Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Malam yang dingin dan sunyi menyelimuti rumah abi Akbar, Justin menyempatkan diri untuk menginap sekaligus mengurusi istrinya. Sudah tidak ada keluh kesah lagi dalam hati mereka, semua berjalan seperti sedia kala. Masalah demi masalah terpecahkan dengan baik dan memakai otak yang dingin. Pada saat mereka tengah asyik mengobrol dikamar Jihan yang dulu, sekaligus mengenang cerita mereka saat masa lalu sewaktu Justin menghampiri Jihan melalui jendela kamar, kemudian Jihan mengutarakan sesuatu tentang kedatangan Daus tempo hari. Jihan berterus terang kepada suaminya dan mengatakan apa adanya.
"Aku percaya sama kamu sayang. Aku izinkan kamu buat mengajar anak-anak madrasah itu, yang penting gak bikin kamu repot juga!" Ucap Justin.
"Makasih suamiku sayang. Aku juga gak sampai tiap hari kok ngajar, yang penting aku ada kegiatan aja, sekaligus mengamalkan ilmu agama," sahut Jihan.
Justin tersenyum, membelai-belai wajah istrinya dengan lembut sambil berbaring.
"Daus itu udah nikah belum?" Tanya Justin.
"Belum. Dia masih single, Daus itu sahabat baik aku waktu di pesantren, aku udah anggap dia kakak aku sendiri. Kebetulan aku memang tidak punya kakak laki-laki!"
Justin sedikit termangu menatap langit-langit kamar.
"Yah, kalau ada apa-apa hubungi aku yah?"
"Pasti dong suamiku yang baperan, hihi ..."
Jihan mulai meledek suaminya. Candaan khas Justin kembali kumat.
"Masa ketua genk baperan, enggak lah yaw! Yang ada kamu tuh yang sering baperan, dikit-dikit mewek!"
"Iiikh ... jahat kamu yah ngomong gitu sama aku, ta kelitikan kamu!"
Jihan menggelitiki pinggang Justin, spontan Justin menggelinjang.
"Say ... sayang hahah ... udah geli tau! Sekarang kok kamu yang agresif sama aku! Ini kah sosok Jihan yang aku kenal!"
"Aku begini cuma sama kamu aja tau! Bahkan seorang istri itu harus lebih agresif demi menyenangkan suaminya!"
Tersentak Justim kaget mendengar perkataan yang tak biasa dari mulut Jihan.
"Waw ... amazing istriku! Bikin aku deg-degan nih!"
Justin langsung..
Skip
Pekerjaan yang menumpuk hingga membuat Justin sibuk, terpaksa ia harus lembur malam ini. Namun, disela-sela kesibukannya ia tetap memperhatikan istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka.
"Halo, sayang. Kamu belum tidur kan?" Tanya Justin via call wa
"Belum sayang, bentar lagi. Ini aku nungguin telepon dari kamu, kamu lagi lembur ya?" Jihan balik bertanya via wa
"Iya nih sayang. Ntar juga selesai, aku pulang kerumah kita, kamu baik-baik disitu yah! Sekarang kamu tidur, nanti subuh bangunin aku ya sayang. Miscall aja!"
"Iya suamiku sayang. Kamu juga kalo pulang langsung istirahat yah, banyakin minum air putih dan makan buah! Udah dulu ya aku mau bobok, muach! Miss you!"
"Oke sayang. Missyou too!"
Justin menutup teleponnya, lalu melanjutkan pekerjaan. Satu jam kemudian Justin telah menyelesaikan tugasnya, ia bergegas pulang kerumah barunya yang kosong. Maka dari itu Justin kadang khawatir rumah baru mereka sering di tinggal kosong, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Justin berjalan keluar kantor lalu masuk mobil dan menyalakan mesin. Pak Sundarto seorang satpam dikantor itu lalu membukakan gerbang. Justin berpamitan dengan satpamnya lalu terus melaju.
Jam menunjuk pukul 22:35 Justin sangat kelelahan. Ia tetap fokus mengemudikan mobilnya, hingga selamat sampai dirumah.
Selalu tinggalkan jejak dengan cara like & komen ya