Di Kota Sentral Raya, kejahatan bukan lagi bayangan yang bersembunyi—ia adalah penguasa. Polisi, aparat, hingga pemerintah berlutut pada satu orang: Wali Kota Sentral Raya, dalang di balik bisnis ilegal, korupsi, dan kekacauan yang membelenggu kota ini.
Namun, ada satu sosok yang tidak tunduk. Adharma—pria yang telah kehilangan segalanya. Orang tua, istri, dan anaknya dibantai tanpa belas kasihan oleh rezim korup demi mempertahankan kekuasaan. Dihantui rasa sakit dan dendam, ia kembali bukan sebagai korban, tetapi sebagai algojo.
Dengan dua cerulit berlumuran darah dan shotgun di punggungnya, Adharma tidak mengenal ampun. Setiap luka yang ia terima hanya membuatnya semakin kuat, mengubahnya menjadi monster yang bahkan kriminal pun takut sebut namanya.
Di balik topeng tengkorak yang menyembunyikan wajahnya, ia memiliki satu tujuan: Menumbangkan Damar Kusuma dan membakar sistem busuk yang telah merenggut segalanya darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saepudin Nurahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Di Rumah Rini
Feny memarkirkan mobil di depan rumah Rini, lalu mematikan mesin. Lampu rumah itu masih menyala, dan melalui jendela, siluet seorang wanita tampak bergerak di dalam.
Darma turun dari mobil lebih dulu. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini tentang menggali kebenaran yang selama ini dikubur.
Feny berjalan di belakangnya, mengetuk pintu tiga kali. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka, dan Rini muncul dengan wajah sedikit tegang. Namun, begitu melihat Darma, ekspresinya melunak.
"Kau datang," katanya lirih.
Darma mengangguk. "Aku janji akan kembali, bukan?"
Rini memberi jalan, membiarkan mereka masuk. Di dalam rumah, suasana terasa lebih hangat. Aroma teh melati tercium samar, dan di sudut ruangan, seorang anak kecil—Bima—tampak duduk di lantai, bermain dengan mainannya.
Begitu melihat Darma, Bima langsung tersenyum. "Om Darma!" serunya sambil berlari kecil ke arahnya.
Darma berjongkok, menyambut anak itu dengan mengusap kepalanya. "Sudah tidur belum?"
Bima menggeleng. "Aku nunggu Om datang."
Rini tersenyum tipis. "Bima, ayo masuk kamar dulu. Om Darma ada urusan penting."
Meski agak enggan, Bima menurut. Setelah memastikan anaknya masuk ke kamar, Rini kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa. "Jadi... kita mulai?"
Feny duduk di kursi dekatnya, sementara Darma tetap berdiri, menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Katakan padaku, Rini," ujar Darma. "Apa yang kau tahu?"
Rini menarik napas dalam, lalu mengambil sebuah map cokelat dari laci meja. Ia meletakkannya di atas meja dan mendorongnya ke arah Darma. "Ini semua data yang dikumpulkan suamiku sebelum dia dibunuh. Daftar polisi korup, transaksi ilegal, dan..." ia terdiam sejenak, menatap Darma dengan penuh makna, "...nama orang yang membunuhnya."
Darma mengambil map itu dan mulai membuka lembaran demi lembaran. Beberapa nama yang tertulis di sana sudah tidak asing baginya. Beberapa lainnya membuatnya menggertakkan gigi.
"Jadi ini mereka..." gumamnya.
Feny yang ikut melihat daftar itu menghela napas. "Kalau ini benar, kita sedang menghadapi lebih dari sekadar polisi korup. Ini sudah menyentuh orang-orang di level atas."
Darma menutup map itu dan menatap Rini. "Kau yakin suamimu tidak sempat membocorkan ini ke siapa pun sebelum dia mati?"
Rini menggeleng. "Dia terlalu berhati-hati. Dia tahu, kalau informasi ini jatuh ke tangan yang salah, nyawa kami dalam bahaya."
Feny menatap Darma. "Jadi, apa rencanamu sekarang?"
Darma menghela napas panjang, menatap map di tangannya. Ini bukan sekadar balas dendam lagi. Ini adalah perang.
Ia menatap Feny dan Rini dengan penuh tekad. "Aku akan memburu mereka. Satu per satu."
Rini bangkit dari kursinya dan berjalan ke dapur. Sesaat kemudian, ia kembali dengan tiga botol bir dingin di tangannya. Ia meletakkan satu botol di depan Darma, satu di depan Feny, lalu duduk sambil membuka botolnya sendiri.
“Ini bir kesukaan suamiku dulu,” ucapnya dengan senyum tipis, meski matanya menyimpan kepedihan. “Setiap kali dia merasa tertekan dengan pekerjaannya, dia selalu duduk di sini, minum satu atau dua botol, lalu berkata padaku bahwa suatu hari nanti, hukum pasti akan ditegakkan di kota ini.”
Darma mengambil botol itu, memutar-mutar lehernya sejenak sebelum akhirnya membukanya dan meneguk isinya. Rasanya pahit, tapi tak sebanding dengan pahitnya kenyataan yang harus ia hadapi sekarang.
Feny, yang sedari tadi hanya mengamati, akhirnya ikut membuka botolnya. “Suamimu pasti orang yang baik,” gumamnya.
Rini mengangguk. “Dia bukan hanya baik, tapi juga terlalu percaya bahwa sistem bisa diperbaiki. Aku selalu bilang padanya bahwa dunia ini tidak sesederhana hitam dan putih. Tapi dia tetap bersikeras.” Ia menatap Darma. “Dan sekarang aku melihat hal yang sama dalam dirimu.”
Darma mendengus pelan. “Aku tidak sebaik dia. Aku sudah melewati batas yang tak bisa kembali.”
Rini menatapnya dalam-dalam. “Mungkin. Tapi bukan berarti kau tidak bisa memilih jalanmu sendiri.”
Feny meletakkan botolnya setelah meneguk beberapa teguk. “Jadi, kita punya daftar nama. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kau akan mengeksekusinya, Darma? Kau tidak bisa bergerak sendiri. Mereka ini orang-orang yang punya pengaruh.”
Darma menyandarkan kepalanya ke sofa, menatap langit-langit rumah. “Aku akan mulai dari orang yang paling lemah di daftar ini. Polisi rendahan yang selama ini hanya menjadi alat. Jika aku bisa membuat mereka bicara, maka jalan ke atas akan lebih mudah.”
Rini mengetuk meja dengan jarinya, berpikir. “Kalau begitu, aku bisa membantu. Aku masih punya beberapa kenalan di dalam. Mereka mungkin takut, tapi bukan berarti mereka tidak bisa dipengaruhi.”
Darma menatapnya tajam. “Aku tidak mau kau dalam bahaya.”
Rini tersenyum kecil. “Aku sudah dalam bahaya sejak suamiku dibunuh. Aku tidak akan diam saja melihat kota ini semakin tenggelam dalam kotoran.”
Hening sejenak. Mereka bertiga duduk di sana, hanya ditemani suara botol bir yang sesekali diketuk ke meja dan desiran angin malam di luar jendela.
Darma akhirnya meletakkan botolnya dan menatap Feny. “Aku tahu kau juga mengambil risiko besar dengan ada di sini. Tapi aku perlu tahu, seberapa jauh kau bersedia terlibat?”
Feny mengangkat alisnya. “Aku polisi. Tapi aku juga bukan orang bodoh yang menutup mata pada kenyataan.” Ia meneguk birnya sekali lagi sebelum menatap Darma dengan serius. “Aku di pihakmu. Tapi jangan salah paham—aku bukan pembunuh. Jika aku bisa membantumu dengan cara lain, aku akan melakukannya.”
Darma tersenyum tipis. “Itu sudah cukup.”
Malam semakin larut, dan ketiganya kembali menatap daftar nama di meja. Satu per satu, mereka akan tumbang.
Perang baru saja dimulai.
Feny melihat jam tangannya, lalu menghela napas pelan. “Aku harus pergi. Jika aku terlalu lama di sini, bisa saja ada yang curiga.”
Darma mengangguk, tidak berniat menahannya. “Hati-hati di jalan.”
Rini mengantar Feny sampai ke depan pintu. “Kau yakin tidak mau menginap?” tanyanya.
Feny tersenyum tipis. “Aku masih punya tugas yang harus kujalankan.” Ia menatap Rini sejenak sebelum beralih pada Darma yang masih duduk di ruang tamu. “Jangan terlalu gegabah. Kita butuh strategi, bukan sekadar amarah.”
Darma hanya mengangguk kecil. Feny kemudian melangkah keluar, menghilang dalam gelapnya malam.
Setelah menutup pintu, Rini kembali ke ruang tamu. Ia menatap Darma yang masih duduk dengan tubuh sedikit tenggelam di sofa. “Jadi, kau benar-benar akan menginap?” tanyanya sambil menyunggingkan senyum kecil.
Darma menghela napas dan mengangguk. “Aku sudah janji pada Bima.”
Rini tersenyum lembut. “Dia pasti senang kalau tahu kau tetap di sini malam ini.”
Darma hanya diam, lalu bersandar ke sofa. Matanya terasa berat, pikirannya penuh dengan rencana yang harus ia susun. Namun, untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa sedikit tenang.
Rini mengambil selimut tipis dari dalam lemari dan menyerahkannya pada Darma. “Tidurlah di sini. Aku akan memastikan semuanya aman.”
Darma menerima selimut itu tanpa banyak bicara. Rini pun beranjak menuju kamarnya, tetapi sebelum masuk, ia menoleh sebentar. “Kau masih punya tempat di dunia ini, Darma. Jangan lupakan itu.”
Darma tidak menjawab, hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah Rini masuk ke kamarnya, Darma menatap langit-langit rumah itu, membiarkan pikirannya tenggelam dalam kenangan.
Malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia memejamkan mata tanpa rasa takut.