telinga dan membuatku begitu takut sehingga aku jatuh tersungkur, pasrah bila dia menangkapku.
Jarak diantara kami semakin pendek; tangannya terulur seakan memintaku untuk menggenggamnya. Aku merasa aku hampir mati karena ketakutan ketika tiba-tiba kakiku mendapatkan kembali kekuatannya dan tanganku tanpa sengaja memegang gagang pintu kamarku. Dengan cepat aku membukanya, masuk dan mengunci dengan erat pintu kamarku.
Aku tersungkur lagi di depan pintu kamarku, menangis ketakutan, suaraku masih tidak bisa keluar. Jantungku berdetak begitu kencang ketika pintuku bergetar seperti ada yang menggedornya. Dari balik pintu terdengar lagi suara tangisan pilu sosok itu. Hatiku seperti tersayat mendengarkan tangisannya. Terdengar kesedihan yang mendalam dibalik tangisannya, entah apa yang terjadi pada sosok itu semasa hidupnya.
Apakah aku harus mencari tahu? Apakah itu yang dilakukan orang-orang di film seram? Apakah itu yang harus kulakukan agar sosok-sosok yang mengangguku bisa berisitirahat dengan tenang? Bagaimana caraku melakukan hal itu?
Perasaanku masih bergejolak, ketakutan masih terasa pekat mengelilingiku, air mata masih menggenang dan suaraku masih belum keluar ketika aku melihat kearah jendela kamarku dan menemukan Opo Nedaha sedang berdiri di gazebo! Kain merah yang menutupi caping dan wajahnya melambai-lambai tertiup angin. Lengan kurusnya ikut melambai mengikuti tiupan angin seakan tidak ada nyawa yang mengalir di dalamnya - seperti ranting pohon yang patah - ranting berdarah.
Kepalaku terasa ringan, melayang dan kesadaranku seperti hampir hilang saking takutnya aku melihat penampakan sosok Opo Nedaha! Sayangnya, aku masih kuat menjaga kesadaranku, meski aku sangat ingin jatuh pingsan lagi agar tidak harus mengalami ketakutan sebesar ini!
Mereka kembali! Sosok-sosok itu kembali lagi!
Aku ingin berteriak! Aku tidak perduli apakah aku akan membangunkan Adit, apakah aku akan menakuti Rosa dan Nining. Aku takut! Ya Tuhan aku sungguh takut!
Aku menutup mata, menyembunyikan wajahku di dalam hangatnya pangkuanku. Aku tidak mau melihat ataupun mendengar apapun lagi. Aku seperti sedang ditelan kegelapan tanpa akhir, tanpa cahaya sedikit pun - tanpa harapan.
Sayup-sayup terdengar bunyi ketukan dari kaca jendelaku. Opo Nedaha sudah tiba, siap melahap jiwaku dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain berserah. Bunyi ketukan di jendelaku semakin memburu. Aku seperti mendengar namaku dipanggil dari balik jendela.
"Rani," bisiknya. "Ran, buka pintunya."
Aku mengangkat wajahku, memandang ke arah jendela dan melihat wajah Yohanes sedang berdiri dibaliknya. Dialah yang sedari tadi mengetuk jendelaku. Rasa lega membasuhku tapi, sayangnya rasa itu tidak bertahan lama ketika aku menyadari di belakang Yohanes berdiri Opo Nedaha!
Aku ingin berteriak untuk memperingatkan Yohanes tapi mulutku keluh, suaraku tidak bisa keluar! Aku menangis; air mataku berlinang melihat Yohanes yang berdiri menungguku tanpa menyadari kalau di belakangnya berdiri makhluk yang paling ditakuti di kampung ini - makhluk pemakan tumbal. Aku menyembunyikan lagi wajahku, berserah dan menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang pengecut yang tidak bisa menyelamatkan laki-laki yang kucintai.
Menit berselang dan aku masih tenggelam dalam ketakutan. Di sekelilingku kesunyian, yang terdengar hanyalah deru ombak yang meninabobokan-ku. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan dari baliknya terdengar suara Yohanes.
"Ran, tolong buka pintunya," bisiknya dengan tenang. "Ini Yohanes."
"Yohanes?" balasku, masih tidak yakin. Apakah ini tipuan dari Opo Nedaha?
"Apa benar kamu Yohanes?"
"Ran, kamu gak apa-apa? Bisa tolong buka pintunya?"
Aku menggenggam gagang pintu dengan kuat; ragu apakah aku harus membuka pintu ini? Apakah yang akan aku lihat dibaliknya? Perlahan aku mulai membuka pintu kamarku dan lututku langsung lemas, aku hampir saja jatuh ketika melihat memang benar Yohanes yang sedang berdiri dibaliknya. Rasa lega memenuhiku seperti air mancur kehidupan di tanah gersang.
Yohanes memeluk tubuhku yang lemas dan membawaku kembali ke dalam kamar. Dia memelukku dan menghujaniku dengan sejuta ciuman, betapa hangat pelukannya.
"Oh, aku senang kamu datang!" aku berbisik agar tidak membangunkan seisi rumah padahal aku sangat ingin berteriak karena senangnya.
"Bagaimana kamu bisa masuk?" tanyaku lagi.
"Kamu tidak mengunci pintu belakang," jawab Yohanes.
"Yang benar?" Aku bingung karena aku yakin telah mengunci pintu sebelum pergi tidur. Aku yakin aku sudah mengeceknya sampai 2 kali. "Aku ingat aku telah menguncinya."
"Kamu mungkin lupa, sayang," Yohanes membelai pipiku, matanya mencari-cari raut di wajahku. "Kamu kenapa tadi? Sayang, kamu terlihat takut dan panik. Apa yang terjadi?"
"Ada sesuatu di rumah ini, Yoh! Ada Opo Nedaha dan dia ingin jiwaku!" air mata kembali membanjiri wajahku. "Aku takut!"
Tanpa kusadari aku menceritakan lagi apa yang kualami barusan pada Yohanes.
"Tidak ada apa-apa di sini, sayang. Hey," Yohanes mengangkat wajahku dengan lembut. "Percayalah padaku."
"Kamu tidak percaya padaku? Teganya kamu!" kataku disela-sela tangis. "Bagaimana kamu tahu kalau tidak ada apa-apa di rumah ini? Kamu tidak tinggal disini, Yoh. Kamu tidak mengalami apa yang baru saja aku alami."
"Kalau memang benar ada sesuatu di sini, kenapa Adit dan Rosa seperti tidak terganggu? Sayang, coba kamu pikirkan."
Yohanes memegang tanganku, mengajakku keluar dari kamar.
"Ayo naik, kamu periksa apakah ada Adit dan Rosa terganggu sepertimu?" Yohanes menuntunku naik ke tangga. "Aku akan menunggumu di sini. Hey, jangan takut, aku akan berada di sini menunggumu."
Aku pun perlahan menaiki tangga menuju ke kamar Adit dan Rosa. Tidak ada rasa takut dalam hatiku karena aku tahu Yohanes berada di bawah, menungguku. Perlahan-lahan kubuka pintu kamar utama dan melihat Adit dan Rosa tidur dengan nyenyak sambil berpelukan. Terdengar suara Adit yang sesekali ngorok. Mereka terlihat nyaman dan tenang - pulas.
Tangisanku tertahan di tenggorokan. Rasa frustrasi memenuhiku ketika semua perkataan Yohanes menjadi masuk akal. Apa yang selama ini terjadi hanyalah khayalanku? Apakah aku mulai menjadi gila? Apa yang terjadi padaku? Apakah aku baru saja menyelenggarakan ibadah pemberkatan rumah hanya karena aku berimajinasi melihat hantu? Sungguh memalukan!
Apa benar aku hanya berimajinasi saja?
Aku mencoba menenangkan diriku, menahan tangisanku agar aku tidak membangunkan Adit dan Rosa. Perlahan aku menutup pintu kamar utama dan mengecek di kamar Nining. Gadis kecil yang lucu itu sedang tertidur sambil memeluk boneka beruang kesayangannya - Gizzie. Aku mencium keningnya dan segera turun ke lantai dasar di mana Yohanes sedang menungguku.
Aku segera memeluk Yohanes dan menangis di pundaknya.
"Sayang, tidak apa-apa," hiburnya sambil membelai rambutku. "Ayo ikut denganku! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Yohanes memegang tanganku dan kami berdua berjalan keluar lewat pintu belakang. Sungguh berbeda rasanya berjalan keluar dengannya; aku merasa aman dan terlindungi. Kami melewati gazebo dimana Opo Nedaha biasanya berdiri, sungguh aneh ketika melewatinya sekarang bersama Yohanes; tidak ada lagi rasa takut dalam diriku. Benar-benar berbeda dengan apa yang kurasakan beberapa menit yang lalu.
Kami berjalan beberapa meter kearah tebing paling ujung, tebing terjauh dari rumah. Yohanes menuntunku kearah dimana semak-semak liar dan pohon ketapang tumbuh lebat. Di situlah tempat dia menambatkan perahunya agar tersembunyi dari penglihatan.
Dia membantuku naik dan beberapa saat kemudian kami berlayar. Beberapa menit kedepan kami berlayar dalam kegelapan sampai dia merasa kami sudah berada ditengah laut barulah Yohanes menyalakan lampu petromax yang dia bawa.
Seketika itu cahaya kuning yang temaram menyinari sekeliling kami - sungguh indah dan menyenangkan! Perahu nelayan Yohanes telah dia renovasi dengan sangat indahnya. Di buritannya -tempatku duduk- terdapat sofa empuk yang bentuknya mengikuti kapal. Disekelilingnya melambai-lambai tirai anti nyamuk yang menutupi bagian itu - sepertinya bagian buritan ini sering di pakai Yohanes untuk tidur karena banyak bantal dan guling di atasnya.
Di depan bagian buritan -di bagian tengah kapal- berdiri dengan kokoh 2 buah kursi kayu yang saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah meja kotak kecil. Di samping meja makan terdapat rak 2 susun berisi bahan makanan dan persediaan air. Bagian ini memiliki atap di atasnya. Tanaman hias yang hijau menggantung mengelilingi pinggiran atap menambah kesan asri, seperti sebuah taman di tengah laut.
Di bagian depan kapal menggantung lampu-lampu natal yang berkelip berwarna warni. Sekeliling kami begitu terang dan hangat. Mungkin inilah satu-satunya tempat ternyaman yang pernah aku kunjungi.
Yohanes terlihat sedang sibuk di bagian tengah kapal, entah apa yang sedang dia lakukan. Tidak lama kemudian suara musik dari gramophone tua miliknya memecah kesunyian di tengah laut dan lantunan lembut lagu-lagu kenangan menemani malam kami.
Aku menoleh kebelakang dan melihat villa Lukas yang mulai mengecil semakin jauh kami berlayar. Apa yang terjadi di rumah itu? Apakah aku benar-benar sudah gila? Aku terus memikirkan kejadian seram yang kualami selama ini sampai-sampai aku tidak memperhatikan Yohanes yang datang membawa secangkir teh hangat untukku.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya sembari menyerahkan cangkir teh padaku.
Aku tidak menjawabnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa karena jujur saja aku tidak baik- baik saja! Aku kacau! Mungkin Yohanes dapat melihat gejolak perasaan yang kutahan dalam hatiku karena tidak lama kemudian dia menyentuh daguku dengan lembut.
"Aku akan melindungimu, Ran. Aku berjanji!" kata Yohanes dengan mantap.
"Belum pernah ada yang membuat janji seperti itu padaku," aku memeluk Yohanes dengan erat.
"Ini," Yohanes meraih belakang lehernya dan melepaskan seuntai kalung emas tipis berbuahkan salib kecil dengan setitik permata berwarna hijau di tengahnya.
Aku tidak pernah melihat kalung itu sebelumnya, mungkin karena kalung itu tersembunyi di balik kaosnya.
"Ibuku memberinya padaku sebelum dia meninggal. Dalam kalung ini ada doa ibu yang selalu melindungiku," Yohanes melingkarkan kalung itu di leherku. "Sekarang aku dan ibu akan melindungimu, sayang."
Air mata terharu mengalir di pipiku. Baru kali ini aku merasakan cinta dan perhatian dari seorang lelaki. Suatu perasaan yang tulus yang belum pernah aku terima dari siapapun.
Yohanes mencium keningku, tangannya merangkulku dan memelukku. Kami tiduran sambil berpelukan - aku ingin tinggal selamanya dalam kehangatan ini.
"Ibumu sudah lama meninggal?" tanyaku.
"Ya, ketika aku berumur tujuh tahun. Sudah lama sekali tapi, aku ingat betul hari di mana dia meninggal," cerita Yohanes. "Malam itu, sebelum aku pergi tidur, aku menjenguk ibu di kamarnya. Aku sempat bilang padanya kalau aku takut kehilangannya. Dia tersenyum dan memberiku kalung itu, meyakinkanku kalau Tuhan akan selalu melindungiku dan ibu tidak akan pernah pergi dari sisiku. Waktu tengah malam, aku terbangun karena mendengar suara nafas ibu yang berat. Ketika aku membuka pintu kamarnya aku melihat ayah sedang berdiri di samping ibu..."
Yohanes terdiam, seakan dia sedang kembali ke dalam kenangan yang dia ceritakan padaku, mungkin melihat lagi malam itu. Yohanes menahan isak tangis, dia mencium rambutku dan melanjutkan:
"Malam itu ibu meninggal."
"Oh Yohanes, aku turut berduka. Aku tahu betapa dalamnya kesedihan karena kehilangan seorang ibu. Sampai sekarang aku masih merindukan ibuku."
"Aku mencintaimu, Ran," kata Yohanes dengan lembut tepat di telingaku.
"Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini pada siapapun sebelumnya. Ini pasti cinta. Aku mencintaimu, Yoh," aku menengadah padanya dan meminta ciuman hangat darinya.
Kami berpelukan lagi, tidak ada kata-kata yang terucap. Kami menikmati diam diantara kami.
"Perahumu sungguh nyaman, Yoh," kataku setelah beberapa saat memperhatikan sekelilingku dan mengagumi perahu nelayan modifikasi ini.
"Ya, aku banyak menghabiskan waktu disini. Kalau sedang tidak badai atau berombak kencang aku selalu tidur di sini."
"Benarkah? Bagaimana dengan rumahmu?"
"Itu rumah ayah. Lagipula aku lebih merasa nyaman di kapal ini," Yohanes memandang jauh ke cakrawala di mana bulan bersinar dengan temaram dan mendesau panjang . "Entahlah. Dari dulu aku ingin sekali pergi, Ran. Keluar dari kampung ini, merantau jauh ke negeri orang."
"Kenapa tidak kamu lakukan, Yoh?"
"Aku harus tinggal disini. Disinilah hidupku."
"Ya, tapi kenapa harus seperti itu?"
"Ayahku sakit."
Jawaban Yohanes membuatku kaget. Mengingat penampilan fisik pak Yusuf yang terlihat sangat sehat dan kuat, aku sungguh terperangah dengan kenyataan yang baru saja disebut Yohanes.
"Sakit apa?" tanyaku memburu.
Yohanes tidak menjawabku. Dia hanya menggelengkan kepala, mungkin tidak ingin diingatkan lagi dengan penyakit ayahnya.
"Aku tidak percaya pak Yusuf mempunyai suatu penyakit! Dia terlihat sehat dan kuat. Tidak terlihat ada yang salah dengannya."
"Dia menyembunyikannya dengan baik. Setelah sekian lama, sudah menjadi keahliannya untuk menutupi penyakit itu."
"Aku sungguh turut bersedih, Yoh. Aku tahu kamu dan ayahmu sangat dekat."
Yohanes tersenyum padaku. "Aku tidak bersedih lagi, Ran. Aku memilikimu dan itu sudah cukup untukku."
Yohanes kembali merangkulku dan menghujaniku dengan ciuman manis. Lama kelamaan ciumannya menjadi semakin bergairah dan aku hampir saja terhanyut di dalamnya, ingin ku berikan segalanya pada laki-laki ini tapi, dia berhenti.
"Aku mencintaimu, Ran," bisiknya lagi sebelum kembali merangkulkan lengannya dan memelukku dengan erat.
Aku terdiam, rasa kagumku padanya semakin membesar. Rasa sayangnya dan rasa hormatnya padaku sungguh dalam sehingga dia berusaha untuk menahan gairahnya, memberiku kesempatan untuk berpikir dan meyakinkan diriku apakah aku sudah siap untuk mengambil jenjang yang lebih tinggi di dalam hubungan kami.
Aku memang belum pernah punya pengalaman dengan lelaki manapun, meski begitu akupun tahu bahwa laki-laki yang baik dan penuh rasa hormat seperti Yohanes jarang di temukan dan aku bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukan kami.
Yohanes tidak pernah melepaskan pelukannya sepanjang malam. Kehangatanya, irama detak jantungnya, wangi tubuhnya di tambah dengan angin sepoi-sepoi, ayunan ombak dan lantunan lagu dari gramophone meninabobokanku.
Lirik-lirik cantik dari Ebiet G. Ade, Camellia membuaiku dalam tidur. Sebelum rasa kantuk mengalahkanku aku merasa mendengar Yohanes berbisik di telingaku:
"Aku ingin menikahimu, Ran."
terima kasih banyak atas karyanya yang luar biasa.