NovelToon NovelToon
PERMAISURI PENGGANTI

PERMAISURI PENGGANTI

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Ibu Pengganti / Pengganti / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:713k
Nilai: 4.9
Nama Author: HANA ADACHI

Rani baru saja kehilangan kakaknya, Ratih, yang meninggal karena kecelakaan tepat di depan matanya sendiri. Karena trauma, Rani sampai mengalami amnesia atas kejadian itu. Beberapa bulan pasca tragedi tersebut, Juna, mantan kakak iparnya melamar Rani dengan alasan untuk menjaga Ruby, putri dari Juna dan Ratih. Tapi, pernikahan itu rupanya menjadi awal penderitaan bagi Rani. Karena di malam pertama pernikahan mereka, Juna menodongkan pistol ke dahi Rani dan menatapnya dengan benci sambil berkata "Aku akan memastikan kamu masuk penjara, Pembunuh!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. (REVISI) Aku Mencintaimu

Mama akhirnya pulang. Rani menerima benda-benda pemberian mamanya dengan terpaksa. Karena kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada Rani.

Rani masuk ke dalam rumah dengan perasaan kacau. Ia terus kepikiran perintah sang ibu yang menyuruhnya cepat hamil. Bagaimana caranya dia bisa hamil jika disentuh Juna saja tidak pernah? Selama ini mereka memang tidur satu kamar, tapi Juna memilih untuk tidur di sofa yang ada di kamar mereka. Atau kalau tidak, Juna akan beralasan lembur dan tidur di ruang kerjanya. Bahkan bisa jadi ia tidak pulang sama sekali dan tidur di kantor perusahaan.

"Hufftt.." Rani tanpa sadar menghela napas panjang saat melewati ruang tamu, membuat Lily yang sedang duduk di sana bersama Ruby mengernyitkan dahi heran.

"Ada apa Ran?" tanya Lily penasaran. "Mama kamu ngomong apa?"

Rani sontak menggelengkan kepalanya. "Nggak ngomong apa-apa kok Mi,"

"Oh ya sudah, kalau gitu sini gantian kamu yang jaga Ruby. Mami capek mau istirahat,"

Rani memperhatikan mertuanya. Ia tak melihat tanda-tanda wanita itu sedang kecapekan mengasuh Ruby. Yang ada Lily sedang asyik bermain media sosial di ponsel, sementara Ruby memainkan boneka barbie-nya sendirian.

"Mainan apa sayang?" Rani menghampiri Ruby dengan tersenyum tulus. "Mami bawa snack nih. Mau?"

"Au! Au!" jawab Ruby semangat.

"Eh, eh, eh, apa itu?" Lily tiba-tiba merebut snack di tangan Rani. "Haduh Rani, jangan belikan snack untuk anakmu sembarangan. Kamu nggak tau kan bahayanya MSG buat kesehatan Ruby? Dulu Ratih nggak pernah loh kasih Ruby yang begini-beginian, biasanya dia masakin sendiri untuk Ruby,"

"Rani tahu Mi. Tapi kan ini snack khusus bayi. Rani juga sudah sering baca-baca artikel, katanya snack ini aman untuk dikonsumsi anak-anak,"

"Haduh, jangan langsung percaya begitu saja Rani. Itu kan cuma omong kosong mereka saja. Sudahlah, jangan beli makanan-makanan seperti ini lagi, nggak baik!" Lily kemudian membawa bungkusan snack itu pergi entah kemana.

Karena makanannya diambil oleh sang nenek, tentu saja Ruby jadi menangis kencang. Rani akhirnya menggendong Ruby dan sibuk menenangkan gadis kecil itu.

Sejujurnya, Rani merasa jengkel. Padahal biasanya dia sering melihat Lily membelikan eksrim untuk Ruby, tapi kenapa sekarang tidak boleh? Kadang-kadang ia merasa mertuanya itu sangat plin-plan.

"Kita minum susu saja yuk Ruby," ajak Rani membujuk Ruby yang masih menangis.

Malamnya, Rani duduk sendirian di pinggir ranjangnya.

Ruby sudah tidur, dan sudah Rani pindahkan ke kamarnya sendiri. Ruby memang sudah dilatih untuk tidur sendiri sejak bayi, hanya saja pintu kamar Ruby terhubung dengan kamar yang ditempati Rani. Jadi jika sewaktu-waktu Ruby menangis, Rani bisa menanganinya dengan cepat.

Rani memandangi lingerie merah di tangannya dengan seksama. Harus diapakan benda ini? Begitu pikirnya. Rani kemudian berdiri dari tempat tidur dan mulai membuka baju. Ia ingin melihat seperti apa lingerie ini saat dipakai.

"Astaga.." Rani ternganga. Ia bisa melihat kulitnya terbuka dimana-mana. "Ini sih sama aja pakai pakaian dalam.." gumam Rani sembari mematut-matut dirinya di depan cermin.

Sedang asyik-asyiknya bercermin, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Rani reflek menutup badannya menggunakan tangan. Meski percuma karena pakaian itu mengekspos seluruh tubuhnya.

Rani memicingkan mata saat melihat sosok pria masuk ke dalam kamar dengan tubuh sempoyongan. Lampu utama di kamar itu memang sudah ia matikan dan diganti dengan lampu tidur yang remang-remang, jadi Rani tak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang.

"Kak Juna?"

Sosok itu semakin mendekat, dan benar saja, tampak Juna berdiri di depan Rani dengan wajah teler.

"Kak Juna mabuk?"

Pria itu tak menjawab pertanyaan Rani. Dengan langkah terseok, Juna malah semakin mendekati Rani. Rani langsung beringsut mundur. Bau alkohol menguar dari tubuh Juna saat lelaki itu semakin mendekatinya.

"Kak? Kamu mau ngapain?" tanya Rani was-was. Dia sering mendengar kalau orang mabuk sangat berbahaya karena mereka sering melakukan sesuatu di luar kesadaran mereka. Apalagi saat ini yang mabuk adalah Juna, lelaki yang sangat membenci Rani.

Saat langkah Juna semakin dekat, Rani memejamkan matanya sembari mengangkat kedua tangan di depan wajah sebagai upaya perlindungan diri. Tapi, tanpa disangka, lelaki itu malah memeluk Rani dengan erat.

Rani jelas kaget bukan main. Ia berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Juna malah semakin erat.

"Kak!" Rani berusaha memberontak. "Lepasin aku!"

"Mmhh.." Juna tidak bergeming. "Aku mencintai kamu.."

Sontak Rani langsung terdiam mendengar ucapan Juna. Rani jelas tau kalau lelaki itu sedang meracau. Tapi, benarkah lelaki itu cinta padanya?

"Ratih.." desis Juna.

Mendengar nama itu disebut, Rani langsung mengasihani dirinya sendiri. Apa yang kamu harapkan Rani? Ingat, dia itu Juna! Lelaki yang menodongkan pistol ke kepalamu!

"Lepasin aku Kak! Aku bukan Kak Ratih! Aku Rani!"

Juna langsung mengangkat kepalanya dari pundak Rani dan memandang wajah istrinya itu lekat-lekat. "Kenapa kamu sebut nama perempuan itu sayang? Kita sedang berduaan begini, jangan sebut nama wanita lain!"

Juna menangkup kedua pipi Rani dengan telapak tangannya. "Kamu cantik sekali malam ini sayang, aku makin cinta sama kamu."

Astaga, sepertinya Juna benar-benar mabuk berat sampai tidak bisa membedakan Rani dan Ratih.

"Kak!" Rani mencoba mendorong lelaki itu. "Sadar Kak! Aku ini Rani!"

Sayangnya, tubuh Rani yang kurus sama sekali bukan tandingan tubuh kekar Juna. Saat Rani mendorong tubuh Juna, malah dirinya yang terdorong ke belakang. Pada akhirnya, tubuh Rani terhempas ke atas kasur.

Bukannya berhenti, Juna malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Rani. Lelaki itu duduk di atas Rani, dan dengan gerakan agresif, ia mulai membuka kemejanya sendiri. Rani terbelalak, dia tahu apa yang akan Juna lakukan selanjutnya. Bayangan saat dirinya hampir dilecehkan oleh supir truk membuatnya ketakutan.

"Kak! Sadarlah Kak! Aku bukan Kak Ratih! Aku ini Rani, perempuan yang paling kamu benci!"

Juna seperti sedang kesetanan, karena dirinya tidak menggubris ucapan Rani sama sekali. Yang ada, lelaki itu malah mencoba membuka paksa pakaian Rani.

"Kak!" Rani berusaha mempertahankan lingerie yang ia pakai. "Jangan! Aku ini Rani! Rani!"

Melihat penolakan Rani, Juna malah bertindak semakin kasar. Dengan cepat, lelaki itu langsung menempelkan bibirnya pada bibir Rani. Rani tak sempat menghindar, tapi ia masih berusaha melepaskan diri.

"Kak! Mmpphh!" Rani kewalahan bicara karena ciuman Juna yang semakin dalam. Tidak berhenti sampai di sana, tangan Juna sudah berselancar pada pakaian Rani, mulai menyingkap rok Rani ke atas.

"Aw!" Dengan kuat, Rani menggigit bibir Juna sampai lelaki itu melepaskan ciuman mereka. Tidak membuang kesempatan, Rani langsung mendorong Juna hingga lelaki itu jatuh dari kasur. Dengan sisa kekuatannya, Rani berlari sekuat tenaga keluar kamar.

Rani berhenti berlari saat kakinya tersandung di tangga. Air mata sudah mengalir deras di kedua pipinya. Ia merasa tubuhnya kotor karena perlakuan keji yang dilakukan Juna kepadanya. Meski mereka memang sudah menikah, Rani sama sekali tidak pernah mengharapkan semua ini.

"Kenapa aku diperlakukan begini.." Rani meremas pakaiannya yang sudah sobek di sana-sini. "Kenapa? Padahal aku hanya bertahan hidup. Apa aku salah karena masih hidup padahal kakakku sudah meninggal? Apa semuanya akan lebih baik kalau aku juga ikut mati?"

Rani berusaha menahan tangisannya agar tidak pecah dan bisa mengganggu para penghuni rumah yang sedang tidur. Dengan kuat, Rani menggigit lengannya sendiri dan membiarkan air matanya terus mengalir. Rasa sedih dan sakit hatinya sudah terlalu dalam, dan tidak ada yang tahu tangisan Rani malam itu.

1
Nilovar Beik
ada rahasia apa sebenarnya
Dev..
bikin gregetan ceritanya thor 😁
kurnia rahayu
👍👍👍💪💪💪♥️♥️♥️
Moreno
bukankah Rani ingin kabur? kesempatan donk
𝗔𝗧𝘂𝗮 𝗞𝗼𝗲𝗶𝗻𝗮𝘁𝗮
...
Omah Tien
malas baca nya cewe nya g ada pendirian
Omah Tien
tigal kan aja gapain susah2 jd pebantu
Omah Tien
lari aja gapein mau di siksa
komalia komalia
kurang greget karena yang jahat nya engga ada balasan
komalia komalia
kurang greget karena yang jahat nya engga ada balasan
komalia komalia
aah kurang seru si bian nya engga tau lagi gimana ceeita nya terus si anak dan istri simpanna pun belum terbalas kan dan harta nya belum di rebut lagi sama si juna
komalia komalia
kurang memuas kan aah kurang greget si wanita simpanan nya ko bemu dapat karma nya
komalia komalia
kira kira warisan nya kembali lagi engga ya
komalia komalia
Engga di ceritain mp nya kan pingin tau si rani kan masih gadis jadi si juna biar ngerasain dan perbedaan sama si rati yang bukan lagi gadis
komalia komalia
bukan nya juna tidur sekamar tapi di sopa ya
komalia komalia
aaah kasihan bian
komalia komalia
lemah kamu rani
komalia komalia
ternyata musuh dalam selimut
komalia komalia
semoga warisan nya jatoh ke tangan si juna lagi
komalia komalia
beruntung kamu juna si rani Istri yang kamu hina kamu siksa lahir batin mau merawat mu udah gitu fitnahan yang bertubi tubi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!