NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:126.5k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Harapan Menuju Kebebasan

Pagi masih tertidur di balik selimut kabut saat Shasha sudah berdiri di depan cermin. Cahaya lampu walk-in closet memantul di wajahnya yang terlihat jauh lebih segar setelah membersihkan diri. Ia menyisir rambut panjangnya sambil sesekali melirik ke arah jendela di mana pepohonan tinggi di halaman mansion hanya tampak seperti bayangan samar yang menembus kabut putih.

Setelah mengikat rambutnya dengan kunciran yang rapi, Shasha mengembuskan napas panjang, mencoba membuang kegelisahan tentang pertempuran apa lagi yang harus ia hadapi saat bertemu dengan pria itu nanti.

Ia kemudian melangkah keluar dari kamar. Tentu ia masih ingat dengan jelas soal ancaman Jake semalam. Menjadi koki pribadi pria itu bukanlah pilihannya, tapi ancaman akan penjara bawah tanah adalah motivasi yang cukup kuat untuk membuatnya tetap patuh.

Langkah kakinya yang tertutup sandal rumahan terdengar halus saat menuruni anak tangga. Matanya sempat tertuju pada pintu utama yang kini tertutup rapat dengan sempurna. Sisa-sisa rasa merinding dari kejadian semalam kembali melintas di benaknya.

Mungkin memang hanya anak buah Jake yang melapor dengan terburu-buru, pikirnya. Shasha tentu mencoba melogika ketakutannya sendiri. Lagi pula, siapa yang berani menyelinap ke dalam sarang singa seperti tempat ini?

Begitu sampai di dapur, ia langsung menyambar apron berwarna krem yang tergantung di dinding, “Baiklah. Sekarang kita harus memutuskan memasak apa,” gumamnya, seraya menarik tali apron di belakang pinggangnya hingga kencang.

Shasha kemudian membuka pintu lemari pendingin raksasa berbahan stainless steel itu hingga terbuka lebar. Hawa dingin langsung menerpa wajahnya. Tatapannya memindai deretan bahan makanan kelas atas yang tertata sangat rapi.

Ingatannya kembali pada kejadian semalam, saat gulai tahu buatannya habis tidak bersisa di mangkuk Jake tanpa membuat pria itu berkedip sedikit pun.

Ternyata lidah bajingan itu memang bisa menerima apapun, pikir Shasha dengan sedikit rasa jengkel. Ia menyadari bahwa berusaha mengerjai Jake dengan rasa pedas mungkin sia-sia jika pria itu memang sekuat itu.

Ia berdiri mematung sejenak di depan lemari pendingin yang terbuka, membiarkan uap dingin menyapu wajahnya sementara pikirannya berputar. Matanya masih memutari deretan bahan makanan mewah yang terasa begitu asing itu sambil memikirkan menu apa yang harus ia buat.

“Terserah kau saja, pria bajingan. Jika lidahmu bisa menerima gulai tahu, kau pasti bisa menerima ini,” gumamnya dengan senyum tipis yang mengandung sedikit nada menantang.

Pilihannya jatuh pada menu yang paling sederhana yaitu tumis telur tomat. Menu yang selalu menjadi penyelamat saat ia kekurangan uang.

Dengan gerakan yang kini lebih mantap, Shasha mengambil beberapa butir telur ayam, tiga buah tomat merah, beberapa siung bawah putih, cabai merah, dan seikat daun bawang. Ia membawa bahan-bahan itu ke wastafel, membiarkan air dingin mengalir membasahi jari-jarinya saat ia mencuci tomat hingga mengilap.

Setelahnya, ia langsung mencuci beras dan membilasnya berkali-kali di dalam wadah penanak nasi hingga airnya bening, lalu memasukkannya ke dalam mesin dengan takaran air yang pas. Begitu tombol cook ditekan, Shasha merasa pertempuran kecilnya di dapur resmi dimulai.

Ia meraih pisau dapur yang sangat tajam yang terasa seperti pisau paling mahal yang pernah ia pegang seumur hidupnya. Dengan ketelitian seperti seorang ahli, ia mulai membelah tomat, membuang bagian pangkalnya, lalu memotongnya menjadi bentuk baji yang seragam. Selanjutnya, bawang putih digeprek hingga hancur dan dicincang halus. Daun bawang juga diiris, disusul dengan dua buah cabai merah yang tujuannya untuk menambah warna.

Shasha kemudian mengambil teflon antilengket dan meletakkannya di atas tungku kompor. Begitu api dinyalakan, ia menuangkan sedikit minyak zaitun, menunggu hingga permukaan minyak itu mulai berkilauan dan sedikit mengeluarkan asap tipis.

Sambil menunggu minyak panas, ia memecahkan telur-telur itu ke dalam mangkuk. Suara garpu yang beradu dengan dinding mangkuk menciptakan irama yang konstan saat ia mengocoknya dengan cepat.

Setelah minyak panas, ia menuangkan kocokan telur itu ke dalam teflon. Suara desisan yang nyaring seketika memenuhi dapur, diikuti aroma gurih yang sangat kuat. Shasha mengaduk telurnya dengan cepat, menciptakan tekstur orak-arik yang lembut dan sedikit basah, lalu segera menyisihkannya.

Shasha kembali menuangkan sedikit minyak ke dalam teflon yang masih menyimpan sisa panas itu. Dan dengan cekatan, ia memasukkan cincangan bawang putih dan irisan cabai. Suara desis halus kembali terdengar, diikuti oleh aroma harum yang seketika merebak ke seluruh penjuru mansion.

Tidak menunggu lama hingga bawang berubah menjadi keemasan, ia segera memasukkan potongan tomat. Suara tumisan yang riuh bersambut dengan warna merah tomat yang mulai melunak di atas panas api. Untuk menyatukan semua rasa, Shasha menambahkan sedikit air, membiarkannya menyatu dengan sari tomat hingga menciptakan cairan kental yang menggugah selera.

Begitu kuah tomat itu mulai mendidih dan meletup-letup kecil, ia memasukkan kembali telur orak-arik yang sempat ia sisihkan tadi. Sekarang saatnya memberikan sentuhan akhir. Dengan tangan yang sudah terbiasa dengan bumbu dapur, ia menambahkan saus tomat, saus tiram, serta taburan gula, garam, lada, dan sejumput kaldu jamur sebagai penyeimbang.

Shasha mengaduknya secara konstan, memastikan setiap gumpalan telur terbalut rata oleh bumbu yang baru ia tambahkan. Tekstur masakan itu perlahan berubah semakin kental dan berkilau, menerbangkan uap panas yang membawa aroma asam, manis, dan gurih yang begitu akrab di hidungnya.

Setelah dirasa bumbunya meresap sempurna, Shasha mengambil sedikit kuah dan meletakkannya dengan hati-hati di telapak tangan, lalu mencicipinya dalam satu sesapan cepat.

“Sempurna,” ucapnya dengan senyum puas yang tersungging di bibir, lalu ia segera menaburkan daun bawang di atas tumisan itu, dan mematikan kompor.

Tepat saat ia melepas tali apronnya, suara muncul dari mesin penanak nasi yang menandakan bahwa nasi sudah matang sempurna.

Senyum lega mengembang di bibir Shasha saat menyadari bahwa kegiatan paginya bisa tuntas tepat waktu. Namun, saat tatapannya beralih pada jam dinding yang terus berdetak, dahinya sedikit berkerut. Waktu sarapan sudah hampir tiba, tetapi batang hidung sang pemilik mansion sama sekali belum terlihat.

“Apa jangan-jangan semalam pria itu yang pergi terburu-buru karena urusan mendadak?” pikirnya bimbang. Ia menatap tumis telur tomat di dalam teflon yang porsinya cukup banyak, uap panasnya bahkan masih mengepul, “Seharusnya aku bertanya dulu apakah dia di rumah atau tidak.”

“Apa dia belum bangun? Sayang sekali, makanan selezat ini tidak dinikmati saat masih hangat,” gumamnya lagi dengan nada sedikit menyayangkan.

Setelah menimbang-nimbang sejenak, Shasha menarik napas panjang penuh perhitungan. Ia memutuskan untuk mencari pria itu dan memberitahunya bahwa sarapan sudah siap. Namun, baru saja kakinya bergerak, ia tiba-tiba berhenti.

“Tapi tunggu dulu. Aku bahkan tidak tahu di mana kamarnya,” ucapnya pada diri sendiri dengan nada konyol. Mansion ini begitu luas dengan puluhan pintu yang berderet di lantai bawah maupun atas. Selama ia tinggal di sini, Jake selalu muncul dan menghilang seperti hantu, tanpa pernah benar-benar memberi tahu di mana letak ruang pribadinya.

Pandangan Shasha kemudian tertuju pada salah satu koridor panjang di lantai bawah. Ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam, saat ia dengan berani menyuruh Jake membersihkan diri, dan pria itu melangkah dengan angkuh ke arah koridor itu.

“Kalau bukan kamarnya, mungkin saja itu ruang kerjanya,” gumam Shasha yakin. Tanpa membuang waktu lebih lama, ia mulai melangkah menuju koridor yang remang itu, bersiap untuk menjelajahi area yang selama ini tidak pernah ia masuki.

Hawa dingin langsung terasa di sepanjang koridor yang membuat Shasha refleks memeluk tubuhnya sendiri. Pencahayaan di area ini jauh lebih redup, atau mungkin sengaja dirancang untuk menyembunyikan rahasia penghuninya.

Dengan keberanian yang dipaksakan, Shasha mulai mendekati deretan pintu yang tampak kokoh dan berat. Ia tidak berani memutar knop pintu mana pun tanpa izin. Bayangan kemarahan Jake yang meledak-ledak sudah cukup menjadi peringatan baginya untuk tetap menjaga sopan santun. Ia hanya mengetuk setiap pintu dengan perlahan, lalu diam mematung selama beberapa detik untuk menunggu jawaban yang tidak kunjung datang.

Perjalanannya berakhir di ujung koridor yang buntu. Di sana, terdapat dua buah pintu yang kontras. Satu pintu berukuran standar dan satu lagi pintu ganda berukuran jauh lebih besar yang tampak begitu dominan. Shasha menarik napas dalam, lalu mengetuk pintu yang lebih kecil terlebih dahulu.

Hening.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari balik sana.

Ia beralih ke pintu besar di sampingnya. Sambil mengetuk, ia memberanikan diri menempelkan telinganya ke permukaan pintu yang dingin, mencoba menangkap suara sekecil apa pun. Namun, hasil yang didapat tetap sama yaitu kesunyian yang mencekam.

“Sepertinya aku salah jalan,” gumamnya pelan.

Shasha menegakkan tubuh dan memutar tumitnya, berniat meninggalkan area gelap itu. Namun, baru satu langkah ia beranjak, sebuah suara seperti benda keras yang beradu dengan lantai terdengar dari balik pintu besar itu.

Langkahnya terhenti seketika.

Jantungnya berdegup kencang saat ia kembali menempelkan telinganya ke pintu besar itu dengan penuh konsentrasi. Benar saja, ia kemudian menangkap erangan rendah yang tertahan. Suaranya terdengar berat dan dipenuhi rasa sakit yang membuat Shasha seketika lupa akan ketakutannya pada amarah Jake. Dan ia pun memberanikan diri mendorong pintu itu.

Begitu celah pintu terbuka, aroma maskulin yang tajam yang bercampur tembakau mahal, dan sedikit jejak alkohol langsung menyeruak, memenuhi indra penciumannya.

Shasha melangkah masuk dengan ragu, membiarkan daun pintu tetap terbuka lebar sebagai satu-satunya jaminan keselamatannya jika sesuatu yang buruk terjadi. Matanya menyapu ruangan yang luar biasa luas itu. Desain interiornya mencerminkan dominasi dan kekuasaan. Segalanya berwarna gelap, tegas, dan dingin. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat area walk-in closet yang terorganisir dengan sangat kaku, serta deretan pajangan koleksi barang antik dan botol-botol minuman yang Shasha sendiri tidak paham nilainya.

Namun, fokusnya teralihkan sepenuhnya saat ia melangkah lebih jauh ke sisi ranjang.

“AAAAAA!!!”

Jeritan Shasha pecah, bergema di langit-langit kamar yang tinggi. Jantungnya nyaris melompat keluar saat ia melihat Jake tergeletak kaku di atas lantai yang dingin. Pria itu telentang dengan mata terpejam rapat, wajahnya sepucat kertas, dan tubuhnya terlihat tidak bernyawa layaknya sebuah patung yang jatuh dari singgasananya. Ia masih mengenakan celana panjang hitam dari semalam, namun tubuh bagian atasnya polos, mengekspos otot-otot tegap yang kini tampak diam tidak bergerak.

Ketakutan yang mencekam mulai merayapi Shasha. Dengan langkah gemetar, ia mendekat dan berlutut di samping tubuh besar itu. Ia menahan napas, matanya tertuju pada dada dan perut Jake yang tidak tampak bergerak naik-turun layaknya orang yang sedang bernapas.

“Hei, bangunlah! Kau... kau sedang bercanda, kan?” bisik Shasha dengan suara parau. Ia memberanikan diri mengguncang lengan Jake yang keras, “Bangun! Jangan menakutiku seperti ini!”

Berkali-kali ia menggoyangkan tubuh itu, namun Jake tetap bergeming. Tidak ada kelopak mata yang bergetar, tidak ada erangan, dan hanya keheningan yang mengerikan.

Tiba-tiba, sebuah pemikiran melintas di benak Shasha yang berhasil menghentikan gerakan tangannya. Ia terdiam sejenak, menatap wajah kaku pria yang selama ini menjadi mimpi buruknya.

“Tapi tunggu dulu,” gumamnya, suaranya perlahan berubah menjadi datar, “Bukankah jika dia mati, aku bisa bebas dari sini? Jika dia tidak ada, tidak ada lagi yang bisa mengancamku.”

Rasa bersalah yang tadi sempat muncul kini digantikan oleh kilatan harapan yang egois namun logis, “Tidak masalah jika makananku yang membuatnya menjadi seperti ini. Hitung-hitung, aku baru saja mengurangi satu orang jahat di dunia ini.”

Shasha berdiri dengan tekad yang mendadak kuat. Rencananya sederhana. Ia akan keluar dan berpura-pura panik saat memberi tahu anak buah Jake, lalu di tengah kekacauan saat mereka meratapi sang majikan, ia akan melesat pergi meninggalkan penjara mewah ini selamanya.

Namun, saat ia baru saja memutar tubuhnya untuk melangkah...

SET!

“AAAAAAAA!!”

Shasha kembali berteriak, namun kali ini suaranya tertahan di tenggorokan. Sebuah tangan yang besar dan kuat melingkar di pergelangan tangannya secepat kilat. Dengan satu sentakan tenaga yang luar biasa, tubuh Shasha tertarik ke belakang hingga ia jatuh terjerembap tepat di atas dada bidang Jake yang shirtless.

Kehangatan kulit pria itu yang tiba-tiba bersentuhan dengan tubuhnya membuat Shasha terpaku. Ia mendongak dengan napas tersengal, dan tepat saat itu, sepasang mata elang yang tajam dan berbahaya terbuka lebar, menatapnya dengan binar kemenangan yang mengerikan.

“Ingin melarikan diri ke mana, gadis nakal?”

1
Saleha Djohatmawar
karya yang sangat bagus,mudah dipahami
Hennyy exo
wow alurnya makin bagus😍
Hennyy exo
ihh lana egois banget
Hennyy exo
modelan bibi kaya begini.di pasung aja kali ya🤣🤣🤣
Lovelynzeaa🌷
thor lanjutkan cerita menikahi ayahh pembully dong Thor
Ninik Srikatmini
endingnya kok gitu aja thot..
Ninik Srikatmini
haduuuh thor tega amat bima- shasha dibikin celaka😭😭 knp ga' orang2 jahat itu
Ninik Srikatmini
hasil yg kau tanam jake..
Ninik Srikatmini
wooow bkl ada prahara nih..
Ninik Srikatmini
karma lana..
Ninik Srikatmini
hhhhhhhh apa lg yg dilakuin jake,
Ninik Srikatmini
nikahin shasha jake klu ga' barengin aja ma adikmu lana☺
Ninik Srikatmini
sabar ya nek cucu2 mu emang nakal
Ninik Srikatmini
kasihan bima & shasha mereka jd korban keegoisan lana
Ninik Srikatmini
cucumu sndri yg jahat & licik nek..
Ninik Srikatmini
licik kau lana ini kan tujuanmu... 🙃
Ninik Srikatmini
☺☺
Ninik Srikatmini
untung jake datang menolong shasha..
Ninik Srikatmini
🙃🙃
Ninik Srikatmini
smoga pelarian shasha kali ini berjln mulus & lancak wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!