Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang semalam
“Kak?”
Ardan yang sedang berdiri di depan cermin menatap Naresa lewat pantulan kaca. Istrinya duduk di samping ranjang dengan wajah yang sejak tadi terlihat tidak tenang, sementara Ardan masih sibuk merapikan rambutnya dengan pomade.
“Ya?” sahutnya santai.
“Gimana dong?” Naresa menjatuhkan tubuhnya ke kasur begitu saja. Pandangannya lurus ke langit-langit kamar, disusul embusan napas panjang yang terdengar berat.
Ardan menghentikan gerakan tangannya dan menoleh. “Kenapa sayang?”
“Semalem—”
“Mau lagi?”
“Bukan!”
Naresa langsung bangkit dari posisi telentangnya. Wajahnya seketika memerah karena kesal, entah kepada Ardan atau kepada dirinya sendiri. Lalu ia berjalan menghampiri Ardan yang masih berdiri di depan cermin. Begitu Naresa sudah berada di hadapannya, Ardan meletakkan Pomade di meja, lalu menangkup kedua pipinya dengan kedua tangan. Ia mengecup bibir istrinya sekilas sebelum kembali menatap wajahnya.
“Kenapa, hm?”
Naresa mendongak. Ia tampak ragu untuk mengatakannya, seperti sedang mempertimbangkan apakah hal yang mengganggunya ini memang pantas dipermasalahkan atau justru akan membuat dirinya sendiri terlihat berlebihan.
“Ini nggak tahu memalukan atau biasa aja. Tapi jujur, aku nggak nyaman.”
Kata Naresa mendongak menatap Ardan. “Pokoknya perasaan aku nggak enak lah.”
“Iya terus?”
Bukannya langsung menjawab, Naresa malah merengek pelan. Bibirnya mengerucut dan wajahnya menunjukkan ekspresi yang bahkan ia sendiri tidak bisa menjelaskan. Rasanya ingin menangis, tetapi sebenarnya tidak sedih. Malu, iya. Kesal, jelas. Namun lebih dari itu, ia hanya merasa tidak enak.
“Pelan-pelan aja, sayang. Kenapa? Cerita aja.” Kata Ardan kedua tangannya turun dari pipi Naresa ke lengan atas istrinya, mengusapnya perlahan.
“Semalem…” Ia menunduk, lalu kembali mendongak. “Pas kita di kolam... Kale liat kita!” Kalimat terakhir itu keluar begitu cepat sampai nyaris terdengar seperti satu tarikan napas.
Ardan terdiam. Ia hanya menatap Naresa selama beberapa detik, seolah sedang mencerna informasi yang baru saja diberikan kepadanya.
“Ya nggak apa-apa lah.”
Naresa mengerjapkan mata. “Kok gitu sih?” Kedua alis Naresa langsung bertaut.
“Ya mau gimana lagi?” Ardan mengangkat bahu kecil. “Udah terjadi juga, kan?”
Naresa langsung mengerutkan kening. Jawaban sesederhana itu justru membuatnya semakin kesal.
“Nyebelin!” Ia berbalik dan kembali menuju ranjang. Begitu duduk, kedua tangannya menepuk-nepuk pahanya sendiri dengan kesal.
“Sayang.”
Ardan segera menyusul. Ia berlutut di hadapan Naresa dan menangkap kedua tangannya sebelum istrinya kembali memukul pahanya.
“Kok mukul diri sendiri sih?” tanyanya sambil menatap wajah Naresa. “Emang kamu maunya gimana?”
“Tau ah.” Naresa memalingkan wajah, menolak menatapnya.
Ardan menghela napas kecil, mengusap punggung tangan istrinya. “Kamu sadarnya kapan? Pas Kale liat kita?”
Naresa terdiam cukup lama. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menoleh lagi.
“Ya nggak tahu,” jawabnya jujur. “Pokoknya pas kita mau masuk ke dalam rumah, aku nggak sengaja ngedongak ke balkon atas. Dan Kale ada di sana. Dan aku kaget bukan main.” Ia menggeleng pelan, masih tidak habis pikir. “Entah sejak kapan dia ada di sana.”
Ardan mendengarkan tanpa menyela. Setelah Naresa selesai bercerita, ia mengusap tangannya sekali lagi.
“Udah. Jangan dibikin stress, ya.” Nada suaranya tetap tenang. “Kalau kamu risih sama kejadian malam tadi, mau aku samperin Kale buat negur dia? Biar dia tahu batasan.”
“Nggak usah.”
Naresa akhirnya melepaskan tangannya dari genggaman Ardan. Ia mengembuskan napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan kesal. “Makannya tahan dulu kek hasratnya,” dengusnya.
Ardan hanya terkekeh kecil. “Iya sayang. Maaf.”
“Yaudah berangkat sana.” Naresa menarik tangan Ardan. “Masih keburu nggak kalau nganter aku dulu? Aku mau pulang ke rumah aku.”