Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.
Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.
Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.
Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.
Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.
Ikuti kisahnya sampai akhir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Clue
"Ada banyak ciri orang selingkuh, Sya. Tinggal lihat tingkatannya aja, itu perselingkuhan tipe ringan atau berat," kata Kak Andra.
"Memangnya selingkuh ada tingkatannya seperti itu? Yang namanya perselingkuhan itu sama ajalah, Kak, yang artinya mendua," timpalku.
Mungkin malaikat sedang mengutik feeling suamiku. Terbukti, tiba-tiba dia mengirimkan pesan dan bertanya, "sedang apa? Sibuk?"
Sebenarnya, iya, aku memang sibuk. Sibuk memikirkan sekaligus menggunjingnya secara terselubung di depan Kak Andra.
Belum sempat kubalas pesan itu, Mas Rezky mengirimkan pesan lagi. "Bisa kita bicara? Kamu di rumah, kan? Bisa kita bertemu sekarang?"
"Apa?!" Pekikku membuat beberapa pengunjung toko, karyawan lain, dan Kak Andra sontak menatapku dengan muka tegang mereka.
"Ada apa, Sya? Apa yang terjadi?" Tanya Kak Andra berbisik kepadaku.
Kugertakan gigi-gigiku sampai terasa ngilu. Antara malu menjadi perhatian pengunjung dan cemas karena Mas Rezky meminta bertemu sekarang. Semua rasa bercampur menjadi satu yang menimbulkan perasaan gusar dan membuat tubuhku gemetar.
"Kak, suamiku minta bertemu sekarang. Bagaimana ini?" Tanyaku pada Kak Andra. Meminta pendapatnya karena jujur, aku sudah terlampau cemas.
"Memangnya kenapa? Suruh ke sinilah," saran Kak Andra mudah. Itu karena dia tidak tahu jika aku masih menyembunyikan soal pekerjaanku.
"Bukan, masalahnya aku belum memberitahunya jika aku bekerja. Dia tidak pernah mengizinkanku bekerja," tuturku secara jujur.
"Hah? Lalu, dia akan pulang ke rumahmu? Atau mau janjian ketemu? Ketemunya nanti, kan? Atau gimana sih, aku gak paham," sama sepertiku yang dibuat bingung, apalagi Kak Andra.
"Aku ke rumahmu sekarang, kita akan bicara penting," pesan singkat yang dikirim dari Mas Rezky berhasil membuat jantungku berpacu kencang.
Aduh, nggak keburu kalau sekarang. Aku dibuat sangat cemas dengan situasi ini.
"Tolong, antarkan aku pulang sekarang juga, Kak. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang," ujarku seraya melepas celemek, sarung tangan, dan topi kokiku. Kutarik tangan Kak Andra tanpa memedulikan siapapun yang melihatku terburu-buru seperti orang kesetanan.
"Kamu kenapa? Kenapa buru-buru amat, sih?" Tanya Kak Andra yang malah berjalan cepat, menyalipku.
Dengan gerakan yang gesit, kini dia sudah memarkirkan taksinya dengan sempurna di depan toko. Sedangkan aku, melewati pintu keluar toko kue ini saja belum.
Kulihat Kak Andra malah keluar dari mobil dan kembali menghampiriku, lebih tepatnya membukakan pintu kaca ini untukku.
"Katanya cepat, tapi jalan kamu saja lama banget begitu," protes Kak Andra.
"Aku udah jalan cepatlah ini," tudingku pada kakiku yang memang sedang–berusaha–bergerak secepat kilat. Memang langkahku yang kecil, jangan dibandingkan dengan langkah lebar Kak Andra yang sekali langkah bisa sampai satu kilo meter.
"Kamu dimana? Rumah kok, kosong?" Pesan dari Mas Rezky kembali masuk di ponselku.
"Aduh, Kak. Dia sudah sampai rumah, gak keburu nih. Pasti mama ngasih tahu kalau aku lagi di tempat kerja, deh," cemasku jika tenyata Mas Rezky bertemu mama lebih dulu.
"Stop gigit kuku, Sya. Udah sampai, sana turun. Tuh suamimu lagi celingukan depan pintu!" Kak Andra sudah melihat Mas Rezky yang berjalan mondar-mandir di teras rumah seraya mencoba menelepon seseorang. Dan orang itu adalah aku karena sejak tadi hapeku bergetar.
"Ini, Bang," ujarku seraya menggenggamkan tanganku di atas tangan Kak Andra seperti memberikan uang pas, padahal hanya ada angin belaka. Wkwk.
Baik aku atau Kak Andra sama-sama tersenyum geli. Kalau saja tidak ada suami, pasti kita sudah terbahak-bahak. Di saat genting seperti ini, kita masih sempatnya bercanda membuat drama membuat drama bayar ongkos taksi.
"Kenapa, Mas?" Tanyaku pada pria yang berdiri seraya berkacak pinggang di depanku.
"Kamu sering naik taksu itu?" Tanya Mas Rezky disertai ekspresi wajahnya yang menyimpan curiga, tetapi aku mengalihkan perhatiannya.
"Tidak, juga. Ayo, masuk," ajakku membukakan pintu yang ternyata tidak dikunci.
"Tidak akan lama, aku hanya mau berpamitan aja. Beberapa hari aku akan pergi ke luar kota karena urusan kantor. Selama aku gak ada, kamu jaga diri baik-baik, ya, di sini sampai aku pulang, lalu kita kembali ke rumah. Tidak ada kata nanti lagi, tidak boleh menunda," ucapnya dengan acungan jari telunjuk kanan yang dibawa ke depan wajahku. Dia tidak memberikanku kesempatan untuk menolak.
"Okey?" Tanya dia meminta persetujuan.
Aku mengangguk. "Bagus, aku harap kamu tidak berubah pikiran," ujarnya yang kemudian fokusnya teralihkan pada ponselnya yang berdering dan lagi-lagi tertera nama SAVANA.
Muncul pertanyaan yang tadi sempat hilang, tetapi kian bertambah saat dia memintaku diam sejenak dan dia yang menghindar dariku untuk menjawab telepon itu.
Oh, siapa dia? Savana itu seperti nama seorang wanita.
Selesai dengan teleponnya, dia kembali dan merogoh sesuatu di sakunya. Membuka dompet dan memberikan beberapa lembar uang padaku. Namun, ada sesuatu yang terjatuh.
Semacam pas foto, tetapi posisinya terbalik yang hanya terlihat bagian kertas berwarna putihnya saja.
"Jatuh, Mas," aku mengambilnya dan saat membalik pas foto kecil yang ukuran tidak lebih dari empat kali enam senti meter itu langsung direbutnya.
Aku tersentak, sekilas kulihat foto seorang pria yang tengah membawa bayi dalam gendongannya.
Benarkah jika pria itu adalah dia, itu berarti—? Masih sempat aku mengolah wajah siapa yang ada di foto tadi. Dan, seketika dadaku terasa nyeri jika di dalam pikiranku hanya ada dugaan perselingkuhan.
"Rumah sepi?" Tanya dia yang memperhatikan ke dalam rumah yang sepi dan kosong.
Aku disadarkan dari lamunanku.
"Hum, ada abah di kamar. Nasywa sekolah, Mama berati lagi pergi, mungkin ke pasar," jawabku yang terjeda-jeda karena otakku dipenuhi prasangka.
"Kalau mama ke pasar, kamu habis dari mama? Kok, gak sama mama?" Mungkin Mas Rezky masih penasaran sejak tadi, termasuk dengan taksi—mencurigakan—yang pernah dia lihat sebelumnya.
"Aku habis dari—"
"Kamu gak lagi selingkuh, kan?"
Spontan mataku membulat sempurna dan nyaris keluar dari kelopaknya setelah mendengar pertanyaan itu. Mengapa pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan padanya, malah berbalik kepadaku?
"Hahaha, gak, bercanda kok. Gak mungkin," ujarnya mengacak anak rambutku yang berantakan di sekitar dahi.
Lagi-lagi karena ponselnya itu menyala dan berdering, menunjukkan nama Savana untuk kesekian kalinya. Namun kali ini, Mas Rezky menggeser ikon telepon merah yang berarti menolak panggilan itu.
"Siapa?" Tanyaku lirih.
"Ini? Dia rekan kerjaku, cerewet dia. Udah, ya, aku pergi dulu. Kalau bisa sebelum aku pulang, kamu bisa langsung ke rumah, mama bilang katanya udah kangen," ucap Mas Rezky sekaligus sebagai kalimat perpisahan dan aku tidak menghiraukan.
Yang sedang terpikirkan hanyalah tentang dia–Savana.
Cerewet, itu memberikanku petunjuk jika Savana kuyakini dengan sepenuh hati bahwa dia adalah seorang wanita.