NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:213.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Mencari Kerling Sukma

*Gadis Bermata Hijau*

Enam ekor kuda berlari di jalan yang membelah hutan kecil. Rombongan itu dipimpin oleh seorang pria berusia separuh abad yang mengenakan pakaian bagus berwarna biru dan putih. Rambut panjangnya di gelung rapi di atas kepala dan diikat dengan pita berwarna putih. Pada usianya yang 51 tahun, sisa ketampanan dari masa muda masih terlihat di wajah bersihnya. Ia adalah Ketua Perguruan Tiga Tapak, namanya Sangar Hentak.

Kuda yang berlari bersebelahan dengannya ditunggangi oleh seorang wanita yang usianya juga sudah matang, 44 tahun. Wanita berwajah putih bersih itu mengenakan pakaian serba hijau. Rambut panjangnya digelung di atas kepala yang dihiasi tusuk konde berwarna merah terang. Wanita berhidung jambu itu bernama Gatri Yandana, istri dari Sangar Hentak.

Keempat penunggang kuda lainnya adalah lelaki yang mereka semua mengenakan baju warna hijau muda dan celana pangsi warna hijau gelap. Mereka semua memakai sabuk kain berwarna putih. Seperti itulah seragam Perguruan Tiga Tapak. Jadi keempat lelaki itu adalah murid-murid senior perguruan.

Namun, ketika sebentar lagi akan keluar dari hutan, Sangar Hentak dan istrinya segera tarik tali kekang kuda. Keempat murid turut hentikan kuda mereka yang agak tiba-tiba.

Tindakan itu dikarenakan di depan mereka tergeletak tiga tubuh manusia di tengah jalan. Dua tubuh lelaki yang tergeletak mengenakan pakaian sewarna dengan seragam murid Perguruan Tiga Tapak. Sementara yang wanita mengenakan pakaian berwarna cokelat hitam.

Buru-buru Sangar Hentak melompat turun dari kudanya lalu menghampiri dan memeriksa ketiga tubuh itu. Ketiga orang itu telah mati dalam kondisi wajah membiru gelap dan mulut penuh darah hitam.

“Danayu!” sebut Gatri Yandana seraya setengah berlari mendapati jasad wanita berbaju cokelat.

“Di mana Sukma, Kakang?” tanya Gatri bernada panik. Wajahnya ingin menangis.

Danayu yang kini tergeletak tidak bernyawa adalah pengasuh putri mereka yang bernama Kerling Sukma.

“Mereka pasti tewas oleh jurus Jari Angker milik Tiga Tampang Sesal,” duga Sangar Hentak.

Untuk memastikan kebenaran dugaannya, Sangar Hentak lalu memeriksa tubuh di balik pakaian muridnya. Setelah kain bajunya disingkap, ia menemukan lima titik warna hitam pekat di dada kanan.

Sangar Hentak juga memeriksa di balik pakaian murid lelaki satunya. Ia pun menemukan lima titik hitam pada bagian perut.

“Tidak salah lagi, ini perbuatan Tiga Tampang Sesal,” desis Sangar Hentak geram.

“Bagaimana dengan Sukma, Kakang?” tanya Gatri lagi karena mendapati orang-orang yang mendampingi putrinya dalam berpergian semuanya telah tewas.

“Jika tidak ada mayatnya, Sukma pasti diculik oleh mereka,” kata Sangar Hentak.

“Guru, jejak kereta kuda ke arah luar hutan!” seru seorang murid yang memeriksa kondisi medan di sekitar. Ia bernama Tembas Rawa, salah satu dari lima murid utama Perguruan Tiga Tapak.

“Sukira!” panggil Sangar Hentak.

“Iya, Guru!” sahut murid yang bernama Sukira, seorang pemuda bertubuh jangkung dengan usia 40 tahun.

“Kau kembali ke perguruan dan bawah 30 murid menyusulku ke Hutan Woroksogo!” perintah Sangar Hentak.

“Baik, Guru,” ucap Sukira. Ia lalu membungkuk menjura hormat kepada gurunya lalu berbalik dan naik kembali ke punggung kudanya. Selanjutnya ia memutar balik kudanya dan pergi.

“Tabar dan kau, Sonoremuk, kubur mereka di sekitar tempat ini!” perintah Sangar Hentak kepada dua muridnya yang lain.

“Baik, Guru!” jawab keduanya.

Tabar dan Sonoremuk lalu bergerak mengangkat mayat teman-teman mereka.

“Tembas Rawa, ikut kami mengikuti jejak kereta kuda Sukma!” perintah Sangar Hentak.

“Baik, Guru,” jawab Tembas Rawa.

Sangar Hentak dan Gatri Yandana segera naik kembali ke punggung kudanya. Demikian pula Tembas Rawa. Ketiganya lalu menggebah kuda mereka melanjutkan pencarian mengikuti arah jejak roda yang sesekali terlihat di tanah yang agak lembab. Mereka meninggalkan Tabar dan Sonoremuk.

Ketiga kuda itu telah keluar dari hutan. Setelah berlari menyusuri jalan di sepanjang sisi luar hutan, jejak roda kereta menuntun mereka ke jalan kecil yang diapit tebing tanah dan jurang dalam.

“Huuup!” seru Sangar Hentak tiba-tiba berhenti.

Gatri dan Tembas Rawa juga menghentikan laju kudanya.

“Coba lihat jejak di tanah, Tembas!” perintah Sangar Hentak.

“Baik, Guru!” sahut Tembas Rawa lalu segera melompat turun.

Sangar Hentak memilih berhenti di area itu karena ia melihat tanahnya agak lembab. Jejak roda kereta terlihat jelas.

Tembas Rawa memperhatikan sejenak jejak yang tercipta di tanah.

“Guru, sepertinya Sukma dikejar beberapa kuda. Jejaknya masih baru,” kata Tembas Rawa.

“Ayo, cepat!” seru Sangar Hentak lalu menggebah lebih dulu kudanya. Sang istri pun segera mengikuti.

Tembas Rawa menyusul di belakang.

“Huuup!” seru Sangar Hentak setelah melesat beberapa ratus tombak jauhnya.

Sangar Hentak, Gatri dan Tembas Rawa berhenti tidak jauh dari dua lelaki yang berdiri di bibir jurang. Kedua lelaki berbeda usia yang jauh itu tidak lain adalah Gujara dan Joko Tingkir.

“Maaf, Kisanak, izinkan aku bertanya sesuatu,” sapa Sangar Hentak.

“Bertanyalah,” kata Gujara.

“Apakah kau melihat kereta kuda melintasi jalan ini?” tanya Sangar Hentak. Ia tetap duduk di punggung kudanya.

“Jika yang Paman maksud adalah kereta kuda yang membawa perempuan berbaju merah, maka Paman harus mencarinya di dasar jurang,” jawab Joko Tingkir yang sepasang matanya masih berkaca-kaca usai menangisi nasib Joko Tenang.

“Apa?!” kejut Gatri menjerit. Ia buru-buru turun dari kudanya. Ia menghampiri Joko Tingkir dengan wajah panik. “Apa yang kau katakan, Nak? Apakah... apakah...? Hiks!”

Gatri kemudian menangis. Ia menghamburkan diri memeluk suaminya yang juga sudah turun dari kudanya.

“Kakang, bagaimana ini? Anak kita jatuh ke jurang. Hiks hiks...!” ratap Gatri.

“Apakah benar yang kau katakan, Anak Muda?” tanya Sangar Hentak kepada Joko Tingkir.

“Kami tidak tahu apakah wanita yang jatuh bersama kereta kudanya itu adalah anak kalian. Ia dikejar oleh tiga orang lelaki berkuda. Kami mencoba menyelamatkannya, tapi gagal. Bahkan seorang keponakanku turut melompat ke jurang demi menyelamatkannya,” ujar Gujara.

“Tiga orang lelaki?” sebut ulang Sangar Hentak.

“Mereka pasti Tiga Tampang Sesal, Guru,” sahut Tembas Rawa.

Sangar Hentak sejenak terdiam menatap jauh ke dalam jurang.

“Rasanya mustahil bisa selamat jika jatuh ke bawah. Seorang sakti pun rasanya tidak mungkin bisa selamat,” kata Sangar Hentak dalam hati.

“Sukmaaa...! Hiks hiks hiks!” ratap Gatri dalam pelukan suaminya.

“Tembas, kembalilah lebih dulu. Tunda keberangkatan ke Hutan Woroksogo. Kerahkan para murid untuk mencari Sukma di dasar jurang lewat Desa Gempur Awan!” perintah Sangar Hentak.

“Baik, Guru!” jawab patuh Tembas Rawa. Lelaki bertubuh besar berotot tapi agak pendek itu segera menaiki kudanya lalu pergi berbalik arah.

“Kisanak, aku juga harus mencari jasad keponakanku di bawa sana,” kata Gujara.

“Aku Sangar Hentak, Ketua Perguruan Tiga Tapak,” kata Sangar Hentak memperkenalkan diri.

“Oh, berarti kau murid Pendekar Seribu Tapak?” terka Gujara.

“Benar. Kisanak mengenal guruku?” tanya balik Sangar Hentak.

“Tidak akrab. Oh ya, namaku Gujara. Ini Joko Tingkir. Kami berdua murid Ki Sombajolo.”

“Murid Ki Sombajolo? Maafkan aku sampai tidak mengenal kalian,” kata Sangar Hentak agak terkejut.

“Jangan melebihkan, Ketua. Justru kami yang seharusnya meminta maaf, karena gagal menolong putri Ketua,” kata Gujara dengan nada sesal.

“Kakang,” ucap Gatri lirih.

“Tenanglah, Gatri. Jika memang ini yang terjadi, kita tidak bisa membantah kehendak Sang Mahakuasa. Kita cari dulu jasad Sukma, mudah-mudahan ada keajaiban,” kata Sangar Hentak mencoba menenangkan kesedihan istrinya.

“Bagaimana cara kita turun ke dasar?” tanya Gujara.

“Hanya ada satu jalan mudah untuk sampai ke bawah sana, yaitu lewat Desa Gempur Awan,” jawab Sangar Hentak.

“Kami ikut Ketua,” kata Gujara. (RH)

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!