Bagaimana bisa, Lucas yang memiliki fobia haphephobia bisa meniduri seorang wanita yang tidak dia kenal?
yuk simak kisahnya, seorang dokter yang memiliki fobia langka, di mana dia merasa takut untuk bersentuhan secara skin to skin dengan orang lain, tetapi dia adalah seorang dokter hebat dan juga pemimpin rumah sakit yang terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rira Syaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Siapa pria itu?
Jam menunjukkan pukul lima pagi. Lucas bergegas menuju ke apartemen Nia, di saat mendapatkan kabar jika istrinya telah kembali. Jangan di tanya, seberapa marah Lucas saat ini, karena kabar yang dia dapatkan yaitu jika Nia bepergian dengan seorang pria.
Tapi, siapa pria itu?
sayangnya Lucas tidak mendapatkan informasi apa pun tentang pria yang bersama dengan Nia.
Tak sulit bagi Lucas untuk mengetahui berapa nomor password pintu apartemen Nia. Pria itu masuk ke dalam apartemen, di saat semua lampu terlihat padam.
Langkah kaki Lucas menuju ke kamar Nia, membuka pintu kamar itu secara perlahan, berharap jika dia akan memergoki Nia bersama seorang pria.
Ceklek ....
Mata Lucas membulat sempurna, di saat melihat Nia sedang ingin memakai pakaiannya.
Mendengar suara pintu kamar yang terbuka, Nia refleks menoleh ke arah sumber suara.
"Aaaa .... Dasar pria mesum!" pekik Nia dan melempari Lucas dengan benda yang ada di sekitarnya.
sraapp ...
Lucas terdiam, di saat sebuah benda berbentuk kacamata besar, sangkut di kepalanya.
clup ... Clup ...
Nia mengerjapkan matanya lucu, melihat jika branya nyangkut di kepala Lucas.
"Duh, kenapa harus bra sih? Kenapa bukan sepatu aja yang kena kepalanya!" batin Nia menggerutu malu.
Lucas memejamkan matanya, tangannya terkepal menahan emosi yang ingin mencuat.
"Nga-ngapain kamu di sini?" tanya Nia gugup, sambil menyelimuti tubuh telanjangnya dengan selimut.
Lucas mengangkat tangannya, menyingkirkan benda yang memiliki tugas untuk menampung gunung kembar. Pria itu membuang asal benda tersebut, matanya menatap tajam ke arah Nia, membuat wanita itu menelan ludahnya dengan kasar.
"Ma-mau apa kamu?" tanya Nia, saat Lucas sudah berdiri tepat di hadapannya.
Melihat penampilan Nia saat ini, membuat mata Lucas memandang ke seluruh tubuh Nia yang terbuka.
Ya, satu hal yang Lucas cari, yaitu tanda merah yang mengotori kulit bersih wanita itu. tapi, Lucas tak menemukan satu tanda pun. Bahkan, bulu kuduk Lucas sampai merinding, di saat melihat betapa bersih dan mulusnya kulit tubuh Nia.
"Berpakaianlah, baru kita bicara," ucap Lucas dan berbalik meninggalkan Nia yang sudah menyelimuti tubuhnya dengan handuk.
Lucas melangkahkan kakinya keluar dari kamar Nia.
"Dasar pria brengsek," maki Nia kesal.
Di luar kamar.
Lucas menghentikan langkah kakinya, tangan kanannya terangkat untuk menyentuh dadanya. Lebih tepatnya meraba detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Kenapa begini?" batin Lucas.
Seerrr ...
Tiba-tiba bulu kuduk Lucas pun berdiri, di saat sepotong ingatan pada malam panas itu, terlintas di ingatannya.
Lucas memejamkan matanya, tangannya terkepal menahan rasa kesal yang langsung muncul dalam hatinya. Kenapa dia bisa sampai mengingat kejadian di malam itu?
"Akhh ...." geram Lucas dan kembali melangkahkan kakinya menuju sofa.
Lucas mengatur napasnya, berharap semua ingatan yang ada di dalam kepalanya saat ini, segera hilang.
"Sial!" maki Lucas pelan.
Kepala Lucas sudah tersandar di sofa, dengan sedikit mendongak ke atas. Tangan kanannya membentuk sebuah kepalan dan memukul-mukul pelan keningnya, sedangkan tangan kirinya terkepal erat, bahkan urat-urat tangan pria itu pun sampai timbul ke permukaan kulit.
Ingin melupakan apa yang terjadi, tetapi ingatan Lucas malah melakukan hal yang sebaliknya. Semakin ingin di lupakan, maka semakin terlihat jelas lekuk tubuh Nia yang indah.
Cekleek ...
Lucas mendengar jelas suara pintu kamar Nia yang terbuka. Bahkan telinga Lucas masih menangkap derap langkah yang mendekat ke arahnya.
"Kalau kamu ngantuk, kenapa malah ke sini? Kenapa gak tidur aja di hotel?" ucap Nia sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
Lucas menghentikan pergerakan tangannya yang memukul kening. Perlahan, dia membuka matanya dan menatap Nia dengan tajam.
"Katakan, ke mana saja kamu pergi?" tanya Lucas tanpa basa basi.
Nia mengerjapkan matanya sekali. Melihat wajah Lucas yang tidak terlihat ramah dan sedikit menakutkan.
"Kenapa dia peduli?" batin Nia.
"Kenapa diam? Apa kamu tidak punya mulut untuk menjawab?" tanya Lucas lagi sambil menggerakkan giginya.
Nia berdehem pelan, meredakan rasa takut dan membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Apa pedulimu? Lagi pula, bukankah kamu sibuk dengan tugasmu menjadi seorang dokter? Sehingga meninggalkan aku di hari pertama kita menjadi pengantin baru. Jadi, tidak ada salahnya dong jika aku memilih untuk berjalan-jalan sendiri," jawab Nia tanpa rasa takut.
Lucas tersenyum miring, menertawakan kebodohan Nia yang tidak mengenal siapa dirinya.
"Setidaknya aku tidak pergi dengan seseorang yang bukan muhrimku, di hari pertama kita menjadi pengantin baru," tegas Lucas.
Nia mengernyitkan keningnya. "Apa maksud kamu?"
"Katakan, siapa pria itu? Bagaimana bisa kamu pergi dengan lelaki lain, tanpa izin dariku? Apa kamu memang serendah itu?"
semakin seru, mak crazy up dong