Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 025 : Hancurnya Inti Kehidupan Morgarth
Di dalam goa yang dipenuhi cahaya redup berwarna merah darah, Seraphina berdiri terpaku menatap bola kristal raksasa yang melayang di udara.
Dari dalamnya terpancar aura kegelapan yang mencekam, itulah sumber kehidupan Morgarth, iblis yang telah menguasai tubuh Elara selama ini.
Di sampingnya, Kaelan berdiri tegak meski napasnya masih memburu, bekas luka pertarungan dengan Morrina belum sepenuhnya kering, menandakan betapa berat perjalanan yang baru saja mereka tempuh.
“Itu dia… sumber dari segala kejahatan yang terjadi,” gumam Seraphina pelan, namun suaranya bergema di seluruh ruangan goa.
Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Segala ancaman terhadap Kerajaan Bulan Perak, kematian, dan penderitaan Klan Srigala, semuanya bermula dari benda di hadapannya. Semua kesengsaraan ini berakar dari kekuatan gelap yang tersimpan di dalam bola kristal itu.
Kaelan melangkah mendekat, menatap bola kristal yang bercahaya merah berdenyut. “Tenang, Tuan Putri. Kita akan menghancurkan sumber kehidupan Morgarth. Klan Srigala akan kembali damai seperti sedia kala.”
Tiba-tiba goa berguncang hebat, batu dan debu berjatuhan dari langit-langit. Tawa melengking penuh kebencian bergema ke segala arah,bsuara Morgarth. Suaranya terdengar di mana-mana, menyusup ke setiap sudut goa membangkitkan ketakutan yang mendalam.
Morgarth melayang di udara bagaikan bayangan hitam pekat. Matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Seraphina dan Kaelan.
"Ternyata aku kedatangan tamu istimewa," ucapnya berat dan mengerikan, seakan ribuan suara berbicara serentak.
“Hentikan kekacauan yang kamu buat, Morgarth, atau…” ucap Seraphina dengan tegas.
“Atau apa…” potong Morgarth cepat, suaranya penuh ejekan.
“Atau aku buat kamu menyesal pernah terlahir di dunia ini, Morgarth!” Seraphina menatapnya tanpa rasa takut, aura Srigala Merah mulai terlihat samar-samar di sekeliling tubuhnya.
"Ha ha ha… Coba saja kalau kau mampu!" ejek Morgarth. "Untunglah kau datang sendiri. Darahmu akan memperkuat kekuatanku, dan aku akan menjadi penguasa tak terkalahkan di seluruh alam ini!"
“Itu tidak akan pernah terjadi, Morgarth!” Kaelan melangkah ke depan, berdiri di samping Seraphina, siap menghadapi segala serangan.
Di sisi lain goa, Elara terus bertarung melawan Nazar, berebut sosok Srigala Bangsawan yang memegang inti kehidupan istimewa itu. Nazar masih mampu mengimbangi kekuatan sihir Elara, namun tekanan yang ia rasakan semakin berat kekuatan Elara terus tumbuh seiring eratnya ikatan dengan Morgarth.
Tak jauh dari sana, Rian berhasil menumbangkan Gorah. Kini hanya Drakar yang tersisa untuk dihadapi sebelum ia dapat membantu Nazar. Dengan sisa tenaga, Rian bergegas menghadapi Drakar, berharap segera mengakhiri pertarungan itu.
Elara menghentakkan tongkatnya ke tanah; cahaya gelap menyebar di sekelilingnya. Ia merapalkan mantra kuno penuh kegelapan, lalu melemparkannya ke arah Nazar. Serangan itu begitu dahsyat hingga Nazar terpental jauh, membentur dinding batu, dan memuntahkan darah.
“Ha ha ha! Serahkan Srigala Bangsawan itu padaku, maka nyawamu akan aku ampuni,” ucap Elara dengan nada angkuh, matanya menyala merah karena sihir Morgarth.
Nazar bangkit kembali dengan susah payah, lalu duduk bersila memusatkan tenaga dalam. Ia melontarkan jurus andalan untuk melumpuhkan Elara, namun setiap serangan selalu dihindari atau dibalasnya. Kekuatan gadis itu kini jauh lebih dahsyat.
"Sial, dia semakin kuat," batin Nazar menahan nyeri. "Semoga Seraphina segera menghancurkan inti kehidupan Morgarth. Sepertinya aku tak sanggup menahannya lebih lama." Segala harapannya kini tertuju sepenuhnya pada Seraphina.
Di ruang utama goa, Seraphina bertarung habis-habisan melawan Morgarth. Ia mengerahkan seluruh kekuatan, melontarkan serangan mematikan menyambut sihir dahsyat iblis itu. Kekuatan terbesar kedua pihak berbenturan, hingga keduanya terpental mundur bersamaan.
“Tuan Putri! Tidak apa-apa?” Kaelan segera menghampiri Seraphina yang mengeluarkan darah dari bibirnya.
"Aku tak apa-apa, Kae," ucap Seraphina bangkit berdiri, napasnya terengah namun tatapannya tetap tajam. "Bantu aku menghancurkan Morgarth sebelum ia bangkit kembali. Waktu kita tak banyak."
Kaelan mengangguk mantap. Mereka berdiri berdampingan, menyatukan seluruh kekuatan. Cahaya emas dan merah menyala bergabung, membentuk gelombang energi dahsyat. Dengan satu serangan pamungkas, mereka menghantam bola kristal sekaligus sosok Morgarth.
Ledakan hebat mengguncang goa. Roh Morgarth hancur dalam cahaya menyilaukan; bola kristal sumber kehidupannya pecah berkeping-keping lalu lenyap menjadi debu. Kekuatan kegelapan yang mengancam seluruh bangsa Srigala akhirnya runtuh sepenuhnya.