WARNING!!
Segala bentuk penjiplakan bisa di laporkan yaaa, bijaklah dalam berkarya..
Berawal dari Agam, seorang murid baru yang mendapat tantangan dari Maxim untuk masuk ke dalam gudang angker di sebuah sekolah, menyebabkannya bertemu dengan hantu Kuntilanak Laki-laki dengan segala praharanya.
Hingga pada akhirnya masalah pelik mengikutinya, membuat Agam mau tak mau harus membantu Kuntilanak tersebut dalam mengungkap siapa dalang pembunuhannya.
Kasus 16 tahun lalu yang begitu kelam pun terbuka, dengan seorang tersangka yang harus di kuak oleh Agam dan teman-teman.
Namun sekali lagi, kepolisian, detektif, jurnalis dan keluarga dari pawang sekolah, harus mati karena berusaha ikut campur. Korban siswi sesuai dengan inisial nama de
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Ingat
Aku terdiam bukan karena tak dapat berbicara, namun aku kesulitan untuk dapat memilah kalimat mana lagi yang harus ku gunakan.
Aku bukanlah orang yang pandai dalam menghilangkan kesedihan dan tangisan seseorang, apalagi harus meredakan tangis hantu. Kini aku mematung menghadap ke pagar yang terbuat dari batako yang tersusun setinggi telingaku.
Penglihatanku tertuju pada seorang hantu albino berkulit pucat yang masih berdiri sambil terus menutup kedua matanya. Mungkin di pandangan orang-orang yang lewat, aku adalah orang gila yang menatap sedih ke arah tembok dan tiang listrik. Tapi aku tak pernah perduli pada pemikiran orang-orang.
Ku biarkan Kun menangis sesegukkan. Tak tahu kenapa, tapi hatiku terasa tercekat melihatnya. Apalagi dalam kondisi perasaanku yang tak menentu ini. Jika aku tak kasat mata sepertinya, aku pun akan melakukan hal yang sama dengannya. Bahkan aku akan menangis sambil berteriak kencang, biarlah kerongkonganku menjadi perih, seperti meniru rasa luka yang ada di dalam hatiku ini.
Cukup lama aku berdebat dengan perasaanku sendiri. Berpikir kenapa ia terlihat sedih setelah tadi menghilang bak lenyap di telan bumi.
Apakah ia sedih karena aku sedih?
Ku rasa tidak! Mungkin untuk perasaan marah, manusia akan mampu saling berbagi, tapi untuk perasaan sedih.. butuh keperdulian yang tinggi, dan sikap saling merasa kepedihan yang sama, agar mampu memahami. Dan ikut merasakan sedih.
Lalu kenapa dia menangis??
"Kun.." Tegurku lirih sambil menghampiri. Tak ku dengar ia menyahut, ia masih nyaman pada posisinya tadi, bahkan hingga ku dekati.
"Kenapa lu nangis?" tanyaku dengan suara yang berat. Betapa tidak, aku pun sedang berusaha menahan air mata yang sejak tadi meminta untuk di keluarkan. Bahkan tubuhku masih saja bergetar.
"Huuu.. huuu.." Suara Kun kian menjadi. Sumpah yaa, aku jadi merinding namun di satu sisi aku merasa perduli. Bagaimana sih menjelaskan perasaanku, bahkan aku tak punya kalimat untuk menceritakan isi hatiku kini.
"Kun..." Sapa ku lagi. Menatapnya penuh khawatir, meskipun sekarang aku pun dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Ia pun mulai mengangkat kepalanya, dan melepaskan kedua tangan jauh dari matanya. Ia menatapku ragu. Kenapa tatapan itu??
Seperti penuh harap tapi tak begitu yakin padaku.
"Kenapa?" Tanyaku lagi sambil menatap matanya yang kian memerah. Dan setiap sekontak dengannya dalam kondisi ini, aku benar-benar mau menangis. Tak tahu kenapa. Namun kini ia terlihat panik ketika ku dekati.
Ia bahkan tak terlihat tertarik dengan bunga melati yang ada di tanganku. Padahal inilah makanan kesukaannya. Ia tak pernah sekalipun menolak benda ini. Tapi kini, ia seolah tak menganggap benda itu ada.
"Menjauhlah dari saya.. saya ingin sendiri!" Pekiknya sambil menatapku. Aku terdiam lagi mengernyit. Tak mengerti kenapa dia sampai berteriak dan berbicara seperti itu.
"Kenapa sih? Ada apa?" Ucapku berusaha bertanya, karena ku harap ia akan memberikanku jawabannya.
"Saya bilang pergi!! Saya tidak mau ada siapa-siapa.. Saya mau sendiri!!" Serunya lagi-lagi memekik panik. Ia menjadi seperti tak siap untuk berada di dekatku lagi.
Kenapa Kun begitu.. Bahkan dalam situasi seperti ini, aku benar-benar tak mau sendiri. Aku ingin di temani. Aku ingin bercerita pada seseorang. Aku ingin dia bersamaku. Mendengarkan keluh kesah dan ceritaku. Seperti sebelumnya. Layaknya saudara kandung.
Aku tak siap jika harus sendiri. Aku bingung, kemana lagi aku ingin berbagi beban dan penderitaan yang baru saja ku alami. Aku tak mungkin menceritakan ini pada orang lain, karena aku tak pernah mempercayai siapa pun kecuali keluargaku. Namun dalam kondisi ini, tidaklah mungkin aku harus mengatakannya pada ibu.
Aku tak ingin ibu di lukai! Aku pun menggeleng.
"Gak.. gue gak bakal ninggalin lu sendiri!" Ucapku dengan wajah serius.
"Saya butuh waktu sendiri! Pergi!!" Aku terdiam sesaat. Ia benar-benar sungguh mengusirku sekarang. Kakinya mundur beberapa langkah kebelakang. Maksudku ia melayang menjauh.
"Kita berdua!! Butuh waktu sendiri! Dan pergi itu bukan jalan yang terbaik!" Balasku lagi.
"Gue.. gak bakalan pergi dari sini!!" Tegasku hingga membuat raut wajah Kun berubah drastis.
Ia terpaku dengan kedua tangan yang ia letakkan di samping tubuhnya. Ia membalas tatapanku dengan sadis, spontan saja.. aku merasa seperti di sirami air es di belakang punggungku, dari kepala sampai leher.
Dingin... Lagi-lagi aku merasakan perasaan ini. Seketika tubuhku menggeletak gigil. Aku membelalak ketika merasa tatapan Kun kian berubah. Tatapan itu menembus mataku dan menyayat dadaku.
Tak karuan. Kenapa aku tak merasa sedang bertatapan dengan Kun, namun dengan hantu pada umumnya.
Aku terus menilik. Menatapnya tanpa permisi. Seketika bau busuk tiba-tiba menyengat hidungku, membuatku sampai bersin beberapa kali. Di tambah lagi aku merasakan semua tubuhku mendingin.
Aku pun merunduk sambil menutup hidung, namun dari sudut mataku, aku melihat sesuatu, benda cair yang menetes di atas aspal tak jauh dari posisi Kun berdiri.
Danur?? Air busuk yang keluar dari tubuh orang yang sudah mati. Dari film horor yang pernah ku tonton, itu adalah maknanya.
Dan ketika aku menengadah, ku lihat kulit-kulit mulus nan putih dari Kun mulai terkelupas. Seperti kulit yang melepuh tersiram air mendidih. Danur tadi berasal dari situ.
Aku mengernyit. Ketika seluruh tubuhnya nampak seperti melepuh. Jantungku tercekat-cekat. Kadang terjeda sesaat, lalu berdetak kembali.
Aku terbelalak, menatap Kun yang mulai menelengkan kepalanya ke samping. Bulu kudukku kian berdiri. Dan dadaku terasa panas bak merasakan kejut berkali-kali.
Ia mulai menjulurkan lidahnya, dan mengeluarkan cairan putih kental dari dalam mulutnya, seperti cairan yang keluar dari mulut seseorang yang meninggal karena gantung diri. Cairan tersebut mengalir di pipinya, karena ia terus memiringkan kepalanya.
Matanya membelalak, dengan bola mata yang yang menatap ke atas, hingga membiarkan bagian putih dari matanya mendominasi. Ia tampak seperti sedang tercekik kuat.
Dari salah satu bagian tangannya yang melepuh, aku bisa melihat telapak tangannya teraliri darah segar nan kental. Aku mengernyit dan ketika kedua mataku menatap wajahnya kembali.
Tubuhku terperanjat.
Kretek!!!!
Mataku terbelalak. Kedua alisku terangkat tinggi. Mulutku ternganga. Tubuhku mematung bak mati rasa dan tak dapat di gerakkan sama sekali.
Aku berteriak kencang sekali. Betapa tidak, aku melihat di hadapan mata kepalaku sendiri, kalau leher Kun patah ke sisi samping. Seperti pohon kayu yang ditebang, dan tumbang kesamping, namun masih dalam kondisi tak terlepas dari tangkai utamanya. Bahkan aku mendengar jelas suara patahan tulang lehernya yang berbunyi keras.
Kun menangis sambil menyeringai menatap ketakutanku. Tubuhnya mengelepar bak leher ayam yang sedang di sembelih. Tubuhku getar dan semua pori-pori di tubuhku menyemul. Aku tak bisa menurunkan bulu kudukku yang berdiri meskipun aku telah mengusapnya berkali-kali.
"KIIIIIK!!!!" Pekik Kun hingga membuat gendang telingaku berdengung.
Aku benar-benar takut! Sumpah!! Aku yang tak pernah percaya hantu pun merasakan ketakutan yang luar biasa, hingga ku rasa kerongkongan ini tak dapat berteriak meski aku telah mencobanya. Semua suara dan ketakutanku tertahan di tenggorokkan dan dada.
Aku memejamkan mata dengan erat. Hatiku yang terpaut dengan Al Qur'an pun mulai melantunkan surahnya.
Namun tentu perasaan dan tubuhku tak serta merta kembali normal. Aku merasakan dingin merambat dari ujung jempol kakiku. Begitu juga dengan lenganku, ia merambat dari ujung siku hingga membuat sekujur tubuhku dingin tak menentu. Padahal siang hari ini cuaca sedang panas-panasnya.
Mulutku terus berkomat-kamit, dan mataku masih tertutup. Lama-kelamaan aku merasa kalau tubuhku normal kembali. Aku pun segera membuka kedua mataku, dan melihat benda mengerikan di hadapanku telah lenyap. Hilang dan pergi entah kemana.
Langsung saja tubuhku tersungkur. Dan aku tak dapat melihat dan merasakan apa-apa lagi.
Lemas.. Kakiku lemas dan masih gemetaran sekali. Tulang-tulangku terasa menggigil. Aku benar-benar tak tahan lagi. Kepala ku pun terasa begitu berat dan pusing.
Aku merasakan bau tanah basah di antara perbatasan aspal dan tempat pejalan kaki.
Apa aku.... akan mati? Pandanganku... kesadaranku.... perlahan-lahan menghilang dari kendaliku.
"Ada yang pingsan!! Ada yang pingsan!!"
Sayup-sayup mulai ku dengar suara langkah kaki menghampiri. Meski aku terpejam, aku pun merasa tubuhku seperti di papah. Hingga akhirnya, aku tak mengingat apa-apa lagi.
.
.
.
.
Aku mencium bau yang sangat menyengat. Perlahan-lahan aku mulai membuka mata. Menampakkan wajah seseorang yang menatap khawatir ke arahku. Dan lagi... bukankah ini di dalam kamarku?
Tubuku tersentak. Ketika menyadari ayah sedang mengarahkan botol minyak angin ke hidungku. Aku hendak beranjak, namun ia menahan dadaku, seolah memintaku untuk tetap tertidur.
"Jangan langsung bangun Gam.. Nanti vertigo kamu kambuh!" Ucapnya lirih.
Benar-benar ya! Aku berharap untuk tidak melihatnya sementara waktu. Tapi sepertinya karena tubuhku pingsan tak jauh dari toko bunga, tentu saja dia yang akan menemukanku. Dan sudah pasti juga dia yang akan membawaku.
"Ck!" Decakku sambil memalingkan wajahku darinya.
"Kenapa juga sih di tolongin!" Keluhku.
"Kamu ngomong apa sih Gam? Ayah gak akan mungkin biarin kamu terkapar di pinggir jalan kayak gitu." Aku hanya terdiam.
"Untuk apa yang kamu lihat di toko bunga tadi, ayah akan ngasih tahu kamu yang sebenarnya. Kalau-"
"Ayah ngarepin apa sih dari aku?" Ucapku datar, dan aku bisa merasakan kalau barusan ayah terkesiap meskipun aku tak melihatnya.
"Gak semudah itu Agam nerima alasan ayah!"
"Kalau pun ayah berkata benar sekarang, ayah kira Agam bakal percaya?"
"Gak semudah itu yah!!" Sambungku sambil menahan amarah. Aku mengepalkan kedua tanganku dengan erat. Hingga urat-urat tanganku keluar, dan genggamanku penuh getar.
"Kasih Agam waktu, setidaknya pun Agam akan kasih ayah waktu!" Aku menoleh ke arah ayah.
"Agam akan mikir apa yang udah Agam lakukan, dan ayah pikir, apa yang udah ayah lakukan!"
"Kalau Agam udah siap, sudah lebih tenang dan berbicara tanpa amarah, ayo kita sama-sama bicara layaknya dua orang pria dewasa!"
"Tapi bukan sekarang!" Tambahku hingga membuat ayah terdiam.
"Gam, ayah mohon agar kamu denger dulu penjelasan ayah."
"Yah.. Tolong! Agam udah menekan emosi Agam, dan bertindak dengan sikap yang tenang." Potongku pada ucapan ayah yang tak ingin ku dengarkan.
"Jangan buat seolah-olah yang bersikap kekanak-kanakan itu adalah ayah." Ucapku lagi dengan tubuh yang bergetar hebat. Demi apa pun, aku benar-benar ingin mematahkan batang hidung ayahku sekarang.
"Silahkan keluar!" Singkatku dengan suara berat seraya mengalihkan pandanganku.
Aku dapat mendengar ayah beranjak dari kursi belajarku yang ia gerek ke sisi tempat tidur, agar dapat menjagaku dari dekat.
Klap!
Suara pintu kamarku tertutup. Menandakan kalau ia sudah pergi dariku sekarang.
Aku menghela napas panjang. Napas yang sempat tertahan ketika ayah ada di sisiku. Aku mulai menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. Telapak tangan yang kini ku rasa sedingin salju.
Getar.. Aku menangis penuh getar. Setelah mati-matian ku tahan akhirnya tetap saja ku tumpahkan. Aku bukanlah lelaki cengeng yang mudah menangis, tapi kini ayah benar-benar menyakitiku hingga aku pun menangis.
Aku menangis dalam diam dan tanpa suara, meski air mata telah membanjiri wajahku sepenuhnya. Demi apa pun ini, tapi aku rasa sangat menyulitkan. Bagaimana kalau sampai ibu tahu? Ayah telah mengkhianatinya. Bagaimana kalau aku sampai kehilangan ayah, dan ayah lebih memilih hidup bersama keluarga barunya?
Aku tak siap! Membayangkannya saja membuat aku tersesak.
Aku butuh seseorang sekarang. Aku ingin bicara, setidaknya bicara apa pun meskipun tak ada hubungannya dengan keluargaku.
Aku menyeka kasar air yang mengalir di wajahku. Menatap ke arah meja belajarku. Ku lihat, ada serumpun bunga melati yang terangkai di sana. Bunga yang tadi ku beli??? Ternyata ayah membawanya juga.
Bunga yang ku beli untuk makanan Kun hari ini. Namun ia juga malah meninggalkanku ketika aku membutuhkannya.
Aku kembali menutup kedua mataku. Semilir angin mengalir menyapu tubuhku. Diiringi dengan wewangian melati bersamanya. Aku pun membuka mata, menatap tirai yang melayang meski tak ada anginnya.
"Kun?" Sapaku sambil beranjak duduk di atas tempat tidurku.
Perlahan mulai ku lihat asap tipis kini menebal. Datangnya dari sudut bawah. Sekecil asap puntung rokok, namun semakin ke atas asapnya semakin terbentuk dan membesar.
Sayup-sayup ku lihat Kun menunduk. Ia datang, namun dengan kondisi tubuh yang lebih baik dari pada sebelumnya.
"Kun??" Ucapku lagi dengan semangat. Setidaknya aku tetap percaya, meskipun ia pergi, ia tetap akan kembali. Ia kembali menunjukkan wajah yang meragu padaku.
"Kamu... marah tidak pada saya?" Gumamnya lirih sambil terus menunduk. Aku menatap lurus ke arahnya. Ku desahkan napas di udara, dan ku lengkungkan sebuah senyuman untuknya.
"Sedikit." Singkatku hingga membuatnya menengadah.
"Gue bakal marah, kalau seandainya lu gak kembali." Sambungku lagi. Ia masih saja bungkam.
"Terlebih lu datang dengan kondisi tubuh yang biasa gue liat. Gak nyeremin lagi." Ia langsung tersentak mendengarnya.
"Bukan maksud saya menakutimu. Tapi.. perasaan saya terusik." Ucapnya cepat dengan tatapan ragu dan khawatir. Nampak jelas dari kedua bola matanya, bahwa perkataannya barusan itu benar-benar tulus.
"Kenapa?" Tanyaku, dan lagi-lagi ia terdiam.
"Karena... setiap kami merasa kecewa, sedih, marah, atau perasaan yang mengguncang, kami akan berubah menjadi sosok dalam keadaan terakhir kali kami mati!" Aku terbelalak mendengarnya.
Jadi.. kondisi tubuh mengerikan yang ku lihat tadi adalah....
Kondisi tubuh saat Kun terakhir kali mati terbunuh?
Kenapa sampai seperti itu? Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi seperti itu?
Apa yang telah membuatnya marah? Apa yang telah membuatnya sedih.. Dan apa, yang telah membuat perasaannya terusik?
Bukankah tadi itu adalah masalah kehidupanku? Apa mungkin dia juga sedih karena itu?
Tapi entah kenapa, aku merasa alasannya bukan itu. Bukan itu yang membuatnya menjadi sedih, sampai-sampai berubah menjadi bentuk mengerikan seperti itu di hadapanku.
Ini pasti adalah masalahnya sendiri. Ini pasti adalah kesedihannya sendiri. Apakah ini semua, ada hubungannya dengan selingkuhan ayah tadi?
Aku membuyarkan lamunanku. Ku tatap lekat-lekat kedua mata Kun yang kini membalas tatapanku.
"Emangnya... apa yang bikin lu sedih? Dan apa yang bikin perasaan lu terusik?" Tanyaku getir.
Ia merapatkan kedua mulutnya. Mengeraskan rahangnya dan menunduk sesaat lalu kembali menatapku.
"Saya sudah ingat.. Kehidupan saya, dan apa yang menyebabkan saya mati!"
.
.
.
.
Bersambung...
membaca nya, berasa aku jga trbawa dalam cerita nya.
Masya Alloh author nya pinter bgt buat novel yg bukan cma hiburan, tp banyak jg ilmu" agama nya, smpai" aku pn bljar keseharian mnurut sunah rosul, sperti ritual sblum tidur mnurut agama Islam. mksih bgt kakak author buat novel nya.🥰
coba kk Rima lanjutin novel kun lg ya...smpe agam nikah sm dara...khihihi...pasti seruuu