[Jangan dibaca, novel berisi adegan++. Harap bijak dalam membaca. MC bisa bikin darah tinggi!]
[3-25 : Plot MC hidup sendiri bersama sistem, mungkin agak membosankan dan bertele-tele]
[26 keatas: Plot berubah. MC menjadi konglomerat, banyak pelayan, pengawal setia, banyak musuh, pengkhianatan, penyesalan. serta kemunculan tokoh-tokoh lainnya]
Pemuda yang baik hati, tiba-tiba dituduh lalu di usir dari rumah keluarga angkatnya, sampai berniat bunuh diri.
Ia akhirnya mendapatkan sebuah sistem, setelah menolong nenek-nenek misterius, yang dimana sistem itu akan membantunya menjadi seorang penguasa tertinggi.
Kepribadiannya yang naif dan bertele-tele, perlahan berubah, menjadi kejam tanpa ampun dalam melenyapkan musuhnya. Simak terus kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikki Kurunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Sistem, Jelaskan!
Zevan sempat meluangkan waktunya, untuk menghabiskan nasi goreng buatan Kimmy, yang membuat kloningannya, Vanze, menunggu dan terus menanti kedatangannya.
Terlihat sebuah mobil sport mewah, dan sebuah mobil SUV sport yang terparkir tepat dibelakangnya. Kedua mobil itu tengah menepi didepan gerbang sekolah Zevan, yang tidak lain tidak bukan, merupakan mobil dengan kepemilikan atas namanya sendiri.
Beberapa pria yang terlihat seperti pengawal, sedang berdiri disetiap sisi mobil SUV. Sedangkan Vanze, berdiri seraya bersandar pada mobil sport milik Zevan, selagi menanti kedatangan anak itu.
Nampak seorang wanita cantik, yang turut menunggu dan berdiri disamping Vanze. "Vanze, untuk apa kita datang kesini? Apakah kau ingin menjemput seseorang?" tanya wanita tersebut, sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Vanze.
"Ya. Aku sedang menanti kedatangan Tuanku," jawab Vanze, yang semakin memusatkan pandangannya, kearah gedung sekolah.
Vanze lalu mendapati sosok Zevan dari kejauhan, yang tengah berjalan menuju gerbang sekolah. "Semuanya! Bersiap-siaplah! Tuan Zevan akan datang sebentar lagi!" serunya, sambil mengibas-ngibaskan jas hitam mewahnya, dan sedikit beringsut maju kearah pintu gerbang, dengan sang wanita yang turut mengikuti pergerakannya.
Zevan yang tengah melangkahkan kakinya, seketika menatap kearah gerbang. "Sistem, apakah orang-orang itu yang kau maksudkan?" tanya Zevan, yang tetap berjalan dengan penuh ketenangan.
[Betul Tuan! Pria yang tengah berdiri disamping gadis itu, adalah Vanze. Dan—]
"Cukup!" Zevan memotong perkataan sistemnya, saat tak sengaja menatap kearah sang wanita, yang tengah berdiri seraya menggandeng erat tangan Vanze. "Jadi dia, adalah Kimmy?" tanya Zevan, merujuk pada wanita tersebut.
[Betul Tuan!]
{Gawat! Sepertinya Tuan akan marah besar!}
Zevan akhirnya menghentikan langkah kakinya, tepat dihadapan Vanze, dan Kimmy. Kedua tangannya seketika mengepal dengan erat, lalu mendapati Vanze sontak melepaskan tangannya dari gandengan Kimmy.
"Tuan Zevan, naluriku mengatakan, bila anda adalah pemimpinku." Vanze bertekuk lutut dihadapan Zevan, bersama dengan seluruh pengawal yang turut bertekuk lutut dibelakangnya. "Aku telah menanti kehadiranmu, Tuanku," ucapnya dengan penuh khidmat.
"Vanze, siapa anak ini?! Kenapa kau begitu tunduk padanya?" tanya Kimmy, sambil menunjuk Zevan.
Meski tengah bertekuk lutut, Vanze tetap berkata, "Tarik pertanyaanmu itu, Kimmy! Tuan Zevan adalah orang yang sangat penting dalam hidupku. Jika bukan karena kebaikan beliau, maka aku sudah pasti akan mati," tegur Vanze dengan tegas.
Zevan tetap berusaha menjaga ketenangannya. "Sistem. Apakah ini sudah benar? Jangan membuatku menyesal untuk yang kedua kalinya," tanya Zevan dalam hatinya, sambil menatap tajam kearah Vanze, yang masih berlutut dihadapannya.
[Ya Tuan! Ini sudah benar, dan sesuai dengan garis kronologi kehidupan Tuan yang terakhir, sebelum Tuan memulai kehidupan, dengan identitas baru Tuan]
Mendengar pengakuan sistemnya, membuat Zevan sontak mendengus. "Baiklah." Ia lalu menyentuh pundak kanan Vanze. "Vanze, berdiri," ucapnya dengan penuh ketenangan, seiring dengan kedua mata yang memejam rapat.
Dalam hitungan sekejap, Vanze pun sontak bangkit, dan berdiri dengan sedikit menunduk dihadapan Zevan.
Zevan seketika membuka kedua matanya, dan menatap tajam kearah Kimmy. "Dimana kau tinggal?" tanya Zevan kepada Vanze, meski pandangannya tak pernah lepas menatap kewajah Kimmy.
"Aku tinggal diapartemenku, Tuan," jawab Vanze dengan singkat.
Kimmy sontak memalingkan wajahnya kearah lain, saat menyadari Zevan terus menatap tajam kearah dirinya.
"Lalu, siapa gadis ini?" tanya kembali Zevan.
Vanze pun turut menoleh kearah Kimmy, dan mendapati wajah gadis itu tengah bermasam muka. "Dia adalah kekasihku, Tuan Zevan," jawabnya dan kembali mengarahkan pandangannya kearah kaki Zevan, karena merasa tunduk dengan anak tersebut.
Kedua tangan yang tengah mengepal itu, sontak bergetar-getar. Zevan menggertakan giginya, setelah mendengar pengakuan Vanze.
[T-t-tuan! Aku akan mengembalikan se—]
"Jangan!" Zevan kembali memotong perkataan sistemnya, dan berusaha meraih seluruh ketenangannya. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam, dan menghempaskan secara perlahan, seiring dengan kedua mata yang telah memejam. "Yang terjadi, biarlah terjadi. Ini bukan kesalahanmu, melainkan karena permintaan-permintaan egoisku," ungkap Zevan, dan mulai membuka kedua matanya dengan perlahan.
"Vanze, untuk apa kedatanganmu kesini?" tanya Zevan, seraya menatap kearah mobil sport, yang terparkir rapi ditepi trotoar gerbang sekolah.
Vanze kembali bertekuk lutut. "Tentu saja, menjemputmu Tuan Zevan, dan mengantarkan anda pulang kerumah," jawabnya dengan penuh kepercayaan diri.
"Kerumah?!" Zevan tak menyangka dengan perkataan Vanze. "Sistem, jelaskan," pintanya dalam hati.
[Tuan, aku membuat Tuan tinggal disebuah mansion mewah, yang terletak di pesisir pantai. Dan Vanze yang bertugas sebagai bawahan Tuan, juga terkadang singgah dimansion anda, hanya untuk meminta saran serta meluangkan waktunya untuk anda, sebagai pemimpinnya]
"Mansion?! Berapa harganya?" tanya Zevan, yang semakin menunda waktunya untuk pergi, hingga dirinya beserta kehadiran Vanze, menjadi pusat perhatian seluruh siswa sekolah.
[1 triliun, Tuan]
"Satu tri—" Zevan pun sontak menjatuhkan kedua lututnya, karena terkejut bukan kepalang saat mendengar pengakuan sistem, yang membuat Vanze sigap menahan kedua pundaknya.
"T-Tuan! Ada apa?! Apa kau sedang tidak enak badan?!" tanya Vanze, dengan kekhawatiran yang tiba-tiba muncul dalam hatinya.
[Tuaaan?!]
Demi menjaga citranya dihadapan Vanze, Zevan segera bangkit dan kembali berdiri dengan penuh ketenangan. "Maaf. Pikiranku sedang semrawut," ungkapnya, seraya mengibas-ngibaskan seragam sekolahnya, dengan dibantu oleh Vanze yang turut mengibas-ngibaskan bagian lutut celana sekolahnya.
"Cukup! Ayo pulang! Aku sudah lelah dengan semua ini," ucap Zevan, dan mulai melangkah kakinya keluar dari gerbang sekolah.
[Tuuaan ... aku minta maaaf ....]
"Baik Tuan!" Vanze seketika mendahului Zevan, dan berjalan menuju mobil sport milik Tuannya itu. "Silahkan masuk, Tuan," ucapnya, setelah membuka pintu depan mobil.
Zevan lalu beranjak masuk kedalam mobil sportnya. "Sistem, bagaimana dengan statusku saat ini?," tanya Zevan dalam hatinya, selagi menanti Vanze masuk kedalam ruang setir kemudi.
[Baik Tuan!]
[Sistem! Memperbaharui data Tuan, diaktifkan!]
[•••••Zevan Ardiansyah•••••]
[Umur: 17 tahun]
[Pekerjaan: Pelajar]
[Kesehatan: 100%]
[Keuangan: luar biasa]
[Kemampuan: membaca dan mengingat dengan cepat]
[Skill: ilmu beladiri Pencak Silat, penembak jitu]
[Tingkat IQ: 115]
[Tingkat Sekolah: SMA]
[Nama Instansi Sekolah: SMA Harapan Kita]
[Kelas: 2C]
[Nilai Aset Kekayaan: 14 triliun rupiah]
[Saldo rekening terakhir: Rp. 13,877,625,772,878]
[Properti: 1 Mansion mewah]
[Kendaraan pribadi: 1 unit mobil sport Vagani Yonda, 1 unit mobil SUV sport Toyoda Pavero Sport]
[•••••Perbaharuan Data Selesai•••••]
"Hahahaha! Aku benar-benar gila dibuatnya!" gumam Zevan dengan nada tinggi, yang membuat Vanze sontak terkejut karenanya.
"Tuan?! Siapa orangnya?! Biar aku habisi dia!" Namun, Vanze salah menanggapi tindakan Zevan, hingga membuat anak itu sontak menatapnya penuh keherenan.
"Vanze, jalan saja. Abaikan aku," perintah Zevan, yang telah kembali pada lingkaran akal sehatnya.
Vanze sempat tercengang, namun tetap menuruti perintah Zevan. "Baik, Tuan." Ia menyalakan mesin mobil, lalu tancap gas dengan segera, menuju mansion mewah milik Tuannya.
Sementara Kimmy, mau tidak mau berada dalam satu mobil bersama para pengawal Vanze, dan turut mengikuti kepergiannya menuju mansion Zevan.
"Aku merasa aneh dengan sifat Vanze belakangan ini. Kenapa dia lebih memperhatikan anak itu ketimbang aku!" gumam Kimmy.
"Nona Kimmy, tenanglah. Tuan Zevan adalah bos besar kami, selain Tuan Vanze. Maka, ikuti sajalah keinginannya," sambung salah seorang pengawal, yang duduk disamping Kimmy.
"Oh, begitukah? Lalu apa hebatnya anak itu? Apakah kekayaannya melampaui kekayaan Vanze?" tanya Kimmy, menanggapi pengakuan sang pengawal.
"Tentu saja Nona Kimmy. Kekayaan Tuan Zevan, bahkan melampaui kekayaan Dirgantara grup, yang dipimpin oleh abang anda sendiri, Tuan Tommy," jawab sang pengawal, tanpa pernah sedikitpun memalingkan wajahnya kearah Kimmy.
Kimmy sontak tertegun seraya menundukkan wajahnya. "Tidak mungkin! Tidak mungkin ada orang yang kekayaannya bisa melampaui kekayaan abangku! Aku harus memastikannya sendiri!" batinnya, dengan penuh rasa ketidakpercayaan.
Beberapa saat kemudian, setelah melewati sepanjang jalan pesisir pantai, Vanze mengarahkan laju mobilnya menuju sebuah mansion yang terlihat megah dan mewah.
"Tuan, bagaimana dengan ujiannya? Apakah lancar?" tanya Vanze, selagi memusatkan pandangan mengemudinya kearah depan.
"Baik. Semua lancar tanpa kesulitan apapun," jawab Zevan, seraya menyandarkan sisi kepalanya pada kaca jendela mobil.
"Syukurlah, Tuan." Vanze seketika memperlambat laju mobilnya, sesaat sebelum tiba didepan gerbang mansion. "Tuan, bermandilah dikolam renang. Para pelayan akan menyiapkan makan siang untukmu," ucap Vanze. Ia lalu membawa Zevan masuk kedalam gerbang mansion, setelah beberapa pengawal membuka pintu gerbang, dan membungkukkan badan mereka, dengan maksud memberi hormat kepada Zevan.
Zevan akhirnya mendaratkan kakinya, tepat didepan dua barisan para pelayan, serta para pengawal yang saling berhadapan satu sama lain, dan bersiap menunggu kedatangannya.
"Selamat datang, Tuan Zevan," sambut mereka secara serempak seraya membungkukkan badan masing-masing, sesaat setelah Zevan mulai melangkahkan kakinya diatas sebuah karpet merah, yang membentang dari ujung ke ujung, sampai tiba didepan pintu utama mansion.
[Selamat datang, Tuanku!]
Zevan berusaha untuk tetap tenang, seolah-olah membiasakan dirinya dengan keadaan itu. Meski sebenarnya dalam hatinya, ia benar-benar masih tak menyangka dengan apa yang telah dialaminya, sekarang.
...****TBC****...
tapi aku merasa koq nggak lucu sama sekali setiap MC bertengkar dg sistem nya sendiri?
sampe bikin tokoh utama yang ga jelas.
maaf.. saya stop baca. aliran cerita terhambat dan terantuk2 sepanjang jalan karena pemaksaan karakter tsb
NGAKU2 TULISAN SENDIRI
SEHARUSNYA DATANG BERSAMA POLISI,