“Kita sudah sama-sama tahu kan, pernikahan ini keinginan orang tua kita, jadi kamu jangan terlalu banyak berharap pada diriku. Asal kamu tahu, dengan pernikahan ini, kebahagiaanku sudah terrenggut. Jangan kuatir, aku tidak akan meminta hak ku sebagai seorang suami. Sampai saatnya nanti tiba, aku akan tetap memperjuangkan kebahagiaanku.”
“Kamu tahu... gara-gara pernikahan ini, semua rencanaku berantakan, termasuk tinggal di rumah ini bersama istri pilihanku. Rumah ini sudah aku persiapkan untuk dia...”
Karena kalimat itulah, seorang gadis yatim piatu bernama Karina menjalani kehidupan yang penuh liku-liku dengan sorang anak laki-laki yang merindukan sosok ayahnya.
Sementara saat Karina akan belajar membuka hatinya pada sosok laki-laki yang sangat menyayangi anaknya, datang seorang gadis yang sedang hamil anak laki-laki itu.
Masih adakah bahagia yang dapat dia raih? Apa jawaban yang harus diberikan pada anaknya?
Ikuti terus ceritanya ya. Dukung dg vote, like & komen biar smangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Mulai bekerja
Rupanya nasib mujur sedang berpihak pada Karina. Dia diterima di sebuah perusahaan yang cukup besar dengan berbagai bidang bisnis, Abinaya Grupdan ditempatkan di bagian yang sesuai dengan cita-citanya. Apalagi dengan pengalaman kerja saat di Perth, menambah nilai plus untuk dirinya. Samuel juga sudah mulai masuk di playgroup
yang tidak jauh dari rumah keluarga pak Rudy, sedangkan Rossa juga sudah bekerja di kantor papinya.
Sudah satu bulan lebih Karina bekerja. Dia menjadi orang yang disukai di lingkungannya meskipun sedikit tertutup. Tidak ada seorangpun yang tahu kalau dia sudah memiliki anak. Dengan wajah yang cantik serta penampilan yang anggun dan sopan, membuat orang segan untuk berlaku seenaknya pada Karina, apalagi lingkungan kerjanya lebih banyak cowok dari pada cewek, tetapi Karina tetap bisa membawa diri. Hasil kerja Karinapun sangat diapresiasi oleh atasannya, karena Karina memang seorang yang smart dan berpengalaman, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, namanya sudah cukup terkenal sebagai salah satu desain interior yang handal di kantornya dan masuk dalam tim kerja andalan yang dipimpin oleh pak Kristo, laki-laki paruh baya yang sifatnya kebapakan dan disegani anak buahnya.
Siang itu saat akhir pekan, semua berkumpul di rumah pak Rudy. Memang menjadi kebiasaan di keluarga ini, akhir pekan waktunya dihabiskan untuk bersama-sama sekeluarga.
“Papi... mami.... Karin mau bicara, boleh....?” Tanya Karina saat mereka menikmati teh dan kopi di sore hari, sedangkan Samuel asyik bermain lego bersama Rian duduk di karpet.
“Ada apa sayang..... bicaralah...” Kata bu Lia
“Emm... tapi Karin mohon... papi sama mami tidak marah.....” Kata Karina ragu-ragu.
“Ayo.... bicaralah Karin... Kenapa kami harus marah...?” Tanya pak Rudy.
“Pi.... mi.... Karin berniat beli rumah dan.... mau tinggal berdua dengan Sam....” Kata Karina pelan dan ragu-ragu. Semua yang mendengar kaget dan menoleh ke arah Karina, termasuk Rian yang sedang bermain dengan Sam.
“Kenapa mesti begitu sayang...? Kamu tidak betah tinggal dengan kami di sini...?” Tanya bu Lia.
“Bu.... bukan begitu mi..... maaf..... “ Jawab Karina gugup.
“Kenapa sayang....?” Tanya bu Lia lagi.
“Mi.... Karin kan punya uang dari hasil penjualan rumah ayah, juga dari hasil kerja Karin di Perth.Karin ingin belikan rumah lagi dan akan Karin tempati bersama Sam. Karin ingin belajar mandiri dan mengajarkan mandiri juga buat Sam.”
“Tapi Karin......” Kata pak Rudy.
“Pi.... mohon ijinkan Karin.... Papi sama mami tetap orang tua Karin, kalau ada apa-apa pasti Karin juga lari ke papi dan mami, tidak ke orang lain. Karin hanya mau belajar hidup mandiri, belajar menjadi orang tua. Kalau Karin di sini terus.... Karin tidak akan pernah belajar tanggung jawab dan merasakan yang namanya perjuangan, jadi ijinkan Karin memulai belajar..... “
“Karin.... dengan kondisimu yang seperti inipun, kamu sudah berjuang nak, apalagi saat kamu di Perth, itulah perjuanganmu....” Kata bu Lia yang sudah mulai meneteskan air mata.
“Karin tahu mi, tapi Karin merasa itu belum cukup. Masih ada jalan panjang yang harus Karin lalui, Karin hanya butuh doa dari papi dan mami....” Jawab Karina, kemudian melangkah dan berjongkok di depan bu Lia, air matanya mulai menetes.
“Karin tahu, kluarga di sini sangat menyayangi Karin dan Sam, itu bisa Karin rasakan sejak dulu. Karin hanya mohon, ijinkan untuk belajar hidup....” Karina menciumi kedua tangan bu Lia.
“Kamu sudah benar-benar siap Karin? Bagaimana dengan keluarga Adinegoro, apalagi sudah ada Sam sekarang...?” Tanya pak Rudy mencoba menggoyahkan niat Karina.
“Pi... biarlah waktu yang berbicara. Tidak mungkin selamanya Karin harus menyembunyikan Sam dan bersembunyi di balik papi, Karin ingin Sam hidup normal seperti anak yang lain.”
Setelah melalui pembicaraan panjang, akhirnya dengan berat hati semua mengijinkan Karina untuk membeli
rumah, dengan syarat tidak jauh-jauh dengan rumah keluarga pak Rudy.
“Biar Rian yang membantu nyari, dia pasti lebih paham. Terus.... papi mau belikan kamu mobil untuk mondar-mandir, hitung-hitung hadiah kelulusan kamu dari papi, apalagi ada Sam...” Kata pak Rudy.
“Tapi pi.....”
“Kalau kamu menolak, papi tidak ijinkan kamu bawa Sam....”
Karina menoleh kearah bu Lia dan bu Lia mengangguk.
“Tapi mi.... sudah begitu banyak yang papi dan mami berikan untuk Karin, bahkan Karin sudah sampai bisa menyelesaikan kuliah dan dapat pekerjaan di tempat yang bagus. Karin rasa ini sudah terlalu banyak mi......”
“Sayang.... kamu itu anak mami dan papi, jadi wajar kalau kami memberikan semuanya, sama dengan Rian dan Rossa. Dan satu lagi, kamu tidak boleh hanya tinggal berdua dengan Sam, kamu harus ditemani si Sumi, biar dia bisa bantu-bantu di rumah.
Semua keputusan pak Rudy dan bu Lia tidak bisa dibantah Karina, termasuk membelikan mobil.
“Jelek loe... mau keluar dari rumah ini...!” Kata Rossa sambil cemberut.
“Ros... jangan gitu donk. Kenapa kamu nggak dukung aku...?” Jawab Karina.
“Lho boleh pergi, tapi Sam tinggal di sini buat mainan gue....!”
“Hah.....!!! Nggaaak....!! Bisa mati berdiri gue…”
“Ya harus dong.... loe pergi aja sendiri. Sam anak gue juga...!”
“Enak aja.... gue yang nglairin...!!”
“Iya.... tapi gue kan ikut ngegedein...”
“Emang balon....digedein...!!!”
Semua tertawa mendengar perdebatan Karina dan Rossa. Memang dari dulu berdua suka berdebat bahkan saling ledek, dan itulah bentuk kasih sayang keduanya. Sam hanya menoleh bergantian ke arah maminya dan mami Ocha dengan wajah polosnya.