BY : GULOJOWO NOVEL KE-8 😘
BRAAKK!!
Suara pintu yang di dobrak dengan keras membuat seorang laki-laki yang berprofesi sebagai guru BK itu membelalakkan matanya karena terkejut.
"APA YANG BAPAK LAKUKAN?!" Teriakan seorang kepala sekolah yang menjadi atasannya membuat laki-laki itu kesulitan menelan ludahnya.
"Ti-tidak pak, saya tidak melakukan apapun. Sumpah!" Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Namun sayangnya tidak ada yang percaya dengan omongannya itu saat melihat seorang gadis yang tergeletak tak sadarkan diri dengan kondisi baju seragamnya yang sudah terbuka keseluruhan kancingnya.
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk ikuti kelanjutannya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GuloJowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 26
Tok.. Tok.. Tok..
Mama Davira mengetuk pintu kamar anaknya dengan senyum yang mengembang. Dirinya sudah tidak sabar melihat anak dan menantunya itu menikmati segarnya jus alpukat buatannya. Apalagi cuaca malam ini agak sedikit gerah, mungkin akan turun hujan. Semoga saja. Harap mama Davira agar suasana semakin syahdu.
Mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, Pak Ivan yang memang saat itu belum tertidur segera beranjak turun lalu melangkah mendekati pintu untuk membukanya. Saat pintu terbuka, nampak Mama mertuanya itu berdiri di depan pintu dengan membawa minuman yang diyakini oleh Pak Ivan adalah jus buah.
"Belum tidur Van?"
"Belum Ma." Pak Ivan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mama Davira tersenyum. "Ini Mama buatkan jus untuk kalian."
"Mama kok repot-repot Ma." Pak Ivan malah semakin sungkan dengan kebaikan mertuanya itu.
"Tak apa, tadi kebetulan mama buat banyak. Buat Papa juga tadi. Ayo di minum." Mama Davira menyerahkan segelas jus alpukat kepada menantunya. Pak Ivan pun segera meraihnya lalu meminumnya untuk menghargai Mama mertuanya itu yang sudah bersusah payah membuatkan jus untuk mereka dan mengantarkannya langsung ke kamar. Setelah itu Mama Davira melangkah mendekati anaknya yang meringkuk di atas tempat tidur. Ditariknya selimut yang membungkus tubuh anaknya. "Mama tahu kamu pasti belum tidur."
"Ish, apa sih Ma." Bentari kembali meraih selimutnya dan hampir saja menutup tubuhnya dengan selimut tersebut namun selimut itu langsung ditarik kembali oleh Mama Davira.
"Bangun dulu, ini Mama buatin jus alpukat kesukaan kamu. Diminum dulu mumpung masih dingin."
"Ish," Mau tak mau Bentari pun beranjak dari tidurnya, lalu mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang. Diraihnya segelas jus alpukat yang berada di tangan mamanya kemudian langsung meneguknya hingga tandas. Setelah itu Bentari menyerahkan kembali gelas yang sudah kosong itu kepada mamanya. Ditariknya kembali selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Melihat itu mama Davira hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun dalam hati Mama Davira bersorak karena anaknya itu mau meminum jus buatannya hingga tandas. Mama Davira beralih ke arah menantunya yang ternyata juga sudah menghabiskan jus buatannya. Melihat itu senyum Mama Davira semakin lebar.
"Ya sudah, sekarang kalian istirahat. Jangan begadang, tidak baik untuk kesehatan." Ujar mama Davira berbalik. Dan tanpa sepengetahuan dari menantunya itu, Mama Davira meraih kunci pintu kamar anaknya yang menggantung di dalam. Mama Davira segera keluar dari kamar anaknya lalu menutup pintu serta menguncinya dari luar.
"Eh," Mendengar bunyi pintu yang dikunci dari luar membuat Pak Ivan merasa curiga. Setelah dipikir-pikir sikap Mama mertuanya tadi juga terlihat aneh. Tidak biasanya Mama mertuanya itu mengantarkan jus ke kamar. Namun Pak Ivan segera membuang pemikirannya itu karena tidak ingin berprasangka buruk kepada Mama mertuanya.
Pluk!
"Ma!" Papa Adrian menepuk pundak istrinya hingga membuat mama Davira terlonjak kaget.
"Ish Papa, selalu aja ngagetin Mama."
"Ngapain itu pintu dikunci dari luar?" Papa Adrian memicingkan matanya curiga, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Ssssttt! Biarin aja, biar mereka menyelesaikan masalah rumah tangganya tanpa campur tangan kita. Ayo!" Mama Davira meraih tangan suaminya lalu membawanya meninggalkan kamar sang anak. Papa Adrian hanya mengikuti saja karena tidak mengerti dengan maksud istrinya.
Setelah meletakkan gelas di dapur, mama Davira dan papa Adrian segera masuk ke dalam kamarnya sendiri. Hari sudah semakin larut, jadi mereka memutuskan untuk segera beristirahat.
Di tempat lain lebih tepatnya di dalam kamar pengantin tapi bukan pengantin baru, Bentari yang merasa kegerahan langsung menyingkap selimut yang tadi digunakan untuk membungkus seluruh tubuhnya.
"Ish, ini kenapa sih kok gerah banget?" Keluh Bentari beranjak dari atas tempat tidurnya untuk mencari keberadaan remote pendingin ruangan. Sedangkan Pak Ivan yang sudah merasakan gerah sejak tadi, sudah melepas piyama tidurnya bagian atas. Jadi saat ini dirinya hanya mengenakan celana piyama panjang dan b3rt31@nj@n9 dada.
Setelah menemukan remote pendingin ruangan, Bentari langsung menurunkan suhu AC hingga suhu terendah agar udara yang panas bisa tergantikan dengan udara dingin. Namun bukannya kedinginan dirinya malah semakin kepanasan.
Pak Ivan yang juga merasa kepanasan seperti istrinya langsung masuk ke dalam kamar mandi dan langsung mengguyur seluruh tubuhnya dengan air yang mengalir langsung dari shower untuk mengurangi rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Doorr.. Doorr.. Doorr..
Bentari menggedor pintu kamar mandi agar suaminya itu segera keluar. Dirinya juga ingin mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk meredakan suhu tubuhnya yang meningkat.
Setelah dirasa cukup, Pak Ivan segera keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang. Melihat itu, Bentari menelan ludahnya susah payah. Kenapa suaminya itu terlihat seksi hanya dengan berbalut selembar handuk? Ah, namun Bentari segera mengenyahkan pikiran kotornya itu dari otaknya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting keras pintunya.
Braakk!
Melihat itu Pak Ivan tidak ambil pusing. Dirinya sudah terbiasa dengan sikap istrinya yang kasar seperti itu. Pak Ivan melangkah menuju ke lemari pakaian dan menarik celana pendek rumahan untuk dikenakannya. Tanpa atasan karena dirinya masih merasakan gerah dan panas di tubuhnya.
"Sialan!" Makinya pelan. "Ini kenapa sih sebenarnya? Kenapa tiba-tiba panas begini? Apa jangan-jangan? Ah sialan!" Meskipun dirinya tidak tahu reaksi dari obat itu, namun dirinya yakin rasa panas yang dirasakannya saat ini adalah efek dari obat l@kn@t itu.
Saat Pak Ivan sibuk menerka-nerka, tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka dan muncullah sang istri dengan tubuh yang hanya berbalut handuk dan rambut yang masih basah. Handuk itu hanya mampu menutupi tubuh istrinya hingga setengah p@h@. Dan terpampanglah p@h@ mulus istrinya yang nampak menggoda seolah-olah minta dibelai.
Pasti ini ulah mama mertuanya. Terka Pak Ivan dalam hati. Pak Ivan tau kalau kedua mertuanya itu tidak ingin mereka berpisah. Terbukti dari dirinya yang selama ini disuruh untuk bersabar.
Semakin lama mata Pak Ivan semakin berkabut. Dipandanginya lekat sang istri dari atas hingga ke bawah yang nampak menggoda. Jujur saja, sebenarnya Pak Ivan juga tidak ingin berpisah dengan sang istri karena dirinya sangat mencintai istrinya. Bolehkah saat ini saja dirinya egois dengan mengambil kesempatan yang sudah diberikan oleh Mama mertuanya itu? Apakah istrinya nanti tidak akan marah dan membenci dirinya jika dirinya nekat melakukan hal itu? Seolah ada dua jiwa yang saat ini sedang berperang di dalam tubuh Pak Ivan. Dan Pak Ivan bingung harus memilih yang mana.
*****
*****
*****
Emak nggak tanggung jawab pokok'e 🤪 salahkan saja Mama Davira 🏃🏻♀️🏃🏻♀️
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
ambil aja,biar Bentari nyesal