Al tak pernah mengira pertemuan nya dengan Chelsea, gadis kecil yang duduk di sebelahnya saat di pesawat berbuntut panjang. Gadis kecil itu sepertinya hantu yang terus saja mengikutinya.
Chelsea jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria kaku, dingin dan dewasa. Entahlah daya tarik apa yang dia miliki, yang pasti Chelsea menyukainya.
Pertemuan demi pertemuan tak sengaja terjadi, namun Al justru menuduhnya sengaja membuntuti pria itu, hingga sebuah insiden yang mengharuskan mereka menikah.
Penasaran? ikutin kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Zein
Tanpa terasa mereka sampai di halaman rumah Zein. Caca segera turun dan berjalan lebih dulu meninggalkan Al dibelakang. Jelas dia menunjukkan kekesalannya.
"Assalamualaikum," ucapnya mengetuk pintu.
"Waalaikum salam, Non Caca." sambut pembantu di rumah Zein.
"Pa kabar bik, Mama ada?" jawab Caca tanpa merasa canggung.
"Ada, silahkan masuk Non." bibik membuka kan pintu.
Al sudah sampai di depan Caca, tak sulitnya untuknya mengikuti Caca yang lambat. Dengan cepat dia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.
"Mama..." seru Al melihat Zahra yang muncul dari arah dapur.
"Al, Caca.." sambut Zahra dengan gembira. Keduanya menyalim dan mencium tangan Zahra.
"Kamu apa kabar?" Zahra bertanya lembut kepada menantunya.
"Alhamdulillah Caca baik Ma, gimana keadaan Mama dan Nenek?"
"Semua baik. Duduk dulu, biar Mama buatin minum."
"Ngga usah repot Ma, biar Caca aja yang buat." Gadis itu berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Al, Papa menunggumu di ruang kerjanya, ada sesuatu yang penting."
Al menatap lembut mamanya, anggukan kecil meyakinkan hatinya yang masih ragu untuk bertemu dengan pria yang sangat dia banggakan, pria yang mewariskan hampir setengah dirinya dalam diri Al, bukan hanya wajah, bahkan sifat mereka hampir sama. Dan hanya lembut pada satu wanita yaitu Zahra,.mamanya.
Papa mau bertemu dengan ku? apa papa sudah memaafkan aku?
"Pergilah temui Papamu, satu pesan Mama, jangan lagi bertengkar dengannya, walau Papa mu keras, tapi ingatlah jika dia sangat menyayangimu."
Al terharu dan juga sedih mendengar kata kata ibunya. Dia.juga sangat merindukan pria yang begitu dia idolakan itu, namun ego membuatnya berjauhan.
Al pamit dan berjalan naik menuju ruang kerja Papanya yang berada di lantai atas.
Tok...tok...
"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam..Jantungnya berdesir, baru dengan suaranya saja aku gemetaran.
Al membuka pintu dan masuk, dia langsung duduk di sofa di depan meja Zein.
Zein masih fokus pada lembaran dihadapannya tanpa menoleh kearah sang putera.
Sepuluh menit berlalu, Al mulai merasa diabaikan. Dia berdehem sebagai kode jika dia ada disana.
"Apa kau terlalu sibuk hingga tak sabar menunggu?" suara bariton ini menginterupsi.
"Bu..bukan seperti itu Pa." Al menjawab dengan ragu.
Zein menutup berkasnya dan menatap putera kesayangan nya itu, jujur dia juga sangat ingin memeluknya, Zein begitu merindukan kekeras kepalaan sang juniorl
"Papa memanggilmu bukan berarti Papa sudah memaafkan kesalahan dan kekacauan yang telah kau buat." Zein mulai angkat bicara.
" Tidak hanya sekali tapi dua kali kau mempermalukan Papa." lanjutnya dengan suara lantang dan tegas. Al merasa jantungnya berpacu cepat.
Al masih bingung maksud Papanya, jika di panggil hanya untuk di marahi buat apa? batinnya kesal. Pasti ada sesuatu yang penting.
"Papa sebenarnya masih sangat malu jika bertemu keluarga Baskoro. Karena ulah mu itu yang..."
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menolongnya Pa!" potong Al tak terima disalahkan dan dituduh asusila.
"Aku bisa percaya, tapi orang lain bagaimana?".Zein menatap sengit.
"Tapi kenyataannya begitu, kalian berduaan di kamar hotel dengan kondisi gadis itu yang sangat..." Zein mendesah tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Siapa lagi yang akan percaya padanya? apa dia harus membawa surat pemeriksaan yang mengatakan dia masih virgin?±
"Aku berani bersumpah aku tidak melakukan apapun, aku hanya ingin menolongnya dari pria brengsek yang ingin menodainya, itu saja. Tapi Papa malah menikahkan aku dengannya"
"Lalu kau mau apa? mau jadi pria brengsek yang tidak mau bertanggung jawab?" kali ini Zein tak lagi bisa menahan emosinya.
"Pa!"
Zein menarik napas dalam."Kau anak Papa, jadilah pria bertanggung jawab Al,"
"Tapi aku sudah menikahinya, lalu apalagi!"
"Jangan coba menipu Papa, dari raut wajah mu Papa tahu kau belum bisa menerima dia, kau bisa membohongi orang lain tapi bukan Papa."
Zein menarik napas dalam, "Semua sudah terjadi, dan Papa hanya mengingatkan mu, ini kesempatan terakhir, Papa akan benar-benar mencoret namamu jika kau sampai menyakiti Caca dan juga bercerai darinya."
"Bagai mana jika dia yang meminta cerai?"
"Papa beri kamu kesempatan selama enam bulan. Ingat, semua perusahaan akan papa berikan kepada Haikal dan Brian, jika kamu mengecewakan papa."
"Bulan depan, kau akan memimpin perusahaan kita yang ada di kota S, Papa harap kau bisa jadi kebanggaan papa."
"Papa sudah membicarakan dengan bos mu"Zein berhenti sejenak menunggu reaksi Al, namun anak itu diam tak menjawab , "Dan beliau setuju."
"Aku tidak mau..." bantah Al
"Itu artinya kau menyerahkan perusahaan pada Haikal dan Brian." ancam Zein.
"Papa mengancam ku?'
"Papa hanya melakukan yang seharusnya sejak dulu dilakukan, Papa salah karena terlalu memanjakan mau."
"Sekarang keluarlah, Papa banyak pekerjaan." usir Zein pada putera kesayangannya sebelum perdebatan mereka semakin meruncing.
Al melangkah dengan gontai keluar ruangan papanya.
Al melangkah dengan lesu. Kembali dia merasa jika dunia tidak berpihak kepadanya, lagi dia harus menjalani sesuatu yang tak sesuai dengan hatinya.
Menikah dengan Caca adalah sebuah kesalahan, dan berpisah adalah keputusan yang tepat, tanpa harus melukai perasaan masing masing.
Tapi ancaman papa? bagaimana bisa aku mengabaikan nya begitu saja, sedangkan Haikal hanyalah seorang menantu, aku tak mau dan tak akan rela jika dia yang mengurus perusahaan papa. Tapi aku...aku tidak rela jika harus berpisah Cintya, dia gadis yang aku cintai. Bagaimana ini? Al bergelut dengan pemikiran nya sendiri.
"Hanya ada satu cara, membuat Caca menyerah dan meminta berpisah, ya itu satu satunya cara." ucap Al dalam hatinya
Pria itu terus berjalan menuju dapur, dia tertegun melihat sang mama asyik berbincang sambil memasak bersama menantunya. Pemandangan yang indah, namun jika itu istri yang dia inginkan, seandainya itu Cintya mungkin perasaan ini akan berbeda, lagi dia membatin di dalam hatinya.
"Al..kamu mau makan?" pertanyaan Zahra mengagetkan Al, pria itu tersenyum tipis menutupi kegugupannya.
"Tidak Ma, Al cuma mau pamit. Sore ini Al harus balik, ada pekerjaan yang tak bisa Al tinggalkan." ucapnya lembut pada wanita yang sudah membesarkan nya itu.
"Lho cepat sekali, Caca nggak bilang sama Mama?"
"Al aja yang pulang Ma, nanti Caca Al jemput lagi mungkin dua tiga hari lagi, iya kan sayang?" tanyanya pada Caca yang tetap fokus memasak.
"Iya Ma, Caca masih kangen Mama dan Papa."
Zahra tersenyum lebar,"Ya sudah. Kapan kamu berangkat?"
"Sore ini Ma. Sayang, bisa bantu mas berkemas!" tanyanya pada sang istri dengan gaya manja.
Huh..senyum palsu, sayang...sayang. Apa tujuannya memanggilku sayang, pasti ada maunya.
"Tinggalkan saja, dan urus keperluan suamimu," ucap Zahra pada sang menantu.
Caca bangkit dan berjalan menuju kamar Al. Diikuti oleh pria sombong dan pengatur itu di belakangnya.
"Ada apa?" Caca bertanya dengan ketus.
"Aku akan pergi menemui Cintya, dan selama aku pergi kamu harus bisa jaga sikap dan jaga mulut. Jangan sampai ada yang tahu jika aku pergi menemuinya, paham!" Al bicara dengan penuh penekanan.
"Cuma itu?" tanya Caca dengan senyum sinis.
"Hai, Mr, sok cool. Dengar ya, kamu mau menemuin siapa pun aku tak perduli, mau itu Cintya atau kekasihmu yang lain, aku tak per duli..." tegas Caca.
'Bagus, semoga kau tepat janji." lanjut Al. Setelah itu dia berlalu meninggalkan Caca.
mau tau gimana rasa nya,,sini Aq bisikin ca😅