NovelToon NovelToon
The Second Life

The Second Life

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Time Travel / Mengubah Takdir / Mengubah sejarah / Tamat
Popularitas:909.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nojaelin

Charlotte Mikaela Vanhoiren, yang ditetapkan sebagai Ratu dari Kaisar Vanhoiren ke-XX, dieksekusi gantung oleh Kaisar yang adalah suaminya sendiri dan dicap sebagai pengkhianat.

Saat berpikir tidak ada lagi kesempatan bagi Charlotte untuk membalaskan dendamnya, dia malah kembali ke saat di mana dia belum menjadi seorang Ratu.

Season 2:

Setelah Charlotte berhasil naik takhta menjadi seorang Kaisarina Vanhoiren I, Charlotte pun memulai rencananya untuk menyatukan keempat wilayah, termasuk Vanhoiren.

Selain itu, Charlotte juga harus mencari cara untuk menyatukan hubungannya bersama dengan Lucas. Berhasilkah Charlotte menggapai rencananya? Apakah Charlotte dan Lucas bisa bersama?

Rilis : Dua hari sekali (Sesuai kondisi author)

Cerita original Nojaelin
Cover The Second Life hanyalah visualisasi dan bukan milik Nojaelin

Kata per Chapter (kecuali Prolog dan Epilog) : 1000 - 1

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nojaelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXV - Kebersamaan Kami

Dua hari berlalu sejak kejadian mendebarkan di Hari Pemburuan tempo lalu. Aku sekarang hanya berdiam diri di Istana Perunggu sampai kakiku sembuh nanti. Isla duduk di sampingku sambil menyulam sapu tangan untukku.

Kursi panjang di taman samping yang kududuki sekarang bisa dilihat langsung dari jendela kamarku. Holly sedang pergi keluar bersama dengan Chloe untuk memesan beberapa bahan makanan pada penjaga gudang Kekaisaran.

Kututup buku yang kubaca lalu menghela napas panjang. Rasanya aku bosan.

“Charlotte!” seru Lucas. Tunggu dulu, Lucas?! Aku menengadah ke atas dan mendapati dirinya yang melambai dari jendela kamarku. “Hai!”

“Kenapa kau ke sini?” tanyaku terkejut.

“Menjengukmu,” jawab Lucas sambil melompat dari jendelaku. Dia mendarat dengan sempurna meskipun baru saja melompat dari jendela lantai dua. “Bagaimana kakimu?”

“Sudah tidak sakit. Tapi tetap saja belum bisa berjalan dengan baik,” jawabku pada Lucas.

Lucas duduk di tengah-tengah antara aku dan Isla. Aku jadi harus bergeser sedikit agar tidak sempit. “Kau dipanggil Ava,” kata Lucas pada Isla.

“Baiklah, aku akan segera ke sana, Yang Mulia,” ucap Isla sambil terbang menuju jendela kamarku dan masuk ke dalam.

Kenapa semuanya malah keluar-masuk kamarku lewat jendela?!

“Karena lebih cepat lewat jendela,” kata Lucas seraya berbaring di kursi dan menjadikan pahaku sebagai bantal kepalanya.

Ugh, Lucas kau terlalu santai.

“Tenang saja, Charlotte. Aku sudah pakai ramuan sihir yang diberikan Ava. Tidak ada yang bisa melihatku di luar jarak satu meter.” Lucas memejamkan mata. “Aku ingin tetap berada di dekatmu sedikit lebih lama hari ini.”

Aku memainkan rambut hitam Lucas karena menarik perhatianku. “Ingat pekerjaanmu di Avnevous, Lucas.”

“Kau tahu kan aku khawatir padamu walaupun akan ada Isla yang menjagamu setiap saat?” Lucas tidak mau menanggapi perkataanku tentang pekerjaan. Lucu sekali. “Kau sudah baca surat yang kuberikan?”

“Ah, aku melupakan surat pemberianmu. Maaf, Lucas.”

“Yah, jika kau baca ... kau pasti akan menggodaku terus karena hal itu,” kata Lucas. “Tapi aku berharap kau akan membaca suratku secepatnya.”

Aku tergoda untuk menjahilinya. “Baiklah, akan kubaca di depanmu sekarang. Kebetulan aku membawa suratnya karena kuselipkan di buku ini.” Kuperlihatkan buku yang kubaca tadi.

Lucas bangun dan kembali duduk. Lalu merebut buku di tanganku. Dibukanya setiap lembar buku tersebut, namun dia tidak menemukan satu pun surat di dalamnya. Saat dia menatapku, aku tengah asyik menahan tawa karena berhasil menjahilinya.

“Oh, Charlotte. Kau berhasil mengelabuiku,” ucap Lucas mengaku. “Bagaimana bisa wanitaku yang anggun dan pemarah ini jadi seperti Nenek Ava?”

“Lucas, aku tidak pemarah,” sanggahku.

“Ya, kau pemarah,” kata Lucas keukeh. “Kalau kucium pasti kau akan menegurku.”

Aku mengernyitkan dahi. “Aku tidak-”

Cup!

Ah ..., dia malah mengecup bibirku singkat dan memasang wajah usil di hadapanku. Dia mencari kesempatan untuk ini!

“Lucas ....”

Lucas mengulurkan sebuah botol kecil berisi cairan biru yang dia ambil dari saku celananya. Aku menatapnya lalu mengambil botol itu dari tangan Lucas.

“Apa ini?” tanyaku pada Lucas.

Lucas bersandar di bahuku. Bersikap manja. “Obat untuk kakimu yang terkilir.”

“Terima kasih, Lucas,” kataku padanya. Lucas tak menjawab. Dia sibuk memainkan rambutku dan bersenandung ceria.

Kuputuskan untuk membaca buku milikku lagi. Kami tetap seperti itu selama setengah jam. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Lucas. Tapi setelah memainkan rambutku, dia malah menarik-naik renda di gaun yang kupakai.

Dan sekarang, tahu-tahu dia malah menarikku ke dalam pelukannya.

“Ada apa?” tanyaku yang kemudian membalas pelukannya.

“Aku kesal kau mengabaikanku,” kata Lucas. “Sekarang biarkan aku memelukmu dan menambah kekuatanku sebelum pulang ke Avnevous.”

Aku tersenyum. “Kekuatan apa?”

“Kekuatan cinta,” jawab Lucas. Dia melepaskan pelukannya dan berjongkok di depanku. Tangan kanannya dijulurkan ke depan.

“Kau mau melamarku?” tanyaku menatapnya.

Lucas tertawa. “Charlotte, kau tidak sabar menikah denganku, ya? Aku juga ingin kita cepat-cepat menikah dan memiliki bayi-bayi mungil yang lucu seperti aku. Tapi itu belum boleh dilakukan.”

Ugh, pipiku memanas karena malu. Lagipula kenapa dia sudah memikirkan hal sejauh itu sampai berpikir ingin memiliki bayi mungil dan lucu?!

“Kupikir begitu ....”

“Berikan botol obatnya. Aku hanya ingin mengolesi obat itu di kakimu,” kata Lucas.

Kuberikan botol obatnya pada Lucas. Dia memegangi kaki kananku dengan hati-hati dan melepaskan sepatu hak yang kupakai. Perban yang melilit kakiku dilepas juga olehnya.

Dia membuka penutup botol obat yang telah ada di tangannya, kemudian menumpahkan seluruh isinya ke atas telapak tangannya.

Digosoknya obat itu di kakiku dengan gerakan memijat. Aku meringis karena terasa sakit, namun dia menatapku dan tersenyum. Seakan menenangkanku tanpa berkata apa pun.

Semakin lama dipijat oleh Lucas, kakiku semakin membaik.

Lucas memasang kembali sepatuku dan berdiri. Dia kembali mengulurkan tangannya. “Cobalah berdiri, Charlotte.”

“Baiklah,” kataku sambil menyambut tangan Lucas.

Nyatanya dia mendekapku dalam pelukannya dan merangkul pinggangku. Kami malah ..., berdansa. Ya, aku diajak Lucas berdansa, namun kakiku tidak merasa sakit.

Di taman Istana Perunggu, kami berdansa tanpa iringan musik dan tertawa bersama.

*

Kini aku dan Lucas duduk di sofa yang ada di kamarku karena kelelahan sehabis berdansa. Isla belum kembali dari Avnevous. Lucas mengatakan padaku jika dia akan pulang jika Isla sudah kembali.

“Apa yang kau sukai dariku?” tanya Lucas mendadak.

“Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu?”

“Aku kan penasaran,” kata Lucas. “Jangan bilang karena ketampananku, ya. Aku tahu jika aku memang tampan.”

Aku tertawa. “Percaya diri sekali,” kataku lalu berpikir sejenak. “Yang kusukai darimu .... Uhm, spontanitasmu?”

“Spontanitasku?”

“Iya,” kataku. “Kau melakukan segalanya dengan sebuah spontanitas. Natural dan sama sekali tidak ada unsur paksaan. Yah, semua yang kau lakukan tidak bisa kuprekdisi.”

Lucas terlihat kecewa. “Kupikir kau menyukaiku karena aku imut dan menggemaskan.”

“Ya ampun, Lucas.” Aku tidak habis pikir kenapa saat memasang raut wajah kecewa pun dia terlihat menarik. “Aku selalu menyukai semua tentangmu. Kau jangan khawatir.”

Kulihat Lucas kembali tersenyum. “Aku juga, Charlotte,” ucap Lucas. “Apalagi melihat ekspresimu saat kucium.”

Mulai lagi sikap Lucas yang suka menggodaku.

“Sudahlah Lucas, jangan terus menerus menciumku tanpa aba-aba,” kataku padanya.

“Tidak boleh?”

“Uhm ....” Aku berpikir sejenak.

“Jadi, boleh kucium kau sekarang?” tanya Lucas sambil tersenyum.

Aku terkejut. “Apa?!”

“Katamu tidak boleh mencium tanpa aba-aba,” kata Lucas. Dia langsung mendekatiku hingga wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja. “Kumulai, ya.”

“Lucas-”

Dia kembali menciumku untuk yang kedua kalinya di hari ini. Berbeda dengan saat pertama yang hanyalah kecupan, ciuman Lucas yang sekarang sangatlah dalam dan hangat.

1
@Biru791
yah hiatus
Ni Ketut Patmiari
ceritanya bagus, sayang like nya dikit
Ni Ketut Patmiari
ayok tetap kuat ratu.... singkirkan semua penjahat
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Auriliya Mawadah
semangatku ada di like eps mu Thorrr. mangattt
Auriliya Mawadah
Masya Allahhh
Sulati Cus
oh apakah di king jg di hidupkan kembali
Sulati Cus
ibu Ratu terlalu pede keknya😂tanpa jd ratu dr anakmu, Charlotte udah calon ratu negeri lain
Sulati Cus
oh y ampun narzis nya kambuh
Sulati Cus
pasti si rambut cabe merah😂
Sulati Cus
kyknya rose klan penyihir
Dewi
Masih penasaran siapa yang memberi pengulangan waktu kepada Charlotte, apa mungkin perwujudan dari Hawa, atau mungkin saja Dewi
Dewi
Kayaknya ada yang memberi tuduhan palsu, direkayasa seakan nyata
est
kayaknya rose anak selir tu dech yg punya ilmu hitam utk nguasai kerajaan
est
yg punya ilmu hitam jangan2 rose krn katanya perempuan
est
apa bisa ndak usah menikah ma idris ndak rela
Linda Lie
Sangat ditunggu lanjutannya thor.. Semangat
Linda Lie
kok Idris matinya enak2 aja ya
Linda Lie
Kapan sih Idris dicampakan sm Charlotte,, udh jijik bgt liat raja sialan itu
Linda Lie
Kaisar sialan, jalang trs yg diurusin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!