Ada yang lo pengen banget, itu bisa lo liat, tapi gak bisa lo gapai, itu gimana sih rasanya?
***
S1—
Diary Of Jane.
Jane terpaksa kok buat sama Ares, karena dia Ares cuma punya dia. Bahkan sama sekali gak cinta dengan Ares, tapi Ares selalu berusaha, selalu ada di samping Jane, berharap cewek itu pada akhirnya akan jatuh cinta sama dia.
Pahit di awal, manis di akhir. Pada akhirnya Jane jatuh cinta dengan Ares.
S2—
I love you Bramasta.
Kisah bagaimana Bramasta juga ingin di cintai.
——— 🌟
ig. @sindipaulia_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sindi putri aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25. Gue sayang lo
Diary of Jane 25
Jane tak kuasa menahan air matanya yang mengalir begitu saja menggenangi wajahnya.
Hiks.
***
"Gila parah lu men, astaga," Raya menepuk pundak Jane yang masih termenung sejak tadi, "lo gak kesambet kan?" Berulang kali Raya mengibaskan tangannya di depan wajah Jane.
"Jane, lo gak apa-apa kan?" Mala ikut-ikutan mendekati Jane yang termenung.
Jane mengangguk dan membuat semua makhluk di sekitarnya lega karena Jane tidak benar benar kerasukan setan.
"Huwaaa! Gue seneng banget astaga!" Jerit Jane. Seketika Raya dan Mala terjengkang ke lantai karena terkejut dengan reaksi 360 derajat berubah. Gila, fix Jane gila.
"Gue dapat 85, huhu..." Bangga banget dong, Jane itu kan gak pernah dapat nilai ujian di atas 80 dan maksimal dapat 82 dan itu pun sekali dalam satu abad, bayangin aja Jane loncat loncat sambi senyum senyum meluk kertas ujiannya.
"Gue seneng banget Raya." Jane memeluk sosok di depannya dengan erat, tunggu, kenapa Raya lebih tinggi dari gue?
Jane menelan ludahnya mentah-mentah dan susah payah, perlahan melepas tubuh yang di yakininya sebagai seorang cowok. Huhu Jungkook.
"Oke, selamat ya Jane, nilai lo naik. Dikit, tapi that's better."
Hangat. Muka Jane panas karena pelukannya di balas, "Arka lepasin." Cicitnya.
Brukh....
📝📝📝
Breaking news today.
Terjadi pingsan masal di lantai dua,
Tepatnya di depan kelas X IPS 2.
Penyebabnya?
Gue.
Dan Arka.
Gue sama Arka pelukan.
📝📝📝
Bugh!
Ares menghantam wajah Arka dengan sebuah pukulan, "Gue udah cukup sabar, bahkan gue sabar banget!" Gertak Ares.
"Ssh." Arka mengusap ujung bibirnya yang berdarah karena satu pukulan yang keras dari Ares, ia tersenyum sarkas, "lo sabar, tapi gue gak sabaran. Gue gak mau keduluan, sama siapapun itu."
"Lo!" Bentakan Ares tertahan karena melihat sosok yang sedang berdiri menyaksikan mereka. Mata itu berkaca-kaca, "kalian kenapa sih!" Protesnya.
Jeara Anindya—
"Lo berdua kenapa sih kelahi, gak ada kerjaan banget sih, lo berdua itu udah dari orok barengan, akur mulu, tapi kenapa sekarang kalian gini?" Tegas Jeara sambil menatap kedua cowok itu bergantian.
"Je, lo gak ngerti. Gue tau lo khawatir, tapi gue gak akan kalah dari anj*ng." Ares melirik Arka tajam bermaksud memberi peringatan, tapi objek yag di tatap hanya terkekeh kecil.
"Anj*ng. Dari dulu gue selalu jadi anj*ng, patuh sama tuanya, tapi sekarang enggak. Gue gak mau lagi patuh." Timpal Arka.
"Udah! Stop!"
"Karena Jeara lo selamat, next time enggak," Ancam Ares, "Jea, obati anak papi, susah kalo dia sakit beneran." Interupsi Arka.
Benci, tapi masih peduli.
•
•
We're just friends.
I know that.
Dan gue juga tau pangkat gue cuma sahabat di hati lo Arka, Jane mengusap air yang berasal dari pelupuknya.
Mengingat kembali kejadian yang dilihatnya tadi, Arka bersama dengan gadis yang gossip nya adalah gadis yang sekarang dekat, memang bukan pacar for now, but one day it could be, who knows what the continuation of this story is.
Dia terlalu meresapi, lagi. Jane terlalu nyaman dan terhanyut dengan semua tindakan Arka padanya, pakai acara peluk dia di depan banyak orang pula. Jane jadi lupa diri, dia lupa buat ke sekian kalinya.
Dia lupa sama skenario cerita tuhan.
Arka itu tokoh utama drama hidup ini.
Sedangkan Jane,
"Gue cuma pemeran sampingan." gue gak guna, tutur Jane untuk dirinya sendiri. Apa yang Jane takuti sebelumnya sekarang terjadi, ketika si peran utama kedua, alias pendamping si pemeran utama cowok itu keluar. Menyingkirkan semua dan menggantikannya.
Sahabat, ya memang sahabat.
Cinta, rasanya.
Pupus, nantinya.
"Kau begitu sempurna,
dimata ku kau begitu indah,
Kau membuat diri ku, akan s'lalu memuja mu,
Disetiap langkah ku,
ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu..."
"Tak bisa ku bayangkan hidup ku tanpa cinta mu.
Janganlah kau tinggalkan diri ku.
Tak 'kan mampu menghadapi semua.
Hanya bersama mu ku akan bisa."
"Kau adalah darah ku,
Kau adalah jantung ku,
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku,
Oh sayangku kau begitu,
Sempurna, sempurna."
📝📝📝
Iya,
Lo sempurna.
Arka.
Tapi sayang, lo diciptakan bukan buat gue kayaknya.
Lo bukan pangeran gue, kayaknya.
Semua hal yang gue tulis masih 'kayaknya'
Tapi gue udah iman, gue bukan buat dia, dan sebaliknya juga.
Kenyataan memang pahit, tapi itu kenyataan, apa daya? Gak ada.
Jalani, nikmati, bernafas, cari bahagia.
📝📝📝
"Makasih neng."
Jane tersenyum, "Iya."
"Baik banget sih lo, padahal duit tadi buat beli buku," Kagum. Iya, Kay kagum sama adeknya ini, baik banget soalnya, uang yang harusnya di belikan buku di kasih gitu aja sama pengamen jalanan yang nyanyi lagu sempurna punya Andra.
"Ya, elo kan ada bang." Jane mengedip-ngedipkan matanya, cute efek, "gue juga kena imbasnya." Lirih Kay kesal, beberapa detik lalu ia mengagumi sang adik yang sekarang berada dalam rangkulannya, tapi rasanya ia ingin menarik kata-katanya barusan.
"Hehe." Nyengir aja terus, gue makan lo ntar, Kay melepaskan rangkulannya dan mengambil ponselnya yang berdering di saku celananya.
"Ck." Dengan cepat Kay mematikan ponselnya karena melihat nama di ponsel itu, Papa.
"By the way, mobil yang jualan buku itu beneran datang kan? Udah rame yang nunggu, tapi kok belum datang juga, apa jangan-jangan gak jadi?" Jane menoleh ke kanan dan kiri, taman itu semakin ramai karena banyak orang yang datang untuk membeli buku yang akan di jual mobil keliling.
Kay menaikkan bahunya.
"Kak Vera!" Jerit Jane memanggil gadis berambut panjang yang memakai kemeja dan celana jeans panjang itu, "kak! sini kak!!" Pekiknya lagi.
"Uwuu, adek kesayangan gue." Vera memeluk Jane singkat, "lo ngapain ke sini?" Tanyanya lagi.
"Gue mau beli buku kak, sama bang Kay." Jane menoleh pada Kay, sementara Vera yang mengikuti arah mata Jane hanya berkata, "oh." aja.
Vera masih belum bisa melupakan hal yang paling di bencinya dari sosok Kay Danuandra, kejadian waktu itu, yang membuatnya harus memiliki plester di kening dan bekas luka kecil di sana.
"Lo masih kesel sama bang Kay kak?"
"Jidad gue punya tato gara-gara dia." Vera menyingkirkan rambut yang menutupi bekas luka yang amat sangat kecil dan hanya bisa dilihat dari dekat.
Kecil aja kok, dan lo masih cantik. Gue? Kalau tato itu ada di jidad gue, udah di kata preman gue.
"Ya udah deh, gue duluan ya. Bye." Vera kembali memasang headset nya dan melambaikan tangan pada Jane sebelum pergi, lambaian itu bukan pada Kay tentunya, karena ia masih jengkel.
"Bunga, bunga, sepuluh ribu aja kok, buat pasangan serasi."
Sleding ntar lo bang, gue bukan pacar bang Kay kali. Jane menghela nafas saat berbalik badan dan menemukan sosok penjual bunga mawar keliling.
"Ma..." Baru saja Jane ingin menolak, Kay justru menepuk pundaknya, "gak boleh gitu."
Oke, gue ngerti, dia cari duit, tapi kan...
"Satu bang." Kay membeli bunga itu dan menciumnya singkat.
"Buat apa bang?" Jane tersentak karena Kay menyodorkan bunga mawar itu padanya, tuh kan, baper gue.
"Gue sayang lo."
"..."
Bersambung hehe...
KUIS TAK BERHADIAH.
>> Jadi, apa yang bakal Jane jawab di episode selanjutnya?
a. "ya, gue juga."
b. "gue juga sayang lo, tapi sebagai sahabat."
c. semua jawaban salah, karena Kay ganteng cuma punya aku.
Like nya tulung😘
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya y
sebulan ga buka noveltoon, ceritanya dah end🥺🥺🥺🥺
di tunggu karya barunya thor
maaf ya aku lm baru mampir, dh boom like smua_<
akhirnyaa
selamat thir karyamu kereen
feedback to yokk ka🤗