Di novel Author yang kedua ini, Author akan menceritakan sebuah peliknya kehidupan seorang pemuda tampan, yang dimana kehidupannya selalu di selimuti kesedihan yang sangat perih di dalam dirinya.
pengalaman hidup, akan kehilangan orang orang yang sangat di sayangi, membuatnya berpikir, dia belajar dan terus belajar menjadi orang yang sangat kuat, dan tak ingin lagi menjadi sosok seorang lelaki yang lemah cengeng dan manja.
Hingga pada suatu masa, ketika ia telah dewasa. Dirinya terjebak di sebuah dunia, dimana ketika itu, tak ada kehidupan canggih seperti zaman sekarang ini.
Berat memanglah berat, kehidupan yang di jalaninya. Mungkinkah Leon bisa bertahan sekaligus melewati petualangan hidupnya.
Simak dan baca terus, kisah perjalanan Leon Scott Kennedy dalam mengarungi bahtera kehidupanya yang sangat pelik dan epic.
Jangan lupa like rate and comment karya terbaru saya,
Salam Author
Arby Yingjun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUASANA PAGI
Di suasana pagi yang dingin, matahari pun belum menampakan senyumnya ke seluruh alam.
Lain dengan Virza, ia terlihat telah bangun dan sibuk dengan suara osengan wajannya di dapur.
Aroma gurih dan lezat nasi goreng ala perancis yang di buat oleh Virza, menyebar dan menyeruak ke segela penjuru ruangan. Hingga membuat sang bidadari bangun dari alam bawah sadarnya.
Ray, turun dari tempat tidurnya. Dengan rambut yang masih terlihat acak khas orang tidur, Ia melangkah ke arah dimana aroma itu berasal.
"Sudah bangun sayang?, bagaimana tidurnya?" Virza mematikan kompor gasnya.
Raylene tersenyum cantik, menatap Virza yang memanggilnya sayang.
Raylene melangkah menghampiri Virza dan memeluknya dari belakang.
"Nyenyak, nyenyak sekali sayang," bisiknya di telinga Virza dan membuat Virza sedikit merinding.
"Ya sudah, sana cepat mandi!, habis itu sarapan bersama kita." titah Virza.
"Siap Boskuh." Virza berlalu membawa handuk dan masuk ke kamar mandi.
Virza memindahkan nasi goreng ala Perancisnya ke dalam 3 piring dan membawanya ke meja makan.
Setelah selesai, kini tugasnya adalah membangunkan Leon, di dalam kamarnya.
Di dalam kamar Leon, Virza mengguncang lembut Leon agar bangun dari tidurnya.
"Leon sayang, bangun udah siang." Virza mengussa kepala Leon.
Leon mengerjapkan matanya, ia duduk sesaat menunggu seluruh energi dan nyawanya terkumpul kembali di tubuhnya.
"Ini handuknya," Virza memberikan handuk padanya.
Leon mengangguk dan turun dari tempat tidurnya.
Di depan pintu kamar mandi, terlihat Ray yang telah selesai dengan ritual mandi dengan kepala terbungkus handuk dan masih menggunakan baju yang semalam ia pakai.
"Tante sudah beres." tanya Leon.
"Sudah sayang, sana cepat mandi." Ray tersenyum dan kembali masuk ke dalam kamar Leon.
Di dalam kamar, Ray membuka lilitan handuk di kepalanya. Tak lupa juga untuk mengerikan rambutnya dengan hair dryer.
Dia membuka tasnya, membuka sedikit perlengkapan ke wanitaanya. Dengan sedikit polesan bedak dan lipstik yang tak begitu tebal dan berkesan natural,Raylene benar benar cantik sekali pagi itu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Tante." panggil Leon dari luar pintu kamarnya.
"I ya, Leon sayang. Masuk saja, tante sudah selesai kok." Ray membereskan kembali peralatan make upnya.
Leon membuka pintu dan masuk di ikuti Virza.
"Kamu sebaiknya bergegas mandi!, Leon biar aku yang urus." Ray memberikan handuk bekas di gunakanya pada Virza.
"Baiklah kalau begitu." Virza kembali melangkah menuju kamar mandinya.
Di dalam kamar Leon, ia mengedarkan pandangannya mencari, di mana baju seragam Leon yang biasa ia gunakan untuk sekolah.
"Dimana kamu simpan seragamnya sayang." Ray yang tak menemukan seragam Leon.
"Seragamnya di cuci oleh Om Virza," jawabnya.
"Lantas?" tanya lagi Ray.
"Sekarang hari Jum'at, jadi Leon pakai seragam batik. Dan itu ada di dalam lemari Leon."jelasnya pada Ray.
Ray membuka lemarinya, dan dengan cepat matanya menangkap seragam batik berwarna hijau dan mengambilnya secara perlahan, agar tidak membuat baju yang lainya menjadi berantakan.
"Ayo pakai seragam batiknya sayang." pinta Ray.
Leon mengangguk dan memakai seragamnya, sementara Ray membantu mengkancingkan beniknya.
"Sudah selesai sayang, ayo kita sarapan dulu." ajak Ray yang di balas anggukan Leon.
Mereka berdua menuju ruang makan. Dan Virza terlihat di sana telah selesai dengan membuat susunya.
Mereka bertiga telah duduk dan siap dengan sarapanya.
"Berdoa dulu ya!" ajak Virza pada mereka.
"Amin." Ray dan Leon berucap bersamaan.
Ray tersenyum puas dengan hasil masakan kekasih hatinya, ia benar-benar tak menyangka, bahwa Virza bisa membuat nasi gorengnya selezat ini.
"Enak," Virza berharap Ray menyukai nasi goreng buatan tanganya.
"Uhhhhh bangettt." Ray tersenyum puas.
Kini mereka telah menyelesaikan sarapan paginya.
"Leon, jangan lupa habiskan dulu susunya ya!" Virza mengingatkan Leon.
"I ya, Om." Leon mengangkat gelas susu dan mulai meminumnya.
Pagi itu Ray damai sekali melihat Leon meneguk susunya sampai tetes terakhir.
"Kamu kenapa tidak minum susu?" tanya Ray yang melihat Virza tersenyum memandang Leon.
Virza memegang tangan dan memandang Raylene.
"Aku sudah." Virza mengedipkan matanya pada Ray.
"Kapan?, aku tidak melihatnya pagi ini kamu minum susu." jawab Ray.
Virza mendekatkan bibirnya di telinga Ray.
"Tadi malam aku sudah puas minum susu." Bisik Virza yang membuat Ray terbelalak dengan wajah memerah.