NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi Bahan Omongan

"Mbak Aya, saya dengar-dengar Mbak Naresta nggak mau adain acara tujuh bulanan, ya?" tanya salah seorang pelanggan yang sedang berdiri di depan kasir.

Aya yang sedang menghitung barang belanjaan langsung mengangkat wajahnya.

"Iya, Bu. Memangnya kenapa?"

"Lho, benar ternyata?"

"Iya."

Wanita itu langsung menoleh kepada temannya.

"Tuh, kan. Benar yang saya bilang."

Aya mengernyit.

"Memangnya ada apa, Bu?"

"Nggak ada apa-apa. Cuma heran saja."

"Heran kenapa?"

Wanita itu mendekat sedikit ke meja kasir.

"Ini kan kehamilan pertama Mbak Naresta setelah empat tahun menikah. Biasanya orang-orang malah bikin acara tujuh bulanan."

Aya kembali menghitung barang.

"Itu pilihan Mbak Naresta sama Mas Elvan, Bu."

"Iya, sih. Tapi sayang juga."

Temannya ikut menyahut.

"Apalagi tokonya besar begini. Masa acara tujuh bulanan saja nggak bikin?"

Tangan Aya langsung berhenti.

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

"Hubungannya sama toko besar apa, ya?"

Wanita itu tersenyum canggung.

"Ya maksudnya mampu."

Aya mengembuskan napas pelan.

"Mampu bukan berarti harus mengadakan acara, Bu."

"Iya, tapi nanti orang-orang ngomong."

Aya langsung tertawa kecil.

"Lho, sekarang saja sudah diomongin."

Kedua wanita itu langsung terdiam.

Aya memasukkan barang belanjaan ke dalam kantong.

"Mbak Naresta mau bikin acara, diomongin."

"Nggak bikin acara, juga diomongin."

"Jadi maunya bagaimana?"

Salah satu wanita tersebut langsung membela diri.

"Kami cuma bertanya, Mbak."

"Iya, saya juga cuma jawab."

Aya tersenyum tipis.

"Yang menjalani kehamilan Mbak Naresta. Yang punya anak Mbak Naresta sama Mas Elvan. Jadi soal mau ada acara tujuh bulanan atau nggak, biarkan mereka yang memutuskan."

Wanita itu mengangguk pelan.

"Memangnya alasannya apa?"

Aya langsung menatapnya.

"Nah, mulai lagi."

"Apa?"

"Tadi tanya benar atau nggak. Sudah dijawab benar, sekarang tanya alasannya."

Wanita itu langsung tersenyum malu.

"Ya penasaran."

Aya menyerahkan kantong belanjaannya.

"Kalau penasaran, ditahan saja, Bu."

"Kenapa?"

"Karena kalau semua rasa penasaran sama kehidupan orang harus ditanyakan, Mbak Naresta bisa buka loket wawancara sekalian di sebelah kasir."

Beberapa pelanggan yang mendengar langsung tertawa kecil.

Aya menyebutkan total belanjaannya.

"Seratus empat puluh ribu, Bu."

Wanita itu segera menyerahkan uang sambil masih terlihat sedikit malu.

Aya menerima uang tersebut dan menggeleng pelan.

Baru sebentar Naresta tidak berada di toko, kehidupan pribadinya sudah kembali menjadi bahan pembicaraan.

"Heran juga, masih ada saja bahan pembicaraan orang," gerutu Aya sambil kembali membungkus barang pelanggan lainnya.

Pelanggan yang berdiri di depannya langsung tersenyum kecil.

"Namanya juga orang, Mbak Aya."

Aya mengangkat wajahnya.

"Justru itu, Bu. Namanya orang harusnya tahu batas."

Wanita itu langsung terdiam.

Aya memasukkan beberapa bungkus mi instan ke dalam kantong.

"Dari Mas Elvan, kehamilan Mbak Naresta, calon bayinya, sekarang acara tujuh bulanan."

Ia menggelengkan kepalanya.

"Besok apalagi yang mau dibahas?"

Pelanggan lain yang sedang mengantre ikut menyahut.

"Memangnya Mbak Naresta benar-benar nggak mau bikin acara?"

Aya langsung menoleh.

"Nah, satu lagi."

Wanita itu tertawa kecil.

"Saya cuma tanya."

"Iya, benar. Nggak ada acara tujuh bulanan."

"Kenapa?"

Aya langsung memejamkan matanya sebentar.

"Ya Allah."

Beberapa pelanggan langsung tertawa melihat ekspresi Aya.

"Mbak Naresta sama Mas Elvan memang nggak mau mengadakan acara. Sudah, selesai."

"Tapi biasanya—"

"Nggak ada biasanya."

Aya menunjuk barang belanjaan di atas meja.

"Ibu mau beli kecap dua atau tiga?"

Pelanggan itu langsung terdiam.

"Dua."

"Nah, itu yang dibahas."

Aya memasukkan dua botol kecap ke dalam kantong.

"Mau tambah gula?"

"Satu kilo."

"Bagus."

Pelanggan tersebut mengernyit.

"Bagus apanya?"

"Pembicaraannya sudah kembali ke belanjaan."

Dicky yang kebetulan lewat sambil membawa dus langsung tertawa kecil.

"Mbak Aya sekarang kalau ada yang mulai gosip langsung dialihkan ke barang dagangan, ya?"

Aya mengangguk mantap.

"Daripada saya emosi, Mas."

Ia kemudian menatap pelanggan di depannya.

"Totalnya seratus tujuh puluh dua ribu, Bu."

Wanita itu menyerahkan uang.

Aya menerimanya sambil mengembuskan napas panjang.

"Pokoknya kalau nanti ada yang datang tanya soal tujuh bulanan lagi, saya kasih jawaban yang sama."

"Apa?"

Aya tersenyum lebar.

"Belanja apa, Bu?"

Sementara itu, di dalam kamar.

"Mas, yakin nggak bikin acara ini?" tanya Naresta sambil mengusap perutnya yang sudah semakin besar.

Elvan yang duduk di sampingnya menganggukkan kepala.

"I-iya, n-nggak u-usah a-aja."

Naresta langsung mengerucutkan bibir.

"Nggak kamu, nggak Bu Ratih, nggak Aya, semuanya menolak aku mau bikin acara tujuh bulan."

Elvan menatap istrinya.

"S-sayang m-mau?"

"Ya pengin sedikit."

Naresta bersandar sambil mengembuskan napas.

"Bukan acara besar. Cuma mengundang beberapa tetangga, terus makan-makan sedikit."

Elvan langsung menggeleng.

"N-nanti b-banyak o-orang."

"Memangnya kenapa kalau banyak orang?"

Elvan terdiam beberapa saat.

Naresta menoleh kepadanya.

"Mas?"

Elvan menundukkan wajah.

"N-nanti m-mereka b-bicara l-lagi."

Senyum Naresta perlahan menghilang.

"Mas takut aku dihina lagi?"

Elvan mengangguk kecil.

"I-iya."

Naresta terdiam.

Elvan menggenggam tangan istrinya.

"S-sayang n-nanti s-sedih."

"Aku nggak akan sedih."

Elvan langsung menatapnya seolah tidak percaya.

Naresta tersenyum canggung.

"Ya... mungkin sedikit."

Elvan menggeleng.

"N-nanti m-menangis."

"Mas kok tahu?"

"K-karena S-sayang s-sering m-menangis."

Naresta langsung melotot.

"Mas!"

Elvan justru tersenyum kecil.

Naresta mencubit pelan lengannya.

"Sekarang pintar banget meledek aku."

Elvan tertawa kecil, lalu kembali mengusap perut istrinya.

"N-nggak u-usah a-acara."

Naresta mengembuskan napas panjang.

"Tapi aku pengin merayakan kehadiran anak kita, Mas. Empat tahun kita menunggu."

Elvan terdiam sejenak sebelum menatap istrinya.

"K-kita r-rayakan b-berdua."

Naresta langsung menoleh.

"Berdua?"

Elvan mengangguk.

"A-aku, S-sayang, s-sama b-bayi."

Naresta tersenyum kecil.

"Itu bertiga, Mas."

Elvan langsung menatap perut istrinya, lalu menghitung pelan dengan jarinya.

"A-aku... S-sayang... b-bayi."

Naresta tertawa.

"Iya, tiga."

Elvan ikut tersenyum.

"T-tiga."

Naresta kemudian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

"Ya sudah. Aku mengalah."

Elvan mengusap pelan rambut istrinya.

"N-nanti b-beli k-kue."

Mata Naresta langsung berbinar.

"Serius?"

"I-iya."

"Sama rujak?"

Elvan mengangguk.

"I-iya."

Naresta langsung tersenyum lebar.

"Kalau begitu aku setuju nggak bikin acara."

Elvan menatapnya bingung.

Naresta terkekeh.

"Nanti sekalian kita beli perlengkapan bayi, ya," ucap Naresta sambil menatap Elvan.

Elvan langsung menganggukkan kepalanya.

"I-iya."

Naresta tersenyum senang.

"Sudah tujuh bulan, Mas. Kita belum beli apa-apa buat bayi."

Elvan menatap perut istrinya.

"B-beli b-baju?"

"Iya. Baju bayi, popok, selimut, bedong, handuk, sama perlengkapan mandi."

Elvan mengangguk berkali-kali.

"S-semua."

Naresta langsung tertawa kecil.

"Nggak harus langsung semuanya, Mas."

"S-semua."

"Mas, nanti malah kebanyakan."

Elvan tetap menggeleng.

"B-bayi h-harus p-punya."

Naresta menatap suaminya sambil tersenyum gemas.

"Iya, calon Ayah. Tapi belinya secukupnya dulu."

Elvan terlihat berpikir.

"K-kasur b-bayi?"

"Boleh."

"B-botol?"

Naresta mengangguk.

"Boleh disiapkan beberapa."

Elvan kembali menatap perut istrinya.

"M-mainan?"

Naresta langsung terkekeh.

"Mas, anaknya belum lahir sudah mau dibelikan mainan?"

Elvan tersenyum kecil.

"B-buat b-bayi."

"Iya, tahu."

Naresta menggenggam tangan suaminya.

"Pokoknya nanti kita pilih sama-sama."

Elvan mengangguk.

"I-iya."

"Nggak boleh Mas asal ambil semua barang di toko bayi."

Elvan terdiam.

Naresta langsung menyipitkan matanya.

"Mas."

Elvan menoleh.

"Kok diam?"

"A-aku m-mau b-beli s-semua."

Naresta langsung tertawa.

"Ya Allah, Mas Elvan."

Elvan ikut tersenyum.

Naresta kemudian membawa tangan suaminya ke atas perutnya.

"Nanti Ayah sama Bunda belikan perlengkapan buat kamu, ya."

Tiba-tiba terasa gerakan dari dalam perutnya.

Naresta langsung membulatkan mata.

"Mas, dia gerak."

Elvan ikut tersenyum lebar.

"D-dia s-senang."

"Kayaknya dia dengar mau diajak belanja."

Elvan mengusap perut Naresta perlahan.

"B-besok k-kita b-beli."

Naresta mengangguk senang.

"Iya. Besok kita pergi bertiga."

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!