⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panti Asuhan
"Re-Rendi?!
Kedua mataku terbelalak kaget. Aku memang terkejut, namun di sisi lain aku juga merasa lega karena Rendi datang
"Apa-apaan lu Bayu?!"
Rendi tampak menggenggam kuat pergelangan tangan Kak Bayu. Aku bisa tau itu meski bukan aku yang merasakannya.
Kening Rendi tampak mengerut. Sorot matanya tampak menyala-nyala dan tak mau lepas dari Kak Bayu. Sepertinya saat ini Rendi benar-benar marah.
"Lu yang apa-apaan Ren, lama-lama tangan gue bisa sakit nih gara lu!" Balas Kak Bayu.
"Lu pikir tangan cewe gue ga sakit apa lu gituin? Lepas!" Perintah Rendi dengan mata melotot.
"Ck!"
Kak Bayu langsung melepas genggamannya dari lenganku. Lengan kiriku tampak memerah meninggalkan bekas genggaman tangan seseorang.
Grep
Tanpa aba-aba, Rendi tiba-tiba menggenggam telapak tanganku lalu menarik pelan diriku ke arah punggungnya. Ia tampak seperti ingin melindungiku dari Kak Bayu.
"Ngapain lu deketin cewe gue? Udah bosan sama Sera ya?" Ejek Rendi.
Aku mengintip sedikit dari balik punggung Rendi. Kak Bayu tampak diam sejenak sebelum tersenyum miring.
"Gue ga kayak lu Ren." Balas Kak Bayu.
Apa ini hanya perasaanku saja? Entah kenapa Kak Bayu terlihat berbeda dengan yang tadi.
Sebelumnya Kak Bayu terlihat menyeramkan karena dia tersenyum dengan mata melotot. Namun sekarang, dia tampak normal. Dia tidak lagi tersenyum dengan anehnya.
Memangnya ada ya orang yang bisa berubah secara tiba-tiba seperti itu? Aneh sekali. Apa dia punya kepribadian ganda?
Rendi menatap Kak Bayu dengan tajam. Aku tidak tau kenapa, tapi sepertinya Rendi benar-benar marah.
"Ren.." Ucapku lirih.
Aku menarik tangannya. Sesaat itu pula Rendi langsung menoleh ke arahku.
"Udah.. Ayo kita pergi aja." Bujukku.
Rendi sempat terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Aku berinisiatif untuk berjalan lebih dulu sembari menggandeng tangan Rendi.
Sembari melangkah pergi, aku bisa melihat pandangan Rendi yang tak mau lepas dari Kak Bayu. Rendi terus menatap Kak Bayu dengan tajam. Apa sebenci itukah dirinya pada Kak Bayu?
"Udah dong! Ayo buruan pergi!" Kataku.
Setelah berkata seperti itu, barulah Rendi mau melepaskan pandangannya dari Kak Bayu. Namun dahinya masih tampak mengerut.
Aku melirik ke belakang, ke arah Kak Bayu yang masih tetap berdiri di tempat yang sama. Menyadari dirinya yang diperhatikan olehku, Kak Bayu lalu tersenyum padaku dengan ramah sambil melambaikan tangannya.
Dasar aneh! Padahal sebelum Rendi datang tadi dia terus melototiku. Kenapa sekarang dia malah tersenyum dengan ramahnya?
Spontan aku langsung kembali menoleh ke arah depan. Kini aku tidak tau lagi bagaimana respon Kak Bayu terhadap tindakanku barusan. Namun yang pasti, saat ini Kak Bayu pasti menyadari kalau diriku menganggapnya aneh.
"Ren! Kamu kenal sama orang aneh itu?" Tanyaku pada Rendi.
"Enggak! Aku gak kenal." Jawab Rendi sembari mengerutkan keningnya. Sepertinya Rendi benar-benar benci padanya.
Aku tau kalau saat ini Rendi tengah berbohong. Aku bisa melihat dari sorot mata Rendi yang penuh dengan kebencian pada Kak Bayu.
Mereka pasti saling kenal. Bahkan tadi kudengar Kak Bayu sempat menyebut nama Rendi. Tapi ya sudahlah. Ini urusan Rendi. Aku tidak boleh terlalu ikut campur dalam urusannya hanya karena aku adalah pacarnya.
*****
Pada akhirnya aku dan Rendi tetap tidak mengubah tujuan kami untuk pergi ke kafe. Selama perjalanan tadi, Rendi hanya terus diam meski aku sudah mengajaknya berbicara lebih dulu.
"Kamu mau pesan apa? Pesananku sama kayak kamu ya." Ucap Rendi.
"Oh iya Sil, pesannya yang banyak ya! Ini uangnya." Sambung Rendi sembari menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribuan.
Hm? Untuk apa memesan banyak makanan? Aku terheran-heran pada Rendi. Meski begitu aku juga tidak berniat untuk protes.
"Banyaknya seberapa dulu?" Tanyaku.
"Em.. Mungkin.. 8?" Jawabnya ragu.
Aku mengangguk. Aku pergi untuk memesan makanan dan minuman sementara Rendi menunggu di luar. Sepertinya suasana hati Rendi sedang buruk. Bahkan ia tidak mau masuk ke dalam kafe meski hanya sebentar saja.
Perlu waktu sedikit lebih lama hanya untuk memesan karena kondisi kafe tengah ramai oleh para pelanggan. Sesaat aku kembali untuk menemui Rendi, aku tidak bisa menemukannya.
"Rendi? Dia ada di mana?" Motornya masih ada di sini kok."
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun aku tak juga menemukan Rendi hingga akhirnya aku melihat sekumpulan anak-anak yang tengah bermain bola bersama.
"Orang yang pake seragam sekolah itu.. Rendi?! Ngapain dia di sana?"
Tepat di seberang jalan dari tempatku berada, aku bisa melihat Rendi di sela-sela padatnya kendaraan di jalan.
Aku berjalan ke sana. Kondisi jalan yang lumayan padat membuat kendaraan-kendaraan yang melintas melambat, sehingga aku dapat dengan mudah melewati semua kendaraan itu.
"Rendi!"
Aku mencoba untuk memanggil Rendi setelah berhasil menyebrang. Namun sepertinya Rendi tidak mendengar panggilanku.
Rendi terlihat sibuk bermain bola kaki bersama anak-anak kecil. Aku bisa melihat bibirnya yang tampak melengkung membentuk senyuman.
Dilihat dari papan nama yang tertera di depan, tempat ini adalah panti asuhan. Tapi untuk apa Rendi datang kesini?
"Kak! Kak Ren! Itu ada kakak cantik datang!"
Rendi tiba-tiba menoleh ke arahku. Dia tampak terkejut sesaat melihatku.
"Silvi? Udah selesai?" Tanyanya padaku.
Aku mengangguk pelan sembari tersenyum. Ku lambaikan tanganku pada anak-anak kecil yang sejak tadi sudah memperhatikanku.
Rendi tiba-tiba berjalan mendekat ke arahku. Aku bisa melihat para anak-anak yang memperhatikan kami berdua sesaat Rendi sudah ada di dekatku.
"Makasih ya Sil, tapi bukannya ini ga kebanyakan? Ngapain kamu beli 10?" Tanya Rendi padaku.
"Hehe."
Sebenarnya aku juga tidak berencana untuk membeli sebanyak ini. Tapi karena uangnya bersisa, ya sudah aku beli saja lagi.
"Kak.."
Tiba-tiba aku merasakan sweater yang kukenakan ditarik dari bawah beberapa kali. Sesaat aku menoleh, aku menemukan gadis kecil yang tengah menatapku.
"Kakak cantik, kakak pacarnya Kak Rendi ya?" Tanya gadis kecil itu padaku.
"Eh?"