Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Satu tahun kemudian.
Afgan dan Alisya benar-benar menjalani rumah tangganya dengan bahagia, mereka pun sudah benar-benar saling mencintai satu sama lain.
Bahkan tanpa mereka sadari bahwa rasa cintanya kini sudah benar-benar terukir begitu dalam di hati masing-masing. Setiap harinya Afgan selalu tidak sabar untuk segera pulang ke rumah dan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat agar bisa segera bertemu dengan istri yang sangat dia cintai itu.
Seperti yang sedang terjadi sore ini, Afgan nampak sedang membereskan meja kerjanya setelah selesai mengoreksi berkas persidangan yang akan dia jalani besok.
Dengan tersenyum bahagia, Afgan nampak menyusun lembaran kertas yang terlihat masih berserakan di atas meja.
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu ruangannya pun di ketuk dan Anita sekretarisnya masuk ke dalam ruangan.
''Kamu sudah mau pulang?'' tanya Anita berjalan menghampiri ke arah meja.
''Iya dong. Pekerjaan 'kan sudah selesai, ngapain lama-lama di sini, mendingan aku pulang, ketemu istriku, dia bakalan masakin aku makanan yang lezat,'' jawab Afgan tidak menghentikan gerakan tangannya.
''Hmm ... Tapi kita 'kan ada janji makan malam dengan klien, dia sudah pesan tempat di Restoran terkenal lho, makanannya juga enak-enak, masa mau dibatalin gitu aja.''
''Ya jangan di batalin dong, gak enak kalau kita batalin gitu aja.''
''Lalu ...?''
''Kamu aja yang pergi ke sana mewakilkan aku, juga tolong sampaikan permohonan maaf aku sama beliau, katakan bahwa aku sibuk dan gak bisa datang, oke ...?'' ucap Afgan seraya mengenakan jas hitam miliknya.
''Ya gak bisa gitu dong, Pak. Masa kamu gak ikut si? kamu 'kan pengacaranya, masa aku saja yang ke sana sendiri, lagian makanan di sana enak-enak lho, pak,'' Anita masih berusaha membujuk.
''Ya udah tinggal di batalin aja kalau gitu. Lagian gak ada masakan yang lebih lezat dibandingkan dengan masakan istriku,'' jawab Afgan lalu pergi begitu saja dari dalam ruangan, meninggalkan Anita yang saat ini masih berdiri mematung merasa kesal.
''Tapi, Pak ...? Pak Afgan ...'' teriak Anita namun diabaikan.
''Heuh ... punya istri segitu aja kok sombong banget sih, jadi penasaran seperti apa istri dari pak Afgan itu,'' gumam Anita menatap kepergian bosnya tersebut.
🍀🍀
Dengan perasaan tidak sabar, Afgan pun mengendarai mobil miliknya di jalanan, melaju kencang memecah kepadatan ibu kota yang mulai sesak dengan kendaraan, sampai akhirnya dia pun sampai di depan rumahnya dan terkejut karena mobil orang tuanya terparkir tepat di depan rumah.
''Ko ada mobil Daddy sama Mommy? ada apa mereka tiba-tiba kemari,'' gumam Afgan memarkir mobilnya di garasi.
Afgan pun langsung keluar dari dalam mobil dengan perasaan tidak sabar dan tentunya merasa penasaran, ada apa gerangan dengan kedua orang tuanya itu.
Tok ... Tok ... Tok ...
Afgan mengetuk pintu sebelum dia masuk ke dalam rumah yang memang pintunya sedang dalam keadaan terbuka.
''Dad ... Mom ...? Ada apa? tumben kalian datang kemari?'' tanya Afgan menghampiri dan menyalami kedua orang tuanya satu-persatu.
''Memangnya kenapa? apa tidak boleh kami mengunjungi putra kami sendiri? lagian sudah lama sekali kamu dan istrimu ini gak pulang. Kami kangen sama kamu,'' jawab sang ibu yang duduk tepat di samping Alisya.
''Bukan begitu maksud aku. Kalau aku tau kalian mau kemari, aku pasti bakalan pulang lebih cepat,'' jawab Afgan duduk di samping sang ayah.
''Gimana kabar kamu? Pekerjaan kamu lancar 'kan?'' tanya sang ayah.
''Lancar sekali, Dad. Berkat ilmu yang aku dapatkan di Inggris, aku gak terlalu kesulitan dalam menghadapi dan mendapatkan klien, dan tentu saja, ini berkat doa kalian berdua.''
''Syukurlah, Daddy senang banget mendengarnya.''
''Hmm ... Bagiamana dengan rumah tangga kalian? apakah baik-baik saja? mengingat dulu saat menikahkan kalian, kami sedikit memaksa kamu untuk melakukannya,'' tanya sang ibu membuat Afgan dan Alisya tersenyum.
''Kami baik-baik saja, Mom. Kami pun sudah saling mencintai satu sama lain, dan berjanji akan menjalani rumah tangga ini dengan bahagia, Daddy sama Mommy gak usah khawatir, ya ...''
''Syukurlah kalau begitu.'' Ibu berucap dengan bernapas lega.
''Afgan, Daddy mau bicara sebentar sama kamu. Bisa kita bicara di tempat lain?'' pinta sang ayah membuat Alisya merasa heran.
Kenapa mertuanya itu hanya ingin berbicara dengan suaminya? apakah ada sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui? atau ada hal lain di sembunyikan oleh ayah mertuanya itu?
Akh ... Otak Alisya benar-benar dipenuhi tanda tanya.
''Baiklah, kita bicara di ruang kerja aku,'' jawab Afgan berdiri dan langsung berjalan dengan diikuti oleh sang ayah dibelakangnya.
Di ruang kerja.
''Silahkan duduk, Dad.'' Pinta Afgan duduk di kursi yang ada di ruang kerjanya.
''Begini, Afgan. Daddy mau langsung ke intinya saja.''
''Ada apa, Dad. Sepertinya serius banget.''
''Adikmu telah kembali. Vincent, dia pulang ke rumah.''
Afgan terhenyak, dia mengepalkan kedua tangannya, merasa kesal.
''Lalu apa urusannya sama aku?''
''Dia ... Dia-'' Sang ayah terbata-bata tidak meneruskan ucapannya.
''Dia kenapa, Dad. Jangan bilang kalau dia mau mengambil Alisya, istriku?'' Afgan masih dengan tangan yang di kepalkan.
Sang ayah menganggukkan kepalanya merasa menyesal.
''Jadi benar? si brengsek itu mau mengambil istriku setelah dia meninggalkan Alisya dulu? kurang ajar,'' teriak Afgan merasa geram.
''Sebaiknya kamu pindah ke Inggris, Daddy akan menelpon kolega Daddy di sana, agar kamu bisa langsung bekerja, bawa istrimu dan hidup bahagia di sana, Afgan.''
''Maksud Daddy, aku harus kabur seperti seorang pencuri? begitu ...?''
''Bukan seperti itu maksud Daddy. Daddy hanya tidak ingin melihat kalian berkelahi memperebutkan Alisya, Daddy gak mau kedua putra Daddy saling bermusuhan, hanya karena seseorang wanita.''
''Apa Daddy lupa, wanita yang Daddy sebutkan itu adalah istriku? wanita yang telah dicampakkan oleh si brengsek itu dulu? awalnya aku menganggap pernikahan ini sebuah petaka, tapi sekarang tidak lagi, aku menganggap pernikahan ini adalah sebuah anugerah, anugerah yang diberikan oleh Tuhan untuk aku, dan aku sangat mencintai istriku, Dad.'' Tegas Afgan penuh penekanan.
''Iya Daddy tau, itu sebabnya Daddy menyuruh kalian pergi dari negara ini, Daddy pun tidak ingin memisahkan kalian berdua, ini semua demi kebahagian kamu dan istrimu.''
''Tidak, Dad. Aku gak akan pernah meninggalkan negara ini, dan aku gak akan pernah lari karena aku bukan seorang pencuri, dia sendiri yang menyerahkan Alisya padaku, dan aku akan mempertahankan dia sampai kapanpun, meskipun aku harus memutuskan tali persaudaraan dengan dia sekalipun.'' Jawab Afgan penuh penekanan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Visual Afgan dan Alisya ❤️❤️❤️