Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Seumur Hidup... Jadi Pengasuhmu
Rio menahan tawa terlalu lama sampai akhirnya tersedak sendiri.
Ardian menatap jendela RS Samudera dengan wajah dingin, sementara Sekar masih tidak mengerti kenapa satu kata "teman" bisa membuat suasana kamar VIP turun lima derajat.
"Pak Tan marah?" tanya Sekar.
"Tidak."
"Biasanya kalau bilang tidak dengan nada itu, artinya iya."
"Biasanya kamu terlalu banyak bicara."
Sekar menatap Rio.
Rio langsung mengangkat map menutupi wajah. "Aku dokter. Aku tidak ikut konflik hubungan."
"Ini bukan konflik hubungan," kata Ardian.
"Benar," kata Rio cepat. "Konflik pertemanan."
Kursi roda Ardian berputar sedikit ke arah pintu.
Rio berhenti tertawa.
Sebelum suasana bisa memburuk, pintu kamar VIP diketuk keras.
Tidak ada yang menunggu jawaban.
Tan Hendrawan masuk dengan langkah berat, jas mahal, wajah dingin, dan amarah yang sudah dipoles menjadi wibawa. Sekretarisnya menunggu di luar. Begitu melihat Ardian duduk di kursi roda dekat jendela, alisnya langsung turun.
"Kamu membuat cukup banyak keributan," katanya.
Sekar berdiri otomatis.
Ardian tidak menoleh. "Selamat pagi juga, Papa."
Tan Hendrawan mengabaikan sarkasme itu. "Pesta Kevin hancur. Polisi datang ke rumah sakit. Nama keluarga Tan terseret lagi. Kamu belum puas mempermalukan diri sendiri?"
Rio menutup map pelan. "Pak Tan, ini ruang pasien. Nada bicara mohon dijaga."
"Saya bicara dengan anak saya."
"Anak Bapak sedang dalam masa pemulihan medis."
Tan Hendrawan menatap Rio, lalu kembali pada Ardian. "Pemulihan apa? Tiga bulan kamu duduk di kursi roda, tidak mengurus perusahaan, tidak menjaga reputasi, malah membiarkan pengasuh kecil membuat kekacauan di mana-mana."
Sekar merasa darahnya naik.
Ardian akhirnya menoleh. Wajahnya tenang, tetapi tangan di sandaran kursi roda mengencang.
Tan Hendrawan belum selesai.
"Kamu pikir orang luar tidak bicara? Siapa yang akan menyerahkan putri baik-baik kepada laki-laki yang bahkan tidak bisa berdiri? Jangan bermimpi terlalu jauh. Darren sekarang satu-satunya harapan keluarga Tan."
Kamar itu mendadak sunyi.
Sekar mendengar napasnya sendiri.
Ia juga melihat sesuatu di wajah Ardian yang membuat dadanya sakit: bukan terkejut, melainkan lelah. Seolah kalimat itu bukan pertama kali ia terima. Seolah ia sudah tahu ayahnya bisa menusuk tepat di tempat yang sama.
Sebelum Ardian membuka mulut, Sekar melangkah maju.
"Maaf, Pak," katanya.
Tan Hendrawan menatapnya seperti baru menyadari ada nyamuk berani bersuara. "Kamu siapa?"
Sekar tersenyum sopan.
Lalu ia menutup kedua telinganya, menggeleng, dan mulai menggunakan bahasa isyarat dengan cepat.
Gerak tangannya rapi, lancar, dan terlalu cepat untuk orang yang tidak mengerti. Ia menunjuk pintu, menunjuk jam, menunjuk Ardian, lalu membuat ekspresi sangat serius. Setelah itu ia mengambil papan tulis kecil di meja perawat dan menulis besar-besar:
PASIEN HARUS ISTIRAHAT.
Tan Hendrawan mengerutkan kening. "Apa-apaan ini?"
Sekar menatapnya dengan wajah polos, seolah tidak mendengar. Ia kembali berisyarat, kali ini lebih panjang, dengan ekspresi seolah menjelaskan prosedur medis tingkat tinggi.
Rio nyaris menjatuhkan map.
Ardian menatap punggung Sekar.
Tan Hendrawan menjadi kesal. "Saya bilang saya bicara dengan anak saya!"
Sekar mengangguk cepat, lalu menulis lagi:
SUARA KERAS TIDAK BAIK UNTUK PASIEN.
Ia menambahkan gambar telinga kecil dicoret, lalu menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum.
Tan Hendrawan menatap tulisan itu, lalu menatap Sekar. "Kamu pura-pura tidak bisa dengar?"
Sekar menulis:
MAAF, SAYA HANYA MENGERTI BAHASA MANUSIA YANG SOPAN.
Rio berbalik menghadap jendela.
Bahu dokter itu bergetar.
Ardian menunduk sedikit. Sudut bibirnya bergerak, tetapi matanya tidak sepenuhnya tersenyum.
Tan Hendrawan jelas murka. Namun di ruang VIP, dengan dokter, perawat yang mulai melirik dari luar, dan seorang perempuan muda yang terus menulis pesan sopan sambil memasang wajah tidak berdosa, ia tidak bisa meledak tanpa terlihat kasar.
"Suruh dia keluar," katanya pada Ardian.
Ardian menjawab datar, "Dia pengasuhku."
Sekar langsung menulis di papan:
PENGASUH SEDANG BEKERJA.
Tan Hendrawan menunjuk Ardian. "Kamu akan menyesal membiarkan orang seperti ini berada di sisimu."
Sekar menghapus papan dan menulis lagi:
TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG. PINTU DI SEBELAH KANAN.
Kali ini bahkan perawat di luar menutup mulut.
Tan Hendrawan pergi dengan wajah gelap. Pintu kamar VIP tertutup keras.
Sekar baru menurunkan papan setelah langkahnya hilang di lorong.
Ia menarik napas, lalu menoleh pada Ardian. "Maaf. Saya tidak benar-benar pura-pura menghina tuna rungu. Saya cuma..."
"Aku tahu," kata Ardian.
Sekar terdiam.
Ayah dan ibunya memakai bahasa isyarat setiap hari. Bagi Sekar, bahasa itu bukan bahan lelucon. Karena itu ia memilih menulis jelas, menghalangi kebisingan, bukan mengejek kondisi siapa pun.
Ardian melihat semua itu.
"Terima kasih," katanya pelan.
Sekar mendadak tidak tahu harus menaruh papan di mana.
"Tidak perlu. Kita kan teman."
Wajah Ardian yang sempat melembut langsung tertutup lagi.
Rio batuk.
Sekar cepat menambahkan, "Maksud saya, saya juga pengasuh pribadi. Kalau ada orang mengganggu pasien, saya wajib mengusir."
Ardian menatapnya.
Sekar, entah kenapa, merasa harus meyakinkan lebih keras.
"Tenang saja, Pak Tan. Saya mau seumur hidup..."
Ardian berhenti bernapas.
Rio juga berhenti bergerak.
Sekar mengangkat tangan penuh semangat. "Jadi pengasuhmu!"
Sunyi.
Sangat sunyi.
Rio menutup mata seperti menyaksikan operasi gagal.
Ardian menatap Sekar lama sekali. "Seumur hidup."
"Kalau gajinya tetap bagus dan pasiennya tidak terlalu sering memecat saya."
"Jadi pengasuh."
"Iya."
"Bagus."
Suaranya terdengar seperti pintu ditutup dari dalam.
Sore itu, Rio akhirnya mengizinkan Ardian pulang dengan daftar instruksi panjang. Sebelum kembali ke Rumah Tan, Sekar mengusulkan mampir ke supermarket dekat Menteng untuk membeli kebutuhan harian. Ardian tidak menolak.
Di supermarket, Sekar mendorong keranjang kecil, Ardian mengikuti dengan kursi roda. Ini pertama kalinya mereka belanja bersama.
Sekar memilih susu rendah gula, jahe, tisu basah, buah, dan beberapa bumbu dapur. Ardian tidak banyak bicara, tetapi beberapa kali mengambil barang yang lebih mahal dari pilihannya dan menaruhnya di keranjang.
"Pak Tan, itu minyak zaitun tiga kali harga."
"Yang murah botolnya jelek."
"Kita minum minyak atau memajang botol?"
Ardian tidak menjawab.
Di lorong perlengkapan mandi, Sekar membandingkan harga sabun. Saat ia sibuk melihat promo, Ardian berhenti di depan rak gelas kumur.
Ada satu set gelas kumur pink-biru. Sederhana, tidak mahal, harganya Rp 49.000. Biru tua untuk satu orang, pink lembut untuk satu orang lagi. Konyol sekali untuk pria yang bisa membeli restoran.
Ardian mengambilnya.
Ia menatap beberapa detik, lalu diam-diam meletakkannya di dasar keranjang, tertutup tisu basah.
Sekar berbalik. "Pak Tan ambil apa?"
"Tidak."
"Tidak itu barang?"
"Jalan."
Sekar masih curiga. Ia mendekat ke rak gelas kumur dan mengambil set yang sama, karena masih ada satu lagi tergantung di barisan depan.
"Oh, ini lucu." Ia membaca label harga. "Rp 49.000. Pink dan biru."
Ardian menatap kemasan itu tanpa berkedip.
Sekar membaliknya. Di belakang kemasan ada tulisan kecil: pasangan harmonis, pagi lebih manis.
Ia langsung tertawa. "Aduh, ini terlalu niat. Gelas saja pakai kata pasangan. Kalau kita beli ini, staf rumah bisa salah paham."
Jari Ardian di pegangan kursi roda berhenti.
"Salah paham apa?"
"Ya salah paham seolah ini gelas pasangan." Sekar meletakkan kembali set itu ke rak, ringan sekali, seolah tidak sedang menendang hati seseorang dari samping. "Pak Tan kan tidak suka hal merepotkan begitu."
"Benar."
Kata itu keluar cepat.
Terlalu cepat.
Sekar tidak menyadari apa pun. Ia sudah berbalik ke lorong makanan ringan, meninggalkan satu set gelas kumur tersembunyi di dasar keranjang dan satu pria yang baru saja mempelajari arti baru dari sekali inisiatif, seumur hidup introvert.
Sekar curiga, tetapi di rak sebelah ia melihat label kosong. Matanya langsung melebar.
"Loh, biskuit daun ketumbar favorit saya?"
Ia memanggil staf supermarket. Jawabannya datang seperti kabar duka kecil: produk itu sudah discontinue, tidak akan masuk lagi.
Sekar berdiri di depan rak kosong dengan wajah kehilangan.
Ardian hampir berkata akan membeli pabriknya.
Sebelum ia sempat bicara, Sekar melihat bungkus lain di rak bawah.
Kue kerupuk petai.
Ia mengambil satu bungkus, menatap gambar petai di kemasan, lalu berkata dengan nada penuh tekad, "Kalau cinta lama pergi, cinta baru harus dicoba."
Ardian menatap bungkus itu.
Entah kenapa, ia merasa benda kecil itu akan membawa masalah.