Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Kejam Adara
Fabian menghela napas panjang sembari menegakkan duduknya. Lantas, ia mulai mengarang cerita terkait harta yang dia punya. Namun, Fabian berusaha setenang mungkin agar Wendy tidak curiga.
"Saya telanjur nyaman, Pak. Di restoran ini, saya bertemu dengan teman yang benar-benar tulus. Jika saya pulang sekarang, akan sulit untuk bertemu dengannya, dan saya belum rela. Jadi, dalam beberapa waktu ke depan, saya masih ingin bekerja di sini. Mama dan Papa juga sudah setuju dengan keinginan saya," ujar Fabian. Dia benar-benar menutupi keberadaan SKAK.
Usai mendengar penjelasan Fabian, Wendy mengangguk pelan. Penjelasan tersebut cukup meyakinkan dan Wendy terkecoh dengannya. Lelaki itu percaya bahwa Fabian adalah anak orang kaya, yang mungkin sekarang sedang jatuh cinta dengan Keyla. Selama ini Wendy juga tahu dengan kedekatan mereka berdua.
"Kalau boleh tahu ... siapa nama orang tuamu?" tanya Wendy beberapa saat kemudian.
"Maaf, Pak, sejak pergi dari rumah saya sudah berjanji untuk merahasiakan identitas mereka. Itu adalah salah satu syarat dari mereka, agar saya tidak menumpang nama dan hanya mengandalkan diri sendiri. Walaupun sekarang sudah lolos, tapi buktinya saya belum pulang. Jadi, saya anggap tantangan ini belum berakhir dan masih harus memegang janji itu." Lagi-lagi Fabian melontarkan kebohongan.
"Baiklah, aku menghargai keputusanmu. Setelah ini, tetaplah bekerja di sini seperti biasa. Tapi, satu bulan sebelum kamu undur diri, tolong beri tahu aku. Dengan begitu, aku akan mencari penggantimu sebelum kamu benar-benar keluar," ucap Wendy setelah berbincang lama. Sama sekali tidak ada kecurigaan terhadap Fabian.
"Terima kasih banyak, Pak." Fabian makin melebarkan senyuman, lega rasanya karena berhasil menyimpan rahasia terbesar.
"Sama-sama. Aku juga berterima kasih, karena berkat kamu restoran ini bisa melayani delivery dengan baik," sahut Wendy sebelum Fabian keluar dari ruangannya.
Setelah berbincang secara empat mata dengan Fabian, Wendy kembali bicara dengan karyawan yang lain. Dia memberitahukan kepada mereka tentang status Fabian yang ternyata anak orang kaya. Hendra, Fikri, dan Shasa pun mulai percaya. Perlahan, mereka mengikis prasangka buruk terhadap Fabian.
"Benar kan apa yang aku katakan, Fabian itu bukan lelaki buruk. Kalian aja yang suka kelewatan," ujar Keyla kepada teman-temannya. Dia merasa bangga karena citra lelaki pujaannya tidak tercoreng.
"Selama ini dia sesederhana itu, wajar kalau kami butuh waktu untuk memercayainya, Key," jawab Shasa tidak mau kalah.
"Shasa benar. Dulu aja Fabian cuma numpang sama Adara, jadi ya ... sulit mau ngira kalau dia itu anak orang kaya," timpal Hendra, yang kemudian disetujui oleh Fikri.
Keyla menggeleng-geleng, "Terserah kalian aja."
Mendengar jawaban asal dari mulut Keyla, Shasa sekadar memutar bola mata, sedangkan Hendra dan Fikri hanya mengangkat bahu.
Namun, tanpa diketahui oleh Keyla, Shasa punya pemikiran lain.
"Jika Fabian anak orang kaya, lebih baik aku mulai mengubah sikap. Harus baik-baik ke dia, jangan sampai menyudutkan dan merendahkan kayak kemarin-kemarin," batinnya, dan ternyata, Hendra serta Fikri pun punya pemikiran yang serupa.
Benar saja, sejak hari itu sikap mereka mulai berubah. Yang semula tak acuh dan sering meremehkan, sekarang menjadi ramah dan hangat. Bahkan, tak. jarang pula mengajak bercanda layaknya sahabat dekat.
Fabian merasa lucu dengan itu. Ternyata tak jauh beda dengan Adara, teman-temannya pun hanya memandang harta dalam memilih teman. Mungkin memang cuma Keyla, satu-satunya orang yang punya hati tulus.
______________
Di dalam ruang tamu yang mewah nan elegan, seorang wanita duduk di sofa sambil mengangkat satu kaki. Wajahnya yang cantik dipoles mekap tebal, sedangkan rambut pendeknya dibiarkan tergerai dan jatuh ke bahu.
Di antara hening yang menyelimuti, jemari lentiknya sibuk memainkan ponsel kesayangan. Sesekali senyumnya terulas lebar, saat membaca sebaris tulisan yang sesuai dengan inginnya.
"Sebanyak apa pun kamu meminta maaf dan menjelaskan keadaan, aku ... akan tetap marah," gumam wanita yang tak lain adalah Adara.
Dia terus mencari gara-gara dengan Zayan, memancing pertikaian agar nanti ada alasan untuk berpisah. Saat ini, Adara tidak lagi mengagumi Zayan, melainkan sudah berpaling pada sang mantan—Fabian. Mobil limited edition milik lelaki itu sangat menyilaukan. Itu sebabnya, Adara tidak berhenti berusaha untuk kembali padanya.
Ketika Adara masih sibuk membayangkan sosok Fabian, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ternyata, Zayan yang menelepon. Namun, Adara sengaja membiarkan. Barulah di panggilan ketiga dia menerimanya.
"Sayang, aku benar-benar ada rapat. Tolong kamu___"
"Aku kasih waktu seperempat jam. Jika kamu belum juga tiba, kita putus aja. Aku capek kamu abaikan terus," pungkas Adara. Dia pura-pura marah karena Zayan tidak datang tepat waktu. Padahal ia tahu, saat itu Zayan memang ada rapat yang tak bisa ditunda.
"Abaikan apa, Sayang? Aku memang ada rapat. Kamu juga tahu itu, kan? Kemarin aku sudah bilang loh sama kamu."
"Kemarin kamu sudah rapat, kenapa sekarang rapat lagi? Hanya alasan kamu saja, kan, biar nggak nemenin aku ke salon. Udahlah, pacaran aja sana sama pekerjaanmu! Aku bisa ke salon sendiri!" Adara menyahut dengan intonasi yang lebih tinggi.
Lantas, tanpa menunggu jawaban dari Zayan, dia langsung mengakhiri sambungan telepon.
"Kamu hanya kebanyakan janji, Zayan. Katamu ... akan membelikan aku vila di puncak itu, tapi bohong. Mobil juga, katanya kamu yang akan mendapatkan mobil itu, tapi nyatanya hanya omong kosong. Kalau kayak gini, percuma kita pacaran. Enak kamu, sering minta jatah, tapi imbalannya hanya uang yang nggak seberapa," ucap Adara sembari menyandarkan punggung.
Dia mulai bosan dengan hubungannya bersama Zayan. Harta Fabian terlalu menarik perhatian, seakan melambai-lambai dan menyuruhnya untuk segera datang.
"Fabian ... kamu harus kemabli sama aku. Sampai kapanpun, kamu hanya milikku." Adara memejam sambil tersenyum miring, membayangkan sosok Fabian yang akan jatuh dalam pelukannya.
Setelah lebih dari setengah jam berdiam diri sambil melamun, Adara dikejutkan oleh bunyi bel yang cukup nyaring. Adara mengernyitkan kening, penasaran dengan tamu yang datang.
"Nggak mungkin Zayan, kan?" batin Adara sambil beranjak dari duduknya. Dia pun melarang pelayan membukakan pintu karena akan ia lakukan sendiri.
Sesampainya di pintu gerbang, Adara memutar bola mata dengan jengah. Ternyata tamu yang datang memang Zayan. Lelaki itu hadir di sana dengan tampang masamnya.
"Aku sudah meninggalkan rapat dan datang ke sini. Kamu puas, kan?" geram Zayan ketika pintu gerbang sudah terbuka lebar. "Sekarang buruan siap-siap, aku antar ke salon!"
Alih-alih menuruti perintah Zayan, Adara malah tetap berdiri di tempatnya sambil melipat tangan di dada.
"Nggak jadi, udah nggak mood. Aku maunya seperempat jam yang lalu dan sekarang udah setengah. Telat!" ucapnya dengan ketus.
Bersambung...