Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doamu Sampai ke Langit
Verentis, empat hari yang lalu
Tubuh Kenzo meluncur ke bawah dan terhempas jatuh ke lautan. Ombak besar langsung menggulungnya, menarik pria itu ke bawah. Beberapa kali Kenzo berusaha naik ke permukaan, tetapi kuatnya arus membuatnya harus menyerah.
Kenzo kehabisan tenaga dan pasrah saja ketika ombak terus menggulung tubuhnya.
Setelah terombang-ambing beberapa saat, tubuh Kenzo mengambang di lautan dan bergerak mengikuti arus air.
Sekitar satu mil darinya, ada speedboat yang bergerak mendekat. Pengemudi yang ternyata adalah seorang wanita dengan cepat mengarahkan perahunya ke sana. Dia segera menarik tubuh Kenzo, menaikkannya ke dalam perahu.
Tanpa membuang waktu, dia langsung mengecek keadaan Kenzo. Wanita itu melakukan RJP untuk mengembalikan detak jantung Kenzo yang tidak terdeteksi. Setelah beberapa kali percobaan, Kenzo tersadar. Mulutnya mengeluarkan air laut yang tadi tertelan cukup banyak.
Penglihatan Kenzo mulai mengabur. Wajah orang yang menolongnya pun tak lagi terlihat jelas. Terombang-ambing oleh gelombang dan darah yang terus keluar dari luka tembaknya membuat pria itu kehilangan kesadarannya.
Sang wanita langsung menjalankan speedboat miliknya. Dia harus segera menuju daratan untuk menyelamatkan nyawa Kenzo.
***
Perlahan Kenzo membuka matanya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Dirinya sekarang bukan berada di rumah sakit, hanya berada di kamar yang mirip seperti kamar hotel murah.
Pria itu melihat jarum infus yang tertancap di punggung tangannya. Sebuah kantong infus tergantung di tiang tepat di sisi ranjang.
Kenzo mengerang pelan ketika menggerakkan lengan sebelah kiri. Luka tembak yang didapatnya sudah tertutup perban, tetapi masih menyisakan sedikit rasa nyeri.
Pria itu tersentak ketika mendengar pintu kamar terbuka. Dari arah luar muncul seorang wanita mengenakan tank top berwarna hitam dan celana blue jeans pendek. Rambut pirangnya dikuncir kuda bergerak ketika wanita menolehkan kepalanya ke ranjang.
Menurut perkiraan Kenzo, wanita yang baru saja masuk itu berumur sekitar 26 atau 27 tahun.
Melihat Kenzo yang sudah sadar, wanita itu segera mendekati ranjang. Kenzo segera menegakkan diri. Namun karena empat hari berbaring di kasur, tubuhnya sedikit kaku. Sang wanita langsung membantunya duduk.
“Terima kasih,” ucap Kenzo sambil melihat wanita di depannya.
“Akhirnya kamu sadar juga. Kalau hari ini kamu masih belum sadar, aku bermaksud mengirimmu ke rumah sakit.”
“Memangnya berapa hari aku pingsan?”
“Empat hari.”
“Apa?”
Kenzo cukup terkejut. Rasanya baru saja dia jatuh dan tergulung ombak. Namun ternyata begitu sadar, empat hari sudah berlalu.
“Di mana kamu menemukanku?”
“Aku sedang berkeliling menggunakan speedboat ketika melihatmu mengambang. Aku menarikmu dan membawamu. Intinya aku yang sudah menyelamatkanmu.”
“Terima kasih.”
“Siapa namamu?”
“Kenzo.”
“Aku Lyra,” wanita itu langsung memperkenalkan diri tanpa ditanya. Kenzo hanya mengangguk saja. Dia sedikit tidak nyaman dengan cara Lyra melihatnya.
“Kenapa kamu merawatku di sini? Kenapa tidak dirawat di rumah sakit?”
“Awalnya aku mau membawamu ke rumah sakit, tapi begitu aku melihat luka tembak di lenganmu, aku memutuskan merawatmu di sini. Aku tidak mau berurusan dengan pihak berwajib. Siapa tahu kamu itu buronan atau tahanan yang sedang kabur.”
“Kalau aku seperti dalam bayanganmu, kenapa kamu tidak takut padaku?”
“Karena aku yakin kamu orang baik.”
Lyra menyunggingkan senyum manisnya. Alasan tentang luka tembak di lengan Kenzo memang benar adanya.
Namun masih ada alasan lain yang membuat wanita itu memutuskan merawat Kenzo secara pribadi. Dia tertarik pada pria itu. Meski sudah berumur, Kenzo tetap terlihat menarik di matanya.
“Oh ya, kamu pasti lapar. Aku akan membelikan makanan untukmu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Kenzo, Lyra segera meninggalkan kamar hotel.
Sepeninggal Lyra, Kenzo berusaha bangkit dari ranjang. Sambil menarik tiang infusan, pria itu melihat isi kamar.
Dalam kamar ini terdapat dua kasur. Kasur di sebelahnya cukup berantakan, itu artinya Lyra tidur di kamar ini juga. Kenzo semakin tidak nyaman. Dia lalu menuju lemari. Diambilnya tas Lyra kemudian memeriksa isinya.
Tidak banyak barang dalam tas wanita itu. Kenzo mengambil sebuah buku catatan berukuran A5. Dibukanya buku agenda tersebut. Melihat tulisan yang ada di dalam buku catatan, Kenzo mulai merasa penasaran.
Dia terus membuka lembaran buku catatan hingga akhirnya berhenti di sebuah halaman. Di halaman itu tertempel sebuah foto gadis itu yang sedang bersama seorang pria paruh baya. Dan pria itu adalah Profesor Elio Sarin.
“Jadi kamu anaknya profesor. Kenapa ada kebetulan seperti ini,” gumam Kenzo pelan sambil tersenyum tipis.
Pria itu memasukkan kembali buku catatan ke dalam tas kemudian menaruh tas ke tempat semula. Dia bergegas menuju ranjang. Baru saja mendaratkan bokongnya, pintu kamar terbuka. Lyra masuk dengan membawa bungkusan di tangannya.
“Aku tidak tahu kamu suka makan apa. Tapi berhubung selama empat hari kamu tidak makan, jadi aku belikan corn soup saja.”
Dengan cekatan Lyra langsung membukakan makanan yang dibelinya lalu menatanya di depan Kenzo. Wanita itu bersikap seolah-olah dia adalah istri Kenzo.
“Terima kasih,” ujar Kenzo sambil mengambil sendok. Dia mulai menyuapkan corn soup ke mulutnya. Perutnya memang sudah lapar.
Wajah Lyra tampak sumringah ketika melihat Kenzo menghabiskan makanan yang dibelinya. Setelah pria itu menghabiskan makanannya, dia memberikan obat untuk Kenzo.
“Ini obatmu, minumlah.”
“Obat apa ini?” tanya Kenzo sedikit curiga.
“Antibiotik dan obat untuk infeksi.”
“Infeksi?”
“Ya, luka tembakmu terpapar bakteri saat kamu terapung di lautan dan menyebabkan infeksi. Sepertinya kamu tidak sadar selama empat hari karena infeksi. Oh ya, luka tembakmu tidak dalam, lukanya juga tidak parah. Infeksi yang membuat kondisimu lumayan kritis.”
Kenzo mengambil obat dari Lyra kemudian meminumnya. Dia harus secepatnya pulih, masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Secepatnya dia harus menemui Kael dan sudah pasti mengabari istrinya.
“Apa aku boleh meminjam ponselmu?”
“Ya, tentu saja.”
Lyra memberikan ponselnya.
“Berapa nomor ponselmu?”
“782118147.”
Kenzo segera menghubungi telepon otomatis layanan pager. Setelah mendengar instruksi dari operator, Kenzo memasukkan enam digit nomor pager yang dituju. Kemudian dia mengetikkan pesan yang akan dikirim.
911 CALL +388 78 211 8147
Kenzo yakin kalau Nisa akan langsung menghubungi nomor yang tercantum di pager tersebut. Pager itu hanya berfungsi sebagai penanda agar Nisa tahu bahwa dirinya masih hidup.
Kenzo mengembalikan ponsel pada Lyra.
“Sebentar lagi ada yang menghubungi nomor ini. Katakan saja ‘Doamu sampai ke langit’. Setelah itu langsung akhiri panggilan.”
Kening Lyra tampak berkerut, tapi wanita itu segera menganggukkan kepalanya.
***
Jakarta
Setelah membaca pesan yang tertera di pager, Nisa segera mengambil ponselnya. Lebih dulu dia mencari kode negara yang tertera di depan nomor ponsel yang terkirim.
“Republik Verentis,” gumam Nisa pelan.
Tanpa pikir panjang Nisa langsung menghubungi nomor yang dimaksud. Baru satu dering, orang di seberang sana langsung menjawab panggilannya.
“Doamu sampai ke langit,” ujar Lyra dari seberang. Setelahnya, sesuai instruksi, wanita itu langsung mengakhiri panggilan.
Sejenak Nisa terpaku. Kata-kata yang barusan didengarnya adalah kode yang dibuat Zyan untuknya. Doamu sampai ke langit artinya dia masih hidup dan baik-baik saja.
Tangis Nisa seketika pecah. Berulang kali wanita itu mengucap syukur sambil bersujud. Tuhan mengabulkan doanya, menjaga keselamatan suaminya.
Nisa mengusap air matanya, sekarang bukan waktunya untuk menangis. Pesan tadi bukan sekadar mengabarkan keadaan Zyan semata. Wanita itu segera menghubungi Armin.
“Halo,” jawab Armin saat baru satu dering terdengar.
“Perhatikan semua akses CCTV Verentis yang bisa ditembus,” ujar Nisa. Setelah itu, dia segera mengakhiri panggilan. Nisa langsung bangkit dari duduknya, dia akan menemui kedua anaknya. Mereka harus tahu kalau ayahnya masih hidup.
***
Setelah berhasil memberi kabar pada Nisa, sekarang saatnya memberi kabar pada Kael. Kenzo memanfaatkan Lyra yang menjadi perantara.
“Apa ada café di sekitar sini?” tanya Kenzo.
“Ya, tentu saja.”
“Pergilah ke sana. Pilih meja yang terjangkau oleh CCTV. Di atas meja taruh buku dan brosur hotel ini. Lalu ketukkan pulpen di meja, setelah itu pulang. Apa kamu ingat?”
“Tentu saja. Kapan aku harus melakukannya?”
“Sekarang!”
***
Doa kalian sampai ke langit tuh🤭
huhah huhah huhahhhhhh🫣