Terjerat akan pesona CEO tampan di kantor nya membuat Amel pusing sendiri menghadapi tingkah laku bos nya yang berubah -rubah
" BOS, sadarrrr kita hanya berdua di siniii, saya tidak mau ada karyawan lain yang melihat dan salah sangka."
" untuk malam ini, saya tidak akan membiarkan mu lepas Amel."
bulu kuduk Amel seketika berdiri dan mulai berjalan mundur, namun dia terhenti karena ada meja yang menghalangi nya.
" ayoo Amel, aku sudah tak sabar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @cece riri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab.25
Bintang tengah duduk di kursi ruang tunggu sambil memegang tangan nya, Bintang begitu cemas melihat Naya, yang semakin hari semakin buruk ke adaan nya tapi dokter keluar sambil tersenyum.
" dok Nay kenapa, udah baikan kan dok?" tanya bintang begitu cemas.
" Alhamdulillah, mbak Naya sudah siuman dan sudah melewati masa kritis nya." ucap dokter, bintang pun tersenyum dan langsung masuk ke dalam.
" nay, jangan tinggalkan aku lagi, aku takut." cicit Bintang memegang tangan Naya.
" hey kau jangan lemah boy, lihat lah aku sudah sehat." ucap Naya sambil mengusap rambut Bintang, walau dalam hati nya, terasa amat rindu, dengan orang yang sangat ia cintai ini .
Bintang pun membiarkan Naya, mengusap rambut nya, dia sangat rindu usapan lembut dari Naya.
" nay!" ucap bintang terpotong karna Naya menggangguk dan berbicara perlahan, karna tenaganya tak cukup kuat.
" aku tau apa yang akan kamu tanyakan bin, tunggu waktu nya dan semua tanda tanya itu akan terjawab, selalu lah di sini sampai waktu itu tiba ." ucap Naya tersenyum, meski senyuman itu sangat sakit.
setelah itu, Bintang meminta izin untuk ke kantor sebentar Naya pun tak masalah.
" maaf." lirih Naya, pelan saat melihat bintang melangkah keluar.
Sepanjang jalan bintang tak henti-henti nya, tersenyum bahagia melihat nay nya sudah terbangun.
Tapi ada satu yang selalu mengganggu pikiran nya, yaitu Amel, rasa bersalah nya selalu meng hantui nya.
Bintang berjanji akan mencari Amel, dan Nayla namun setelah Naya sembuh.
Bintang melanjutkan hari nya, bekerja sepi, sunyi itulah yang dia rasa saat melangkah melewati ruangan Amel, rasa rindu pun tak bisa membohongi nya, jujur dia merindukan Amel, entah la Bintang bimbang.
Bintang, memandang laptop nya dengan serius dan tak terasa waktu telah beranjak malam, dengan cepat bintang pergi ke rumah sakit untuk melihat Naya.
Bintang menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah besar, dia tak sabar untuk segera bertemu dengan Naya.
Bintang membuka pintu secara perlahan, dan terlihat lah Naya yang sedang tertidur.
Bintang mendekat dan memandang lekat wajah lembut Naya, sambil tersenyum.
Bintang membaringkan diri nya, di samping naya, karna ranjang nya sangat besar muat untuk dua orang.
Bintang memeluk Naya dari belakang, Naya pun sudah terbangun namun dia membiarkan bintang memeluk nya, karna dia rindu pelukan itu.
Tak terasa sudah satu Minggu berlalu dan Naya sudah boleh pulang orang tua Naya sedang berada di luar negri setelah mengantar kan Naya ke Indonesia, mereka mempersiapkan kepindahan nya satu bulan di sana bagaimana pun mereka sangat menyayangi anak satu-satunya ini.
Bintang membawa Naya ke apartemen nya saat menaiki mobil Naya di bantu oleh kursi roda karna tenaganya tak cukup kuat.
Bintang pun menggendong Naya entah karna apa, dia tak malu menyusuri koridor dengan menggendong Naya banyak tatapan aneh dari orang-orang Naya hanya bersembunyi di dada bidang bintang.
" malu." cicit Naya pelan.
Bintang pun merasa gemes mencubit pelan hidung Naya.
Mereka telah sampai ke apartemen Bintang, Naya terdiam melihat bangunan yang sudah beberapa tahun tak ia lihat ini tak ada satupun yang berubah, karna memang dia yang mendekorasi apartemen Bintang.
" silahkan masuk tuan putri." ucap bintang sambil mendorong kursi roda Naya.
Naya pun tersenyum, walau dia tau bintang membenci nya dlu dan beribu tanda tanya di hati bintang.
" lapar." manja Naya Bintang pun mengajak Naya ke mejah makan untuk makan namun Naya menggeleng.
" kenapa ha?" tanya Bintang lembut.
" mau nya kamu bin yang masakin ya ya." rayu Naya, bintang pun tak bisa menolak dan mereka berdua pun memasak sambil tertawa, dan bermain tepung meski Naya duduk di kursi roda.
" Terimakasih tuhan kau telah memberikan aku, kebahagian di akhir umur ku meski hanya sebentar." lirih Naya dalam hati dan menghapus air mata nya yang jatuh dan untungnya bintang tak melihat nya.
" wahaha kamu makin jelek. " ejek Bintang sambil memoleskan tepung.
" Wewe kamu juga." kekeh Naya .
mereka pun tertawa bersama setelah lama acara memasak Bintang mengajak Naya untuk ber Poto dengan tepung-tepung di pipi mereka.
" kita jelek banget." ucap Naya tertawa .
" jangan pernah tinggalkan aku lagi nay." lirih Bintang pelan.
" kalau aku pergi lagi kamu jangan pernah benci aku ya." pinta Naya.
" aku akan benci kamu se benci -benci nya ." tegas Bintang.
" cieee yang baperan." Naya membuat suasana tak Canggung dan mereka pun makan dengan Bintang yang menyuapi Naya.
" makasih." ucap Naya Bintang pun mengacak-acak rambut Naya.
" minum obat lagi ya, biar cepat sembuh." bintang Tersenyum setelah itu Naya pun meminum obat nya, dan mereka pun menonton di ruang tv sambil tertawa bersama.
" setidaknya aku bahagia walau mungkin waktu ini tak begitu lama."
5/Rose/
biar lama bacanya/Facepalm/
hehe.
kembang 2 sama kopi buat sarapan
eh emang kuntu/Facepalm//Facepalm/
tapi ga bisa komentar banyak banyak ya/Sneer//Sneer/