NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Senar Menghubungkan Dua Dunia

Ia mendengar jawaban Meloudy yang pelan:

'Aku selalu berhati-hati, Kak.'

Kalimat itu terasa begitu lembut, namun terdengar begitu sendirian. Seolah ia memang terbiasa berhati-hati, menjaga diri, menanggung semuanya sendiri.

Vano menghela napas getir. Ia tidak bisa maju. Tidak bisa muncul dan berkata

"kalian salah menilainya"

Itu hanya akan membuat keadaan lebih rumit, lebih menyakitkan. Ia hanya bisa berdiri di sana, menelan semua itu — kebenaran, tuduhan, kepedulian yang tak boleh ia balas — lalu melangkah pergi.

Perlahan, tanpa suara, ia berbalik dan melangkah menjauh. Langkahnya berat, seakan ada rantai yang menariknya ke belakang. Ia tidak berani menoleh. Tidak berani membiarkan mereka melihat wajahnya yang penuh rasa bersalah dan kesedihan.

Di ujung lorong, Meloudy tiba-tiba berhenti berjalan. Ia merasa ada sesuatu — seolah ada orang yang tadi berdiri di sana, mendengar semuanya. Ia menoleh ke belakang, menatap lorong yang kini kosong.

"Ada apa, Sayang?" tanya Nadine pelan.

Meloudy menggeleng pelan, meski hatinya berdebar tak menentu.

"Tidak ada, Kak. Sepertinya hanya perasaanku saja."

Namun jauh di lubuk hatinya, ia tak yakin sepenuhnya. Angin malam membawa sesuatu — perasaan bahwa kata-kata itu sampai ke telinga yang tepat, dan menyisakan luka yang baru.

Meloudy melangkah mendampingi Nadine menuju kamar yang telah dipesan. Setelah barang-barang tersimpan rapi di lemari, mereka berjalan kembali menyusuri lorong menuju lobi tempat teman-temannya masih menunggu.

Di tengah perjalanan, Nadine menggandeng lengan keponakannya lembut, lalu bertanya dengan nada penuh harap:

"Kapan kita pergi ke rumah sakit, Meloudy? Aku ingin segera melihat Tante Mila di sana."

Meloudy menunduk sejenak, menyusun jawabannya dengan tenang.

"Besok pagi, Kak. Hari libur, itu jadwalku menjenguk Ibu di rumah sakit." Ia menatap sepupunya, tersenyum tipis.

"Hari ini aku berencana membeli semua kebutuhan Ibu yang sudah habis, sekalian pergi bersama teman-teman. Lalu kita menginap bersama Kakak di hotel ini."

Nadine mengerjap sedikit, bingung.

"Menginap di sini? Bukankah kita bisa langsung pulang ke rumah kontrakanmu? Aku ingin melihat tempat tinggalmu juga, Sayang."

Jantung Meloudy berdebar tak menentu. Ia menelan ludah, mencari alasan yang masuk akal — tak bisa memberitahu yang sebenarnya, bahwa ia tak bisa membawa siapa pun ke sana.

Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal; di balik dindingnya tersimpan rapat identitas lain yang ia jaga mati-matian. Di sana, bukan hanya Meloudy yang ada, melainkan juga Laudys — sosok yang dikenal ribuan orang di kanal daringnya, sosok yang tak boleh diketahui siapa pun, bahkan orang terdekat sekalipun.

"Kak…" suaranya terdengar lembut namun tegas.

"Sebaiknya Kakak tidak ke rumah kontrakan itu. Tempatnya… belum siap menerima tamu. Berantakan sekali, dan aku belum sempat merapikannya. Biarlah kita menginap di sini saja, lebih nyaman untuk Kakak yang baru saja perjalanan jauh."

Nadine menatapnya lekat, melihat keraguan di mata keponakannya. Ia tak memaksa, namun keheranannya tak bisa disembunyikan sepenuhnya.

"Baiklah… kalau begitu. Aku mengikuti kemauanmu," jawab Nadine akhirnya, mengusap punggung tangan Meloudy pelan.

"Asal kau tidak menyembunyikan sesuatu yang berat sendirian, ya?"

Meloudy tersenyum getir, menunduk agar matanya tak terbaca.

"Tidak ada yang berat, Kak. Aku hanya ingin Kakak beristirahat dengan tenang."

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu itu bukan alasan yang sebenarnya. Ada hal yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun — tak pada Kak Nadine, tak pada teman-temannya, bahkan tak pada Ibu sendiri. Sesuatu yang begitu rapuh, yang jika terkuak akan mengubah segalanya, menyakiti orang-orang yang ia sayangi, dan meruntuhkan perlindungan yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Sebab itu, ia harus memikulnya sendirian, menutup pintu rapat-rapat, dan membiarkan keraguan itu tetap tersimpan di tempat yang tak boleh siapa pun jangkau.

Sesampainya di lobi, Gita dan yang lainnya sudah berdiri menunggu dengan senyum hangat.

"Siap berangkat?" tanya Gita riang.

Meloudy mengangguk, menarik napas panjang berusaha menenangkan diri.

"Siap."

Ia melangkah bersama mereka, berusaha meletakkan keraguan itu di belakang — setidaknya untuk hari ini. Besok, saat mengunjungi Ibu, ia akan kembali menjadi Meloudy sepenuhnya. Dan rahasia yang tersimpan di balik namanya yang lain… akan tetap tersembunyi, di tempat yang tak boleh siapa pun temukan.

...****************...

Malam semakin larut saat Vano melangkah masuk ke gedung kantor yang sepi. Langkah kakinya bergema pelan di lorong yang kosong, menuju ruangan khusus pribadinya — ruangan berperedam suara, tempat di mana tak ada satu orang pun yang boleh masuk, tempat di mana ia boleh berhenti menjadi Vano yang teguh dan sendirian.

Ia mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, menarik tirai hingga tak ada celah cahaya yang tersisa, lalu duduk di kursi favoritnya. Di layar lebar di hadapannya, satu jendela peramban terbuka — halaman kanal yang selalu ia kunjungi di saat tak ada harapan.

Dan di sana, ada tanda yang belum pernah ia lihat sebelumnya: satu pembaruan baru.

Jantungnya berdebar kencang. Ia mengarahkan penunjuk ketikus ke judul video itu, menahan napas. Rasa rindu yang tak bernama seketika meluap, mengalahkan segala kelelahan dan kepedihan yang dipendamnya seharian. Ia mengeklik putar.

Suara petikan senar gitar meledak dengan kecepatan yang memukau — nada-nada tajam, terjalin rapat, berputar secepat kilat namun tetap terjaga keakuratannya, tak satu pun yang meleset. Irama yang kuat dan penuh tenaga bergema, seakan meluapkan segala amarah, kesepian, dan pemberontakan yang selama ini terpendam.

Perlahan, gambar terlihat jelas: tangan kanan yang bergerak lincah luar biasa di atas senar, jari-jari melompat di antara papan nada dengan ketepatan yang memukau — tato merambat dari punggung tangan, menutupi seluruh bagian tangan, hingga menjalar naik ke lengan atas; corak yang berani sekaligus misterius. Tangan itu menggetarkan dawai dengan kekuatan dan ketelitian yang seimbang, melahirkan melodi yang tajam namun menyentuh bagian terdalam hatinya.

Vano menatap tak berkedip, tak tahu wajah yang tersembunyi di balik sudut pengambilan gambar yang sengaja dijaga, namun setiap kali jari-jari itu menekan senar, ia merasa seolah dipahami. Di saat dunia menuntutnya menjadi orang lain, di saat ia terjebak di antara kewajiban dan kerinduan, inilah satu-satunya tempat di mana ia merasa pulang.

Ia menonton hingga akhir, mendengarkan suara itu berulang-ulang, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya. Beban di pundaknya perlahan luruh, digantikan oleh damai yang datangnya dari tempat yang tak diketahuinya.

Tak terasa matanya semakin berat. Punggungnya merosot perlahan di sandaran kursi, pandangannya masih tertuju pada layar yang kini menampilkan gambar diam — tangan bertato itu, berhenti sejenak, seakan menunggu. Napasnya teratur, perlahan menjadi tenang. Dan di ruangan kedap suara itu, di tengah kesunyian yang melindunginya, Vano akhirnya terlelap, memeluk rindu pada sosok yang tak dikenalnya.

Ia tak tahu — tangan yang sedang ia kagumi, suara yang menenangkannya, adalah milik wanita yang baru saja ia sapa di lorong hotel. Wanita yang berdiri begitu dekat, namun tak pernah ia kenali.

^^^Bersambung...^^^

1
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
naws
hih bangga bgt pasti dia bisa deket2 sama vano 😖
naws
kalopun tau, harusnya elona gaboleh marah. mereka kan gak ada komitmen.
naws
dia napsunya bukan sama kamu mbak
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
ginevra
ternyata udah fans lama ini mah....
ginevra
cuma nampilin tangan aja loh... udah buat Vano terpana .. hebat kamu melodi mehehe
Nona Cloe
wuohhh mulai serius nih, ada apa?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
itu kan rencanamu. tapi rencana author seharusnya ga begitu. betul ga?😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!