Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Kamu beneran tidak bisa menjadikan Mutiara menantu Mama?"
Widya menatap Arjuna yang sibuk dengan berkas-berkas didepannya. Ia datang setelah Arjuna menelepon jika dia tidak bisa lagi melakukan apapun untuk mendapatkan Mutiara.
"Mama sudah lihat kan foto-foto itu?" bukannya menjawab, Arjuna kembali mengingatkan Widya tentang foto-foto Rayden dan Mutiara.
"Papa dan mama kan sudah bilang mereka itu saudaraan" ujar Widya menolak hubungan kedua nya. Awalnya Ia setuju saja jika Arjuna menjalin hubungan dengan Savira anak Dwi dan Irena. Namun saat Ia mengetahui jika Savira tidak mau hubungan asmara keduanya berlanjut ke jenjang lebih jauh disitulah Widya kurang menyukai Savira.
"Iya tapi tidak menghalangi Rayden untuk menikahi Mutiara. Apalagi kejadian tadi, Arjuna sama sekali tidak punya harapan jika melihat bagaimana sikap Rayden pada Mutiara.
"Kenapa sih Rayden tidak mencari gadis lain saja" Widya merasa jika pria lain yang menyukai Mutiara, putranya masih bisa memperjuangkan Mutiara untuk menjadi miliknya namun tidak dengan Rayden. Dari sisi mana pun Rayden lebih unggul dibanding Arjuna dan tentu saja Arjuna sangat segan jika dihadapkan dengan Rayden.
Arjuna yang mendengar keluhan Widya mengernyitkan keningnya. "Kalau pun Rayden bisa mencari gadis lain, belum tentu Mutiara mau sama Arjuna" ujar Arjuna sambil menggelengkan kepalanya.
"Pesimis sekali sih jadi orang" Widya mencibir ke arah Arjuna.
"Bukan pesimis, Ma! tapi sadar diri" Arjuna melepas berkas ditangannya ingin berbicara serius kepada Widya. Disandarkan tubuhnya ke kursi, Ia melihat balik Widya yang sedari tadi tidak berhenti membahas tentang Mutiara.
Arjuna mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan. "Mama sendiri lihat kan bagaimana respon Mutiara saat perkenalan itu" Ia mengingatkan Widya jika Mutiara hanya ingin hubungan mereka hanya sebatas pertemanan.
"Iya! Mama lihat tapi itu karena kalian belum saling mengenal" Widya memberi sanggahan atas penolakan Mutiara.
Arjuna berpikir sesaat, dia ingin jujur pada Widya agar tidak lagi terlalu membicarakan Mutiara "Dia juga tahu hubungan Arjuna dan Savira"
"Kamu memberitahunya?" Widya membelalakkan matanya. Ia benar-benar merasa gemas pada putranya itu.
"Tentu tidak Ma. Katanya dia melihat Arjuna menatap Savira saat datang pertama kali." ujar Arjuna pelan sambil tersenyum kaku.
"Kamu sih matanya jelalatan" cibir Widya pada Arjuna
"Namanya juga mantan" balas Arjuna sambil terkekeh. Dia sungguh merasa malu saat mengatakan hal itu pada Widya.
"Harusnya kamu itu bisa melupakannya kalau dia itu type cewek yang tidak setia. Masa masih pacaran sama kamu eh, malah jalan sama cowok lain. Lupakanlah cewek macam itu." sembur Widya seraya memberi nasehat pada putranya. Ia sebagai seorang wanita yang telah melahirkan dan membesarkan putra semata wayangnya itu ingin wanita terbaik sebagai pendamping seumur hidup Arjuna.
"Tidak semudah itu lah, Ma" Arjuna menghela nafasnya. Selama sebulan ini Ia berusaha mengenal dan dekat dengan wanita lain namun sangat susah menyingkirkan bayang Savira. Tapi jika boleh jujur saat Ia berbicara lebih dekat dan beberapa kali bertemu Mutiara, bayang Savira perlahan hilang.
"Terserah kamu lah. Tapi besok temani Mama ke butik Mutiara" ajak Widya pada Arjuna yang mulai membuka kembali berkas didepannya.
"Mau ngapain sih kesana" Arjuna kembali mengalihkan atensinya pada Widya seraya mengerutkan keningnya.
"Mau berenang, mau cari baju lah. Sebentar lagi hari ulang tahun perusahaan keluarga Moviek. Mama harus bersiap-siap"
"Padahal baju dalam lemari Mama kan masih banyak" keluh Arjuna setelah mengingat jika Widya memiliki stok baju yang banyak dilemari.
"Beda sayang" ucap Widya sembari tersenyum mengejek "Udah jangan mengeluh, papa kamu saja yang Mama pake uangnya tidak mengeluh kok"
.
.
Sepeninggal Rayden, Mutiara kembali ke aktivitasnya seperti biasa. Ia berusaha untuk fokus menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Hingga Salana masuk dengan terburu bahkan Ia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa kamu sudah melihat berita?" tanya Salana saat telah duduk di depan Mutiara. Sesaat kemudian Salana menyadari sesuatu yang salah saat tidak ada respon dari Mutiara. Ia mendongakkan wajahnya dan melihat tatapan dingin dari Mutiara.
"Sepertinya aku terlalu membebaskanmu akhir-akhir ini"
Salana tidak bisa membalas perkataan Mutiara, Ia hanya diam sembari tersenyum kikuk namun tidak lama.
"Sorry tapi ini berita yang sangat penting" Salana kembali ke mode sebelumnya
Mutiara hanya bisa menghela napasnya.Ia sudah terbiasa menghadapi sikap Salana yang terkadang terlalu aktif. Tapi sisi itulah yang membuatnya marasa terbantu karena melengkapi sisi dirinya yang kaku. "Tentang apa?"
"Mana ponselmu?" tanya Salana mengulurkan tangannya.
Mutiara hanya melirik tasnya. Mengerti dengan kode yang diberikan Mutiara, dengan gerakan cepat Salana membuka kemudian mengambil ponsel serta memberikannya pada Mutiara untuk membuka ponsel yang terkunci lalu menyerahkannya kembali pada Salana.
"Lihat ini" Salana memperlihatkan berita tentang Rayden di layar ponselnya.
Netra Mutiara mengarah pada layar ponselnya. Meskipun tidak terlihat jelas namun Salana tahu Mutiara pasti terkejut dengan pemberitaan yang dimuat pada salah satu portal berita.
"Mut , kau baik-baik saja kan?" Mutiara hanya menganggukan kepalanya tanpa melihat Salana.
"Biarkan saja" ucap Mutiara kemudian mengalihkan kembali netranya pada tab dan melanjutkan pekerjaannya.
Salana terkejut mendapati respon yang Mutiara berikan ternyata diluar prediksinya. Ia menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan keterkejutan itu. "Kamu serius?"
Mutiara menatap Salana seraya mengangguk.
"Tidak ku duga Tuan Rayden Moviek seperti itu" Salana memberenggut kesal kepada Rayden karena berita itu.
"Ara!" Salana mencodongkan tubuhnya ke depan ingin melihat dengan jelas reaksi Mutiara.
"Bagaimana perasaanmu pada tuan Rayden?" Salana menatap Mutiara tanpa berkedip. Ia benar-benar penasaran pada jawaban dan reaksi yang akan diberikan gadis itu.
"Entahlah" jawab Mutiara singkat. Dia selama ini hanya menganggap Rayden sebatas seorang kakak.
"Saat kamu melihat berita itu, kamu tidak merasa marah atau emosi lainnya" tanya Salana lagi.
"Aku tidak berhak merasakannya" ucap Mutiara cuek.
"Ara... "
"Kembalilah bekerja! " Sela Mutiara tegas pada Salana. Ia merasa tidak nyaman dengan semua pertanyaan yang di ajukan. Dia benar-benar ingin sendiri.
Salana mencebikkan bibir bawahnya kesal karena tidak berhasil mengorek jawaban Mutiara seperti yang diinginkannya. Ia ingin Mutiara mengakui jika dirinya memiliki perasaan lebih pada Rayden, setidaknya merasakan cemburu saat melihat berita tentang pria itu.
Ada kekhawatiran dalam diri Salana jika Mutiara tetap menutup hatinya pada lelaki yang menyukainya. Benar, selama ini tidak ada lelaki yang bisa menghindari pesona dari seorang Mutiara.
Seperti namanya, Mutiara adalah seorang gadis cantik dengan pembawaan yang lembut namun entah mengapa setiap lelaki yang telah berbicara berdua dengannya selalu mundur teratur.
Salana yang baru berada diujung tangga terkejut melihat Mutiara keluar tergesa dari ruangannya.
"Mut, Ada apa?"
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/