Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Blessed Sunday !
Arya
Ia telah selesai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer yang telah ia pinjam dari pacarnya dan bergegas untuk memakai pakaiannya.
Ripped jeans yang kemarin ia kenakan, sudah terlipat rapi di atas kasur. Sekarang kakinya sudah tertutupi dengan chinos pants khaki yang ia bawa.
Badannya yang terbilang cukup atletis telah ia balut dengan kemeja berwarna biru dongker polos , dengan lengan panjang yang ia gulung ke atas.
Ia kembali berdiri di depan kaca, menyisir rambut gondrongnya dan menguncir cepol ke atas.
Parfum berbotol silver dengan aroma fresh spicy, green, vodka, musk, dan woody yang tercampur menjadi satu, membuat tingkat ketampanannya naik 100%.
................
Clara
Ia sudah selesai merias wajahnya menjadi tampak lebih segar. Tampil dengan make up natural selalu menjadi andalannya.
Dress lengan pendek tanpa kerah, berbahan kaos dengan panjang di atas lutus telah melekat sempurna di badannya.
tokk..tokk..tokk..
"Yang..udah?"
Ia sedikit berlari menuju ke arah suara itu.
ceklek..
"Tinggal nyisir rambut..bentar..ya" ucapnya seraya membuka pintu kamarnya lebar-lebar lalu kembali berjalan ke meja riasnya.
"Aku boleh masuk nih?" ucap lelaki yang berdiri di depan itu kamarnya itu.
"Boleehhhh mas sayang.."
................
Arya
Ia mengamati seluruh bagian kamar itu, mulai dari bathroom hingga foto-foto yang menghiasi kamar itu.
Ada satu foto yang membuat dirinya tersenyum, nampak ia sedang merangkul perempuan pemilik kamar itu.
Kali ini ia memilih duduk di atas kasur yang dibalut dengan sprei serba putih itu.
Perempuan yang hampir selesai menguncir rambut panjangnya itu, sekarang menjadi pandangan utamanya.
"Cantik" gumamnya dalam hati.
"Cantik amat mbak..mau ke mana? Mau nggak jadi pacar aku?" godanya.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya di depan kaca, lalu beralih menuju ke rak yang berisi beberapa tas.
"Nggak mau kalau cuma jadi pacar, udah bosen pacaran.."
"Cieee..kode nih ? Iya ntar pas bapak ibu pulang, aku lamar.."
Kini perempuan itu berdiri di hadapannya. Ia langsung menarik pinggangnya dan memeluknya.
"Emang berani? Nggak takut ditolak?" cibir perempuan itu sambil memandang dirinya yang telah mendongak dengan dagu yang bersandar di perut rata Clara.
Ia gantian menggelengkan kepalanya.
"Nggak mungkin ditolak.." jawabnya yakin dengan menyunggingkan senyumnya, lalu mencium perut Clara.
Kemudian ia bangkit berdiri, tapi dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Clara.
"Keluar yukk..kelamaan di sini bahaya. Nanti ini bisa nggak rata lagi.." bisiknya sambil mengelus perut Clara, kemudian berlalu menuju pintu kamar itu.
Clara meliriknya, tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Setidaknya hanya itu yang mampu ia lakukan, menahan hasratnya saat berdua dengan Clara.
Bagaiman tidak, Clara selalu menjadi candu baginya dan mampu mengoyakkan imannya sebagai laki-laki normal yang berpengalaman dalam bercinta.
................
"Yang mau pakai mobil yang mana?" tanya Clara sambil meneguk segelas air putih.
"Pakai mobilku lah.." jawab Arya yang telah menunggunya di depan pintu.
"Jadi maksudnya kita naik taxi online dulu ke rumahmu?" tanya Clara yang masih belum mengerti.
Arya hanya menjawab dengan mengacungkan kunci mobilnya.
"Lhoh..kok ada di sini?" Clara bingung mobil silver itu sudah bertengger di halaman rumahnya.
"Tadi pas kamu mandi, sopirnya ibu nganterin ke sini." jawab Arya sambil berlalu menuju mobilnya.
"Terus sekarang di mana?" tanya Clara sambil mengunci rumahnya.
"Pulang lah..tadi anaknya ikut tapi naik motor.."
"Ehmm gitu..yaudah keluar dulu.."
Arya mengeluarkan mobilnya dan Clara langsung menarik pagar rumahnya, lalu menggemboknya.
................
Arya
"Ehh udah dateng..sek bentar ya bapak lagi pakai baju.." ucap ibunya yang sedang mendapatkan ciuman di tangan oleh calon menantu.
Ini memang masih satu jam dari jadwal mereka ke gereja. Tapi bapak ibunya ingin ke gereja yang terletak di tengah kota pelajar itu.
Bapaknya sudah tampak rapi dan terlihat gagah keluar dari kamarnya.
"Wes (sudah) ?" ucap Bapaknya.
"Ibu udah siap daritadi, ya udah ayo !" ucap ibunya sambil beranjak berdiri.
Mereka berjalan keluar menuju halaman depan. Semua mengenakan warna serba biru, tampak senada.
................
Clara
Arya sudah membuka mobil suv itu dan masuk. Ia menuju ke pintu penumpang bagian belakang, namun langkah perempuan itu tiba-tiba terhenti.
"Lhohh..kamu di depan aja..biar bapak sama ibu di belakang.." ia hanya diam mendengar ucapan bapaknya Arya, entah apa yang ia pikirkan.
Ia langsung menuruti dan berjalan ke pintu penumpang bagian depan, lalu duduk di sana.
Arya yang sedari tadi hanya tersenyum mengamati gerak-geriknya langsung membuka suara,
"Nggak apa-apa,santai aja.."
"Aku nggak enak.." ucapnya pelan sekali, ia takut kalau calon bapak mertuanya yang sudah membuka pintu mendengarnya.
"Nahh gini kan enak..sepasang - sepasang..kalian jangan liat belakang ya..kita mau romantis-romantisan.." ucap bapaknya Arya santai, persis seperti Arya yang selalu berkata tanpa pernah dengan nada keras, walaupun di saat hatinya emosi.
"Ya sini nggak boleh nengok ke belakang, lha situ yang di belakang bisa puas dong nonton orang mau mesra-mesraan di depan?" cibir Arya ke bapaknya.
"Helehh..ra pengin (nggak pengin)..jam terbang masih rendah.. ya kan bu?"
Pertanyaan itu malah langsung memancing tawa seisi mobil.
................
Arya melajukan mobilnya menuju ke Kotabaru. Perjalanan memakan waktu setengah jam untuk sampai ke sana.
Maklum kota ini selalu dihiasi dengan hiruk pikuk warganya yang tanpa mengenal waktu. Namun Kota Yogyakarta menyimpan sejuta cerita bagi setiap orang yang pernah menyapanya.
Termasuk sepasang kekasih yang sedang melaju di dalam mobil ini.
................
Suara nyanyian penutup kegiatan beribadah di gereja itu telah terdengar.
Mereka masih berdiri di halaman gereja.
"Makan ke mana bu?" tanya Arya.
"Bapakmu sih tadi pengen sop kaki kambing."
"Bang Udin? Yaudah ayo.."
Arya lalu menggandeng tangan perempuan itu sampai menuju ke mobilnya.
"Sek bentar, ibu tak beli pukis dulu." ucap bu Yani (ibunya Arya) sambil berhenti di tempat penjual kue bandung legend itu.
"Clara temenin bu," ucap Clara berbalik menuju ke arah ibu Yani.
"Yaudah kita tunggu di mobil ya.." teriak bapak Artono (bapaknya Arya) sambil berjalan.
Tampak kue pukis yang sudah matang berjajar di sana, tapi entah itu pesanan siapa. Mereka beruntung, karena biasanya harus mengantri, saat ini sangat lengang.
"Mas, kue pukis keju 4, coklat 3, keju coklat 3.." ucap ibu Yani ke penjual kue itu.
Sambil menunggu pesanan, mereka duduk di kursi plastik yang berjejer di sana.
"Kamu beneran nggak tidur di rumah ibu aja? Besok Arya kan juga ke Jakarta, bapak juga ke Bali, Ra.."
"Coba nanti Clara bilang ke bapak ibu dulu ya bu.." Clara masih bingung menerima atau menolak tawaran ibunya Arya.
"Ya sudah kalau gitu, kamu jangan sungkan kalau sama bapak ibu Ra, santai aja. Arya udah sering cerita tentang kamu, jauh sebelum dia ngungkapin ke kamu. Semoga Tuhan merestui hubungan kalian ya, kalau bapak ibu sih udah merestui dari dulu." ucap ibunya Arya seraya memegang punggung tangan Clara.
Hati Clara seketika terharu dan mengamini ucapan itu.
Wanita cantik yang selalu diceritakan oleh kekasihnya karena kebijaksanaannya ini secara langsung memberikan lampu hijau untuk hubungan mereka.
Arya yang duduk di belakang kemudi, menatap kedua wanita yang dicintainya itu tampak akrab dan kompak. Senyuman mengembang di wajahnya.
......................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜