Aron Wengler, pemuda berusia 26 tahun itu selalu bermimpi hal yang aneh di setiap malamnya. Tapi dia merasa hal itu bukan hanya sekedar mimpi. Dia beranggapan mungkin itu adalah kehidupan pertamanya.
" Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Teriakan keras dan tatapan penuh nafsu para penonton selalu membuat Aron terintimidasi. Dia tidak punya pilihan lain selain bertarung demi nyawa yang menempel di raganya.
Akankah di masa sekarang dia juga bisa bertahan hidup di kerasnya arena pertarungan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Legenda 26: Mimpi dan Nyata
" Hidup Perseus!"
" Hidup Sang Penghancur!
" Hidup Pahlawan Kerjaan!!"
Ketika membuka matanya Aron sudah diperdengarkan sorak sorai yang mengelukkan namanya. Bukannya senang Aron malah menghela nafasnya.
" Haaah, aku kan tidur karena mau istirahat. Tapi sepertinya aku tidak dibiarkan istirahat. Baru saja merem lho ini," keluh Aron. Dia sudah mulai terbiasa dengan pola hidupnya yang seakan-akan menjalani dua kehidupan. Serasa dirinya berada di dunia paralel.
Meskipun begitu, ia tetap sadar bahwa yang dialaminya ini adalah dunia mimpi yang jelas sangat berbeda dengan dunia nyata. Walau kadang dia menjadi penasaran. Apakah benar dirinya adalah orang yang pernah hidup di jaman itu. Jaman dimana kasta masih ada, jaman dimana yang lemah hanya akan jadi pecundang dan yang kuat bisa menjadi posisi tertinggi.
" Mari kita lihat, ada apa kali ini," gumam Aron lirih.
Ketika membuka matanya, Aron sedang berada di sebuah kereta kuda. Dia jelas tidak tahu ada apa, tapi suasana jalan begitu ramai. Kalau boleh dibilang, itu seperti pawai. Pawai yang meriah.
" Haaah, aku lelah sekali."
" Apakah Tuan lelah? Apakah ada yang bisa saya bantu?"
" Eh?"
Aron terkejut saat mendengar suara wanita yang begitu lembut. Ia lalu menoleh ke arah samping, ternyata di dalam kereta kuda itu bukannya dia sendirian. Ada orang lain yang duduk bersama nya dan itu adalah seorang wanita.
Wanita yang memiliki paras cantik dan memancarkan kelembutan. Bibir tipis , hidung mancung dan kulit yang putih dan sangat halus. Jika diibaratkan debu pun akan melorot jika menyentuhnya.
Namun ada satu hal yang semakin membuat Aron terkejut, warna rambut dan matanya. Ia tahu betul tentang itu. Warna rambut perak yang panjang dan mata biru yang jernih seperti lautan.
" Kau ... bagaimana kau bisa di sini."
Sreeeet
" Arooooon! bangun, kau tidak boleh terlambat datang ke turnamen pagi ini."
Aron terjingkat, ia langsung bangun dan duduk. Dilihatnya Grethe ada di sisi jendela. Gadis itu sedang menyibakkan tirai agar sinar matahari masuk ke dalam.
" Ohh kau Grethe. Haah perasaan aku seperti tidak tidur sama sekali," gerutu Aron.
Grethe yang mendengar hanya terkekeh kecil. Ia lalu berjalan ke arah ranjang dan mendekati Aron. Tangannya terulur lalu mengacak rambut Aron.
Deg!
Mata mereka bertemu, Aron melihat lebih dalam mata Grethe. Dan ia yakin bahwa mata itu adalah mata yang tadi ia lihat juga di mimpinya.
" Ron, segera bangun. Kita harus bersiap ke pertandingan."
" Y-ya, kau turunlah dulu. Aku akan menyusul."
Grethe tersenyum, ia lalu melenggang keluar dari kamar Aron dan menutupnya pelan. Sesampainya di luar Grethe menekan dadanya. jantungnya berdetak kencang dan wajahnya memerah. Ternyata ketenangan yang ia miliki di dalam tadi hanyalah kamuflase belaka.
" Aron, dia semakin memesona seiring berjalannya waktu. Aku tidak bisa lagi menatap wajahnya secar dekat seperti tadi. Aish, apa yang kau lakukan Grethe!"
Teryata rasa Grethe terhadap Aron berkembang tanpa ia sadari. Bermula dari simpati dan berujung dengan suka. Tapi Grethe jelas tidak akan mengungkapkan hal tersebut kepada Aron, ia cukup menyimpannya sendiri. Karena Grethe tahu, saat ini Aron sedang memupuk rasa percaya diri dan membangun namanya. Grethe tidak akan mengacau melalui perasaannya.
Turnamen hari kedua
Kali ini lawan Aron tentu tidak seperti kemarin. Babak ini bukan lagi babak penyisihan. Di babak ini lawan akan semakin kuat. Tapi Aron begitu tenang. Dia cukup percaya diri bahwa ia bisa melawannya.
Reputasi Aron pun naik. Banyak orang yang menyerukan namanya saat ia sudah berada di atas arena. Dan, hari inipun Grethe beserta Jose datang untuk menonton aksi Aron. Tapi tidak dengan Marcus. Hari ini Marcus ada pekerjaan yang mendesak. Bahkan dia sudah pergi sejak pagi tadi.
" Aron! Aron! Aron!"
Seruan demi seruan terus menerus menyuarakan nama Aron. Sebenarnya Aron tidak peduli, karena itu adalah hal yang biasa dan sering ia dengar. Baik di dunia nyata maupun di dunia mimpi. Tapi beberapa dari mereka tidak menyukainya. Terlebih yang satu klub dengan Aron.
" Kedua bersiap. Memberi hormat dan ... MULAI!!!"
Teng ... Teng ... Teng
TBC