Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Gelombang Zombie
"Gue Si Preman. Mau ngobrol nggak?"
Tongkat panjang itu masih bertumpu di bahu pria besar tersebut. Lima zombie Level 1 yang baru ia hancurkan tergeletak di sekitar mobil rusak. Anggota baru yang hampir mati merangkak mundur dengan wajah putih, terlalu takut untuk berterima kasih.
Hendry tidak langsung menjawab.
Ia memandang Si Preman, lalu tiga puluh lebih orang di belakangnya. Senjata mereka campuran: golok, pipa, tombak besi, beberapa ketapel logam, dan dua senapan angin. Bukan pasukan rapi. Tapi orang jalanan yang masih hidup sampai hari kedua puluh kiamat biasanya punya satu kelebihan: mereka tidak mudah takut darah.
Bagus maju setengah langkah.
Si Preman tertawa. "Santai. Gue cuma bantu orang lu. Masa langsung pasang muka mau perang?"
Raja memperlihatkan gigi lebih jelas. Listrik kecil melompat di antara taringnya.
Hendry baru akan bicara ketika Nasi di bahunya tiba-tiba berdiri.
Bulu kucing kecil itu mengembang.
Bukan ke arah Si Preman.
Ke arah utara.
Pada detik yang sama, Fajar berlari dari pos samping. "Pak Hendry! Suara gerombolan dari arah jalan besar. Banyak sekali."
Tanah mulai bergetar halus.
Si Preman menoleh. Senyumnya pelan-pelan turun.
Dari jauh, suara itu muncul seperti hujan deras di atap seng. Tapi ini bukan hujan. Ini langkah. Ratusan langkah yang tidak punya irama manusia.
Hendry naik ke kap mobil, melihat melewati atap-atap rumah kosong. Di ujung jalan utara, bayangan bergerak memenuhi tikungan. Bukan sepuluh. Bukan lima puluh. Gelombang abu-abu, busuk, dan lapar mengalir menuju Cluster Pondok Indah.
Level 1.
Hampir semuanya Level 1.
Dan jumlahnya lebih dari tiga ratus.
"Mereka seperti didorong dari pusat kota," kata Hendry pelan.
Bagus mendengar. "Didorong sama apa?"
"Itu pertanyaan untuk nanti."
Hendry melompat turun. "Fajar, bunyikan alarm. Semua non-combat masuk zona dalam. Cahaya buka papan kerja darurat. Dewi siapkan air dan garam. Mawar, pos medis di garasi. Melati, Awan, Bagus, Budi, Sari, posisi tempur."
"Siap!" Fajar berlari.
Si Preman masih berdiri di luar perimeter. "Jadi ngobrolnya?"
Hendry menatapnya. "Kalau kau masih hidup setelah ini, kita ngobrol."
Si Preman tertawa keras, tetapi matanya tidak ikut tertawa. Ia mengangkat tongkat dan mundur bersama anak buahnya ke rumah kosong seberang jalan. Mereka tidak membantu. Mereka juga tidak pergi.
Mereka memilih menonton.
Hendry tidak peduli.
Gerbang utara ditutup. Mobil rusak didorong menjadi penghalang. Awan membekukan celah di bawah pagar. Bagus dan Budi menempatkan karung pasir di titik sempit. Fajar membagi anggota baru menjadi kelompok tiga orang seperti latihan kemarin.
Tangan mereka gemetar.
Hendry berdiri di depan mereka.
"Dengar!" suaranya memotong suara gerombolan. "Zombie level rendah bergerak lurus. Mereka tidak pintar. Yang membuat kalian mati adalah panik. Jangan kejar Kristal. Jangan jadi pahlawan sendirian. Tiga orang satu kelompok. Satu alihkan, satu jatuhkan, satu habisi. Kalau kelompok kalian pecah, mundur ke garis Bagus."
Seorang anggota baru menelan ludah. "Kalau terlalu banyak, Pak?"
"Mundur. Biar kami bersihkan."
Kalimat itu sederhana, tetapi bagi orang yang baru kemarin merasa cuma beban, itu seperti pagar tak terlihat di belakang punggung mereka.
Gelombang pertama menghantam barikade utara pada tengah sore.
Mobil rusak berderit. Tangan-tangan busuk masuk lewat celah. Level 1 zombie lebih cepat daripada Level 0, leher mereka lebih kuat, kuku mereka lebih keras. Satu saja bisa membantai orang panik. Tetapi di bawah perintah Fajar, anggota biasa tidak berdiri bebas. Mereka menunggu di belakang celah sempit.
"Sekarang!"
Tombak menusuk lutut. Tongkat menghantam pergelangan. Parang menebas belakang kepala.
Zombie pertama jatuh.
Lalu kedua.
Lalu ketiga.
Teriakan takut berubah menjadi teriakan kerja.
"Mundur dua langkah!"
"Kiri! Kiri!"
"Jangan ambil Kristal dulu, bego!"
Bagus berdiri di garis kedua seperti tembok hidup. Setiap zombie yang menerobos celah langsung dihantam dengan linggis sampai tulang dadanya amblas. Budi di sampingnya ingin maju terlalu jauh, tetapi Sari menarik kerahnya.
"Jaga garis!"
"Iya, iya!"
Sari menurunkan bidang gelap pendek di depan barikade. Lima zombie yang masuk kehilangan arah sepersekian detik, cukup untuk Awan membekukan kaki mereka ke aspal.
Melati mengangkat kedua tangan.
Api merah menyala di telapak tangannya. Bukan bola api kecil seperti dulu. Kali ini api itu berputar, kelopaknya terbuka seperti bunga teratai yang lahir dari bara.
"Mundur dari jalur!" teriaknya.
Bagus menarik Budi. Fajar meniup peluit.
Teratai merah itu meledak di mulut gang.
Red Lotus Burst.
Panas menyapu dua puluh lebih zombie yang menumpuk di titik sempit. Api tidak menyebar liar ke rumah di samping karena Melati menahannya dalam lingkaran pendek, tetapi semua yang berada di dalam lingkaran itu terbakar sampai berteriak tanpa suara.
Melati mundur satu langkah, wajahnya pucat.
Mawar langsung menahan sikunya. "Cukup. Jangan paksa lagi dulu."
Melati mengangguk, napasnya berat. "Masih bisa."
"Aku tahu. Tapi jangan bodoh."
Di atas pagar, Raja menggonggong keras.
Gelombang kedua datang dari timur.
Raja melompat turun. Listrik menyelimuti tubuhnya, lalu terpecah menjadi bayangan-bayangan biru. Satu Raja berlari ke kiri. Satu ke kanan. Satu melesat di depan barikade. Satu lagi tetap di tempat dengan tubuh asli.
Thunder Clone.
Clone itu tidak sekuat tubuh asli. Mereka lebih seperti umpan petir yang menggigit mata dan telinga zombie. Tetapi bagi Level 1 zombie, itu cukup. Puluhan zombie berbelok mengejar bayangan palsu, menabrak mobil, masuk ke jalur yang sudah dibekukan Awan, lalu disapu oleh tombak kelompok biasa.
Anak buah Si Preman yang menonton dari rumah seberang mulai berhenti tertawa.
Si Preman sendiri menyipitkan mata.
"Anjing itu..." gumamnya.
Hendry tidak melihat mereka. Ia sudah berada di atap pos utara.
Void Walk.
Tubuhnya hilang dari satu titik dan muncul di titik lain. Setiap kali ada Level 1 yang hampir merobek garis pertahanan, udara di depan telapak tangannya melengkung.
Spatial Orb melesat.
Kepala zombie pecah tanpa suara besar. Satu. Dua. Tiga. Hendry tidak membuang energi. Ia hanya membunuh yang mengancam struktur garis. Sisanya dibiarkan menjadi latihan.
Di bawah, seorang anggota baru terpeleset karena menginjak darah. Zombie di depannya langsung menerkam. Sebelum kepanikan pecah, dua orang di kelompoknya menarik kerah bajunya, sementara orang ketiga menusukkan tombak ke lutut zombie itu. Mereka tidak rapi. Ujung tombak bahkan hampir mengenai pagar. Tetapi zombie itu jatuh, dan parang yang gemetar berhasil menghantam belakang kepalanya.
Orang yang terpeleset menatap tangannya sendiri seperti baru sadar ia masih hidup.
"Lanjut!" Fajar berteriak. "Takut nanti! Gerak sekarang!"
Di rumah seberang, beberapa anak buah Si Preman mulai saling pandang. Mereka datang untuk mengukur mangsa. Yang mereka lihat justru kelompok pengungsi yang kemarin masih lemah mulai berubah menjadi barisan yang bisa menggigit balik.
Hari pertama berakhir dengan lebih dari seratus zombie mati.
Tidak ada anggota base yang tewas.
Tiga belas orang luka ringan. Dua orang bahunya hampir robek, tetapi Mawar berhasil menutup pendarahan. Crystal membantu healing kecil di bawah pengawasan Cahaya, dan untuk sekali ini ia tidak banyak bicara. Di depan tubuh-tubuh zombie yang menumpuk, bahkan senyum manis butuh tenaga.
Malamnya, tidak ada yang benar-benar tidur.
Gerombolan masih menekan dari utara dan timur, seperti ada sesuatu di belakang mereka yang membuat mereka terus bergerak. Kadang mereka berhenti, lalu tiba-tiba mendorong lagi. Hendry berdiri di lantai dua, menatap arah kota.
Ini bukan migrasi biasa.
Tapi jawaban itu belum bisa diambil malam ini.
Hari kedua lebih brutal.
Hujan tipis turun menjelang pagi, membuat aspal licin dan darah zombie mengalir ke saluran yang sudah ditutup. Awan membuat dinding es rendah di dua gang, memaksa gerombolan masuk ke jalur yang dipilih. Melati hanya memakai Red Lotus Burst sekali lagi, lebih kecil, cukup untuk membakar titik padat. Raja memakai Thunder Clone sampai napasnya berat dan bulunya mengembang aneh karena listrik.
Bagus kehilangan suara karena terlalu banyak berteriak.
Budi akhirnya belajar menahan diri. Ia tidak lagi mengejar zombie yang terpental. Sari berdiri di belakangnya, bidang gelapnya muncul dan hilang seperti kelopak malam.
Anggota biasa yang kemarin gemetar mulai berani menghitung.
"Satu jatuh!"
"Kristal nanti!"
"Tiga langkah mundur!"
Setiap kali satu kelompok berhasil menjatuhkan Level 1 tanpa bantuan Awakener, sorak kecil muncul. Bukan sorak kemenangan besar. Lebih seperti seseorang baru sadar bahwa tangannya sendiri belum tentu tidak berguna.
Di sore hari kedua, zombie terakhir jatuh di depan gerbang utara.
Hening datang terlambat.
Lebih dari tiga ratus mayat menumpuk di jalan, gang, dan depan barikade. Bau busuknya membuat beberapa orang muntah. Tetapi di atas meja panjang yang dipasang Fajar, Kristal Level 1 mulai terkumpul dalam kotak-kotak plastik.
Satu kotak.
Dua kotak.
Lalu lebih banyak.
Cahaya mencatat dengan tangan gemetar karena lelah. "Total sementara tiga ratus dua belas Kristal Level 1. Ada beberapa pecah karena kepala hancur terlalu keras."
Bagus langsung melirik Budi.
Budi mengangkat kedua tangan. "Gue sudah lebih pelan!"
Untuk pertama kalinya sejak gelombang datang, tawa pecah cukup lebar.
Hendry mengambil satu Kristal Level 1 dan merasakan ruang di dalam tubuhnya bergerak lebih lapar daripada kemarin. Ia belum naik ke Level 5. Tetapi pintunya sudah dekat. Sangat dekat.
Di seberang jalan, bayangan Si Preman muncul lagi.
Ia tidak datang sendirian.
Keesokan paginya, setelah mayat-mayat dibakar di lubang luar dan anggota base baru mulai percaya bahwa mereka benar-benar selamat, Si Preman berjalan ke gerbang utama dengan lebih dari tiga puluh orangnya.
Kali ini ia tidak berdiri di atas mobil.
Ia berdiri tepat di depan gerbang, tongkat di bahu, senyum lebar kembali ke wajahnya.
"Oi, Komandan Hendry!" teriaknya. "Gue salut sama lu. Serius. Anjing petir, api teratai, es, bola ruang... keren semua."
Raja berdiri di sisi Hendry. Listrik melompat di antara giginya.
Si Preman menunjuk kotak Kristal yang baru dibawa Fajar ke dalam.
"Sekarang kita nego. Gue mau setengah Kristal itu. Anggap saja biaya supaya gue dan anak-anak gue nggak cari masalah sama lu."
Udara di depan gerbang langsung dingin.
Si Preman memiringkan kepala. "Gimana?"