Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Rekahan
"Karena ayahmu pernah menolong ibuku."
Kalimat itu membuat Sekar tidak langsung mengerti.
Ia sudah membayangkan banyak jawaban. Bahwa Renard pernah membaca berkas lama. Bahwa Ardy memiliki hubungan dengan Keluarga Ong. Bahwa semua ini bagian dari jaringan rahasia yang terlalu besar untuk ia pahami.
Tetapi bukan ibuku.
Bukan Michelle.
Renard menatap melati putih di depan mereka, seolah lebih mudah bicara kepada bunga daripada kepada Sekar.
"Saat itu ibuku sedang berada di titik paling buruk dalam hidupnya. Ayahku terseret riset yang terlalu banyak orang inginkan. Keluarga Tjin tidak bisa melindunginya. Keluarga Liem sibuk menghitung untung rugi. Orang-orang pintar di sekelilingnya memilih diam karena diam lebih aman."
Sekar tidak berani menyela.
"Ardy Sie tidak diam."
Nama ayahnya di mulut Renard terdengar berbeda. Bukan seperti nama dalam gosip. Bukan seperti nama di berkas lama. Ia terdengar utuh.
"Apa yang Papa lakukan?"
"Memberi tempat bersembunyi. Memberi kontak. Memberi peringatan yang membuat ibuku selamat setidaknya untuk beberapa waktu." Renard berhenti sebentar. "Ia bukan bagian dari dunia kami. Justru karena itu, bantuannya bersih."
Bersih.
Sekar menunduk. Kata itu terasa seperti tangan hangat di luka yang sudah terlalu lama dibiarkan terbuka.
Selama bertahun-tahun setelah kematian Ardy, ia mendengar terlalu banyak versi tentang ayahnya. Dosen gagal. Pria lemah. Orang yang menyerah. Orang yang meninggalkan keluarga dengan utang dan malu. Bahkan ketika Hwee Kin membelanya, dunia tetap lebih keras dari suara ibu tua yang menangis di dapur.
Sekar tahu ayahnya baik.
Tetapi mengetahui sendirian itu melelahkan.
Mendengar orang lain mengatakannya, terutama orang seperti Renard, membuat pertahanan yang ia susun bertahun-tahun retak begitu saja.
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?" tanyanya.
"Karena itu bukan seluruh cerita."
Sekar mengangkat kepala.
Renard menatapnya sekarang. Wajahnya kembali tertutup sebagian, tetapi tidak sepenuhnya. Ada sesuatu di balik matanya, gelap dan berat.
"Apa maksudmu?"
"Sebagian kebenaran bisa menyelamatkanmu malam ini. Seluruh kebenaran mungkin menghancurkanmu sebelum waktunya."
Sekar hampir tertawa, tetapi yang keluar justru napas patah. "Semua orang selalu mengatakan itu. Jangan sekarang. Belum waktunya. Kamu belum siap. Seolah hidupku milik orang lain untuk dijadwalkan."
"Sekar."
Ia membeku.
Renard jarang menyebut namanya seperti itu.
Bukan Nona Felicia. Bukan panggilan dingin dengan ironi. Hanya Sekar. Seolah di kebun yang sunyi ini, semua topeng mereka boleh diletakkan sebentar di tanah.
"Aku tidak menyembunyikan ini untuk membuatmu tetap kecil," katanya. "Aku menyembunyikannya karena orang yang menghancurkan ayahmu belum selesai bergerak."
Jantung Sekar jatuh.
"Keluarga Ong?"
Renard tidak menjawab.
Diamnya adalah jawaban yang lebih buruk.
Sekar berdiri dari bangku. Lututnya lemah, tetapi ia tidak mau duduk. "Elvin tahu?"
"Elvin tahu lebih banyak daripada yang ia katakan."
"Dan kamu?"
Renard juga berdiri. "Aku tahu cukup banyak untuk tidak membiarkanmu berjalan sendirian ke arah mereka."
"Tapi cukup sedikit untuk tetap memanfaatkanku?"
Kalimat itu keluar tajam.
Renard menerimanya tanpa berkedip. "Ya."
Jawaban jujur itu justru membuat Sekar lebih sakit.
Ia memalingkan wajah. Melati putih di dekat kakinya tampak kabur.
"Papa bukan orang lemah," katanya, hampir tanpa suara.
"Bukan."
"Dia tidak meninggalkan kami karena tidak sayang."
"Tidak."
"Dia orang baik."
"Ya."
Kata terakhir itu menghantamnya.
Sekar menutup mulut dengan punggung tangan, tetapi tangis sudah pecah sebelum ia sempat menahannya. Bukan tangis besar. Justru lebih menyakitkan karena keluar diam-diam, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan jalan setelah terlalu lama dikubur.
Ia membenci dirinya karena menangis di depan Renard.
Ia membenci karena air mata ini bukan untuk Lilian, bukan untuk Kevin, bukan untuk Celine. Ini untuk seorang ayah yang tidak bisa lagi membela namanya sendiri.
"Maaf," bisiknya, mundur setengah langkah.
Renard tidak menyuruhnya berhenti.
Ia juga tidak mengatakan hal kosong seperti jangan menangis.
Ia hanya mengangkat tangan.
Gerakannya lambat, cukup lambat untuk memberi Sekar kesempatan menghindar.
Sekar tidak menghindar.
Ujung jarinya menyentuh pipi Sekar. Dingin pada awalnya, lalu hangat karena kulit mereka sama-sama hidup. Ia menghapus air mata di bawah mata kiri Sekar dengan ibu jarinya.
Tidak ada hasrat di sentuhan itu. Tidak ada permainan kuasa. Tidak ada tuntutan.
Hanya seseorang yang melihat luka orang lain dan, untuk sekali ini, tidak mengubahnya menjadi alat.
Sekar menahan napas.
Renard menatap air mata di ujung jarinya seperti ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kelembutan yang telanjur terjadi.
"Ayahmu pernah menyelamatkan ibuku," katanya pelan. "Aku tidak bisa mengembalikan namanya malam ini. Tapi suatu hari, aku akan membuat orang yang mengotorinya menelan kata-kata mereka sendiri."
Sekar menatapnya melalui pandangan yang masih basah.
"Itu janji?"
"Itu utang."
Jawaban itu terdengar seperti Renard. Tidak manis. Tidak romantis. Tetapi di dada Sekar, sesuatu yang beku bergerak sedikit.
Mereka berdiri di kebun sampai angin malam menjadi lebih dingin.
Tidak ada pelukan. Tidak ada pengakuan. Tidak ada kalimat yang akan membuat semuanya sederhana.
Tetapi ketika Sekar kembali ke Paviliun Mei menjelang dini hari, ia tahu sesuatu telah berubah.
Hubungannya dengan Renard masih berbahaya. Masih penuh rahasia. Masih berdiri di atas transaksi, ancaman, dan kebohongan yang bisa runtuh kapan saja.
Namun di antara semua itu, ada satu celah kecil.
Retakan pada dinding yang selama ini memisahkan mereka.
Dan dari retakan itu, seperti melati di kebun mati, sesuatu yang rapuh mulai tumbuh.
Pagi harinya, Sekar terbangun dengan mata bengkak dan kepala berat.
Kevin belum pulang. Kamar sebelah sunyi. Di luar, pelayan mengetuk untuk mengantar sarapan, lalu pergi setelah Sekar menjawab singkat.
Ia baru menyadari ada sesuatu di bawah bantal saat hendak merapikan ranjang.
Sebuah kunci kecil dari besi tua.
Tidak mengilap, tidak baru. Ujungnya dingin di telapak tangannya. Di bawahnya ada secarik kertas putih, lipatannya rapi.
Tulisan Renard hanya satu baris.
Kunci ini hanya ada dua. Satu di tanganku.
Sekar duduk di tepi ranjang lama sekali.
Di luar jendela, pagi Kediaman Liem berjalan seperti biasa. Pelayan menyapu halaman. Mobil-mobil keluarga bergerak. Celine mungkin sedang menyusun senyum berikutnya. Kevin mungkin masih tidur di tempat yang bukan rumah.
Tetapi di telapak Sekar, sebuah pintu kecil ke dunia Renard terbuka diam-diam.
Dan untuk pertama kalinya, kunci itu tidak terasa seperti rantai.