Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 Kestrel Aurenne
Orin tidak berdiri. Jarinya berhenti di tepi meja, satu ketukan, lalu diam. Di luar jendela, awan tipis bergerak melintasi matahari, membuat cahaya di ruangan meredup sesaat sebelum kembali terang.
"Kestrel," katanya, "aku sedang dalam pertemuan."
"Aku bisa lihat itu." Ia melangkah lebih dalam ke ruangan, sepatu botnya berdenting di lantai marmer, dua langkah, tiga langkah, berhenti tepat di samping kursi Arden, cukup dekat untuk membuat udara di sekitarnya terasa lebih sempit. Bau logam samar menempel di jubahnya, sisa minyak senjata yang belum sepenuhnya hilang. "Aku juga bisa lihat siapa yang sedang kau interogasi."
"Ini bukan interogasi."
"Terserah kau menyebutnya apa." Ia menyilangkan lengan, bobotnya bertumpu pada satu kaki, matanya masih mengunci Arden, tidak berkedip selama beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya. "Aku mendengar sistem pemantauan berbunyi tiga hari lalu. Lonjakan energi dari Menara Verlanth, cukup besar sampai membuat dua petugas jaga malam meninggalkan pos mereka untuk melapor. Aku sudah menduga sumbernya kelompok kecil yang tidak diawasi dengan benar."
"Kelompok kami terdaftar resmi," kata Arden.
"Terdaftar bukan berarti diawasi." Ia berjongkok sedikit, sikunya bertumpu di sandaran kursi Arden, wajahnya sejajar dengan wajahnya sekarang, cukup dekat untuk mencium sisa asap kayu yang masih menempel di jubah Arden dari perjalanan Hollowreach. "Aku Kestrel Aurenne. Kau pasti sudah dengar namaku, atau setidaknya seharusnya, mengingat kau bergerak di lingkaran yang sama meski di lantai yang jauh lebih rendah."
...----------------...
Arden tidak bergeser. Ia membiarkan jarak itu ada, membiarkan Kestrel menahan posisinya, tanpa memberi reaksi yang bisa dibaca sebagai kegusaran, meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasa, satu ritme yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan.
"Arden Voss," katanya, singkat.
"Aku tahu namamu." Kestrel berdiri tegak lagi, melangkah mengelilingi kursi, satu putaran penuh, seperti memeriksa kuda sebelum lelang, matanya turun ke pedang di punggung Arden, ke tangannya yang bersandar di lengan kursi, ke luka gores kecil yang masih terlihat di lehernya dari pertarungan Hollowreach. "S-Rank terendah di benua. Sudah bertahan di rank itu, berapa lama? Lima tahun? Enam?"
"Tujuh," kata Orin, dari balik mejanya, suaranya datar, lebih seperti memberi data daripada ikut campur, jarinya menggeser satu lembar kertas ke sisi lain meja tanpa benar-benar membacanya.
"Tujuh tahun." Kestrel berhenti di depan jendela, punggungnya membelakangi cahaya, membuat wajahnya sedikit dalam bayangan, siluetnya tegas terhadap langit siang di luar. "Kebanyakan S-Rank yang serius menembus level menengah dalam tiga tahun. Beberapa yang benar-benar berbakat, kurang dari itu."
"Aku tidak mengejar rank," kata Arden.
"Semua orang bilang begitu." Ia tersenyum, tidak ramah, lebih seperti menemukan sesuatu yang menghibur, sudut bibirnya naik sebelah. "Sampai mereka jujur soal kenapa mereka berhenti mencoba."
Brann bergerak di kursinya, jari-jarinya sudah setengah terangkat, jelas ingin bicara, tapi Ilena meletakkan tangan di lengannya, cukup untuk menahannya diam, kepalanya menggeleng nyaris tidak kentara.
...----------------...
"Lonjakan yang tercatat dari Verlanth," lanjut Kestrel, melangkah menjauh dari jendela, kembali mendekati meja Orin, jarinya menyentuh sudut kertas yang masih terbuka di sana sebelum Orin menariknya lebih dekat ke dirinya sendiri, ujung jarinya nyaris menyentuh milik Orin dalam gerakan itu, "aku ingin melihat datanya."
"Itu bukan wewenangmu," kata Orin.
"Belum jadi wewenangku." Ia tidak mundur, bertumpu pada tepi meja dengan kedua telapak tangan. "Tapi kalau memang ada sesuatu yang sedang bangun di bawah Aldenmere, aku ingin tahu sebelum aku terjebak di dalamnya seperti kelompok kecil ini."
"Kami bukan terjebak," kata Arden.
Kestrel menoleh padanya, cepat, tajam, rambutnya yang terikat tinggi berayun sekali dengan gerakan itu.
"Kau merasakan lonjakan itu di tubuhmu sendiri, bukan?" Suaranya turun, kehilangan nada mengejek yang tadi ia pakai, langkahnya kembali mendekati kursi Arden. "Dua puncak. Satu besar, dari sesuatu di dalam lantai. Satu lagi, lebih kecil, lebih tajam, dari sesuatu yang lain."
Arden diam. Diam yang cukup lama untuk terasa seperti jawaban, cukup lama hingga Ilena di sisinya menahan napas, menunggu.
"Aku pernah merasakan itu juga," kata Kestrel.
Ruangan menjadi lebih sunyi. Bahkan Orin, yang tadinya menahan diri dari percakapan ini, mengangkat kepala, matanya berpindah dari Kestrel ke Arden dan kembali, jarinya berhenti sepenuhnya di atas meja.
...----------------...
"Kapan?" tanya Arden, suaranya lebih rendah dari yang ia inginkan.
Kestrel tidak menjawab segera. Ia menarik salah satu kursi kosong, memutarnya menghadap ke belakang, duduk dengan lengan bersandar di sandarannya, kaki disilangkan, postur yang seharusnya santai tapi terasa seperti perhitungan, matanya masih tidak lepas dari Arden.
"Bertahun-tahun lalu," katanya akhirnya. "Sebelum aku mencapai rank ini. Aku sedang dalam ekspedisi lantai dalam, terjebak, kehabisan pilihan. Sesuatu di dalam diriku naik, lebih besar dari yang pernah kurasakan, cukup untuk menyelamatkan seluruh timku." Ia berhenti, jarinya mengetuk lengan kursi sekali, dua kali. "Lalu berhenti. Bukan melambat. Berhenti total, seperti pintu yang dibanting menutup."
Arden merasakan sesuatu dingin menjalar di tengkuknya, turun sampai ke bahu.
"Kau tahu apa yang kulakukan setelah itu?" Kestrel menyandarkan diri lebih dalam ke kursinya, jari-jarinya kini berhenti bergerak sama sekali. "Aku menekannya. Berlatih lebih keras, memaksa Anima-ku terbiasa dengan beban besar sampai tubuhku berhenti menolak. Butuh dua tahun. Setelah itu aku naik rank tiga kali lebih cepat dari kebanyakan orang."
"Dan kau tidak pernah merasakannya lagi?"
Sesuatu berkelebat di mata Kestrel, cepat, hilang sebelum benar-benar bisa dibaca, jari-jarinya mengepal sekali di lengan kursi sebelum melemas lagi.
"Itu bukan yang kutanyakan padamu," katanya, mengalihkan.
...----------------...
"Kau bertahan di rank ini," lanjutnya, condong maju sekarang, sikunya di lutut, wajahnya lebih dekat dari sebelumnya, "karena kau memilih. Atau karena kau tidak bisa naik?"
Pertanyaan itu jatuh di ruangan seperti batu ke air tenang, riaknya menyebar sebelum siapa pun sempat bicara. Jam kecil di rak dekat jendela berdetak tiga kali dalam keheningan itu, tik, tik, tik, sebelum ada yang bergerak lagi.
Arden menahan napas sesaat, cukup lama hingga terasa oleh dirinya sendiri, dadanya tertahan di tengah tarikan.
"Aku memilih," katanya.
"Kau yakin?" Kestrel tidak mundur, matanya tidak berkedip. "Atau kau sudah begitu terbiasa bilang begitu sampai kau sendiri tidak ingat mana yang benar?"
"Itu cukup, Kestrel," kata Orin, suaranya lebih tajam sekarang, telapak tangannya mendarat rata di atas meja.
Kestrel mengangkat kedua tangan, gestur menyerah yang tidak sepenuhnya jujur, dan bersandar kembali ke kursinya, meski matanya masih tidak lepas dari Arden.
"Aku tidak mencoba menghinamu," katanya, lebih pelan, nada suaranya turun satu tingkat. "Aku sudah pernah berdiri di tempat yang sama. Aku tahu bagaimana rasanya berbohong pada diri sendiri soal alasan kenapa kau berhenti mencoba."
Arden tidak menjawab. Tangannya, di pangkuannya, terkepal, lalu terbuka lagi, perlahan, sadar, ibu jarinya menekan telapak tangannya sendiri sekali sebelum berhenti.
...----------------...
Ilena akhirnya bergerak, badannya condong sedikit ke depan, tas kain di pangkuannya bergeser. "Kalau kau tahu sesuatu soal fenomena ini, informasi apa pun akan sangat membantu kami."
Kestrel menoleh padanya, menilai sekilas, dari wajah sampai ke prisma yang mengintip dari tepi tas kain itu, lalu kembali ke Arden.
"Aku tidak tahu banyak," katanya. "Hanya bahwa itu nyata, dan bahwa menekannya bukan satu-satunya cara menghadapinya. Mungkin bukan cara yang benar sama sekali." Ia berdiri, kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi berat di lantai marmer. "Kalau kau ingin bicara lebih jauh soal itu, kau tahu di mana mencariku."
Ia berjalan menuju pintu, langkahnya kembali penuh keyakinan seperti saat masuk, tapi berhenti sejenak di ambang, satu tangan di kusen pintu, tidak menoleh.
"Jaga dirimu, S-Rank terendah," katanya. "Sesuatu yang kau tahan terlalu lama biasanya pecah di waktu yang paling buruk."
Pintu tertutup di belakangnya, tidak dibanting, hanya diayun cukup untuk terdengar tegas, gemanya bertahan sesaat di ruangan yang kini terasa jauh lebih lega tanpa kehadirannya.
...----------------...
Orin menghela napas panjang, tangannya menggosok pelipisnya sekali sebelum kembali menatap Arden, kursinya berderit saat ia menyandarkan diri.
"Aku minta maaf soal itu," katanya. "Kestrel tidak pernah percaya pada protokol."
"Dia benar soal satu hal," kata Arden, suaranya datar, matanya masih tertuju ke pintu yang baru saja tertutup.
Orin menunggu, tidak mendesak, jari-jarinya kembali terlipat di depan wajahnya.
"Aku tidak pernah sepenuhnya yakin," lanjut Arden, "apakah aku memilih untuk berhenti, atau tidak bisa naik lebih jauh."
Kata-kata itu keluar lebih jujur dari yang ia rencanakan, dan untuk sesaat, ia sendiri terkejut mendengarnya diucapkan keras-keras di ruangan ini, di depan orang yang bukan Corym, bukan Ilena, bukan siapa pun dari timnya sendiri. Brann dan Ilena bertukar pandang singkat, tidak berkata apa-apa.
Orin mengangguk pelan, tidak menekan lebih jauh, membiarkan pengakuan itu berdiri sendiri di udara tanpa dibedah, matanya justru melunak sedikit, sesuatu yang jarang terlihat di wajah pria itu sejak pertemuan ini dimulai.
Ia mengambil kertas terakhir dari mejanya, meletakkannya di depan Arden, tulisan resmi dengan cap Guild di bagian bawah, tintanya masih sedikit mengilap seolah baru ditandatangani pagi ini.
"Ada satu hal lagi yang perlu kusampaikan," katanya, "sebelum kalian pergi."
Arden menatap kertas itu, belum membacanya, jarinya belum menyentuhnya.
"Mulai hari ini," lanjut Orin, "Guild akan menempatkan pengawasan lebih dekat pada Jangkar Kelabu. Bukan hukuman. Bukan pembatasan gerak. Hanya pemantauan lebih rutin, kunjungan berkala, laporan wajib setiap kali kalian mendekati lokasi yang berhubungan dengan insiden ini."
"Kau bilang kami tidak terikat kewajiban semacam itu," kata Arden.
"Aku bilang kalian tidak terikat secara hukum," kata Orin. "Tapi demi keamanan kalian sendiri, dan demi keamanan kota ini, aku tidak bisa lagi membiarkan kalian bergerak sepenuhnya di luar pandanganku."
Ia menyandarkan punggungnya, jari-jarinya kembali terlipat di depan wajah, matanya tidak berkedip menatap Arden, cahaya siang dari jendela di belakangnya membuat sosoknya sedikit gelap dalam bayangan, sama seperti Kestrel beberapa menit sebelumnya.
"Mulai sekarang," katanya, "Jangkar Kelabu diawasi."